Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 106 : Penjelasan Kakakku


__ADS_3

Ray menggendongku kembali ke dalam kamar dan membaringkanku kembali, Ray terus menatapku dingin sedangkan aku hanya membuang mukaku dan membelakangi Ray saat melihat kakak-kakakku berjalan kearah kami.


"Dimana kamu menemukannya?" tanya Soni serius.


"Ya dia hampir saja menjatuhkan diri ke jurang."


"Astaga, kenapa kau berusaha bunuh diri lagi Sani?" gerutu Soni kesal sedangkan aku hanya terdiam.


"Kenapa kau hanya diam saja Sani? Jawablah!!" protes Soni kesal.


"Lalu kenapa? Apa urusannya denganmu?" gumamku dingin.


"Kau bertanya apa urusannya denganku, keselamatanmu itu juga urusanku? Kau adikku jadi itu urusanku juga!" protes Soni kesal.


"Adik ya? Haah lucu kali, kalian sangat membenciku kan? Untuk apa kalian mengurus urusanku!" gumamku tertawa dingin.


"Soni jaga istriku dulu, aku ada urusan sebentar dengan Wahyu..." ucap Ray berjalan pergi dari kamar.


"Hei Sani! Kenapa kau jadi aneh Sani? Apa otakmu bermasalah tidak sadar selama tiga bulan?" tanya Viu dingin.


"Otakku baik-baik saja kok, lagi pula benar kan kalian membenciku sejak dulu dan menjagaku karena permintaan ayah kan?" tanyaku serius.


"Kenapa kamu tiba-tiba berkata seperti itu adikku?" tanya Xiao Min terduduk di kursi depanku.


"Kenapanya tidak penting, tapi benar kan ucapanku!" protesku kesal.


"Kalau benar lalu kenapa? Apa itu masalah untukmu?" ucap Viu dingin.


"Heei kenapa kau berkata seperti itu Viu!!" protes Soni dingin.


"Yaa itu faktanya kok dan aku mengakuinya."


"Sani jangan dengarkan ucapan Viu, Viu memang seperti itu orangnya..." gumam Xiao Min mengusap lembut rambutku.


"Kalau memang itu yang terjadi juga tidak masalah kok, aku memang pantas di benci kok."


"Haish bukan seperti itu adikku, kami dulu membencimu hanya karena satu hal..." gumam Xiao Min menarik tanganku sampai aku terduduk di tempat tidur.


"Satu hal apa?" tanyaku dingin.


"Ya kami dari dulu entah keluarga Min entah keluarga Shin entah keluarga manapun emang membenci keluarga Li, apalagi kamu secara tidak langsung juga termasuk marga Li. Alasan kami membencimu karena itu, andaikan kamu bukan dari keluarga Li pastinya kami tidak membencimu..." ucap Xiao Min serius sambil terus menyuapiku.


"Oh..." desahku kembali berbaring di tempat tidurku.


"Sani, makanlah lagi. Kamu baru makan beberapa suap loh!"


"Tidak mau, tidak selera."


"Haish kan kami sudah memberitahukanmu kenapa kami bisa membencimu, kenapa kamu masih tidak selera makan?"


"Walaupun begitu kalian tetap membenciku!"


"Adikku dengar, perasaan benci itu saat kami kecil adikku dan sekarang perasaan itu hilang, kami dulu memang membencimu sampai-sampai kami ingin membunuhmu. Tapi lama kelamaan saat melihatmu sangat hebat mana tega kami membunuhmu..." gumam Xiao Min tersenyum kearahku sambil terus mengusap rambutku lembut.


"Oh.. " desahku membuang mukaku.


"Kau udah dewasa Sani, jangan kayak anak kecil Napa!" gerutu Fadil berdiri di depanku.


"Lalu kenapa, kamu juga membenciku kan! Emang kalian benar-benar membenciku."


"Apa kamu melihat masa lalu? Selama kamu tidak sadar?" tanya Fadil memberiku sebuah kertas.

__ADS_1


"Ya."


"Hmmm pantas saja...kalau begitu jangan kamu pikirkan, sekarang pikirkan bagaimana cara agar kita bisa mengalahkan Alan alias Tian itu."


