
Disepanjang jalan di wilayah utama aku melihat banyak orang yang berpakaian jubah hitam di sepanjang jalan dan berpakaian jubah merah darah di atas pohon menunduk kearah kami dan benar-benar tampak patuh dan tunduk kepada Raelan.
"Ada apa? Kenapa kau melihat sekitar?" Tanya Raelan pelan.
"Mmmm tidak ada."
"Apa kamu takut dengan mereka?"
"Tidak juga, hanya terkejut ada banyak orang saja."
"Oh tenang saja mereka bawahanku saja..." gumam Raelan pelan dan aku hanya terdiam menatap bulan merah di atasku.
Di depan kami berdiri tiga orang pria tampan yang memiliki tatapan dingin berdiri di depan sebuah bangunan yang mirip dengan sebuah kerajaan.
"Raelan! Siapa yang kau bawa itu?" Tanya salah satu pria itu.
"Dia adikku..." ucap Ravaro dingin.
"Adikmu?"
"Ya dia Raelyn."
"Raelyn?" Ucap pria itu mengarahkan senjatanya kearahku.
"Heeiii!! Apa yang kau lakukan?" Tanya Ravaro terkejut.
"Raelyn harus mati!" Ucap pria itu dingin.
"Kau jangan..."
"Mati? Oh boleh, bunuhlah..." gumamku senang, dan pria itu mendekatkan senjatanya di leherku. Tiba-tiba Raelan terlihat sangat marah dan memelukku erat.
"Turunkan senjatamu!" Ucap Raelan pelan.
"Tapi kan..." Ucap pria itu serius, Raelan menatap pria itu dengan tatapan dinginnya. Mata yang sangat memerah dan gigi taring yang muncul di bibirnya.
"Eehh k-kenapa kau begitu marah?"
"Menurutmu?"
"Tapikan dia..."
"Apa kau ingin mati... Cay!!!" Ucap Raelan dingin yang membuat pria disekitarnya menggelengkan kepala mereka dan pria itu menarik kembali senjatanya.
"Yaaah baiklah kalau itu maumu..." desah pria itu berjalan masuk ke dalam bangunan itu dan Raelan kembali melangkahkan kedua kakinya.
Di dalam bangunan itu benar-benar nampak seperti sebuah kerajaan yang besar dan mewah bahkan banyak pembantu yang berlalu lalang di sekitar kerajaan ini dan mereka sangat terlihat sibuk. Di sebuah ruang utama mereka semua terduduk di sofa berwarna coklat krem sedangkan Raelan mendudukanku di depan orang-orang itu.
"Haish baiklah kenapa kau membawanya kemari?" tanya salah satu pria itu.
"Hanya ingin."
"Hanya ingin?"
"Memang."
"Astaga gila-gilanya kau membawa buronan ke kerajaan!"
"Lalu?"
"Lalu? Astaga kau ingin mereka menyerang kerajaanmu apa?"
"Yaah itu yang aku inginkan."
"Jadi kau ingin memancing mereka?" tanya pria sebelahnya dengan serius.
"Ya."
"Memancing siapa?" Tanyaku polos.
"Tidak ada, tidak usah kau pikirkan..." gumam Raelan pelan.
"Beritahu aku Raelan atau aku aku akan mmmppphhh..." Raelan kembali menciumku yang membuatku terkejut.
"Sudah diam saja disini..." gumam Raelan pelan dan aku hanya terdiam menatap wajah Raelan dengan tatapan terkejut.
"Eeehh kau menciumnya?" Teriak ketiga pria itu terkejut.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Astaga gila-gilanya kau mencium anakmu sendiri!" Ucap salah satu pria yang membuatku terkejut.
"A...anak?" Tanyaku terkejut
"Dia memang ayahmu..." ucap Ravaro santai.
"Ayah? Eehh tapi kan... tunggu itu tidak mungkin!" Ucapku terkejut, Ravaro memberikanku sebuah hasil tes DNA milikku dan kedua kembaranku serta tes DNA milikku dan Raelan.
"Tunggu... jadi ayah kakak juga?" Tanyaku terkejut.
"Tidak, ayahku dan ayahmu sama tapi yang membedakan hanya Raelan saja. Kalau Raelan tidak meminta cek DNA pasti tidak ada yang tahu kalau Raelan itu ayahmu juga."
