
Aku memang pamit untuk istirahat di kamar tapi aku berjalan turun ke penjara bawah tanah yang ada di bawah ruang markasku. Aku ingat aku pernah memenjarakan Samuel di penjara bawah tanah, ya mana tahu kalau aku bertemu Samuel saat ini.
"Permisi nona muda, anda akan pergi kemana?" Tanya seorang pria menundukkan badan di depanku.
"Oh mmm aku ingin pergi ke penjara bawah tanah."
"Mari saya antar anda nona muda..." gumam pria itu berjalan mendahuluiku. Di dalam ruang penjara bawah tanah, aku melihat sebuah ruang bawah tanah yang memiliki dekorasi dan penempatan ruangan yang mirip dengan penjara bawah tanah milikku sebelumnya.
"Silahkan nona muda."
"Oh mmm terimakasih, oh ya apakah ada tahanan yang bernama Samuel?"
"Samuel? Tidak ada nona muda."
"Benarkah? Lalu... siapa saja yang di penjara disini?" Tanyaku serius, pria itu memberikanku sebuah buku dan aku terkejut kalau tahanan yang ada sama seperti saat aku kecil dulu.
"Hanya itu nona."
"Oh mmm lalu... nama ini siapa?" Tanyaku menunjuk sebuah nama asing diantara nama tahananku yang lain.
"Ini salah satu pelaku yang membuat anda tidak sadar lama nona dan orang ini juga salah satu pelaku yang menghancurkan markas kita yang berhasil tertangkap nona muda."
"Salah satu pelaku? Oh benarkah? Tunjukkan padaku orangnya..."
"Penjara yang itu nona muda..." gumam pria itu menunjuk sebuah penjara yang sangat gelap di ujung ruangan penjara bawah tanah ini.
"Oh baiklah, kau tunggu saja disini..." gumamku pelan dan berjalan masuk ke dalam penjara itu, saat aku berdiri di depan seorang pria yang berpakaian lusuh dengan tatapan dinginku terdengar pria itu menghela nafas panjang dan sedikit tertawa.
"Apa yang lucu?" Tanyaku dingin dan pria itu mengangkat wajahnya menatapku, wajah yang tidak asing bagiku... wajah dari Samuel... mantan kekasihku yang dulu terpampang nyata di depanku.
"Ternyata kamu masih hidup ya Sani!"
"K-kau... kenapa kau bisa menyerang markasku?" Tanyaku dingin.
"Hanya ingin."
"Hanya ingin? Kau selalu seperti itu kalau di tanya, apa kau ingin mati!" gerutuku kesal.
__ADS_1
"Aku ya? Yaah kalau bisa mati aku akan berterimakasih padamu. Lagi pula kau yang seharusnya harus mati."
"Aku? Untuk apa aku harus mati dan..."
"Dan seharusnya kau mati! Kalau saja Raesya dan Raetya tidak melakukan ritual terlarang pasti kau sudah mati waktu itu."
"Raesya? Raetya? Bagaimana kau tahu masalah ritual terlarang?" Tanyaku terkejut.
"Hahaha siapa yang tidak tahu masalah itu, seluruh wilayah utama tahu masalah ritual terlarang itu lagi pula seharusnya kau bersyukur ritual terlarang yang tidak sempurna itu berhasil. Padahal saat itu Revaro dan Redgar berhasil membunuhmu loh tapi ternyata saat kau akan mati kedua kembarmu itu berhasil melakukan ritual terlarang dengan terpaksa sehingga ya kau hidup kembali tapi kita semua kembali ke masa kecil dengan jalan cerita kehidupan yang berbeda..." jelas Samuel mengangkat sudut bibirnya sambil menatapku dingin.
"Revaro? Saputra? Membunuhku?" Tanyaku terkejut.
"Tentu saja, semua orang membencimu dan menginginkanmu mati. Tapi ya mungkin Ravaro tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah juga."
"Ravaro? Siapa Ravaro?" Tanyaku terkejut.
"Kakak kandung Revaro, di kehidupan sebelumnya dia mati karena berusaha menyelamatkan ibunya tapi dikehidupan ini dia masih hidup dan tidak mati bersama ibumu lagi, yaaah bisa dibilang sangat susah untuk membunuhmu jika dia masih hidup."
"Ravaro? Bukannya dia itu Revaro?" Tanyaku terkejut.
