
Di tempat persembunyian, aku dan Fadil merawat Ray dan Rayan hingga mereka sadar sepenuhnya. Angin badai salju di luar tempat persembunyian kami membuat aku harus menjaga tiga orang pria di depan perapian
Aku bingung bagaimana caraku untuk pergi ke kerajaan Kim milik ayah apalagi tempat itu jauh dari tempat kami berada sekarang ditambah lagi diusiaku kecil seperti ini belum memiliki pesawat mafia sendiri.
"Hmmm..." desahku menuangkan air hangat dan aku bagikan kepada mereka bertiga.
"Apa yang kamu pikirkan Sani?"
"Emm tidak ada kak Fadil, oh ya kak Fadil tahu tentang kerajaan Kim?"
"Kerajaan Kim? Aku tahu Raelyn!" Ucap Rayan serius.
"Hey nama dia Sani bukan Raelyn!" Protes Fadil kesal.
"Sudahlah kak Fadil, Raelyn juga namaku kok. Oh ya bagaimana cara kita kesana?" Tanyaku serius.
"Kesana bisa ditempuh dengan berjalan kaki seminggu."
"Astaga seminggu? Gila saja seminggu!"
"Serius Raelyn, tapi nanti kita ke markasku dulu, aku ada mobil agar kita bisa kesana."
"Markasmu dimana?"
"Diwilayah Barat."
"Haish wilayah barat itu bertentangan dengan wilayah kami!" Ucap Fadil serius.
"Mmm kalau begitu kita ke markas mafia pusat saja dulu kak Fadil."
"Tapi mereka bagaimana?" Tanya Fadil serius.
"Karena Ray tidak memiliki mafia maka dia akan aku jadikan wakil mafiaku ditambah jika Rayan mau bekerjasama menggabungkan kedua mafia kita menjadi satu maka tidak akan ada masalah."
"Astaga kau gila apa? Bergabung dengan mafia musuh yang..."
"Tidak masalah, aku menyetujuinya apalagi aku yakin Raelyn bisa menguasai mafia sama seperti dahulu!"
"Yaah semoga saja, aku tahu kelemahan musuh tapi aku takut hal yang sebelumnya tidak aku ketahui menjadi aku ketahui dan aku takut kalau aku kesulitan."
"Tenang saja istriku, aku akan membantumu. Aku mengamati semuanya dari kamu kecil sampai kamu dewasa dan kembali ke masa remajamu."
"Hmmm baiklah, terimakasih Rayan."
"Haish aku masih tidak mengerti yang kalian bicarakan, masa kecil? Raelyn? Dan aahh apalah itu membuatku pening."
"Kalau kak Fadil tidak tahu lebih baik kak Fadil diam dan amati saja apakah di kehidupan yang kita jalani sekarang akan sama dengan kehidupan yang aku ceritakan padamu!" Gumamku beranjak pergi dan bersandar di dinding kayu.
"Aku ingin istirahat, besok pagi kita akan pergi..." gumamku pelan.
"Kamu setiap hari tidur seperti itu?" Tanya Ray serius.
__ADS_1
"Ya begitulah, memang kenapa?"
"Apa kamu tidak kedinginan?" Tanya Ray serius.
"Tidak, aku sudah biasa jadi lebih baik kalian istirahat saja..." gumamku pelan dan tertidur pulas.
Saat aku benar-benar tertidur, aku merasa aku sedang bersama dengan Satria. Satria duduk disebelahku yang membuatku terkejut.
"Satria?" Ucapku terkejut.
"Hai ibu!"
"Kamu... Satria?" Tanyaku terkejut, aku memeluk erat Satria yang membuat Satria terkejut.
"Iya ibu, ibu merindukan Satria?"
"Tentu saja, maafkan Satria tidak bisa menjaga ibu yang..."
"Satria, ibu yang harusnya minta maaf. Ibu selalu saja tidak bisa menjaga Satria dan..."
"Ibu Satria tidak apa tapi Satria minta maaf karena Satria tidak bisa berinkarnasi lagi jadi Satria mohon ibu jaga diri ibu baik-baik ya..." gumam Satria pelan dan tiba-tiba menghilang.
"Satria!!!" Teriakku kencang yang membuat tiga pria di perapian terkejut melihatku. Rayan terduduk di sampingku dan mengusap lembut rambutku. Aku menangis kencang tapi Rayan hanya terdiam memelukku erat.
"Satria? Siapa Satria?" Tanya Fadil bingung.
