Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 122 : Hidup Kembali


__ADS_3

Di telingaku terdengar sebuah alat dengan kencang, tubuhku benar-benar terasa sangat kaku dan seperti sedang di tahan oleh sesuatu yang membuat tubuhku tidak bisa bergerak. Aku membuka mataku perlahan dan melihat beberapa orang disekitarku dengan samar.


"Sani bangun!!" Teriak seorang pria kencang dan terdengar suara samar beberapa orang di sekitarku.


"Eehhh..." desahku menatap sekelilingku dan ternyata aku berada di rumah sakit dan banyak alat yang terpasang di tubuhku, pantas saja aku tidak bisa bergerak bebas.


"Kabari tuan Vincent segera!"


"Ya sedang aku lakukan!" teriak beberapa orang dengan kencang, aku yang masih belum bisa melihat dengan sempurna hanya mencoba mengamati sekitar. Penglihatanku benar-benar sangat kabur bahkan alat yang menempel di tubuhku benar-benar terasa menyiksaku saat ini, aku kesal kenapa aku tidak bisa mati seperti yang aku inginkan selama ini.


Tiba-tiba muncul wajah seorang pria yang terlihat samar menatapku dengan khawatir dan senang, wajah itu mendekati wajahku dan terlihat jelas kalau wajah itu adalah wajah Vincent bahkan di sebelahnya aku melihat wajah Alvaro yang terlihat khawatir juga.


"Adikku, kau tidak apa-apa kan?" Tanya Alvaro menggenggam erat tanganku dan aku hanya menggelengkan kepalaku pelan.


"Benarkah? Apa tubuhmu terasa sakit?"


"T-tidak, kenapa aku bisa disini?" Tanyaku pelan.


"Astaga kau hampir mati tahu!" Protes Elvaro menatapku dingin.


"Seharusnya biarkan aku mati saja..." gumamku menatap Vincent dingin dan membuang mukaku kesal.


"Apa kau kira aku akan membiarkan adik kecilku mati dengan mudah? Kau menghilang selama bertahun-tahun! Apa yang kau pikirkan sebenarnya?" Tanya Alvaro menatapku dingin.


"Hanya kematian yang aku inginkan..." gumamku pelan dan menutup mataku.


"Apa kau kira kami dan ayah mengijinkanmu mati dengan mudah?" Ucap Elvaro dingin.


"Dimana ayah? Aku ingin bertemu dengannya."


"Ada, ayah sedang tidur semalam dia menjagamu jadi siang ini dia tertidur..." gumam Alvaro pelan.


"Apa kau ingin bertemu ayah sekarang? Aku akan memanggilnya."


"Tidak perlu, nanti saja biarkan ayah beristirahat..." gumamku mencoba melepaskan alat-alat di tubuhku ini.


"Hei kau tidak boleh melakukan itu! Apa yang kau pikirkan sebenarnya!" Protes Vincent menahan tanganku.


"Kenapa? Sudah aku katakan kan, jangan khawatirkan aku dan kembalilah dengan anak istrimu! Kenapankau memperdulikanku!" Ucapku dingin yang membuat Vincent terdiam.


"Astaga kau memang bandel ya adikku! Jangan kau lepas alat-alat itu!" Protes Elvaro kesal.


"Apa sih kakak?" gerutuku kesal.


"Sudah diamlah tanganmu itu nanti aku bius agar kau tahu rasa!" gerutu Elvaro menatapku dingin yang membuatku kesal.


"Dari pada kau bius mending kau bunuh saja, aku lebih menyukainya!" gerutuku kesal.

__ADS_1


Tookkk...toookk...


Terdengar suara ketukan pintu yang terdengar keras di luar ruangan, saat pintu terbuka aku melihat Fadil berjalan kearahku dengan membawa beberapa makanan di tangannya.


"Aku dengar Sani sudah sadar ya?" Tanya Fadil senang.


"Tuh, dia dari tadi ingin melepaskan alat-alat itu!" Gerutu Elvaro kesal.


"Ya pantaslah, dia tidak suka banyak alat yang menempel di tubuhnya..." gumam Fadil meletakkan maknana itu di meja.


"Vincent... kau dicari dia tuh... lebih baik kau selesaikan urusanmu..." gumam Fadil dingin dan Vincent tanpa berkata apapun langsung pergi meninggalkan kamar.


"Oh ya jadi... kau kemana saja selama ini Sani!" Gerutu Fadil mendekatkan wajahnya ke wajahku.


"Itu tidak penting... bunuh aku kak Fadil!"