"Revaro dan Ravaro itu berbeda, Ravaro sangat membenci dengan kedua kembarmu dan jika bertemu mereka akan bertarung hebat sedangkan Revaro sangat dekat dengan kedua kembarmu. Yaah walaupun wajah mereka sangat mirip tapi kepribadian mereka berbeda, untuk membedakan mereka sangat susah tapi hanya melihat anting yang dipakai bisa dilihat bedanya."
"Anting Ravaro di telinga kanan dan Revaro di telinga kiri, yah walaupun mereka sama-sama di wilayah utama tapi mereka sama sekali berbeda mafia dan berbeda kekuasaan. Revaro di kekuasaan Mayor bersama dengan Saputra dan kedua kembarmu sedangkan Ravaro di kekuasaan Minor bersama dengan kerajaan terkuat, kerajaan Arsy..." jelas Samuel serius.
"Oh begitu ya..." desahku terduduk diatas lantai dan memainkan jariku.
"Jadi yang datang di kerajaan Arre itu..."
"Dia Ravaro, dia datang karena tahu kamu ada di kerajaan Arre."
"Eehh bagaimana kamu tahu?" Tanyaku terkejut.
"Yaah seperti sebelumnya..." gumam Samuel menunjukkan alat komunikasi kecil di telinganya.
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
"Kau nampak bingung, apa yang kau pikirkan?"
__ADS_1
"Aku ya? Yah bisa dibilang ada banyak hal yang aku pikirkan."
"Kau dari dulu memang suka berpikir ya."
"Yaah begitulah..." desahku melepaskan rantai di tubuh Samuel.
"Eehh kenapa kau melepaskanku?"
"Ya hanya ingin saja..." gumamku memberikan secarik kertas untuknya.
"Apa ini?"
"Berikan kepada orang yang bernama Raelan tapi jangan beritahukan siapapun."
"Raelan? Kau mengingatnya?"
"Mengingat apa?"
"Ya dia orang yang pernah kau masukan ke dalam penjara bawah tanah."
"Yang mana? Kapan? Aku apa pernah memenjarakan orang yang..."
"Pernah, sewaktu perang mafia dulu. Kau pernah di cium pria asing saat kau tertidur di bawah pohon... yaah untung dia seorang calon raja jadi dia bisa bebas setelah terpenjara selama satu tahun dari hukuman sumur hidup."
"Tunggu, jadi pria itu?" Tanyaku terkejut saat mendengar penjelasan Samuel.
"Ya pria itu Raelan, dia tidak sengaja menciummu saat kau terbangun dari tidurmu, benarkan?"
"Dia mencium anak kecil yang..."
"Itu hanya sebuah ciuman bukan harga dirimu, Raelan yang hanya menciummu saja kau berani memenjarakannya seumur hidup sedangkan Han... dia malah bermain denganmu dan menjatuhkan harga dirimu di masa anak-anak yang membuatmu memiliki anak dan selalu dipermainkan banyak pria saja kau tidak berani memenjarakannya, apa yang membuatmu sangat tunduk kepada Han yang menjatuhkan harga dirimu itu?" Tanya Samuel berdiri di depanku yang membuatku terdiam.
"Jika dibandingkan Han, kau harusnya memilih Raelan dan kau bisa mendapatkan perlindungan dari Raelan tapi kau malah menjatuhkan harga dirinya dengan memenjarakannya di penjara bawah tanah yang menjadi penjara paling menakutkan bagi para mafia. Pasti Raelan akan sangat dendam padamu di kehidupan yang sekarang apalagi dia juga mengingat bagaimana sakitnya penderitaan yang dia alami di penjara bawah tanah."
"Kalau kau ingin aku memberikan surat ini, aku akan memberikan padanya tapi... kau harus berhati-hati dengannya, takut kalau kau akan kalah dan mati jika melawannya..." gumam Samuel tersenyum dingin kearahku dan berlari pergi.
"Tunggu Samuel, bukan maksudku yang..." teriakku berusaha menghentikan Samuel tapi Samuel sudah menghilang dengan cepat.
__ADS_1
"Oh mmmm sudahlah." desahku pelan dan beranjak pergi, ucapan Samuel benar-benar mengganggu pikiranku dan aku sangat bingung apa yang akan aku lajukan selanjutnya.