Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 66 : Cerita Ray


__ADS_3

Selama perjalanan Fadil dan Ray selalu berbicara dengan nada tinggi seperti orang yang benar-benar bermusuhan, karena sudah pernah lihat Fadil yang seling bertengkar dengan Sino dan Fiyoni tidak membuatku kaget kalau Fadil akan melakukan hal yang sama dengan Ray.


Tidak berapa la kami berkendara, kita sampai di sebuah rumah yang mewah dengan penjaga rumah yang sangat ketat, Ray menggandeng tanganku dan mengajakku masuk ke rumahnya


Seperti yang aku duga rumahnya lebih besar dan mewah bahkan isi di dalam rumah itu benar-benar seperti rumah sultan.


"Kau boleh menempati kamar itu Fadil." ucap Ray menunjuk kamar di depan kami.


"Oh baiklah, jangan sampai kau menyakiti Sani. Awas aja kau menyakitinya!" gerutu Fadil masuk ke dalam kamar.


"Hmmm..." desah Ray menarikku naik tangga di depanku.


"Sebenarnya ada masalah apa diantara kalian?" tanyaku penasaran.


"Hanya masa lalu saja." gumam Ray membuka pintu kamarnya.


"Masa lalu? Apa itu?" tanyaku penasaran.


"Kenapa kamu sangat ingin tahu? Kamu tidak perlu tahu..." gumam Ray dingin, aku menarik Ray dan menekan tubuhnya di pintu.


"Beri tahu aku atau tidak?" gerutuku kesal.


"Sudah aku katakan kan kamu tidak perlu tahu."


"Katamu aku istrimu kan, kamu bilang padaku untuk tidak merahasiakan apapun bahkan wajah dan identitas aslimu. Jadi beri tahu aku semua rahasiamu...suamiku!" gerutuku menatap Ray dingin.


"Apa kau mengancamku?"


"Mengancam? Apa kalimatku adalah ancaman untukmu suamiku?" tanyaku dingin.


"Tidak, hanya nadamu seperti memojokkan lawanmu. Hmmm pantas saja ya kamu sangat ditakuti istriku tersayang.." gumam Ray mendorongku ke belakang, tanganku di tekannya sambil menatapku dingin.


"Lalu apa alasanmu ingin mengetahui semua rahasiaku, istriku tersayang?"


"Alasannya ya? Alasannya cukup sederhana. Aku hanya ingin tahu rahasia pria yang benar-benar menjadi suamiku. Aku muak bermain-main apalagi masalah perasaan, aku muak dibohongi oleh pria. Itu alasanku." gumamku menatap Ray dingin, aku mencoba melepaskan tanganku tapi genggaman Ray membuat tanganku tidak bisa terlepas sama sekali.


"Apa untungnya kalau aku memberitahukanmu apa rahasia terbesarku? Apa kau akan membunuhku di malam ini istriku sayang?"


"Tidak ada untungnya aku membunuhmu, lagi pula aku akan bertindak kalau aku mendapatkan tugas dari para tetua kalau tidak ada tugas paling ya aku mempersiapkan segala kemungkinan disaat akan perang nantinya..." gumamku serius.


"Apa kamu kira aku akan percaya perkataanmu istriku?"


"Percaya atau tidak itu terserah kamu lagi pula kalau aku punya niatan membunuhmu pasti semalam aku sudah membunuhmu suamiku sayang..." gumamku serius.

__ADS_1


"Baiklah aku akan memberitahukanmu apa rahasia terbesarku tapi kamu juga harus memberitahukan rahasia terbesarmu bahkan katakan apa yang kau lakukan di kapal mewah itu?" ucap Ray menggigit leherku kuat.


"Uuuggghhh... ka...kamu sangat licik ya suamiku.."


"Ya kamu kira hanya kamu yang licik ya istriku, kamu pernah mendengar kan kalau ketua umum organisasi mafia bayangan sangat kejam, menyebalkan, dingin dan licik?" gumam Ray pelan.


"Yaah aku pernah mendengarnya dan tidak aku sangka pria polos yang dingin itu sekarang menjadi ketua yang ditakuti semua mafia ya..." desahku pelan.


"Dan kamu juga loh istriku. Melihatmu ada di dalam kapal, banyak yang mencoba melarikan diri tapi ternyata si Wili menembaki mereka yang mencoba kabur loh, ish sungguh kasihan sekali..."