"Astaga, kau hampir mati tahu dan kau malah menyuruhku membunuhmu!"


"Untuk apa aku hidup coba?"


"Apa kau kira Vincent akan mengijinkanmu mati dengan mudah?"


"Dia sudah punya anak dan istri, buat apa dia lakukan itu!" Protesku kesal.


"Eeehh mmm ooohh kamu sudah tahu ya..." desah Fadil pelan dan terduduk di sampingku.


"Ya vincent dinikahkan paksa oleh kakak kembarnya."


"Dari mana kau tahu?" Tanya Elvaro serius tapi aku hanya terdiam menatap Fadil serius.


"Jangan bilang dari mimpi burukmu?" gumam Fadil mengupas pisang di tangannya.


"Ya benar, bahkan aku melihat ayah memberikanku sebuah botol hitam agar aku melupakan semuanya dan menganggapku Sania yang membuat ibu sangat kesal dan penyiksaan itu terjadi padaku..." gumamku pelan.


"Benarkah? Sedetail itu?"


"Ya begitulah..."


"Tunggu dulu! Ayah? Maksudmu ayahnya Soni?" Tanya Alvaro serius.


"Ya pastinya, siapa lagi... apalagi kau tahulah masalah itu."


"Tapi aku tidak tahu perihal botol itu!" Ucap Alvaro serius.


"Kau meninggalkan Sani sendiri di keluarga Shin, jadi bagaimana kau tahu?" gumam Fadil dingin yang membuat Alvaro kesal.


"Oh ya kak Fadil... aku ingin bertanya padamu..." gumamku pelan.

__ADS_1


"Tanya apa?"


"Aku tadi bertemu Sania... dia berkata kalau ada seseorang yang sangat membenciku tapi dia ingin menghancurkan hidupku, apa kak Fadil tahu siapa orangnya?" Tanyaku pelan.


"Sania? Apa kau benar-benar bertemu dengannya?" Tanya Elvaro serius.


"Ya, aku sudah dua kali bertemu dengannya disaat aku akan mati kemarin tapi aku hidup lagi karena diselamatkan kalian padahal aku ingin mati tahu!" Gerutuku kesal tapi Elvaro dan Alvaro malah menceramahiku habis-habisan.


"Ada..." gumam Fadil yang membuat Alvaro dan Elvaro berhenti menceramahiku.


"Ada? Siapa?" Tanyaku penasaran.


"Tanyakan pada ayahmu tuh..." gumam Fadil menatap ayah yang sedang meminum wine di pojok ruangan.


"Apa gadis kecilku sudah sadar?" tanya ayah pelan.


"Sudah ayah."


"Benarkah?" tanya ayah berjalan kearahku dan memelukku erat.


"Astaga dasar kau memang ya... hmmm membuat ayah sangat khawatir selama beberapa tahun ini, kau kemana saja?" Tanya ayah serius.


"Hanya ingin mengasingkan diriku dihutan saja ayah.." gumamku pelan.


"Astaga kau itu gadis kecil ayah, jadi lain kali jangan lakukan itu, apa kau mengerti!" Ucap ayah mencubit hidungku kuat.


"A...aduh baik-baik ayah..."


"Hmmm ayah sangat khawatir denganmu anakku..." gumam ayah pelan.


"Ayah tenang saja, aku bisa menjaga diriku kok."


"Menjaga diri? Kau saja hampir mati membusuk dihutan tahu!" Protes Alvaro kesal.


"Yaahh aku hanya ingin mati saja..."


"Hmmm anakku, jangan berpikir untuk mati. Kau memiliki satu musuh yang sangat berbahaya..." gumam ayah serius.


"Musuh? Siapa? Beri tahu aku ayah!" Ucapku serius.


"Nanti dulu, kamu harus makan dulu..." gumam ayah mengambil salah satu makanan yang dibawa Fadil.


"Tapi ayah..."


"Kau harus makan, nanti ayah ceritakan semuanya padamu anakku..." gumam ayah menyuapiku pelan dan aku hanya terdiam memakan makananku.


"Hmmm sudah lama sekali aku tidak pernah menyuapimu anakku, benar-benar membuatku sangat senang..." gumam ayah senang.

__ADS_1


"Ayo habiskan anakku..." gumam ayah terus menerus menyuapiku.


Melihat tatapan senang ayah membuatku tidak berani menolak sama sekalu apalagi aku hanya memiliki ayah dan kedua kakak kandungku jadi aku harus menyenangkan mereka untuk saat ini dan aku ingin mendapatkan informasi yang penting dari: ayah.


__ADS_2