Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 83 : Pergi Ke Pertemuan


__ADS_3

Walaupun di depanku ada makanan yang sangat lezat tapi aku benar-benar tidak selera untuk makan. Hari ini tepat sembilan tahun aku kehilangan Satria, Ria dan Rio. Jika aku teringat ketiga anakku pasti aku selalu sedih dan tidak benar-benar terpuruk.


"Sani kenapa kamu tidak memakannya?" tanya Xiao Min menatapku serius.


"Eee...mmm tidak ada kok kak..."


"Apa yang kamu pikirkan sayang?" tanya Ray pelan.


"Tidak ada kok kak Ray..." gumamku meletakkan alat makanku dan menelepon bawahanku.


"Halo nona muda..."


"Sudah menemukan penjara bawah tanahnya?"


"Belum nona muda, kami masih mencarinya."


"Apa ada informasi lainnya?" gumamku pelan.


"Kami mendapatkan informasi kalau tuan muda dan ketiga kakak anda juga akan bertemu dengan seorang wanita, dari dokumen yang saya dapatkan wanita itu yang mencintai tuan Ray dari dulu..."


"Oh begitu ya...baiklah, jangan lupa istirahat dan makan."


"Baik nona muda..." gumam bawahanku dan aku mematikan telponnya.


"Siapa yang kamu telepon?" tanya Ray menatapku serius.


"Bawahanku."


"Kenapa?"


"Hanya bertanya saja..." desahku menatap keluar jendela menatap kendaraan yang berlalu lalang di depan restoran.


"Apa hasilnya masih nihil?" tanya Fadil serius.


"Ya."


"Ya udah sabar saja."


"Hmmm..." desahku meminum wineku dan beranjak dari tempat dudukku.


"Kamu mau kemana?" tanya Fadil terkejut.


"Aku ingin..."


"Makan!" ucap Soni dingin.


"Aku gak selera kakak!"


"Makan!" gerutu Soni melirikku dingin.


"Tapi...haish..." gerutuku kembali terduduk dan kembali menatap keluar jendela.


"Sani...Makan!" ucap Soni kesal.


"Aku gak mau!"


"Sani!!!" gerutu Soni menatapku kesal.


"Udahlah Soni, biar aku saja..." desah Xiao Min beranjak dari tempat duduknya dan terduduk di sebelahku.


"Adikku makanlah..." gumam Xiao Min pelan.


"Aku gak selera!"


"Hmmm kamu nanti sakit bagaimana coba? Nanti kamu kan bertemu musuh, kalau kamu tidak makan dan tidak ada tenaga untuk melawan musuh bagaimana?" gumam Xiao Min menyuapiku.


"Tapi kakak..."


"Ya kakak tahu apa yang kamu pikirkan, kalau kamu terus terpikirkan Satria, kasihan dia nanti tidak tenang di surga..." gumam Xiao Min pelan.


"Ta...tapi...hmmm..." desahku menundukkan kepalaku.


"Sudahlah makan saja dulu, kamu tambah kurus tahu dibandingkan saat dulu, kalau kamu sakit nanti ketiga anakmu sedih apalagi sekarang kamu memiliki Pangeran. Kamu mau Pangeran sedih?" gumam Xiao Min terus menyuapiku dan aku hanya menggelengkan kepalaku.


"Kalau begitu kamu harus makan banyak dan menjadi kuat, kalau masalah ayah...jangan dipikirkan... pasti kita bisa menemukannya ya..." gumam Xiao Min pelan.


"Ba...baiklah..." desahku pelan, Xiao Min terus menyuapiku sampai makanan yang ada di piringku habis semua.

__ADS_1


"Daah habis...lain kali makan yang banyak loh...kamu mau nambah?" tanya Xiao Min menatapku serius dan aku menggelengkan kepalaku.


"Baiklah..." desah Xiao Min kembali ketempat duduknya.


"Kau masih saja memanjakannya Xiao Min!" gerutu Soni kesal.


"Tidak masalah, Sani itu adikku. Aku lebih menyayanginya dari pada Rina dan Sina..." gumam Xiao Min kembali memakan makanannya.


"Kalau kau terus memanjakannya, dia akan lebih manja tahu!" gerutu Soni kesal.


"Tidak masalah, aku lebih suka Sani yang manja dan polos seperti dulu."


"Dia hanya adik tiri, kenapa kamu bisa..."


