Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 103 : Meminta Ijin Ray


__ADS_3

Setelah beberapa menit berlalu akhirnya guru Rendi kembali ke ruangan dengan membawa beberapa kertas dan diberikan padaku, aku membaca satu persatu kertas itu dan mencoba memahami rencana yang akan dilakukan mereka nantinya.


"Bagaimana menurutmu Sani?" tanya guru Rendi menatapku serius.


"Kalau menurut Sani, rencana ini tidak akan berhasil."


"APA!!" Teriak Ray dan Wahyu kencang.


"Apa kau yakin Sani, padahal menurut kakek rencana mereka sudah sangat sempurna."


"Kalau hanya untuk perang kecil tidak masalah, aku sudah pernah bertemu Alan kakek walaupun kekuatannya sama kuatnya dengan kak Ray tapi rencana ini tidak akan berhasil. Alan memiliki dua perencana lainnya selain Samuel kakek, selama ini Alan melakukan semuanya dengan rencana Samuel tapi Samuel ada di tanganku jadi semua tidak tahu bagaimana rencana Alan nantinya pasti akan percuma saja jika menggunakan rencana ini kakek..." gumamku mengembalikan kertas itu.


"Jadi kamu percaya dengan ucapan Han tadi?" tanya Soni serius.


"Percaya atau tidak dia orang yang jujur jika denganku kak."


"Ya aku tahu kok Sani...aku juga mengerti tentang Han dari dulu..." gumam Soni pelan.


"Jadi rencana itu tidak berhasil?" tanya Wahyu serius.


"Ya benar, kalau tidak percaya cobalah."


"Kau gila? Aku tidak mau mati dahulu tahu!" gerutu Wahyu kesal.


"Kalau rencana itu tidak berhasil lalu rencana apa yang harus mereka lakukan?" tanya tetua serius.


"Masalah rencana ya...aku belum bisa memastikannya tetua, aku harus mendapatkan informasi dari Samuel dahulu."


"Kenapa harus mencari informasi dari Samuel, bukannya dia tidak mau mengatakannya kepada Fadil?" tanya Ray serius.


" Sebenarnya Han dan Samuel itu sama, dia tidak akan memberitahukan apapun kepada orang lain tapi dia akan mengatakannya langsung kepada Sani apalagi mereka berdua mantan kekasih Sani dan mereka sangat mencintai Sani...." ucap Soni serius yang membuat Ray menatapku dingin. "Astaga si kakak... dia yang berbohong untuk menutupi kejadian tadi malah bilang terang-terangan seperti ini!" gerutuku dalam hati. Ray langsung mendorongku dan menatapku dingin.


"Jadi benarkah kamu dipeluk dan di cium oleh Han itu!" gerutu Ray menatapku dingin sedangkan aku hanya terdiam menatap Ray yang benar-benar marah.


"Astaga Soni yang bodoh kenapa kau ucapkan masalah tadi!" protes Fadil kesal.


"Uuuppsss keceplosan..." gumam Soni memukul dahinya kuat.

__ADS_1


"Benarkah istriku yang bandel?" tanya Ray menatapku dingin.


"A...aku..." gumamku pelan, aku bingung harus mengatakan apa kepada Ray apalagi bukan aku yang menginginkannya tapi Han yang tiba-tiba memelukku dan menciumku seperti tadi.


"Kenapa kamu nampak kebingungan? Sepertinya aku harus memberikan hukuman buatmu agar kamu tahu bagaimana jika kamu membuatku cemburu Sani Shin!!!" gerutu Ray menarikku masuk ke dalam sebuah kamar dan langsung mengunci pintu kamar.


"A...apa yang akan kamu lakukan kak Ray?" tanyaku terkejut melihat wajah Ray benar-benar terlihat marah.


"Hanya memberimu hukuman agar kamu tidak bandel lagi istriku yang nakal!" gerutu Ray membaca sesuatu di bibirnya dan menggigit leherku dengan kuat.


"Uuuggghhh sa...sakit kak Ray..." rintihku pelan.


"Jadi jujurlah padaku Sani, apa yang Han lakukan tadi padamu?" ucap Ray meremas lenganku kuat.


"Yaa... sebenarnya dia tadi memelukku dan menggenggam tanganku dengan lama, dia menceritakan sebagian informasinya padaku. Aku bisa mempercayai perkataannya karena Han jika berkata jujur selalu menggenggam erat tanganku dan dia melakukan hal yang sama tadi. Tidak hanya Han tapi Samuel akan melakukan hal yang sama jika berkata jujur padaku..." gumamku pelan sambil menahan sakit di leherku.


"Apa dia menciummu juga?" tanya Ray melepaskan gigitannya dan menatapku dingin.


