Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 77 : Kesedihan Ray


__ADS_3

Sampai fajar akan segera muncul aku masih terjaga, aku benar-benar tidak bisa tidur nyenyak. Mendapatkan petunjuk ayah masih hidup membuatku sangat senang, aku tidak sabar bertemu dengan ayah. Tapi aku tidak mau terlalu berharap apalagi petunjuk itu sudah dua tahun yang lalu jadi peluangnya akan sangat kecil. Rindu...aku memang sangat rindu ayah, walaupun ayah sangat keras kepadaku dan sering tidak memperhatikanku tapi aku sangat menyayangi ayah.


Walaupun sesenang apapun aku tapi melihat Ray yang hanya terdiam membuatku bingung dan yang jelas sangat khawatir. Aku takut kalau Ray sakit atau terluka hatinya dengan kata-kata kakak tiriku itu, aku mengusap lembut pipinya dan dia benar-benar tidak merespon hanya dengkuran pelan yang terdengar di telingaku.


"Aaaauuuu..." rintihku pelan saat perutku terasa sakit saat aku mencoba berganti posisi tidur.


"Ada apa sayang?" tanya Ray membuka matanya dan menatapku khawatir.


"Eeeh mmm aku hanya salah posisi tidur saja kak Ray...mmm maaf membuatmu terbangun..." gumamku pelan.


"Ya sudah tidurlah, kamu tidak tidur semalaman kan? Sudah hampir pagi jadi tidurlah..." gumam Ray memejamkan matanya dan kembali memelukku.


"Mmm kak Ray, kenapa kamu hanya terdiam? Apa kamu sakit?" tanyaku pelan.


"Tidak."


"Lalu kenapa kamu diam?"


"Hanya ingin saja...aku takut kalau aku menakutimu..."


"Menakutiku? Maksudnya?"


"Kamu sudah tahu kan aku seperti apa? Mungkin kalau kamu tidak hamil anakku kamu pasti akan meninggalkanku..." gumam Ray berbaring membelakangiku.


"Ti...tidak aku tidak mungkin melakukan itu kak Ray!" gumamku serius.


"Apa kamu kira aku percaya kalau kamu berkata kamu mencintaiku Sani, dulu Cantika meninggalkanku karena dia tahu penyakitku dan dia juga menghinaku dan menyebutku monster. Walaupun terasa sakit tapi aku masih mencintainya.." gumam Ray pelan.


"Oh kamu masih mencintai Cantika ya?" gumamku pelan, aku beranjak dari tempat tidur dan menatap wajahku di cermin.


"Seumur hidupku aku tidak pernah menghina orang apapun kelemahannya, walaupun kamu memiliki penyakit itu aku tidak pernah menghinamu apalagi memanggilmu dengan sebutan monster, tidak pernah aku berfikir seperti itu sama sekali tidak pernah..." gumamku menatap awan yang sedikit terang.


"Walaupun aku tidak mengandung anakmu aku juga tidak akan menghinamu atau memanggilmu seorang monster. Ya benar kata kakak, aku sering tidak dianggap apalagi aku dulu sering ditinggal di tempat ramai, mereka selalu berusaha membuangku karena kelemahanku. Jika aku melihat Rina aku sadar aku sangat berbeda dengan Rina, dia wanita yang kuat dan tegar, dia sama sekali tidak menangis di depan orang dan hanya sesekali menangis jika hatinya terluka sedangkan aku...apapun aku menangis, aku juga takut dengan apapun, karena keluargaku tidak bisa membuangku mereka menyiksaku dengan kejam.." gumamku mengelupas kulit palsu yang tertempel di tubuhku.


"Be...bekas itu..." gumam Ray terkejut.


"Ini bekas siksaan keluarga besarku apalagi ayah dan ibuku, aku tidak tahu ibu yang mana tapi aku ingat semua orang menyiksaku jika aku kembali kerumah setelah mereka gagal membuangku. Aku tidak hanya cengeng tapi aku juga pengecut, keluarga besarku adalah mafia terkejam mereka malu memiliki keturunan yang sangat lemah sepertiku, walaupun mereka menyiksaku tapi aku tetap mengganggap mereka keluargaku..." gumamku menempel kulit palsu itu lagi.