"Untuk apa juga, ayah sudah mati juga kok."


"Dia belum mati!"


"Ayah sudah mati Fadil dan memang itu faktanya!"


"Kalau menurutmu memang tuan Shin sudah mati apa kamu tidak ingin balas dendam?" tanya Fadil dingin.


"Balas dendam ya..." desahku membuka kertas yang berisi pengakuan Samuel selama diinterograsi Fadil.


"Oh mmm nanti akan aku pikirkan rencanaku..." gumamku pelan.


"Tumben kamu tidak memiliki rencana cadangan Sani?"


"Tidak, kepalaku pusing jadi aku tidak bisa berpikir jernih. Mmm kak Fadil, apa Samuel mengatakan dimana lokasinya?" tanyaku serius.


"Tepatnya lokasi mereka Samuel tidak bisa menentukan karena mereka sering berpindah-pindah tempat. Markas mereka ada di dua pulau. Satu markas letaknya di pulau yang berada di tengah Samudera Atlantik, untuk menuju ke pulau itu harus melewati hujan salju dan badai dingin yang sangat ekstrim, selain itu ada satu markas yang letaknya di pulau yang berada di Samudera Hindia dan untuk menuju ke pulau itu harus melewati panasnya suhu dan badai pasir." Fadil memberiku beberapa kertas yang lain.


"Apa sudah kamu cari markas mereka kak Fadil?"


"Sudah, tapi hasil nihil. Markas mereka tidak ditemukan di peta."


"Oh mmmm kita tanyakan dulu mafia yang lain tentang keberadaan markas itu, mana tahu mereka mengerti tentang markas itu..." gumamku memberikan kertas itu lagi kepada Fadil.


"Oh baiklah, sekarang pulihkan dulu tubuhmu. Kamu sudah berbulan-bulan tidak sadar jadi jangan paksakan dirimu."


"Ya aku tahu jadi tenang saja."


"Kalau begitu makanlah! Kamu harus makan!"


"Sani kau harus makan!"


"Tidak ya tidak!!" gerutu ku beranjak dari tempat tidurku.


"Kamu mau kemana Sani?" tanya Xiao Min serius.


"Hanya ingin sendiri, jangan ganggu aku..." gumamku mengambil botol wine di atas meja dan pergi menuju ke bawah pohon di dalam hutan.


Aku menatap langit kehitaman di atas ku, petir dan kilat terus menerus menyambar diatasku. Teringat atas kematian ayah di depan mataku membuatku benar-benar tidak bisa menahan tangisku yang selama ini ku tahan.


Hujan mulai turun membasahi tubuhku dengan derasnya, aku menadahkan kedua tanganku dan menatap air hujan yang bercampur darah yang menggenang di tanganku. Darah masih mengalir deras dari bekas infusku yang membuat air di tanganku menjadi memerah seperti darah, aku menggenggam tanganku dan berteriak dengan kencang.


"Aaaahh kenapa aku sangat lemah!!! Kenapa!!!" teriakku kencang.


"Andaikan aku lebih cepat dan kuat dari sebelumnya pasti ayah masih hidup."


"Aku... aku kenapa bisa selemah ini...kenapa aku tidak bisa menyelamatkan siapapun bahkan menyelamatkan ayah saja."


"Kenapa aku tidak bisa menyelamatkan ayah, kenapa?" gumamku terus menangis.


"Aku harus apa, aku harus apa untuk balas dendam? Untuk balas dendam kematian keluargaku saja aku belum bisa melakukannya padahal sudah bertahun-tahun, tapi sekarang...kehilangan ayah apa yang harus aku lakukan...APA!!!" Teriakku kencang.


"Ayah...ibu, bolehkah aku menyusulmu? Sani tidak tahu apa yang harus Sani lakukan, Sani benar-benar bingung apa yang harus Sani lakukan..." gumamku mengarahkan senjataku di dadaku.


"Semua kakak...membenci Sani, Sani...Sani tidak punya siapapun lagi di dunia ini, Sani...Sani sudah lelah ayah...ibu..."


