
Setelah lama menunggu Ray selesai mandi sampai aku menghabiskan dia botol wiski di depanku, akhirnya Ray keluar dari kamar mandi dan memakai celama pendek yang membuat sangat terlihat perut kotak-kotaknya yang sangat terlihat nyata.
"Kamu menghabiskan wiski milikku dua botol? Sendirian?" tanya Ray terkejut.
"Ya, lalu kenapa?"
"Kamu tidak mabuk apa?"
"Tidak, aku pernah meminum minuman yang beralkohol 50 persen, lebih dari itu aku pasti mabuk."
"Kamu jangan kebanyakan minum sayang..." gumam Ray merebut gelas di tanganku dan meminumnya.
"Ya aku tahu, jadi ceritakan lagi rahasimu suamiku..." gumamku merebut gelas itu dan membuka botol wiski di depanku.
"Cerita apalagi yang ingin kamu dengar?"
"Cerita tentang mafiamu boleh, cerita tentang kepribadianmu juga boleh..." menuangkan wiski ke dalam gelas.
"Baiklah, tapi aku ingin dengar tentang mafiamu."
"Mafiaku? Tidak ada yang menarik..."
"Walaupun begitu, mafiamu sangat misterius loh."
"Misterius ya? Tidak juga, hanya saja banyak mafia yang tidak tahu posisi markas kami saja."
"Oh benarkah? Lalu?" gumam Ray terduduk di sampingku.
"Ya sebenarnya kami tidak hanya bertindak karena perintah saja sih, kadang juga karena keisenganku dan keingintahuanku saja..."
"Kenapa kamu sudah lama tidak terjun di dunia mafia lalu kembali lagi?"
"Ya aku sebenarnya ingin pensiun dini sih, cuma..."
"Pensiun dini? Kamu hanya dijadikan istri kontrak di keluarga Li kan? Kamu bilang pensiun dini?"
"Sebelum itu aku memang ingin pensiun dini dan hidup seperti gadis biasa dengan keluargaku tapi ya ternyata tidak semudah itu, keluargaku diserang keluarga Li dan yaa aku dibawa untuk dijadikan jaminan keselamatan ayah tapi...mendengar ayahku mati terbunuh membuatku sangat kesal. Tau gak rasanya menghabiskan masa mudanya menjadi seorang pembantu tapi perjuanganmu benar-benar sangat sia-sia? Ya itulah rasanya..." gumamku meminum wiski.
"...Menemukan pembunuh keluargaku, fakta yang ada, bahkan menemukan pembunuh ayah tidaklah mudah. Banyak sekali spekulasi yang membuatku bimbang siapa pelakunya bahkan sampai bertahun-tahun aku tidak mendapatkan jawabannya dan ini pertama kalinya aku benar-benar merasa gagal menjadi ketua mafia. Tahu kan rasanya merasa gagal menjadi ketua umum organisasi mafia tertinggi yang memiliki peringkat pertama diantara organisasi lainnya? Ya seperti itulah..." desahku menggenggam erat gelas di tanganku dan meminum kembali minumanku.
"Sebenarnya kamu tahu kan kalau kamu ketua umumnya?"
"Aku tahu, aku mendapatkan jabatan itu sejak aku masih remaja tapi aku tidak mau mengakui hal itu dan menyerahkan sepenuhnya kepada Victory yang hanya sebagai ketua mafia pusat."
"Bukannya semua keputusan ada padamu?"
"Memang, aku yang merencanakan dan memutuskan semua yang dilakukan bawahanku sedangkan Victory hanya memimpin lapangan jika aku tidak mau melakukan tugas yang ku anggap tidak penting."
__ADS_1
"Dan kamu tidak diturunkan dari jabatanmu?" tanya Ray terkejut.
"Tidak, aku sering mengajukan agar aku turun jabatan tapi tahu apa respon mereka? Mereka malah memohon kepadaku agar aku tidak mengundurkan diri jadi ketua umum kan lucu ya..." desahku meletakkan gelas di meja depanku.
