Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 160 : Menemukan Saputra


__ADS_3

"Nak sudah selesai belum?" Teriak ayah dari bawah disaat aku mempersiapkan senjataku.


"Iya ayah, Sani datang!" teriakku segera turun ke bawah dan menemui ayahku.


"Sudah siap?"


"Sudah ayah..." gumamku pelan.


"Baiklah mari berangkat..." ucap ayah berjalan keluar dan masuk ke dalam sebuah mobil sedangkan aku, Fadil dan kedua kakakku mengikuti ayah dari belakang.


Selama perjalanan ayah, Fadil, dan kedua kakakku membahas beberapa bahasan salah satunya tentang Sani dan ayah terlihat bangga mendengarnya sedangkan aku terdiam menatap keluar jendela mobil sambil menggenggam pergelangan tanganku.


"Ibu... di mimpiku itu... ibu menceritakan tentang Kak Sani atau aku? Kenapa ibu bilang kalau aku hebat padahal yang hebat kak Sani kan? Ibu bangga dengan kak Sani kan? Ayah dan ibu tidak menyayangiku sebagai Raelyn kan? Ayah dan ibu menyayangiku karena kalian menganggapku kak Sani kan? Jawab ibu!!!" Teriakku dalam hati kesal.


"Kakak... Kak Revaro, kamu juga menyayangiku karena ayah dan ibu menganggapku Sani kan? Kakak tidak menyayangiku karena aku Raelyn kan? Benarkan? Jawab kakak!! Jawab!!!" Teriakku dalam hati kesal, entah kenapa tapi dalam hatiku terus menerus berteriakk kesal. Aku tidak berani memprotes ayah langsung, aku takut ayah bersedih jika tahu aku kecewa atau sedih.


"Tapi... Kak Raesya... adikku Raetya... kalian dimana? Apa kalian tidak mengingatku? Apa kalian juga tidak menganggapku sebagai Raelyn?" desahku dalam hati.


Aku terus mengganggam erat pergelanganku dan air mataku menetes membasahi pipiku, sejujurnya aku bingung... walaupun tidak seperti dimimpiku tapi... aku merasa mimpiku saat aku tidak sadar itu merupakan kehidupanku yang akan aku jalani, tapi aku tidak ingin terlalu mempermainkan pria lagi dan bernasib seperti kak Sani dan ibu, apalagi nampaknya aku dengan kak Sani memiliki kesamaan dalam kehidupan ini.


"Sani, kenapa kamu menangis?" Tanya Fadil menatapku bingung.


"Eehh mmm t-tidak ada kok kak Fadil." aku segera mengusap air mataku dan bersikap biasa saja.


"Apa kamu serius?"


"Ya."


"Lalu kenapa kamu menangis anakku?" tanya ayah khawatir.


"Mmm tidak kok ayah, hanya mataku kelilipan saja ayah."


"Kelilipan? Kan di mobil bagaimana bisa..." ucap Alvaro menatapku serius.


"Ohh mmm begitu ya, kalau begitu lain kali hati-hati Sani!" Ucap Fadil menganggukkan kepalanya, Fadil tahu apa kesedihanku apalagi sejak kecil hanya Fadil yang selalu menemaniku.


"Ya baiklah..." desahku pelan dan kembali menatap keluar jendela.


"Kita sudah sampai, mari kita turun!" Ucap Fadil pelan yang mengagetkanku dan kami semua turun dari mobil.


Di depan mobil terlihat pesta yang sangat meriah dan tamu undangan yang berpakaian mewah berlalu lalang di sekitar kerajaan. Disaat aku berada di dalam kerajaan, aku melihat beberapa pria yang sedang duduk di kursi khusus di antara orang-orang berjubah di lantai atas.


"Apa mereka putra mahkota?" gumamku dalam hati, aku menatap satu persatu sekalian menghitungnya mereka dan tepat di hitungan ketujuh aku hanya terlihat kursi kosong saja.


"Eeehh kosong?" ucapku terkejut, aku menatap sekitarku dan tidak menemukan Saputra.


"Apa dia tidak datang di kerajaan?" gumamku pelan.


"Nak ada apa?" Tanya ayah mengagetkanku.

__ADS_1


"Ohh mmm tidak ada ayah."


"Apa kamu mencari Pangeran ke tujuh?"


"Ya ayah."


"Dia ada, tapi tidak ikut pesta ini."


"Apa karena penyakitnya ayah?"


"Ya, semoga saja dia tidak mengamuk nanti. Kalau mengamuk pasti akan sangat merepotkan."


"Tapi kan itu tidak adil ayah!"


"Ayah tahu, tapi tenang saja, dia pasti datang..." ucap ayah melirik seorang pria bertopeng masuk ke dalam pesta.


"Tapi kata ayah dia tidak ikut?"


"Kemarin bilang tidak ikut sih tapi mungkin dia juga ingin sekali-kali merasakan pesta kerajaan... apalagi ini pestanya."


"Yaahh mungkin saja ayah..." gumamku mengambil wine di depanku. "Tapi... aku tidak percaya kalau pria itu adalah saputra, aku harus mencari tahu!!!" Gumamku dalam hati.