"Hidupku dari awal memang sangat menderita, sejak kak Soni kabur dari rumah bersama kak Xiao Min keluargaku jadi dendam kepadaku karena mereka menilai karena akulah kakakku pergi dari rumah. Saat itu kalau bukan karena Kak Fadil yang bersedia menjadi wakilku pasti aku benar-benar mati disiksa oleh mereka. Walaupun sedendam apapun aku, aku tidak pernah menghina mereka, sama sepertimu aku tidak peduli dengan kelemahanmu. Aku memang mencintaimu, hanya itu faktanya..." gumamku membuka pintu balkon dan merasakan dinginnya udara pagi ini.

__ADS_1


"Oh ya kalau kamu masih mencintai Cantika tidak masalah, dia masih hidup kan? Jadi menikahlah dengannya lagi pula aku tidak mau hidupmu akan lebih menderita jika kamu terus bersamaku. Aku wanita yang lemah sedangkan Cantika wanita yang kuat, hebat, dan licik seperti yang kau inginkan kan...Kalau kamu mau setelah anak ini lahir aku akan memberikannya kepadamu dan aku akan pergi menjauh sama seperti yang aku lakukan kepada Han di saat itu..." gumamku pelan, aku menutup pintu balkon dan terduduk di kursi balkon.


Memang terasa sakit tapi aku tidak bisa memaksa Ray terus bersamaku kalau dia sendiri tidak mencintaiku, aku hanya tidak ingin kembali menderita seperti dulu. Kehilangan orang dicintai dan kehilangan anak membuatku sangat sedih dan benar-benar putus asa. Aku menundukkan kepalaku dan menatap kedua tanganku yang membeku karena angin dingin di musim semi ini walaupun sudah memasuki musim semi tapi dingin musim dingin masih terasa di tubuhku.


Saat aku hanya terdiam dan mengamati kedua tanganku, tiba-tiba ada seseorang yang menyelimutiku. Aku menoleh kebelakang dan melihat Ray yang menyelimutiku, kedua matanya terlihat sangat sembab seperti baru saja menangis. Ray merangkulku dari belakang yang membuatku terdengar suara sesenggukan yang tertahan di tenggorokan.


"Kenapa kamu disini? Masuklah, diluar dingin..." gumamku mencoba melepaskan rangkulannya tapi Ray terus merangkulku erat.


"Ma..maaf..." gumam Ray pelan.


"Maaf kenapa?"


"Maaf telah menuduhmu..."


"Tidak apa, aku sudah biasa di tuduh, dihina, disiksa, dicaci maki juga sudah pernah jadi dari pada kamu menderita menjadi suamiku lebih baik kamu..."


"Tidak! Aku tidak mau!!" teriak Ray kencang.


"Hoooeee ini masih pagi kenapa sih teriak-teriak!!" teriak seorang laki-laki keras.


"Ya...mengagetkan orang tidur saja!!" teriak seorang wanita kencang.


"Siapa tadi yang teriak-teriak sih!" gerutu seorang pria di sebelah kamarku.


"Huft hampir saja kena omelan..." desahku bersandar di pintu balkon. Ray kembali memelukku erat yang membuatku sedikit sesak.


"Lepasin kak Ray!"


"Tidak mau!"


"Kak Ray!!!" protesku kesal tapi Ray masih saja memelukku erat.


"Aku tidak peduli, kamu milikku aku tidak ingin kehilanganmu...maaf aku menuduhmu istriku..." gumam Ray pelan.


"Tapi kan kak Ray bilang.."


"Aku tidak mencintai Cantika, aku mencintaimu. Rasa cintaku sudah lama hilang dengan Cantika setelah dia menghinaku, aku sekarang benar-benar mencintaimu. Kamu istriku aku sangat mencintaimu!!" ucap Ray benar-benar menangis di pelukanku.


"Hmmm..."

