
Disaat aku menikmati tidur nyenyakku, aku merasakan angin dingin yang berhembus di tubuhku, aku membuka mataku dan melihat Sino yang terlelap di depanku. Ternyata Sino tidak membawaku pergi melainkan menemaniku tertidur di pinggir danau, aku memeluk Sino erat yang membuatnya terbangun.
"Mmm kamu sudah bangun sayang?" tanya Sino pelan dan aku hanya mengangguk pelan.
"Ada apa sayang."
"Tidak ada, hanya...dingin."
"Kalau begitu mari kita pergi sayang." gumam Sino menarikku, aku menahan tubuh Sino yang membuatnya tertindih badanku.
"Izinkan aku...memelukmu," desahku pelan.
"Baiklah...aku akan mengizinkanmu istriku." gumam Sino mengusap lembut rambutku.
"Tumben kamu manja istriku?" tanya Sino pelan.
"Aku...tidak tahu, hanya sangat nyaman bersamamu."
"Oh benarkah? Baguslah kalau begitu."
"Kak Sino apa benar kita terikat kontrak nikah?" gumamku pelan.
"Ke...kenapa kamu tahu?" tanya Sino terkejut.
"Perjanjian itu ada di surat-surat ini." gumamku menunjukkan amplop besar yang aku temukan di berkas milik ayahku. Sino membuka amplop itu dan kembali menutupnya.
"Ya, benar...ayahku dan Tuan Shin yang mengikatmu tanpa sepengetahuan ibumu."
"Kenapa?"
"Karena ibumu ingin menjodohkanmu dengan Han sedangkan Rina akan dijodohkan dengan Hans..."
"Oh... benarkah? Jadi kalian berdua menginginkanku karena itu?"
"Ya, kalau keinginan kami berdua tidak sama pasti kamu milikku satu-satunya, tapi...ya aku tidak masalah kalau Fiyoni juga menyukaimu dia adik kembarku jadi aku tidak keberatan apalagi memilikimu, kami berdua sepakat untuk melindungimu dan memilikimu bersama." gumam Sino mengusap lembut rambutku.
"Selain surat itu, apa ada bukti lain kalau kita benar-benar terikat kontrak?" tanyaku pelan, Sino menggenggam erat tanganku dan mencium tanganku lembut.
"Cincin di tanganmu adalah buktinya, kamu ingat dari mana cincin ini?"
"Ayah yang memberikannya saat aku masih kecil."
"Ya kontrak kita memang sejak kita masih kecil sayang, karena keinginanku dengan Fiyoni sama maka ayah membuatkan tiga cincin sekaligus."
"Tiga cincin?" tanyaku terkejut.
"Ya... cincinmu, cincinku, dan cincin Fiyoni. Ayah membuatkannya sekalian karena ayah tidak mau kami bermusuhan apalagi kamu diinginkan setiap laki-laki, Fiyoni itu pria yang iri kalau aku mendapatkan sesuatu yang dia tidak miliki pasti dia akan ngambek dan marah."
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
"Apa kamu keberatan?"
"Tidak, aku mencintai kalian berdua dari dulu ya walaupun dulu aku tidak suka dengan Fiyoni karena sifat angkuhnya tapi aku menyukainya sedangkan denganmu..."
"Aku benar-benar mencintaimu apalagi saat kak Sino melindungiku sampai terluka parah, dulu aku sangat takut kalau kak Sino akan mati karenaku jadi aku..." desahku pelan.
"Tidak masalah, aku masih hidup jadi cintailah aku seperti dulu istriku." gumam Sino dengan wajah memerahnya sambil memelukku erat.
__ADS_1
"Ya aku akan...mencintaimu." gumamku mencium Sino lembut.
"Ooh mmm kak Sino aku ingin ke markasku."
"Baiklah, mari aku antar sayang." gumam Sino menggendongku keluar hutan dan masuk ke dalam mobil.
