Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 161 : Pasrah


__ADS_3

Saputra benar-benar memelukku erat, sama seperti di mimpiku kalau Saputra sangat senang bertemu denganku dan ternyata Saputra benar-benar senang bertemu denganku bahkan dia memelukku dengan tubuh yang bergetar hebat.


"Kenapa kau terlihat senang?"


"Ya... aku mencarimu, aku kira kalau aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi. Setelah tahu kamu menikah, aku benar-benar sangat sedih dan penyakitku berulang kali kambuh yang membuatku dikurung di tempat ini."


"Kenapa kamu sedih? Kan kamu juga sudah menikah bukan?"


"Aku belum menikah, pria yang menjadi penggantikulah yang menikah dengan wanita-wanita itu."


"Benarkah?"


"Sejak kapan aku berbohong padamu, aku sangat mencintaimu Raelyn... aku..."


"Maaf Saputra, maaf kalau aku bersalah padamu... aku belum menikah resmi hanya saja... karena suatu kecelakaan membuatku punya anak dan banyak yang menganggapku sudah menikah."


"Benarkah? Lalu dimana anakmu?"


"Anakku dibunuh ayah kandungnya karena perintah Tian..."


"Tian itu bukannya si Alan ya?"


"Ya begitulah..." gumamku melepaskan pelukan Saputra dan memberikan senjataku kepadanya yang membuatnya bingung.


"Saputra... aku minta tolong padamu... bunuhlah aku."


"Bunuh?"


"Ya, aku bersalah padamu... hidupku sangat rumit... aku..."


"Tidak! Aku tidak mau!"


"Ayolah Saputra, aku mohon padamu!" Ucapku serius.


"Tidak! Aku tidak mau!" Protes Saputra membuang senjataku dan berlari pergi.


"Saputra! Kau kemana?" Teriakku kencang tapi Saputra terus berlari meninggalkanku sambil berteriak tidak mau.


"Oh astaga... kenapa sih susah banget!" gerutuku kesal dan berusaha mengejar Saputra.


Tidak lama aku mengejar Saputra, aku benar-benar kehilangan jejak. Selama beberapa menit aku mengitari kerajaan tapi aku sama sekali tidak menemukan Saputra. Di sebuah jendela, terlihat sebuah bulan yang berwarna merah bersinar terang di langit. Melihat bulan itu membuatku teringat kalau hari ini adalah bulan merah dan penyakit Saputra akan kambuh.


Di taman belakang kerajaan aku melihat banyak orang yang terbaring di tanah dengan genangan darah di sekitarnya. Aku segera menuju ke salah satu pohon dan bersembunyi memantau sekitarku.


"Tuan... saya tidak menemukan Sani!" Ucap seorang pria pelan.

__ADS_1


"Dimanapun?"


"Benar tuan..." ucap pria itu pelan, aku sedikit mengintip dan melihat ditengah-tengah sekumpulan orang berdiri tetua raja kerajaan Arre, ayah dan juga Fadil.


"Haish kemana lagi itu anak..." desah ayah khawatir.


"Tenang aja Valo, berarti anakmu aman... yang penting sekarang kita pikirkan, apa yang harusnya kita lakukan untuk menahan dia!" Ucap pria di sebelah ayah dengan khawatir. Aku menatap di depan mereka berdiri Saputra yang penuh dengan darah diantara mayat yang ada di sekitarnya.


"Saputra?" Gumamku pelan, aku ingin rasanya pergi kesana tapi ayah, Fadil dan kakakku akan menahanku agar aku tidak mendekati Saputra.


"Astaga... kenapa mirip di mimpiku sih?" gumamku mengambil beberapa jarumku dari tasku dan melemparkannya tepat di kaki semua orang seperti di mimpiku.


"Haish tinggal dikit lagi jarumku!" Desahku pelan dan menutup tasku.


"Eehhh kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?" Teriak orang-orang terkejut.


"Aduuh kenapa bisa tiba-tiba kaku seperti ini!" Ucap ayah terkejut.


"Tunggu dulu... ini pasti ulah Sani... Sani! Aku tahu kau sedang bersembunyi!" Teriak Fadil dingin dan aku hanya terduduk di dahan pohon sambil menatap mereka semua.


"Yaaah ketahuan ya..."


"Ini mirip di mimpimu, apa kau kira aku akan lengah Sani!" Ucap Fadil menggerakkan badannya dan berjalan ke arahku.


"Yaaahh aku tahu kok, kak Fadil pasti lebih mengerti aku dari pada semua orang..."


"Ya begitulah, aku sudah meminta Saputra untuk membunuhku tapi dia menolak dan berlari meninggalkanku padahal aku lebih terhormat bisa di bunuh olehnya..." gumamku melemparkan jarum khususku kearah Fadil.


"I-ini... astaga kau benar-benar gila ya Raelyn!!!" Protes Fadil kesal.


"Raelyn ya... tumben kak Fadil memanggilku Raelyn."


"Nama samaran dan nama aslimu itu, apa aku salah memanggilmu Raelyn?"


"Tidak juga, terserah kak Fadil mau memanggilku apa. Lagi pula... aku tidak peduli aku Sani atau Raelyn. tetap saja... tidak ada yang menganggapku."