__ADS_1


"Aku mengatakan itu karena aku takut kamu menghinaku di depanku, aku benar-benar sakit saat orang lain mengatakan kalau aku monster. Aku dulu benar-benar menggila saat di rendahkan oleh orang lain dan aku membunuh mereka karena aku benar-benar capek terus di panggil monster bahkan dipanggil siluman. Saat itu belum sempat aku membunuh Cantika, Cantika melarikan diri saat aku mencoba menyentuhnya untuk memaafkan ucapannya..." gumam Ray meneteskan air matanya.


"Aku menyembunyikan identitasku karena aku tidak ingin siapapun menghinaku lagi, aku ingin wanita yang kuat karena aku ingin ada yang melindungiku kalau aku dihina lagi. Aku benar-benar terkejut saat melihat kamu dengan beraninya menyelamatkanku dari jeratan kata-kata manis Cantika, aku hampir saja terbujuk olehnya kalau bukan karenamu aku pasti sudah..." gumam Ray pelan.


"Hmmm ya aku tahu kok..." desahku memeluk erat Ray.


"Sayang jangan tinggalkan aku, tetaplah bersamaku.." gumam Ray sambil terus sesenggukan.


"Hmmm ya...aku akan tetap bersamamu suamiku sayang..." gumamku mengusap air mata Ray dan menciumnya lembut.


Tookkk...Tookk..Ttookkk


Suara ketukan keras terdengar di luar pintu, aku melepaskan pelukan Ray dan membuka pintu itu dan melihat Soni yang datang ke dalam kamar.


"Kakak? Ada apa kakak datang sepagi ini?" tanyaku bingung, melihat Soni datang Ray langsung memelukku erat dan menyembunyikan matanya yang sembab karena menangis.


"Tidak ada, hanya terganggu dengan teriakan Ray saja."


"Mmm memang kakak mendengarnya?" tanyaku terkejut.


"Menurutmu? Teriakan yang sangat keras dan juga mengganggu siapapun tertidur." gerutu Soni menatapku dingin.


"Ada apa? Apa Ray menangis lagi?" tanya Soni mencoba melepaskan pelukan Ray tapi Ray benar-benar memelukku erat.


"Haish Ray-Ray kau sudah dewasa masih saja suka menangis!" gerutu Soni kesal.


"Kakak, tadi hanya salah paham saja kok."


"Salah paham karena mengira kau sama seperti Cantika atau orang lain yang menghinanya? Aku sudah sering mendengarkan kekesalan Ray Sani, Dia akan bertindak menggila dan menangis keras setelah kegilaanya berakhir. Apa kamu kira aku tidak tahu dia diam karena apa? Dia menahan dirinya menggila Sani, dia tidak mau kamu mengetahui kegilaannya. Kalau bukan karena kamu mungkin kami semua yang ada di mobil sudah mati di bunuh Ray!" gerutu Soni dingin.


"Benarkah? Tapi ya untungnya kalian tidak terluka..." gumamku mengusap lembut rambut Ray, karena menahan pelukan Ray yang kuat membuat kakiku sangat capek akhirnya aku terduduk di tempat tidur.


"Ya untungnya kamu setelah mengetahui penyakit Ray sebenarnya tidak menjauhi Ray dan malah bersandar di tubuh Ray kalau tidak pasti Ray juga akan membunuhmu Sani!"


"Aku tidak mempermasalahkan penyakit kak Ray, aku juga tidak peduli. Aku tahu apa yang dirasakan kak Ray jadi aku tidak mempermasalahkannya..." gumamku mengusap lembut rambut Ray.


"Ya aku mengerti kamu tidak akan berpikiran seperti itu Sani..." desah Soni terduduk di sofa depan kami.


Walaupun aku tahu kalau penyakit Ray sangat berbahaya jika terkena orang biasa seperti aku ini tapi aku juga harus menerimanya, dia suamiku yang terikat kontrak dan suami dari pernikahan awalku. Seberapa kuat aku membatalkan kontrak ini tidak akan bisa terbatalkan apalagi kontrakku dengan Han, hanya kekuasaan ayah yang bisa melakukannya. Kalaupun ayah masih hidup aku juga tidak mau ayah membatalkan kontrakku dengan Ray.

__ADS_1


__ADS_2