"Astaga kamu masih kecil! Kenapa minum minuman keras?" Ucap ayah menatapku kaget.


"Aku... aku hanya ingin ayah."


"Tapi kan kamu masih kecil!"


"Nak, tidak baik untuk kesehatan!"


"Ayah tenang saja, aku bisa menjaga diriku sendiri..." gumamku pelan.


"Haish kamu sama seperti ibumu, susah kalau dinasehatin."


"Tapi aku tidak ingin seperti ibu kok ayah..." gumamku pelan dan menghabiskan wineku.


"Ayah aku ada urusan sebentar, kalau ada apa-apa ayah telpon saja ..." gumamku berjalan pergi meninggalkan aula pesta menuju ke sebuah ruangan kosong yang sebelumnya aku tidak mendatanginya.


Aku memiliki tugas dan aku ingat kalau aku harus menyelesaikannya sebelum pesta berakhir, aku memiliki rencanaku dimana aku akan pergi menghilang agar aku bisa mencari kembaranku yang hilang. Apalagi selama aku di kawasan musuh selama berbulan-bulan aku mendapatkan informasi kalau pangeran ketujuh di kurung di dalam kerajaan karena penyakitnya.


"Ruangan apa ini?" Gumamku menelusuri setiap sudut ruangan itu.


"Apa yang kau lakukan disini?" Ucap seorang pria yang sedang berdiri di kegelapan ruangan tersebut. Aku menatap pria itu dan melihat seorang pria dengan mata merah keunguan yang sedang terantai di dinding.


"Aku... mmm tidak ada..."


"Siapa kamu?" Ucap pria itu dingin.


"Aku... bukan siapa-siapa."

__ADS_1


"Bukan siapa-siapa? Ciiiihh tidak ada siapapun yang boleh masuk ke kawasan ini kau tahu!" Ucap pria itu dingin.


"Entah, aku tidak tahu..." gumamku pelan sambil berjalan kearah pria itu.


"Berhenti! Kau tidak boleh datang kemari!"


"Kenapa? Apa itu salah?"


"Tidak! Kau tidak boleh datang!"


"Jika kau melarang maka aku semakin ingin mendatangimu..." gumamku berdiri tepat di depannya dan aku melihat wajah tampan yang terlihat samar di tengah kegelapan.


"Aku kira... pria bertopeng di ruangan pesta itu kamu, tapi ternyata orang lain ya..." gumamku mengusap pipi lembut itu.


"Ciiihh aku tidak mengenalmu!" Gerutu pria itu kesal.


"Oh benarkah?" Gumamku mengambil ponselku dan menyorotkan lampu ponselku ke arah wajahnya, saat lampu ponselku tepat mengenai pria itu membuatku terkejut kalau pria di depanku benar-benar Saputra.


"Heei!!! Lampumu menyilaukan tahu!!!" Protes pria itu kesal.


"Jadi benar ya, kalau selama ini aku tidak mengajari Pangeran ketujuh..." gumamku pelan.


"Pangeran ketujuh? Hahaha dia hanya penggantiku! Aku hanya kutukan! Jadi pergilah!" Protes Saputra kesal.


"Jadi kamu mengusirku?"


"Tentu saja!"


"Kalau aku tidak mau bagaimana?" Tanyaku mengusap bibir pucatnya dengan lembut.


"Apa kau ingin mati?"


"Ya... aku sangat ingin..."


"Kenapa kau ingin mati?"


"Aku bersalah padamu, aku ingin minta maaf padamu, mungkin maafku tidak kau terima..." gumamku pelan.


"Apa maksudmu?"


"Yaah aku berada di kerajaan ini karena ingin meminta maaf padamu Redgar, gara-gara aku... kamu kritis dan sekarang kau memilliki kutukan seperti ini. Andaikan dulu aku berhasil menyelamatkanmu... mungkin kau tidak akan menderita..." gumamku pelan.


"Tunggu... kamu Raelyn?" Tabya Saputra terkejut.


"Tentu, menurutmu aku siapa?"


"Astaga... aku tidak percaya... aku bisa bertemu denganmu lagi...." gumam Saputra menatapku terkejut.


"Aku akan melepaskanmu Saputra..." gumamku segera melepaskan rantai-rantai itu, disaat rantai itu terlepas seluruhnya Saputra langsung terjatuh kearahku sambil memelukku erat.

__ADS_1


"Akhirnya... akhirnya aku bisa bertemu denganmu..." gumam Saputra memelukku erat sedangkan aku hanya terdiam sambil menahan tubuhnya, melihat Saputra terlihat sangat senang membuatku hanya terdiam membalas pelukannya. Sebenarnya aku tidak terkejut tapi pikiranku selama ini tentang murid yang aku ajari itu benar, pria yang mengaku Saputra itu benar-benar bukan Saputra apalagi perilaku Saputra sama seperti masa kecilnya sedangkan pria yang menyamar itu memiliki perilaku yang berbeda.


__ADS_2