
Selama beberapa bulan aku terus melatih pangeran ke tujuh, walaupun aku tahu dia sebenarnya sudah hebat tapi dia tetap saja berpura-pura polos yang baru saja belajar untuk bertarung. Walaupun aku mejadi guru pangeran ke tujuh tapi aku juga belajar berlatih secara diam-diam.
Aku sudah berbulan-bulan di kerajaan Arre tapi perilaku pangeran ke tujuh kepadaku masih sama seperti biasa dan tidak berubah sama sekali padahal aku sudah menunjukkan identitasku yang sebenarnya padanya.
Disaat aku terduduk di taman kerajaan Arre, tiba-tiba datang seorang pria paruh baya yang berjalan kearahku sambil membawa sebuah undangan padaku.
"Raelyn.." ucap pria itu memberikan kertas undangan itu, walaupun sudah berbulan-bulan aku disini tapi aku sama sekali tidak tahu nama asli mereka bahkan pria di depanku ini.
"Iya tuan."
"Besok anakku akan menikah, jadi aku harap kamu ikut ya..."
"Pangeran ke tujuh?" Tanyaku terkejut.
"Iya benar."
"Kalau begitu saya akan..."
"Tidak, kamu tetap menjadi gurunya. Ini hanya pernikahan biasa lagi pula ini pernikahannya yang kesekian kalinya."
"Benarkah?" Tanyaku terkejut, "Apa dia benar-benar Saputra? Lalu... apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku dalam hati.
"Ya, jadi kamu ikut ya di pernikahannya nanti."
"Mmm b-baik tuan..."gumamku pelan dan aku mendapatkan undangan khusus di pernikahan itu.
Keesokan harinya pernikahan mewah benar-benar di gelar dan aku menjadi saksi langsung pernikahan itu, entah apakah akan berakhir seperti dimimpiku atau mungkin akan berkebalikannya tapi yang jelas hati ini terasa sangat sakit melihat pernikahan mewah itu.
Hampir setahun aku hidup dengan kedua pasangan suami istri ini, terlihat mereka sangat serasi berbeda dengan di mimpiku. Sesakit apapun hatiku tapi aku hanya orang lain yang mencoba mencari keberadaan Saputra dan kedua kembarku saja jadi aku tidak berani untuk memprotes apapun.
Di taman ini aku terduduk melamun menatap pemandangan hutan di depanku, beberapa hari aku libur menjadi guru karena istri pangeran ketujuh yang akan melahirkan sehingga aku hanya duduk termenung sendirian di taman. Apalagi aku memiliki tugas penting lainnya dari tetua organisasi tersembunyi sehingga aku dibingungkan untuk memutuskan tetap menjadi guru pangeran ke tujuh atau meminta cuti untuk menyelesaikan tugasku.
"Nona Raelyn!! Nona!!!" Teriak seorang wanita dengan senang, aku menatap wanita itu dan di belakangnya terlihat pangeran ke tujuh dan istrinya berjalan kearahku.
"Nona... tuan muda sudah kembali!" Ucap wanita itu senang.
"Oh mmm benarkah? Siapa namanya?" Tanyaku menatap bayi laki-laki yang masih mungil di gendongan istri pangeran ketujuh.
"Namanya Satria..."
"Satria? Oh mmm nama yang bagus..." gumamku pelan dan menatap bayi mungil itu.
"Nak kamu harus hebat ya, kamu harus melindungi ayah dan ibumu..." gumamku pelan sambil meneteskan air mataku pelan. Melihat bayi laki-laki itu membuatku teringat Satria, wajahnya sangat lucu mirip Satria saat kecil dulu.
"Kenapa anda menangis nona?" Tanya wanita itu serius.
"Ohh mmm t-tidak apa kok. Oh ya tuan muda, saya ijin mengambil cuti beberapa bulan."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Saya ada sedikit masalah dan lagi pula anda bisa menikmati hari bersama keluarga anda selama saya cuti."
"Tapi kan..." gumam pangeran ke tujuh terkejut tapi aku hanya terdiam memegang tas yang sudah aku persiapkan.
"Tenang saja tuan muda, jika urusan saya selesai saya akan kembali lagi."
"Oh mmm baiklah jaga dirimu baik-baik Raelyn..." gumam pangeran ke tujuh pelan sedangkan aku hanya terdiam sambil berjalan pergi.