"Tapikan... ayah?... eehh kan umurnya masih muda bagaimana bisa dia menjadi ayahku?" tanyaku terkejut.
"Dia sebelum kamu lahir adalah calon raja, siapa yang menolak untuk bermain dengannya?" Ucap pria di depanku dengan santai.
"Bagaimana bisa kamu bermain dengan ibukku?" Tanyaku pelan.
"Yaah mungkin apa yang kau alami dengan Han juga terjadi padaku dulu. Walaupun terlihat muda tapi umurku sudah dua puluh tiga tahun selisih kita beberapa tahun."
"Ohh jadi kau bermain dengan ibuku umur 5 tahunan?"
"Yah benar sekali."
"Kenapa bisa kamu masih sekecil itu bisa..."
"Yaaah aku memiliki penyakit yang sama denganmu, penyakitku menurun ke kamu."
"Apa wajah kita mirip karena... kamu ayahku?"
"Ya benar."
"Tapi bukannya aku keturunan dari keluarga Kim, Li, Min, Claudia, Chan, Shin saja ya?"
"Kau kira dia dari marga mana?" Tanya Ravaro menatapku serius.
"Tidak tahu, memang dari keluarga mana?" Tanyaku penasaran.
"Dia Kim Raelan Permata, dia satu-satunya keturunan Kim asli."
"Eehh bukannya pria yang menjadi ayahku itu... eehh mmm siapa ya aku lupa!" Ucapku memukul dahiku bingung.
"Jangan memukul kepalamu seperti itu!" Ucap Ravaro menahan tanganku kuat.
"Kamu tidak boleh menyakiti dirimu sendiri, apa kamu mengerti!" Ucap Raelan menatapku dingin dan aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.
"Ternyata kamu juga bisa sangat perhatian dengan Raelyn ya."
"Tanpa sadar dia anakku, aku tidak akan mungkin bisa melihat anakku terluka lagi..." gumam Raelan mengusap lembut rambutku.
"Mmm kalau kamu ayahku... lalu bagaimana aku memanggilmu?"
"Panggil sesuka hatimu saja Raelyn."
"Mmmm b-baiklah. Mmm kalau kamu ayahku kenapa kamu menciumku?" Tanyaku pelan.
"Tidak ada."
"Tidak ada, pasti ada alasannya!"
"Ya, alasannya karena kamu anakku."
"Tapi kan tidak mungkin ayah dan anak saling berciuman!" Protesku kesal.
"Mungkin saja."
"Mungkin? Mana bisa jika..."
"Di budaya keluarga Kim menikah dengan orang yang semarga malah di haruskan, apalagi kau keturunan dari keluarga asli pastinya di wajibkan untuk menikah dengan orang yang memiliki keturunan asli juga! Kalau tidak ada orang yang semarga lagi maka diperbolehkan menikah dengan ayah sendiri!" Ucap pria di depanku serius.
"Tunggu tapikan aku anaknya dan aku bukan keturunan Kim asli!" Protesku kesal.
"Ya itu keputusan Raelan, apa dia akan menikah denganmu atau tidak itu keputusannya." Pria itu menatap Raelan dingin dan Raelan hanya menghela nafas pelan.
"Ayah tidak akan memaksamu untuk menikah dengan ayah, lagipula ayah sebenarnya tidak ada niat untuk menikah setelah kejadian dulu..." Raelan meminum wine di depannya dan menatapku serius.
"... ayah lebih memilih untuk menjagamu sebagai permintaan maaf ayah yang membuatmu menderita di kehidupan yang lalu."
"Tapi kan... aku... aku dulu pernah memenjarakan ayah di kehidupan yang sebelumnya dan..."
__ADS_1
"Tidak masalah, ayah tidak dendam padamu."
"Tapi banyak yang bilang pasti pria yang aku penjarakan dulu akan dendam padaku."
"Sedendam apapun ayah, ayah tidak mungkin memenjarakanmu. Gen dariku 75 persen sedangkan 25 persen lainnya dari keluarga lain, jadi bisa dikatakan kamu anakku dan darah dagingku jadi tidak mungkin aku akan membencimu."
"B-benarkah?"
"Tentu saja, untuk apa ayah berbohong."
"Tapi... maksud ayah kalau aku bisa memancing mereka itu apa?" Tanyaku bingung.
