Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 117 :Pertarunganku Dengan Ray


__ADS_3

Aku dan Vincent masih terus bertatap-tatapan bahkan kamu tidak peduli dengan kejadian diluar kamar saat ini yang aku pikirkan adalah... bagaimana bisa semua niat dan tugas jahatku diketahui olehnya bahkan tanpa sadar Vincent adalah target utamaku sejak kecil.


"Kenapa kau terlihat sangat kesal?" Tanya Vincent memulai pembicaraan ini.


"Seumur hidupku, aku tidak pernah kalah dalam pertaruhan apapun!" Gerutuku kesal.


"Benarkah? Tapi kau kalah bertaruh denganku."


"Itu karena kau tidak memberitahukanku apa pertaruhan yang kau maksudkan!" Protesku kesal.


"Kalau aku memberitahukannya pastinya kau sudah tahu apa yang harus kau lakukan apalagi kau pemikir dan pertarung yang handal, lagi pula Fadil sudah mengatakannya bukan kalau aku lebih licik darimu."


"Ciihh kau benar-benar menyebalkan!"


"Memang, apa ayahmu tidak mengatakannya tentangku?"


"Tidak."


"Oh benarkah? Padahal bisa saja ayahmu menolak perjodohan ini loh."


"Kau menyelamatkan nyawa ayah bagaimana ayah mau menolak perjodohan ini?"


"Oh padahal hanya kebetulan saja aku menyelamatkannya, lagi pula aku ketua mafia bawah tanah yang terkenal kejam tidak peduli dengan siapapun."


"Kalau begitu kenapa kau menyelamatkan nyawa ayah?"


"Karena kebetulan saja..." gumam Vincent kembali meminum winenya.


"Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan!"


"Memang tapi aku menyelamatkan ayahmu hanya karena suatu kebetulan."


"Oh begitu ya..." desahku beranjak dari tempat tidur dan merebut botol wine yang digenggamnya.


"Kau berusaha menahanku dengan taruhan yang tidak masuk akal itu karena apa?" Tanyaku serius tapi Vincent hanya terdiam sambil menghidupkan rokoknya.


"Apa kau hanya berencana mengajakku bekerjasama?" Tanyaku menatap Vincent serius.


"Bekerjasama ya? Tidak juga, lagi pula kau dan aku berbeda organisasi."


"Banyak yang menginginkan bekerjasama denganku walaupun berbeda organisasi dan..."


"Aku tidak tertarik bekerjasama denganmu..." gumam Vincent mengambil senjatanya dan menepis sesuatu di depanku.


"A...apa itu?" Tanyaku terkejut, aku mengambil sebuah jarum yang ada di depanku.


"Jarum dari musuh... " gumam Vincent bergegas pergi, aku menatap jarum itu dan terkejut kalau jarum itu milik Ray.


"T-tunggu ini kan milik kak Ray?" Gumamku pelan.


"Ada apa Sani?" Tanya Fadil berlari kearahku, aku memberikan jarum itu dan Fadil menatapku terkejut.


"I...ini kan jarum Ray!"


"Memang dan itu..."


"Vincent dalam bahaya!" Ucap Fadil langsung berlari pergi.

__ADS_1


"Haah? Bahaya? Maksudnya?" Tanyaku bingung tapi Fadil sudah jauh di depanku.


"Oh astaga, apalagi ini!" gumamku pelan dan berlari menyusul Fadil.


Di depan gedung aku melihat banyak orang yang sudah terluka bahkan Vincent dan Fadil juga terluka, awalnya aku berpikir Ray akan menjemputku saat ini tapi kenyataannya adalah dia ingin membunuhku disaat aku ada di depan matanya.


"Apa maksudmu?" Tanyaku kesal.


"Apa kau tidak mengerti? Kau hanya alat dan gara-gara kau membuatku menderita!"


"Menderita? Sejak kapan aku membuatmu menderita?" Protesku kesal.


"Sejak kapan? Haah kau sama seperti ibumu hanya wanita murahan yang dijadikan alat bagi mafia dan gara-gara ibumu... aku kehilangan jodohku kau tahu!" Protes Ray kesal.


"Kenapa kau tiba-tiba membicarakan Sania?" Tanyaku terkejut.


"Kalian kaluarga Shin dan keluarga Li memang membuatku sangat muak!" Gerutu Ray terus menerus menyerangku.


"Seumur hidupku... aku tidak pernah menganggap Li sebagai marga keluargaku dan sama sekali... jangan anggap aku sebagai keluarga Li apalagi menganggapku wanita murahan!!" Teriakku kencang dan terus menyerang Ray dengan kesal.


Pertarungan kami berdua benar-benar sengit, aku sama sekali tidak terima jika aku direndahkan seperti itu dan bahkan aku tidak terima kalau wakilku juga dilukai mereka.


"Ray, kita mundur dulu!" Teriak Soni kencang saat seorang wanita tadi pagi berlari kearah kami.


"Baiklah..." desah Ray segera berlari pergi bersama pasukannya.


"Jangan lari kau!!" Teriakku kencang tapi Vincent berusaha menggenggam erat tanganku dan terjatuh di sampingku.


" Lepaskan Vincent!"


"J-jangan dikejar..." gumam Vincent pelan.


Plaaakk...


Suara tamparan yang sangat keras terdengar, aku menatap wanita itu dengan terkejut, aku ingin membalasnya tapi melihat tatapannya benar-benar membuatku terdiam.