"Apa maksudmu? Kenapa kamu mengatakan seperti itu anakku?" Tanya ayah terkejut.


"Aku hanya... mmm tidak ada kok ayah..." gumamku turun dari pohon dan merebut senjata khusus milik Fadil.


"Heeii!! Apa yang akan kau lakukan?" Protes Fadil terkejut.


"Hanya ingin bermain dengan teman lama saja..." gumamku menggoreskan pedang itu dan berjalan kearah Saputra.


"Sani berhenti!! Jangan dekati dia!" teriak ayah kencang tapi aku tidak memperdulikannya.

__ADS_1


"Sani! Dengarkan ucapan ayah! Sani!!" Teriak ayah kencang.


"Sani berhenti!" teriak ayah kencang tapi tetap tidak aku pedulikan.


"Raelyn berhenti!!!" Teriak seorang wanita kencang dan aku menghentikan langkah kakiku dan menghela nafas sambil menatap Saputra dengan wajah yang menakutkan.


"Kenapa kalian berdua ada disini?" Gumamku pelan.


"Apa itu mengganggumu?"


"Tidak juga, tapi untuk apa kalian datang lagi pula aku tidak penting bagimu kan... kak Raesya... Raetya..." ucapku dingin sambil menatap dua wanita cantik di atas pohon. Kedua mata mereka sama dengan warna ungu muda dan berbeda denganku yang berwarna merah keunguan.


"Raesya? Raetya?" Ucap ayah terkejut.


"Siapa bilang kau tidak penting?"


"Aku... dan itu yang terjadi bukan... jadi... pergi saja kalian..." gumamku dingin dan kembali berjalan ke arah Saputra.


"Kami tahu penderitaanmu, kami tidak menyalahkanmu... urungkan niatmu untuk mengakhiri hidupmu Raelyn!"


"Hmmm kalau kalian tahu..." gumamku menundukkan kepalaku kebawah.


"Kalau kalian tahu... kenapa kalian tidak mencariku!! kenapa kalian tidak menyelamatkanku!!! kenapa kalian tidak ada disaat aku menderita!!! kenapa kalian tidak..."


"Kami tahu... kami salah padamu... keputusan ayah menganggapmu Sani membuat kami memutuskan pergi, apa kau tahu Raelyn... mimpimu itu adalah kenyataannya... hanya saja kau kembali ke masa lalu.... masa dimana penderitaanmu dimulai... dan Raetya yang melakukan ritual terlarang... seharusnya kau mati setelah menikah dengan Saputra tapi Raetya berusaha mencegah hal itu sebelum kau benar-benar mati!" Ucap wanita itu menatapku serius.


"Kenyataan?"


"Ya, itu adalah kenyataan dan bukan kisah hidup Sani Shin tapi itu adalah kenyataannya... kau menikah dengan banyak pria dan kau selalu menderita karenanya tapi kau sama sekali tidak bertobat! Apa kau ingin seperti Sani Shin dan ibu yang suka bermain pria? Kematianmu juga karena kebodohanmu itu... kematianmu adalah hukuman atas kebodohanmu Raelyn!! Walaupun begitu kami tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, kau kembaran kami Raelyn!" Teriak wanita itu kencang yang membuatku terdiam, aku menghela nafasku dan menatap darahku yang menetes ke tanah.


"Jadi... semua itu bukan mimpi ya..." gumamku pelan.


"Bukanlah! Kalau kau melakukan hal yang sama seperti dulu... kau akan dibunuh oleh Saputra! Saputra sangat membencimu! Kau musuh semua orang Raelyn!" Ucap wanita itu kencang.


"Aku tahu kok... aku hanya sebagai alat sejak kecil dan aku tahu kalian semua membenciku apalagi Saputra dan Fadil juga pasti membenciku karena kebodohanku dan karena aku tidak berguna. benarkan?" gummku melemparkan dua jarum khususku kearah dua wanita itu dan kembali berjalan.


"Tidak! Aku sama sekali tidak membencimu Sani! Aku hanya..."


"Tenang saja kok kak Fadil, kak Fadil bisa mencari orang lain sebagai ketuamu..." gumamku kembali berjalan kearah Saputra.


"Raelyn! Apa kau benar-benar bodoh?" teriak wanita itu kesal.


"Ya aku memang bodoh dan aku mengakui akan hal itu, tidak ada yang menyayangiku bahkan hidupku dan nasibku benar-benar rumit...." gumamku menadahkan darahku di telapak tanganku dan mengusapkannya di bibir Saputra.


"Kau membenciku bukan? Kalau begitu bunuhlah aku saat ini juga Redgar..." gumamku tersenyum kearah Saputra dan Saputra langsung mendorongku sambil menggigit leherku kuat yang membuatku terjatuh di tanah.

__ADS_1


"Bagus... lanjutkan..." gumamku memeluk tubuh Saputra erat.


Kenyataan? Kalau kata wanita itu benar pastinya aku akan benar-benar mati saat ini, hidupku yang sangat rumit membuatku malas melanjutkan hidup. Kalaupun Saputra adalah jodohku maka... aku akan berterimakasih padanya kalau aku bisa mati ditangannya untuk kali ini.


__ADS_2