Sebenarnya bukan hanya tugas saja tapi aku berusaha agar aku tidak terlarut merasakan sakit hati apalagi di mimpiku benang merah jodohku menyambung dengannya. Aku percaya jika nantinya aku kembali berarti pria itu adalah jodohku dan jika tidak maka aku akan mencari jodohku yang sesungguhnya, di depan kerajaan Fadil sudah menjemputku dan menungguku.
"Sani, apa kau yakin?" Tanya Fadil serius.
"Ya."
"Tapi kalau istrinya dan anaknya mati bunuh diri seperti mimpimu gimana?" Tanya Fadil serius, aku terdiam dan menghela nafasku pelan.
"itu sudah keputusannya aku hanya orang asing jadi tidak berhak mengganggu hubungan keluarga kecil itu..." gumamku pelan sambil masuk ke dalam mobil.
"Apa kau yakin dia Saputra?"
"Entah, antara yakin atau tidak sih."
"Haish... ya sudah terserah kamu saja. Tetua sudah menunggumu..." gumam Fadil menekan gas mobil.
"Menungguku? Kenapa?"
"Ya membahas masalah tugasmu itu tentunya."
"Ya bisa dikatakan sulit sih."
"Sesulit apa?"
"Ya lihat saja nanti, dah kita sampai."
"Eehh cepatnya? Tapi.. kenapa di sebuah restauran," Tanyaku terkejut.
"Ya memang tetua sedang ada disini, tetua sedang makan dengan ayahmu."
"Oh mmm begitu ya..." gumamku turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restauran itu.
"Eeehh kamu beneran datang ya Raelyn..." gumam tetua menatapku senang.
"Ya, ada apa tetua?"
"Ini terkait masalah tugasmu..." gumam tetua memberikan secarik kertas padaku, aku membaca kertas itu dan tertulis organisasi kegelapan.
"Eehh tunggu? Apa? Aku harus kesini?" tanyaku terkejut.
"Ya, mafiamu juga berasal dari organisasi kegelapan juga kan?"
__ADS_1
"Benar tetua, lalu... apa yang harus saya lakukan?" Tanyaku serius.
"Ya kau hanya perlu disana dengan Fadil mencari informasi terkait mereka, apalagi mafia kegelapan saat ini bekerjasama dengan mafia misterius."
"Tapikan..."
"Apa kau khawatir tentang mimpimu?"
"Ya tetua, aku takut kalau..."
"Tenang saja Ketua umum mereka sudah menikah jadi jangan khawatir."
"Tapi tetap saja tetua..."
"Aku juga tidak bisa memberikannya pada yang lain, hanya kau yang bisa masuk ke dalam wilayah itu."
"Tapi kan... mmm baik tetua..." gumamku pelan.
"Kamu hanya perlu mencari informasi saja."
"Oohh baiklah tetua, tapi biar kak Fadil saja ya yang mencari informasi."
"Lalu kau mau kemana?"
"Saya ada urusan saya sendiri tetua, tapi tetua jangan khawatir... tugas itu akan segera selesai kok."
"Haish baiklah, tapi jangan melakukan aneh-aneh."
"Ya tenang saja tetua, jangan khawatir."
"Apa kau akan mencari kembaranmu?" Tanya ayah menatapku serius.
"Ya aku ingin mencari mereka."
"Kau tidak pernah melihat rupa wajah mereka pasti kau akan kesulitan, ditambah lagi mereka sangat pintar bersembunyi dan pintar menyembunyikan identitas mereka. Walaupun kau mencari mereka pastinya tidak akan ketemu."
"Tapi ayah aku ingin mencari mereka."
"Untuk apa kau mencari mereka?"
"Yaaah aku ingin bertemu saja ayah, apa itu salah??" Tanyaku serius.
"Hmmm tidak, ayah hanya memberitahukanmu kalau akan sulit mencari mereka berdua."
"Ya tetua... Sani mengerti..." gumamku pelan.
"Ya sudah sini makanlah dulu sebelum berangkat anakku..." gumam ayah mengambilkan semangkuk sup di depanku.
"Terimakasih ayah.." gunanku pelan dan memakan supku itu.
__ADS_1
Walaupun akan sulit tapi aku harus mencari keberadaan kembaranku dan lagi aku tidak ingin bertemu ketua organisasi kegelapan dan ketua organisasi misterius itu untuk saat ini.