"Ayah...ibu maafkan Sani yang tidak bisa menahan ini semua, Sani benar-benar tidak bisa menyelamatkan ayah dan ibu, Sani benar-benar tidak berguna sebagai anak emang Sani tidak pantas untuk hidup...ma...maafkan Sani..." gumamku mengayunkan senjataku tapi tiba-tiba tangan Ray menahan senjataku dengan tangannya yang membuat darah mengalir deras dari tangannya.

__ADS_1


"Sayang apa yang kau lakukan disini?" tanya Ray menatapku dingin.


"Tidak ada."


"Haish apa yang kau pikirkan sebenarnya sayang?"


"A...aku..." gumamku menundukkan kepalaku. Ray menarik senjataku dari genggamanku dan membuang senjataku ke tanah.


"Ada apa sayang? Apa yang kau pikirkan sebenarnya sayang beritahukanlah kepadaku..." gumam Ray menyentuh pipiku dengan tangannya yang berdarah, aku menarik tangan Ray yang membuat aku dan Ray terbaring di tanah. Ray menatapku dari atas lalu memelukku erat sedangkan aku hanya menangis keras.


"Sayang sudahlah, jangan terus bersedih ada aku yang akan selalu berada di sisimu, aku berjanji padamu..." gumam Ray pelan yang membuat tangisku bertambah kencang.


"Hmmm sayang, jangan terus menangis. Hujan semakin lebat mari kita berteduh nanti kamu sakit..." gumam Ray tersenyum kearah ku dan menggendong ku pergi.


"Kak Ray... senjataku.." gumamku pelan.


"Oh ya hampir lupa..." gumam Ray mengambil senjataku dan kembali menggendongku.


"Kak Ray makasih." aku menggenggam erat pakaian Ray yang basah.


"Makasih untuk apa sayang?"


"Makasih selalu menyelamatkan ku dan selalu ada untukku."


"Tidak masalah, kamu istriku jadi aku harus selalu menjagamu sayang. Jangan lakukan hal yang aneh-aneh lagi ya."


"Tapi kak Ray..."


"Sayang, aku akan selalu ada untukku dan aku akan membantumu."


"Apa kak Ray tidak membenciku?"


"Tidak, aku sama sekali tidak membencimu sayang."


"Tapi kan dulu..."


"Memang benar banyak yang membenci keluarga Li apalagi kami keluarga Khun tapi sayang, kamu istriku kamu di jodohkan denganku jadi tidak ada alasannya aku untuk membencimu."


"Tapi kan aku termasuk keluarga Li!"


"Sayang, marga kamu Shin bukan Li. Walaupun kamu termasuk keluarga Li tapi kamu tetap dari keluarga Shin sayang..." gumam Ray mendudukkan ku di kursi dan mengusap rambutku dengan handuk.


"Tapi kan kak Ray, aku..."


"Sayang dengar, aku tidak peduli kamu berasal dari keluarga mana yang penting kamu tetap istriku dan kamu tetap milikku, apa kamu mengerti!"


"Hmmm baiklah aku mengerti kak Ray."


"Ya sudah kamu cepat ganti baju, kita harus pergi."


"Pergi kemana?"


"Ke suatu pesta dan pertemuan."


"Pesta dan pertemuan apa?"


"Kamu akan tahu nanti, ayo cepatlah ganti bajumu! Sudah aku siapkan di dalam lemari ganti..." gumam Ray mengobati tanganku dan membalutnya dengan perban.


"Nanti dulu, tangan kak Ray juga terluka..." gumamku segera mengobati tangan Ray dengan obat merah dan perban.


"Hmmm ya sudah ganti baju saja dulu..."

__ADS_1


"Oh mmm baiklah.." desahku pelan dan segera ke dalam ruang ganti.


"Emang mau kemana sih?" gumamku bingung, walaupun aku sangat penasaran tapi ya sudahlah aku hanya bisa mengikuti Ray saja apalagi mendengar ucapan ketiga kakakku dan Ray kalau mereka tidak membenciku kembali membuatku sedikit lega walaupun masih bersedih.


__ADS_2