"Dia juga adik tirimu dan kamu menyukai Sani yang manja dan polos kan? Lalu apa itu salah?"


"Tapi kan dia udah besar Xiao Min, dia hampir berumur dua puluh lima tahun tahu!" gerutu Soni menatap Xiao Min kesal.


"Sudahlah! Kau juga jangan terlalu kasar dengan Sani, nanti Sani membencimu lagi terus kau bingung lagi curhat kepadaku!" sindir Viu dingin.


"Tapi kan ini juga demi kesehatannya dan masa depannya tahu!" protes Soni kesal.


"Kau juga tahu kan Sani dari dulu susah untuk makan Soni, kalau kamu kasar kepadanya dia akan lebih susah lagi kamu suruh, kau tahu kan dia sangat keras kepala sepertimu!" ucap Xiao Min santai.


"Ta...tapi kan!" gerutu Soni kesal.


Aku menatap ketiga kakakku yang kembali bertengkar di depanku hanya karena masalah sepele. Soni memang keras kepala dan apapun yang dikatakannya harus benar-benar dilakukan sedangkan Xiao Min selalu menengahi dan selalu membujukku kalau aku tidak mau makan ataupun marah ya bisa dibilang dia kakak yang paling sabar dari pada Soni, sedangkan Viu...aku belum bisa menilainya karena dia adalah kakak yang susah ditebak, kadang dia baik kadang keras kepala dan kadang dia juga menyebalkan.


"Haish kalian bertiga ini berantem mulu!" gerutu Ray meletakkan alat makannya.


"Apa!" teriak ketiga kakakku bersamaan.


"Ini sedang di restoran tahu, jangan samakan di rumah!" gerutu Ray kesal.


"Kau juga jangan ikut-ikut, ini urusan kami!" gerutu Viu dingin.


"Ka...kamu..." gerutu Ray kesal. Melihat keadaan semakin memanas, aku menyandarkan kepalaku di bahu Ray yang membuatnya tersadar.


"Hmmm terserah kalian saja lah! Kalau mau berantem...berantem sana!" gerutu Ray merangkulku dan memelukku erat sedangkan ketiga kakakku kembali bertengkar. Sebenarnya Ray lebih perhatian dari pada Xiao Min tapi jika dia makan dia tidak bisa menyuapiku sekalian seperti Xiao Min, karena Ray akan menghabiskan makanannya dulu setelah itu menyuapiku atau dia akan makan setelah menyuapiku.


Disaat Ray lengah, aku memasang alat pelacak di tubuh Ray agar aku tahu dimana Ray pergi dengan ketiga kakakku.


"Ada apa sayang?" tanya Ray bingung.


"Tidak ada kak Ray..."


"Apa kamu kepikiran Satria?"


"Iya tapi bukan hanya itu, aku memikirkan banyak hal yang membuatku sakit kepala."


"Tadi kamu seperti tidak memikirkan apapun, kenapa tiba-tiba kamu kepikiran?"


"Ya...kak Ray tahu sendirikan, apapun pikiranku itu akan tiba-tiba saja keluar dari otakku."


"Hmmm ya benar juga sih, tapi...jangan terlalu banyak pikiran sayang."


"Ya...baiklah..."gumamku menarik kerah Ray dan menciumnya lembut.


"Ka...kamu menciumku?" tanya Ray menatapku dengan wajah memerahnya.


"Apa itu salah?"


"Mmm tidak, hanya terkejut tiba-tiba kamu menciumku..." gumam Ray tersenyum kearahku.


"Aku hanya ingin menciummu saja,"


"Hmmm ya kau boleh menciumku istriku."


"Oh ya, kak Ray nanti ada pertemuan apa?"


"Pertemuan mafiaku dengan mafia sekutu saja."


"Membahas apa?"


"Entah, Soni yang ikut rapat. Aku hanya menemaninya saja."


"Kalau begitu, temani aku kak Ray."

__ADS_1


"Kamu mau aku temani?" tanya Ray serius dan aku hanya mengangguk pelan.


"Baiklah, tapi nanti kalau urusanku selesai. Aku akan datang menemanimu, tapi kalau tidak sempat aku akan datang sekalian menjemputmu. Bagaimana?"


"Tapi kak Ray...disana ada Han..." gumamku pelan.


"Tidak apa, ada Fadil yang akan menjagamu. Kalau kamu qda apa-apa biar Fadil menghubungiku dan aku segera datang..."


"Tapi kak Ray..."