"Wili siapa dia?" tanyaku terkejut.


"Kamu ingat pria bertopeng yang menahanmu membunuh Han dan Hans? Dia adalah Wili ketua umum organisasi mafia Misterius. Dia adalah musuhmu dan juga musuh cintaku."


"Musuh cintamu?" tanyaku terkejut.


"Ya... dia pria yang sangat ingin memilikimu tapi juga sangat ingin membunuhmu. Kekuatannya dia denganku setara, kalau kamu bertarung denganku atau dengan dia pasti ada dua kemungkinan, yang pertama kamu pasti akan mati atau kamu pasti akan terluka parah."


"Oh lalu?"


"Hanya itu aja."


"Lalu apa rahasia terbesarmu?" tanyaku serius.


"Aku terikat denganmu bahkan aku mengandung anakmu buat apa aku meninggalkanmu? Kalaupun aku meninggalkanmu pasti kamu akan membunuhku kan? Aku sudah tahu akan hal itu..." desahku pelan.


"Hmmm baiklah, kamu tahu kenapa aku selalu menggigitmu dan menghisap darahmu istriku tersayang?" gumam Ray menatapku serius.


"Tidak, memangnya kenapa?" tanyaku penasaran.


"Aku sebenarnya seorang pria yang berpenyakitan, dalam tubuhku aku memiliki penyakit pembekuan darah langka, aku suka meminum darah apapun itu. Diwaktu kecil aku sering membunuh siapapun yang aku temui di jalan ataupun saat berkunjung ke rumah orang lain, entah berapa orang dan hewan yang aku bunuh demi darah apalagi kalau aku meminum darah yang tidak cocok denganku pasti aku akan muntah hebat..."


"Jangan bilang kamu vampir?"


"Vampir ada di dunia dongeng, aku manusia biasa tahu!" protes Ray kesal.


"Lalu?"


"Ya ayah menjodohkan kami keturunan Khun hanya untuk memberikanku stok darah dan dengan santai ayahmu mengiyakan dan melakukan perjanjiannya kepada ayahku."


"Serius?" tanyaku terkejut.


"Ya begitulah, tapi setelah kita melakukan pernikahan awal...ayahmu mengetahui apa yang diinginkan ayahku dan mencoba membatalkan pernikahanmu denganku karena hanya kamu satu-satunya keturunan Shin perempuan, walaupun ibumu dari keluarga Li tapi tidak ada satupun DNA ibumu yang ada di tubuhmu jadi bisa dikatakan kamu murni keluarga Shin."

__ADS_1


"Lalu?"


"Saat itu aku masih remaja sebelum bertemu denganmu di danau akademi, Soni menjadi wakil mafiaku, entah kenapa bisa Soni menjadi wakilku aku lupa alasannya apa yang jelas dia menjadi wakilku dulu. Saat kami berlatih, Soni menceritakan kepadaku kalau wanita yang di jodohkan denganku itu wanita yang lemah, cengeng, dan menyebalkan. Saat itu Soni berusaha membuatku membencimu dan memutuskan ikatan pernikahan kita..."


"...setelah aku benar-benar membencimu, beberapa tahun kemudian aku terkejut kalau Soni diusir dari rumah karena ibumu, dia memang keluarga Shin tapi dia sangat membenci ibumu jadi Soni bilang akan bekerjasama dengan keluarga Li untuk membunuh ibumu saja. Tapi tidak disangka San dan Samuel membawa ayahmu yang ditinggalkan Soni dan ternyata tanpa sepengetahuan Viu, Samuel membunuh ayahmu yang membuat Viu marah besar dan mendapatkan hukuman."


"Lalu?"


"Saat aku benar-benar membencimu, tidak aku sangka aku bertemu denganmu di danau. Aku mencoba meminum darahmu dan ternyata aku cocok dengan darahmu, walaupun kamu benar-benar terlihat lemah dan cengeng masih membuatku membencimu. Tapi karena aku cocok dengan darahmu jadi aku membiarkanmu mencintaiku dan ternyata kamu berulang kali mengatakan cintamu padaku..." gumam Ray melepaskan genggaman tanganku dan memelukku erat.