"Kak Sino beneran sendirian disini?" tanyaku terkejut karena tidak melihat siapapun.
"Tidak, aku dengan Fadil. Fadil sedang di markasmu, dia takut kamu memarahinya karena memberitahukanku tentang kondisimu."
"Ya pastilah aku akan..."
"Tidak perlu, kalau aku tidak segera menjemputmu aku takut kamu akan bunuh diri masuk ke dalam danau, aku tidak mau itu terjadi!" protes Sino memotong perkataanku.
"Mmm ya benar sih, aku ingin menjatuhkan diriku di danau padahal." desahku menatap keluar jendela.
"Aku tidak akan mengizinkanmu melakukan itu, hidupmu adalah hidupku juga jadi aku tidak akan mengizinkanmu melakukan hal yang membahayakan dirimu!"
"Melakukan itu adalah keinginanku tahu!"
"Tidak boleh!!" gerutu Sino menarikku dan memelukku erat.
"Kak Sino kau sedang berkendara jangan kayak gini!"
"Memelukmu saat berkendara? Tidak masalah bagiku, aku tidak mau kehilanganmu jadi jangan lakukan apapun!"
"Hmmm baik-baik aku tidak akan melakukannya." desahku mengalah.
Selama perjalanan tangan kanan Sino terus menggenggam erat tanganku. Hidupku saat ini terikat oleh dua kontrak, kontrak dengan Han dan kontrak dengan Sino yang membuatku bingung mau memilih yang mana. Aku tahu Han sekarang dengan Cahya atau Lia atau dengan Nana itu tapi saat bertemu dengan dia, aku sama sekali tidak bisa mengelak saat dia memelukku dua hari yang lalu. Tapi disisi lain...aku juga mencintai Sino, orang yang aku anggap kekasihku padahal kami tidak benar-benar berpacaran.
"Mmm tidak ada kak Sino."
"Apa kamu bingung karena kamu terikat dua kotrak nikah?"
"Sejujurnya...iya, aku bingung kenapa aku terikat dua pria sekaligus. Ditambah lagi kenyataan kalau aku adik tiri kakak apalagi aku tanpa diduga juga saudara tiri Han dan kakak kembar Rina. Pikiranku sangat kacau Kak Sino." gumamku pelan, Sino menginjak rem mobil dan menatapku serius.
"Apapun yang terjadi kamu milikku dan aku tidak peduli kamu bersaudara dengan siapa yang penting kamu tetap milikku!" ucap Sino serius, tatapannya terlihat sangat serius megatakan itu, aku menghembuskan nafas panjang dan membuka pintu mobil.
"Ya semoga saja kak Sino." gumamku pelan dan melangkahkan kakiku memasuk jalan setapak di tengah hutan.
Di depanku aku melihat markasku hampir hancur berantakan dan banyak bawahanku yang terluka. Aku langsung menghampiri salah satu bawahanku dan mencari tahu apa yang terjadi.
"Caca...Cici... ada apa? Kenapa kalian terluka?" tanyaku panik.
"Ee... mmm nona muda, se...selamat datang nona muda." gumam Caca dan Cici berusaha berdiri.
"Tidak perlu formal, kalian terluka...Apa yang sedang terjadi?" tanyaku serius.
"Mafia penentang mencari anda nona, kami bilang kalau nona muda tidak ada tapi mereka mengotot nona."
"Lalu dimana Fadil?"
"Tuan Fadil sedang memancing mereka menjauhi markas nona muda."
"Baiklah, ini obat buat kalian dan berikan obat ini buat yang lainnya juga." gumamku memberikan sekotak obat kecil yang ada di tasku.
"Tapi nona muda..."
__ADS_1
"Tenang saja aku akan membalaskan penderitaan kalian!" gerutuku kembali keluar markas, aku mencari keberadaan Fadil, aku tidak mau wakil ketuaku juga terluka.
