Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 76 : Ayah Masih Hidup?


__ADS_3

Disaat Ray mencoba menemaniku tidur tapi malah dia yang tertidur pulas di dalam perjalanan, karena pesta belum selesai kami kembali ke pesta dengan tempat yang berbeda. Karena kedua kakak tiriku sedang berada dirumah setelah melakukan pertemuan dengan Ray jadi Viu dan Xiao Min pergi bersama dengan kami.


"Astaga kenapa aku harus kembali ke pesta menyebalkan itu sih!!" protes Victory kesal.


"Ya biasanya Sani membakar apapun tapi kemarin tidak membakar apapun yang membuat kejadian keracunan masal itu dianggap karena racun yang ada di dalam makanan dan Sani tidak di curigai apalagi kan mereka semua tahu kalau Sani dan Ray adalah pengguna racun mematikan." gumam Fadil serius.


"Kak Ray pengguna racun?" tanyaku terkejut.


"Lihat pedangnya..." gumam Victory menunjuk pedang di balik jasnya, aku dengan hati-hati mengambil pedang itu dan saat aku cek benar-benar racun yang yang langka.


"Luar biasa..." gumamku mengembalikan pedang itu sebelum ketahuan Ray.


"Itu bukan racun seperti milikmu..." gumam Soni memainkan handphonenya.


"Tapi itu seperti racun langka kak, aku pernah terkena juga dulu saat perang mafia!" gumamku serius.


"Kenapa kamu begitu yakin itu racun?" tanya Soni serius.


"Efeknya seperti racun yang langka saat itu, walaupun aku sangat ingin menggunakannya tapi sayang aku tidak bisa menggunakannya.." gumamku pelan.


"Kenapa?" tanya Victory penasaran.


"Racunnya kalau terkena kulit membuat kulit membiru seketika..." gumamku menunjukkan ujung jari kiriku yang membiru.


"Itu bukan racun seperti milikmu tapi memang cairan racun asli agar penyakitku tidak menggila saja..." gumam Ray menjilat jariku dan dengan cepat jariku sembuh.


"Ke...kenapa bisa cepat sembuhnya?" tanyaku terkejut.


"Ini bukan racun buatan tapi racun asli dari beberapa binatang beracun yang langka, jika terkena racunnya atau hanya tersentuh saja bisa membuat peredaran darah orang bisa menjadi tidak lancar dan nampak seperti membiru seperti itu. Racun ini membuat sasarannya mati seketika, ya sama seperti ular yang memangsa makanannya."


"Ih jadi racun asli ya..." desahku mengerti.


"Kan sudah kakak bilang itu bukan racun seperti milikmu, kamu tidak percaya!" gerutu Soni dingin.


"Tapi kenapa kamu malah menjilat jariku yang terkena racun?" tanyaku menatap Ray terkejut.


"Sudah aku katakan kan sayang, aku memiliki penyakit langka."


"Kan penyakit langkamu hanya harus meminum darah kan?"


"Tidak hanya itu Sani..." gumam Soni menatapku serius.

__ADS_1


"Ray tidak hanya harus membutuhkan darah tapi air liurnya bisa menjadi racun untuk mangsanya dan bisa menjadi obat jika kamu terkena racun apapun...." jelas Soni serius.


"Maksudnya air liur kak Ray?" tanyaku terkejut.


"Ya, itulah kenapa siapapun yang terkena gigitan Ray pasti akan mati, seperti saudaraku yang sangat aku benci itu!" gerutu Fadil kesal.


"Dia kan hanya saudara yang kamu benci Fadil tidak masalah juga kan..." sindir Soni dingin.


"Tapi kan!! Ya sudahlah terserah kalian saja..." desah Fadil membuang mukanya.


"Ta...tapi kenapa aku tidak mati?" tanyaku terkejut.


"Aku memang tidak mengeluarkan air liurku saat menggigitmu, mungkin kalau kamu kemarin tidak menenangkanku pasti aku akan menggila jika melihat darah dan membunuh semua orang yang ada di pesta itu..." gumam Ray pelan.


"Ya sama seperti kamu menggila jika kau di medan perang Sani..." gumam Fadil pelan.


"Kalau begitu memang kalian berdua benar-benar mirip..." gumam Victory santai.


"Mungkin kalau banyak orang tahu identitas Ray dan penyakit milik Ray sudah pasti banyak yang menganggapnya sebagai monster..." gumam Soni pelan.


"Bukan hanya mungkin tapi pasti, apa kau lupa bagaimana masa kecil Ray yang dibuang dan tidak dianggap tuan Khun karena penyakitnya, kalau saja Ray tidak hebat dan kau bukan wakilnya serta tidak bisa menguasai sebagian besar mafia pasti dia masih tidak dianggap di keluarga Khun..." gumam Viu dingin.


"Kata-katamu pedas sekali Viu, dia suami dari adikmu tau!" protes Soni menatap Viu dingin.


"VIU!!!" teriak Soni kesal dan Viu hanya mengangkat bahunya sambil bermain handphone kembali.