"Yaah kan kamu anak kandungku, kita semarga dan semua orang takut padaku apalagi kelemahanku dan orang-orang penyakit langka yang hebat hanya kamu, jika kamu mati pasti kami akan musnah."
"Jadi... ka... karena aku... anakmu?"
"Ya bisa dikatakan seperti itu. Aku bersalah padamu karena aku juga sudah mati di masa lalu beberapa tahun setelah kematian Ravaro, aku tahu apa yang kamu alami selama hidupmu di sana jadi aku merasa bersalah padamu." Raelan menunjuk keatas dan wajahnya tampak sangat sedih.
"Mati? Kenapa bisa?"
"Yaahhh Ravaro orang kepercayaanku, setelah kematian Ravaro itu aku sering di khianati dan dibohongi oleh orang lain yang ternyata musuh sehingga aku kehilangan mereka bertiga dan juga kehilangan orang-orang yang aku sayang."
"Apa ayah di bunuh?"
"Ya, orang-orang yang mendekatimulah yang membunuh ayah."
"Orang-orang yang mendekatiku?" Tanyaku terkejut.
"Benar, pria-pria yang bermain denganmulah yang membunuh ayah. Mereka semua gagal membunuhmu tapi Revaro dan Saputra yang berhasil membujukmu dan kamu mati di tangan mereka yang membuat hatiku sangat sedih..." jelas Raelan pelan.
"Benarkah?"
"Pastinya, orang tua mana yang ingin anaknya menderita."
"Ada dan itu yang terjadi. Pasti ayah juga."
"Tidak, ayah tidak akan membiarkanmu menderita."
"Ya kan ayah bisa aja sama seperti mereka!"
"Tidak, ayah tidak akan melakukan itu..." gumam Raelan memberikanku beberapa berkas yang dari dulu sangat aku butuhkan.
"Tunggu, ayah kenapa punya semuanya?" Tanyaku terkejut.
"Hanya ayah yang menyimpannya, kalau kau mencari di keluarga Li pasti kamu tidak akan menemukannya."
"Ya kan informasi yang aku dapatkan dari organisasi kalau..."
"Itu hanya jebakan untukmu. Walaupun itu organisasi, teman dekat, ayah kandungmu, ataupun orang yang kau percayapun mereka hanya menginginkanmu lenyap."
"Tapi kan..."
"Kau kira ibumu dan saudara tirimu memberikanmu racun yang langka dari siapa?"
"Apa ayah tahu?"
"Tentu saja, coba baca berkas itu." Aku membaca berkas itu dan terkejut, ternyata hal yang selama ini tidak aku sangka memang terjadi di kehidupan yang lalu.
"Bagaimana ayah mendapatkan ini semua?"
"Dari seluruh keluarga yang menjadi musuh kerajaan Arsy."
"Dengan mudah ayah mendapatkan ini semua?" Tanyaku terkejut.
"Ya, mereka meminta ayah untuk menanda tangani perjanjian kawin kontrakku denganmu."
"Tu...tunggu... a-apa? Dan ayah menyetujuinya?" Tanyaku terkejut.
"Ya."
"Astaga, kenapa ayah menyetujuinya?" Tanyaku terkejut.
"Ya ayah hanya ingin kau tetap aman bersama ayah, hanya itu saja. Tapi tenang saja, tidak ada yang tahu masalah itu apalagi masalah kamu adalah anak kandung ayah tidak ada yang tahu."
"Benarkah? Lalu kalau kontrak aku dengan pria-pria lain?" Tanyaku serius.
"Sudah tidak berlaku karena ayah yang menandatangani surat kuasa di pengadilan militer mafia..." gumam Raelan berdiri di sampingku.
"Hampir pagi, kamu istirahatlah dulu...kamarmu di lantai atas. Nanti ayah akan mengantarmu ke akademi untuk pesta kelulusanmu. Kalian berempat ikut aku..." gumam Raelan berjalan pergi dan diikuti ketiga pria di belakangnya.
__ADS_1
"Oh mmm baik ayah..." desahku pelan.
Terkejut itu yang aku alami sekarang ini tapi kalau itu benar-benar terjadi aku tidak mungkin bisa menolaknya apalagi wajahku dengan Raelan sangat mirip, jadi dengan informasi yang ada di tanganku ini aku pasti bisa melakukan balas dendam pada mereka semua.