"Sayang kamu mau kemana?" teriak Sino di belakangku, tanpa memperdulikannya aku terus mencari Fadil. Aku tidak ada waktu untuk menjelaskannya kepada Sino.
Aku memasuki hutan sambil membawa senjataku, aku terus mencari keberadaan Fadil. Tiba-tiba aku mendengar rintihan seorang pria yang seperti sangat kesakitan, aku segera mencari sumber syara itu dan melihat fadil yang terluka parah. Melihat aku datang, seorang pria berjubah langsung pergi.
"Fadil!!" teriakku terkejut.
"Sani pergilah jangan disini! Disini tidak aman!" protes Fadil serius.
"Gak usah bawel!" gerutuku mengobati Fadil yang terkena racun dari senjata musuh, untung aku membawa senjataku yang dulu jadi nyawa Fadil masih terselamatkan.
"Uuuugghh...sa...sakit!" teriak Fadil kencang.
"Udah, jangan bergerak dulu." gumamku beranjak berdiri dan berjalan pergi.
"Sani kamu mau kemana...Aauuu!!" rintih Fadil kencang.
"Aku akan mengejar mereka, kamu tunggu saja disini!" gerutuku kesal.
Aku berlari mengejar pria tadi masuk ke dalam hutan yang lebih dalam lagi, tiba-tiba ada seorang pria yang berdiri di depanku dengan tatapan dingin, aku menghentikan langkah dan menatap pria itu kesal.
"Kau siapa? kenapa kamu menyerang markasku saat tidak ada aku!" protesku kesal tapi pria itu tidak berkata sama sekali.
Tiba-tiba ada seorang yang memelukku dari belakang dan mengarahkan senjatanya di leherku yang membuatku tidak bisa bergerak sama sekali.
"Si...siapa kalian!" protesku kesal.
"Kenapa kamu sangat ingin tahu?" gumam seorang pria di belakangku, suara yang tidak asing bagiku, aku sedikit menoleh dan melihat wajah San yang begitu jelas terlihat dimataku.
"Ka...kamu San? Jadi dia...Samuel?" tanyaku terkejut.
"Ternyata kamu masih ingat ya?"
"Pembunuh ayahku, siapa yang tidak ingat kalian berdua!" gerutuku kesal, aku berusaha melukai mereka tapi genggaman San sangat erat membuatku tidak bisa melakukan apapun.
"Ayahmu hanya sampah sama seperti ibumu dan kamu juga...sama!" gumam San menggoreskan pedang beracunnya ke leherku.
"Uuuuggghhh...ja...jadi kalian ingin membunuhku ya?" rintihku kesakitan.
"Ya, kami berbeda dengan keluarga Li yang sangat ingin melindungimu."
"Oh...baguslah, bunuh saja aku...aku tidak keberatan." gumamku menutup kedua mataku.
"Tapi aku keberatan!" gerutu Sino dan Fiyoni berjalan kearahku.
"Ka...kalian!" teriak San dan Samuel terkejut, San mendorongku yang membuatku terjatuh ketanah dan kepalaku membentur batu besar.
"Beraninya kalian melukai istri kami!" teriak Fiyoni berusaha mengejar dua orang itu. Aku menatap Sino yang terduduk di depanku, mungkin karena benturan keras di kepalaku membuat penglihatanku kabur saat ini.
"Sayang kamu tidak apa...Tunggu kenapa kepalamu berdarah?" tanya Sino terkejut.
"Kaa...kak Si..Sino.." desahku pelan.
"Fiyoni!!! lupakan mereka...Sani terluka parah!!!" teriak Sino kencang.
Aku masih bisa merasakan kalau Sino menggendongku tapi karena benturan di kepala dan racun sudah menyebar di tubuhku membuat penglihataku kabur dan aku menjadi tidak berdaya, aku memejamkan kedua mataku dan pingsan digendongan Sino.
__ADS_1