"Kenapa mereka tidak menyetujui pengunduran dirimu?"
"Katanya sih tidak ada yang bisa menggantikan kedudukanku sebagai ketua umum apalagi semua tugas yang diberikan kepadaku selalu berhasil dengan bagus dan tidak mengecewakan. Tapi terkadang aku sendiri capek memikirkan rencana, melakukan tugas yang elite atau bahkan sering kali hampir terbunuh saat melakukan tugas... itulah kenapa aku mencoba ingin pensiun dini tapi keadaannya kembali tidak mendukung, yaah begitulah."
"Lalu bagaimana kamu bisa menguasai peringkat pertama di dunia mafia?" tanya Ray serius.
"Menguasai ya? Hanya ada satu cara aku bisa melakukannya..." gumamku menekan dahi Ray dengan telunjukku.
"Otak?"
"Bukan."
"Lalu apa?"
"Pemikiran dan akal yang pintar, mafia yang memiliki paras tampan dan cantik sekalipun pasti akan kalah dengan mafia yang kuat dan mafia yang kuat akan kalah dengan mafia yang cerdas. Kamu paham kan maksudnya?" tanyaku serius.
"Oh jadi, kamu menggunakan pemikiranmu untuk mengendalikan dunia mafia?"
"Tepat sekali, walaupun mafiamu kuat sekalipun kalau kamu sendiri tidak bisa menyusun strategi dan rencana yang baik aku akan menjamin semua kekuatan mafiamu akan sia-sia saja..." gumamku bersandar di bahu Ray.
"Tahu gak kak Ray, kalau aku tidak terikat denganmu dan tidak mengandung anakmu aku pasti sudah datang ke kediaman keluarga Li dan membunuh semua keluarga Li dengan tanganku sendiri karena mereka sudah membunuh anak-anakku. Tapi kalau dipikir-pikir lagi akan sia-sia aku mempermainkan mereka selama ini jadi ya sudahlah..."
"Benar...aku bosan apapun yang aku lakukan akan cepat selesai hanya tinggal jentikan jari yang membuat bawahanku menjadi malas dan bergantung padaku tapi tidak aku duga akan berkepanjangan sampai menimbulkan perang mafia. Tapi ya sudahlah..." gumamku tertawa pelan.
"Kamu berbohong kan Sani?" tanya Ray meminum wiski di gelasnya yang membuat tawaku kencang.
"Hahaha... emang aku berbohong. Sekuat apapun mafiaku, sepintar apapun aku, menyelesaikan masalah yang rumit ini sejentikan jari? Tidak akan mungkin aku bisa melakukannya. Asal kalian tau aku tidak sekuat yang kalian duga jadi berhentilah menganggapku ketua umum organisasi mafia tertinggi yang membuatku muak!" gerutuku menggertakkan gigiku.
"Kamu wanita yang sangat unik ya istriku, banyak orang menginginkan diakui hebat sedangkan kamu tidak ingin diakui karena kehebatanmu ya..." gumam Ray merangkulku erat.
"Aku memang tidak ingin terkenal, aku bukan selebriti mafia jadi berhentilah kalian menganggapku sehebat itu, aku tidak hebat aku hanya pemimpin wanita yang lemah saja..." gumamku kesal.
"Dari dulu aku selalu menganggapmu sebagai wanita yang lemah karena aku akan selamanya melindungimu istriku," gumam Ray mencium keningku lembut.
"Sudah kan? Jadi sekarang ceritakan tentang mafiamu dan kepribadianmu suamiku..."
"Mafiaku ya? Tidak ada yang menarik juga sih, kami hanya bekerja disaat kalian orang biasa tertidur dengan nyenyak dan walaupun target mengetahui wajah kami dan nama kami tapi itu semua hanya kebohongan. Kami tidak menggunakan nama asli bahkan wajah asli kami."
"Kalau ada yang tahu bagaimana?"
"Langsung dieksekusi tanpa ampun?"
"Oh benarkah? Kamu kejam juga ya suamiku..." gumamku memainkan gelas di tanganku.