"Tidak dianggap? Aku dulu tidak pernah dianggap oleh ayah ataupun keluarga Shin, kalau aku tidak kuat pasti mereka tidak menyayangiku apalagi aku wanita yang sangat lemah, penakut, dan cengeng...tapi karena ada kak Fadil yang menjadi wakilku jadi aku menjadi kuat dan dianggap ayah dan seluruh keluarga besar tapi belum sempat aku merasakan kasih sayang mereka, mereka sudah mati di depanku..." desahku dalam hati.


Aku melihat Ray yang hanya terdiam di sampingku, mungkin kata-kata Viu membuat hatinya terluka tapi kalau itu benar pasti Ray tidak akan membantahnya jadi dia memilih untuk diam dari pada menakutiku, kalau aku sudah tahu kalau kakak tiriku itu orang yang bermulut pedas. Terkadang saat Kami semua berkumpul Viu dan Soni selalu bertengkar sedangkan Xiao Min akan melerai mereka berdua.


"Sani... kenapa kamu diam? Apa kata-kata Viu menyakitimu?" tanya Xiao Min khawatir.


"Oh mmm...tidak ada, hanya sedikit lelah saja..." gumamku pelan, mendengar aku yang sedang lelah Ray merangkulku erat tanpa mengucapkan apapun.


"Oh ya Sani, semalam aku lupa memberitahukanmu..." gumam Victory memberikanku sebuah dokumen.


"Apa ini?" tanyaku bingung.


"Itu tulisan tangan Tuan Shin mmm ya dibilang semua yang menjadi rahasia semua keluarga tertinggi, mungkin dengan itu kamu bisa mencari petunjuk dimana ayahmu sekarang."


"Tunggu? Maksudnya?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Di dalam dokumen rahasia seluruh keluarga tertinggi kami menemukan ada beberapa tulisan tangan ayah dan halaman tengah tulisan yang sepertinya baru dibuat olehnya, semua tulisan itu di tujukan kepadamu Sani." gumam Soni serius.


"Tunggu, maksudnya ayah masih hidup?" tanyaku terkejut.


"Ya kemungkinan soalnya di pojokan kertas itu ada kode, kami semua mencoba mengartikan dan kami gagal, kata Fadil kamu mengerti kode itu..." gumam Soni serius.


"Kode?" gumamku mengambil handphoneku dan menyalakan senter dari balik tulisan yang dimaksud.


"20151215147 12518 191149... tolong ayah Sani..." gumamku mencoba mengartikan angka itu.


"12518 2518141 49 16514101181 212318 2011418... ayah berada di penjara bawah tanah.."


"12518 111114 13514211477211321... ayah akan menunggumu..." gumamku pelan.


"Benar kan Sani bisa membaca kodenya..." gumam Fadil santai.


"Jadi ayah sekarang berada di penjara bawah tanah? Bawah tanah dimana?" tanyaku bingung.


"Tidak tahu, kami hanya menemukan dokumen itu saja. Sedangkan ayahmu hanya menuliskan kode itu di kertas yang itu saja yang lain tidak ada..." gumam Victory pelan. Aku mengecek semua kertas dan ternyata benar tidak ada kode lainnya.


"Oh mmm baguslah sedikit mendapatkan petunjuk..." gumamku mengambil handphoneku dan mencoba menelepon seluruh bawahanku untuk mencari penjara bawah tanah yang dimaksud.


"Baik nona muda!" teriak bawahanku bersamaan.


"Kamu gerak cepat banget ya Sani..."


"Ya, aku hanya ingin memastikannya apalagi ini sudah sudah bertahun-tahun sejak saat itu..." gumamku bersandar di dada Ray.


"Tenang saja adikku kalau ayah benar-benar masih hidup kita akan bertemu dengannya.. " gumam Soni tersenyum kearahku.


"Baik kakak..." gumamku pelan.


"Baiklah kita sudah sampai...pesta dan pertemuannya dilakukan besok jadi kita istirahat saja dulu, jangan lupa kewaspadaan kalian..." gumam Viu turun dari mobil.


"Adikku ini kunci kamar kalian..." gumam Soni memberikanku kartu akses kamar.


"Baik kakak..." gumamku pelan.


Ray menggenggam tanganku erat dan terus terdiam walaupun hanya bersama denganku. Di luar atau di dalam gedung aku melihat banyak orang yang berbeda dengan tamu yang datang kemarin di pesta. Mereka menggunakan topeng dan seperti tidak peduli satu dengan yang lainnya. Ingin aku bertanya kepada Ray tapi melihat dia hanya terdiam membuatku tidak berani mengganggunya.


Saat di dalam kamar juga sama, Ray tidak mau bertanya ataupun berkata apapun kepadaku. Dia hanya berbaring di sampingku sambil memelukku saja, sama seperti orang yang benar-benar kecapekan. Mungkin karena dia tidak tidur semalaman karena melakukan pertemuan dengan ketiga kakakku jadi dia sangat mengantuk.

__ADS_1


Aku hanya mengusap rambutnya pelan dan masih berpikir, kalau ayah masih hidup dimana ayah sekarang? Dan kenapa selama ini aku selalu mendapatkan informasi kalau ayah sudah dibunuh. Siapa yang menyembunyikan ayah selama ini?


__ADS_2