"Satria itu anaknya dengan Han di kehidupan lalu."
"Han adalah kepala kemiliteran mafia kak Fadil.." ucapku mengusap kedua mataku.
"Haaah ntahlah aku benar-benar tidak mengerti."
"Ya sudahlah nanti kamu akan tahu sendiri kok kak Han. Untuk saat ini hanyalah sebatas tahu agar tidak terkejut."
"Haish baiklah terserah kau saja. Tidurlah lagi, hari masih malam."
"Aku tidak bisa tidur. Uhuukkk... Uhhuukkk..."
"Kamu mau darah?" Tanya Rayan pelan, tanpa mengatakan apapun aku langsung menggigit leher Rayan.
"K-kau minum darah?" Tanya Ray terkejut.
"Ya, dia memiliki penyakit langka. Jadi dia membutuhkan darah, tapi tidak aku sangka darah Rayan bisa mengobatinya."
"Kami terhubung dan darah kami sama jadi darahku bisa menjadi obatnya."
"Oh begitu ya, baguslah. Penyakitnya sudah lama dan dia tidak pernah tersentuh obat sama sekali."
"Kenapa?"
"Yaah kamu pasti tahu lah perang mafia ini sudah berapa lama terjadi? Apapun perangnya, Sani lah yang membereskannya apalagi kalau pelimpahan tugas yang berantakan sangat membuat kami lelah menyelesaikannya."
__ADS_1
"Kalau tidak sanggup, untuk apa di paksa?"
"Yaah namanya tugas apalagi mafia kami di percaya oleh organisasi mafia lainnya."
"Kalau di percaya lebih bagus lagi sih apalagi mendapatkan kepercayaan organisasi mafia lainnya sangat susah..." guman Rayan pelan dan akhirnya mereka bertiga kembali berbincang-bincang.
Kwaaakkk...
Tiba-tiba terdengar suara burung elang dari luar, aku membuka jendela dan burung itu menghinggap di bahuku. Aku mengambil kertas di kaki burung itu dan membacanya.
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
"Ada apa?" Tanya Fadil bingung.
"Tetua meminta kita segera kembali, akan ada acara di markas kak Fadil."
"Oh mau sekarang?"
"Nanti saja."
"Kalau sudah mau pergi bilang aku mengantuk.." desah Fadil berbaring dan Ray mengikuti Fadil berbaring disebelahnya.
"Ya nanti aku akan mmmppphhh..." Rayan menciumku yang membuatku terkejut.
"R-Rayan kamu..." Rayan mengarahkan telunjuknya di bibirku yang membuatku terdiam.
"Husstt mereka sedang tidur jangan diganggu." guman Rayan kembali menciumku. Rayan mendorongku dan menciumku lembut.
"Haaah akhirnya aku bisa merasakannya."
"Merasakan apa?" Tanyaku bingung.
"Merasakan aku bisa setiap hari bersamamu."
"Apa kamu dari dulu menginginkannya?"
"Tentu saja, di kehidupan lalu hanya bisa melihatmu di perbatadan surga dan neraka, saat kamu kesulitan aku hanya bisa sedih tidak dapat menolongmu dan menghiburmu, disaat kamu bermain dengan pria-pria itu rasa sakit hati selalu saja muncul Raelyn, ingin aku memarahimu tapi aku sadar aku saja sudah mati dan kamu tumbuh cantik di dunia bagaimana aku bisa..."
"Rayan... Maafkan aku, aku tidak tahu. Tapi di kehidupan ini aku berjanji akan menjaga diriku dan dirimu apalagi aku tahu kelemahan orang-orang yang hidup di masa lalu dan kehidupan ini aku akan berusaha merubah nasib kita berdua, mohon bantuannya ya suamiku!!" Ucapku serius dan Rayan kembali menciumku.
"Tentu saja, aku akan membantumu istriku."
"Terimakasih, oh ya nanti kalau matahari terbit kita pergi ya."
"Baiklah, sekarang tidurlah lagi istriku."
"Kamu tidak tidur?"
"Ya nanti aku akan tidur setelah kamu tidur istriku." Mendengar ucapannya aku langsung menggenggam tangannya erat.
"Baiklah Rayan..." gumamku memejamkan kedua mataku dan Rayan memelukku erat. Entah kenapa aku merasa sangat nyaman saat aku memeluk Rayan ditambah lagi Rayan begitu sangat mencintaiku.
__ADS_1