"...Padahal saat kamu dikenal kejam dan sangat pintar, aku mulai menyukaimu dan berencana untuk menyatakan cintaku padamu, tapi di acara wisuda kamu tidak datang dan malah di wakilkan oleh Soni yang membuatku mengurungkan niatku. Aku memang mencintaimu tapi aku tidak mengatakannya kepada Soni jadi Soni tidak pernah mengatakan dimana aku berada dan selalu menyembunyikanmu..."


"...Diam-diam aku mencari keberadaanmu dimanapun, aku menggigit siapapun yang aku temui tapi aku tidak menemukanmu. Sampai waktu itu aku menggigit sepupu yang dibenci Fadil, setelah menggigitnya aku langsung membunuh wanita itu di depan Fadil yang membuat Fadil sangat marah..."


"Sepupu yang dibenci kak Fadil? Tapi kenapa kamu membunuhnya?" tanyaku terkejut.


"Aku memang seperti itu, membunuh siapapun yang lemah dan tidak berguna..."


"Tapi kamu membunuh orang yang seharusnya tidak kamu bunuh Ray!" protesku kesal.


"Aku tahu, aku memang bersalah. Sudah berulang kali Fadil melawanku untuk balas dendam, karena aku lebih hebat darinya dia selalu saja terluka dan aku tahu kalau Fadil adalah wakilmu saat dia mengatakan kalau apapun yang terjadi dia tidak akan membiarkan aku menyakitimu seorang wanita yang lemah bagi Fadil..." gumam Ray melepaskan gigitannya.


"Bertahun-tahun aku mengamati Fadil tapi dia selalu sendiri dan membuatku sangat kesal, sampai akhirnya aku bertemu denganmu lagi saat kamu melawan musuhmu dengan kejam, awalnya aku tidak percaya padamu tapi saat aku menemukan lencana milikmu yang terjatuh itu aku mulai percaya kalau wanita yang kejam itu adalah istriku yang aku benci selama ini." gumam Ray mencium bibirku lembut.


"Jadi yang menemukan lencanaku itu... kamu?"


"Ya aku dan Soni yang menemukannya."


"Semenjak aku melihat lencana khususmu, Soni mulai mengatakan kalau kamu sekarang menjadi ketua umum organisasi mafia tertinggi bahkan kamu dipercaya oleh tetua mafia karena hasil kerjamu yang sangat memuaskan. Mendengar hal itu, aku benar-benar mencintaimu, aku berusaha mencarimu tapi kamu seperti makhluk gaib dimanapun aku mendapatkan informasi keberadaanmu tapi saat aku datangi kamu tidak ada di tempat yang membuatku sangat depresi."


"Lalu apa di kapal itu rencana kalian?"


"Itu rencana Viu, karena aku bersekutu dengannya dan sudah memberikan apa yang Viu inginkan akhirnya Viu sepakat memancingmu agar bertemu denganku. Melihatmu di ruangan dengan tampilan yang sangat cantik dan terlihat seperti mata-mata membuatku tidak percaya kalau kamu adalah Sani Shin, tapi saat aku meminum darahmu dan melihat lencana mafia aku percaya kalau wanita yang selama ini aku cari berada di depanku..."


"...Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu lagi, jadi saat kamu menawarkanku untuk menangkap pria tua itu aku lakuin agar aku bisa benar-benar memilikimu seutuhnya..." gumam Ray menciumku kembali.


"Kamu sudah tahu kan apa yang menjadi rahasiaku selama ini, jadi ganti kamu yang..."


"Belum lah, kamu hanya menceritakan setengah dari rahasiamu. Aku inginnya seluruh rahasiamu!" protesku kesal.


"Tapi kamu tadi bilang... haish kamu ini memang benar-benar licik ya istriku, baiklah aku akan menceritakannya tapi aku mau mandi dulu. perjalanan jauh membuatku sangat gerah..." desah Ray melepaskan pelukannya dan segera masuk ke dalam kamar mandi.


"Heeeh dasar pria menyebalkan..." gerutuku terduduk di atas sofa sambil meminum wiski di depanku.

__ADS_1


Mendengar cerita Ray membuatku tersadar jadi selama ini yang mengikutinya dimanapun Fadil berada itu Ray dan Soni. Pantas saja saat aku mencoba mencari tahu siapa, aku tidak menemukannya dan hilang tanpa jejak seperti bayangan.


__ADS_2