"Kau! Gara-gara kau adik kecilku selalu tersiksa! Gara-gara kebodohanmu itu adik kecilku menjadi gila! Dan hanya gara-gara kau adik kecilku berani menentangku! Kau hanya wanita murahan! Kau tidak pantas menjadi istri adikku!" Ucap wanita itu kencang dan aku hanya menundukkan wajahku dan terdiam pelan.


"Kakak! Kau tidak boleh mengatakan hal itu!" Protes Vincent dingin.


"Gara-gara wanita itu hidupmu sangat menderita bahkan penyakitmu bertambah parah setiap harinya!"


"Tidak kakak bukan karena dia hanya saja aku..."


"Kau selalu saja menyalahkan dirimu bukannya menyalahkan wanita itu, kalau aku bisa membatalkan perjodohanmu pasti sudah ku batalkan sejak dulu!"


"Tutup mulutmu!" Ucap Vincent dingin.


"Sampai kapanpun aku tidak akan menganggapnya istrimu, ingat itu!" Ucap wanita itu berjalan pergi sedangkan aku hanya terdiam menahan sedih.


"Dia masih saja bermulut pedas ya Vincent..." gumam Fadil berjalan kearahku.


"Yaahh begitulah."


"Sani jangan kau masukkan dalam hati, Vica memang seperti itu..." gumam Fadil memukul bahuku pelan tapi aku hanya terdiam.


"Sani, kau tidak apakan?" Tanya Fadil serius.

__ADS_1


"Eehh mmmm aku obati luka kalian dulu..." gumamku pelan dan mengobati luka di tangan Fadil dan di kaki Vincent.


"Kamu tidak apakan?" Tanya Fadil serius.


"Mmm t-tisak kok Kak Fadil..." gumamku membalut luka Fadil.


"Hmmm jangan dimasukan kehati perkataan mereka, Ray memang dari awal ingin membunuhmu hanya saja ada Viu dan Xiao Min yang membuatnya tidak bisa melakukannya."


"Benarkah?" Gumamku pelan.


"Yaah benar, saat ini Viu dan Xiao Min sedang sibuk jadi dia berencana membunuhmu malam itu tapi kedua kakak kandungmu datang yang membuatnya gagal membalaskan dendam."


"Bagaimana kau tahu?" Tanya Vincent serius.


"Aku yang selalu memergoki Ray saat akan membunuh Sani saat Sani tertidur pulas. Tidak hanya Ray tapi Soni dan orang lain juga ingin membunuhnya saat dia tertidur.


"Oohh jadi dia jarang tertidur karena itu?" tanya Vincent serius.


"Benar, dia memang sebuah alat pembunuh di mafia tapi banyak yang menginginkan mati bahkan ibu kandungnya dan ayah tirinya..." ucap Fadil santai.


Ucapan Fadil benar dan sebenarnya yang aku katakan pada Vincent tadi memang kenyataannya tapi tidak ada yang percaya dengan kata-kataku. Aku menatap pergelangan tangan kananku dan melihat ujung benang merah yang ada ditanganku adalah tangan kanan milik Vincent.


"Jadi benar ya aku dijodohkan dengan Vincent... tapi kenapa benang itu terlihat di dunia nyata ini?" gumamku pelan.


"Uuuhhuukkk...Uuhhuukkk..." tiba-tiba Vincent batuk berdarah yang membuatku terkejut.


"Kamu kenapa?" Tanyaku serius.


"Tidak apa kok...." gumam Vincent berjalan kembali masuk kedalam gedung. Di dalam kamar Vincent meminum sebuah obat dan dari wajahnya terlihat sangat tersiksa.


"Penyakitmu kambuhkah?" tanya Fadil pelan.


"Yaahhh begitulah."


"Penyakit?" Tanyaku serius.


"Vincent memiliki penyakit yang sama denganmu, ayahmu dan ayah Vincent menjodohkanmu dengan Vincent karena penyakit kalian. Vica memang dari awal tidak setuju peejodohan kalian makanya saat kau melakukan hal bodoh dia benar-benar marah besar apalagi Vincent setiap hari selalu menahan sakit yang luar biasa gara-gara kamu!" ucap seorang wanita berjalan kearah kami.


"Eehh kau udah dewasa saja Vera!" Ucap Fadil terkejut.


"Tentu saja, oh ya perkenalkan aku Vera dan aku adik kandung pria menyebalkan itu."


"Mmm aku Sani, oh ya kata kamu tadi penyakit milik Vincent?


"Benar, sebenarnya waktu Vincent hidup tidak lama lagi. Kami menyuruhnya untuk tidak terus melakukan hal bodoh yang membuatmu sadar karena semua itu percuma tapi Vincent tidak peduli yang membuat hidupnya tidak lama lagi."


"Vera!!!" Teriak Vincent kesal.


"Apa? Aku hanya mengatakan yang sejujurnya kok."


"Diamlah kau!" Gerutu Vincent kesal.


"Penyakit... yang sama denganku?" gumamku pelan.


"Sudahlah jangan percaya perkataannya, aku tidak apa kok... aku ingin istirahat..." gumam Vincent terbaring di tempat tidurnya.


"Ciihh dasar kau sok kuat!" Gerutu Vera berjalan pergi.

__ADS_1


"Kau istirahatlah Sani, biar aku yang akan menjaga sekitar..." gumam Fadil berjalan pergi. Aku menatap wajah Vincent yang membiru dan benang merah di tanganku belum juga menghilang membuatku berpikir apa dia berusaha menenangkanku agar aku tidak khawatir dengannya?


__ADS_2