"Ta...tadi dia sebelum pergi menciumku kak Ray, bukan aku yang menginginkannya!" ucapku serius.


"Oh jadi benar ya firasatku..." gumam Ray mengangkat tangannya yang membuatku ketakutan, aku menutup kedua mataku karena aku takut tiba-tiba dia menamparku apalagi aku belum pernah melihat Ray terlihat semarah itu hanya kata orang-orang kalau Ray marah akan sangat menakutkan dan hukumannya tidak tanggung-tanggung lagi. Tapi tidak aku sangka Ray hanya menciumku dan sesekali mengusap bibirku dengan lembut.


"Ka...Kak Ray tidak marah?" tanyaku pelan.


"Tentu saja aku marah! Aku tidak mau orang lain merasakan milikku, tapi karena kamu jujur padaku dan aku takut jika aku benar-benar marah membuatku menyakiti dirimu lagi maka aku hanya bisa memaafkanmu istriku yang bandel..." gumam Ray kembali memelukku erat.


"Lalu kenapa kak Ray tadi seperti membaca sesuatu saat menggigitku?" tanyaku pelan.


"Hanya mengantisipasi kalau aku mengeluarkan racunku saja."


"Ohh... mmm tapi kak Ray nanti kalau aku menginterogasi Samuel pasti dia akan melakukan hal sama seperti yang dilakukan Han bagaimana?" tanyaku pelan.


"Tidak boleh!"


"Tapi kak Ray, dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya kalau tidak.."


"Tidak ya tidak!"

__ADS_1


"Kak Ray sekali ini saja aku mohon, aku harus mendapatkan informasi dimana ayahku berada. Walaupun Han berkata hanya Alan yang tahu letaknya tapi aku percaya kalau Samuel juga tahu tempatnya jadi aku ingin menginterogasinya kak Ray, please!" gumamku menatap Ray serius.


"Tidak ya Tidak!" gerutu Ray kesal.


"Aku mohon sekali ini aja kak Ray, kalau kamu mengijinkanku melakukannya maka kak Ray boleh sesuka hati kak Ray menghukumku bagaimana?" gumamku pelan.


"Menghukummu? Apa kau yakin?" tanya Ray menatapku dingin.


"Ya hukuman apapun bolehlah asalkan kak Ray mengijinkanku..." gumamku pelan. Ray menatapku sambil tersenyum dingin kearahku, sepertinya ada yang direncanakan oleh Ray.


"Baiklah aku mengijinkanmu melakukan apapun sesukamu, berhubung kamu sedang hamil anak kita jadi aku akan menghukummu setelah anak kita lahir bagaimana?" tanya Ray tersenyum dingin kearahku.


"Eee...mmm emang kamu akan menghukumku dengan apa?" tanyaku terkejut.


"Kamu akan tahu nantinya."


"Oh mmm ba...baiklah kalau begitu, terimakasih kak Ray..." gumamku pelan, aku tidak tahu apa yang direncanakan oleh Ray tapi untuk saat ini aku harus mencari tahu dimana keberadaan ayah apapun yang terjadi.


"Untuk apa kamu berterimakasih padaku jika aku pasti akan menghukummu?" ucap Ray dingin.


"Ya aku hanya berterimakasih karena kak Ray mau memberikanku kesempatan untuk mencari ayahku, lagipula apapun hukuman kak Ray tetap aku terima kok."


"Kenapa kamu menerima apapun hukuman dariku? Padahal orang lain pasti akan memohon agar aku tidak memberikan mereka hukuman."


"Kalau bagiku tidak masalah karena aku sudah biasa mendapatkan hukuman lebih berat sejak kecil dan aku menganggap kak Ray menghukumku karena aku juga yang bersalah telah menyakiti kak Ray jadi aku akan menerimanya dengan lapang dada."


"Oh apa hanya itu alasanmu?" tanya Ray dingin.


"Ya. hanya itu alasanku kak Ray."


"Oh baiklah, aku akan memberikan hukuman yang spesial untukmu. Benar-benar membuatku tidak sabar untuk menghukummu..." gumam Ray memainkan rambutku.


"Hmmm, urusanku disini sudah selesai kan? Aku mau menemui Samuel."


"Untuk apa kamu terburu-buru?"


"Aku harus mendapatkan informasi keberadaan ayah kak Ray sebelum ayah dibunuh Alan!" ucapku serius.

__ADS_1


"Oh sebentar lagi kamu boleh pergi, aku masih ingin darahmu!" ucap Ray kembali menggigit leherku sedangkan aku hanya terdiam sambil memikirkan apa yang akan aku katakan saat bertemu dengan Samuel, aku tidak mau sampai aku terlupa sedikitpun untuk mendapatkan informasi apalagi kali ini bisa dibilang informasi yang berharga.


__ADS_2