"Aku berjanji aku akan datang sayang, walaupun aku tidak melakukan apapun tapi aku tidak bisa meninggalkan pertemuan, keputusannya ada pada kami ketua."


"Hmmm ba...baiklah.."desahku pelan.


"Jangan khawatir ya sayang," gumam Ray serius dan aku hanya mengangguk pelan.


"Tapi kak Ray, kalau ada kejadian yang tidak diduga seperti saat ada bintang bagaimana? Aku...aku tidak ingin kak Ray hukum, hukuman kak Ray menyakitkan..." gumamku pelan.


"Hmmm ya aku tidak akan menghukummu, aku akan datang sebelum sesuatu terjadi padamu. Kalau aku telat datang, aku berjanji aku tidak akan menghukummu."


"Hmmm..."


"Tenang saja sayang, ada Fadil. Dia kuat jadi dia akan menjagamu, benarkan Fadil?"


"Ya. Aku akan menjaganya semampuku..." gumam Fadil pelan


"Jadi jangan Khawatir sayang..." gumam Ray menciumku lembut.


"Mmm, ba...baiklah..." desahku memeluk erat Ray.


"Hmmm tumben kamu sangat manja sayang?"


"Tidak juga, hanya takut kamu marah saja."


"Hmmm, aku marah padamu kalau aku cemburu. Kalau tidak cemburu aku tidak akan marah."


"Ya aku tahu kok..." desahku pelan. Tiba-tiba Fadil beranjak dari tempat duduknya dan menatapku serius.


"Ayo kita pergi Sani!"


"Oh mmm baiklah..." desahku beranjak dari tempat dudukku.


"Aku berangkat dulu ya kak..." gumamku menundukman badanku pelan.


"Ya hati-hati."


"Aku berangkat kak Ray..." gumamku mencium Ray dan berjalan pergi dengan Fadil.


Pertemuan kali ini memakan waktu dua hari jadi aku dan Fadil akan menginap di gedung pertemuan itu, walaupun aku tidak masalah kalau harus menginap tapi aku tidak lupa mempersiapkan bawahanku, aku harus melindungi Fadil. Aku tidak masalah bertarung tapi demi terlihat natural sebagai seorang wanita aku harus sedikit manja kepada Ray.


"Aktingmu bagus banget Sani!" sindir Fadil di belakangku.


"Ohh kak Fadil menyadari kalau itu hanya akting?"


"Yalah, aku tidak percaya seorang Sani bisa sangat manja itu. Sebesar ini kau tidak akan mau manja kepada kakakmu kan?"


"Yaah memang, aku tidak mau seperti anak kecil. Tapi...aku hanya ingin berpura-pura menjadi lemah saja, aku ingin tahu kekuatan mereka berempat sesungguhnya."


"Bukannya kamu sudah tahu?"


"Emang kak Fadil kira itu kekuatan mereka sesungguhnnya?" tanyaku dingin.


"Mmmm benar juga sih, jadi kamu ingin tahu apa yang akan terjadi?"


"Ya...aku ingin membuat pertunjukan yang sangat bagus..." gumamku menunjukkan buku catatanku.


"A...apa kau gila? Kau berpura-pura..."


"Ya, aku akan berpura-pura seolah-olah di paksa Han. aku tahu kapan Ray selesai kapan tidak..." gumamku menunjukkan alat pelacak di tanganku.


"Tung...tunggu bukannya utu alat pelacak?"


"Ya...aku ingin tahu siapa saja yang akan hadir dari pertemuan itu, kak Fadil tahu kan kalau Mafia Ray itu sangat...misterius...tapi bawahan kita dapat informasi kalau mereka akan bertemu dengan seorang wanita yang dulu sangat menyukai Kak Ray. Disinilah...aku ingin melihat kesetiaannya dan seluruh janjinya!" gumamku tersebyum dingin.


"Haish kau selalu saja begitu Sani, sekali-kali percaya dengan Ray!"


"Aku sering disakiti kak Fadil, mempercayai seorang pria juga butuh diketahui dengan mata kepalaku sendiri!"

__ADS_1


"Ya...yah terserah kau saja Sani..." desah Fadil menutup pintu mobil.


Di jendela aku melihat Ray yang terus menatapku keluar dari restoran, kalau dilihat dari tatapannya aku sedikit bingung. Entah itu tatapan sedih atau itu tatapan khawatir, tatapan yang begitu datar dan tanpa perasaan.


__ADS_2