__ADS_1
"Ya itu peraturan di mafia kami. Cara kerja kami hampir sama dengan mafia misterius tapi yang membedakan hanya saja mereka memang mereka bermain cepat dan mereka tidak semisterius namanya, ketua umum atau bahkan anggotanya semua orang juga tahu jadi berbeda dengan mafiaku."
"Oh lalu Wili itu siapa? Aku tidak pernah mendengar namanya."
"Wili itu sekelas denganku, dia dari dulu menyukaimu dan saat aku dulu membencimu Wili selalu memintaku memberikamu untukku tapi karena darahmu berguna bagiku jadi aku selalu menolak itu. Saat kami mendengar ternyata kamu merupakan ketua umum organisasi mafia tertinggi bahkan mafiamu berada di peringkat pertama membuat kami berebut menginginkanmu."
"Menginginkanku? Bilang saja menginginkanku mati kan?" gumamku memainkan jari tangan Ray yang sangat dingin.
"Ya memang, kamu dianggap musuh yang sangat susah di taklukkan Sani bahkan masalah perasaan, kalau bukan karena kamu terikat denganku pasti kamu akan susah ditaklukkan kan?" gumam Ray santai.
"Tidak juga, perasaan dengan mafia sangat berbeda. Mafiaku memang sulit ditaklukan siapapun tapi kalau perasaan aku sangat mudah ditaklukkan, lihat saja sudah berapa pria yang membuatku hamil berulang kali bisa dikatakan aku sama seperti wanita murahan kan? Tapi lucunya kenapa kalian terus memperebutkanku?" gumam memejamkan mataku.
"Tidak masalah bagiku, itu bukan kesalahanmu hanya saja pria-pria yang mengaku suamimu lah yang buaya. Lagi pula ikatanmu dengan pria sebelumku sudah hilang, benarkah?"
"Ya benar, ikatanku dengan mereka karena anak kami. Karena anak kami telah tiada ya bisa dikatakan aku sudah tidak terikat lagi dengan pria busuk itu!" gerutuku kesal, Ray mendorongku dan menekan tubuhku kuat.
"Benar, dan sekarang kau milikku satu-satunya..." gumam Ray menggigit leherku pelan.
"Oh ya, kenapa kamu memiliki penyakit langka itu?"
"Tidak tahu, ini penyakitku sejak dalam lahir kata ayah, karena penyakit langkaku itu aku tidak bisa menahan hasratku untuk meminum darah seseorang."
"Oh begitu ya...apa rasanya sangat haus?"
"Ya, meminum air putih atau meminum apapun tidak bisa melegakan dahagaku ini.. " gumam Ray meminum darahku terdengar seperti dia sedang minum air di dalam gelas.
"Kalau kamu tidak mendapatkan darah bagaimana?"
"Rasanya tubuhku terasa sangat dingin mungkin aku akan mati karena kedinginan."
"Oh kenapa bisa?"
"Pembekuan darah ditubuhku bisa membuatku seperti berasa di tengah badai salju jika aku tidak mendapatkan darah. Tubuhku akan membiru dan jika di pegang akan terasa dingin."
"Jadi jari tanganmu tadi dingin karena penyakitmu?"
"Benar, sama seperti terkena angin dingin kan rasanya tapi yang aku rasakan adalah rasa beku di tubuhku."
"Lalu bagian mana yang suka kamu minum?"
"Tepat di urat nadi ataupun di pembuluh darah yang ada di lehermu."
"Oh begitu ya..." desahku memeluk erat Ray.
"Minumlah sepuasmu suamiku," gumamku yang membuat Ray terjatuh di atasku.
"Baiklah istriku sayang." desah Ray terus meminum darahku, tidak aku sangka tubuh sixpack Ray memiliki penyakit aneh, tapi anehnya penyakit itu tidak terlihat hanya penyakit itu bisa dirasakan, pantas saja aku memainkan hari Ray terasa sangat dingin seperti orang yang sakit.
__ADS_1