Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 128 : Pertemuan Kapal Pesiar


__ADS_3

Walaupun aku memiliki tugas berat tapi aku berusaha tidak menunjukkan kalau aku memikirkan sesuatu, aku baru tahu kalau Sanjaya itu berada di organisasi misterius dimana salah satu organisasi yang ditakuti oleh semua organisasi. Kedudukan organisasi misterius dengan organisasi tersembunyi itu sama dan juga termasuk jajaran organisasi yang terkuat. Pertemuanku dengan Sanjaya di luar kapal tadi membuatku takut jika Sanjaya menanyakan tantang identitas tetua Ben dan pastinya aku akan susah menjawabnya.


"Sani ada apa?" Tanya Fadil pelan.


"Target kita apa sudah nampak?" Tanyaku pelan.


"Sudah, tadi saat kamu bersama tetua."


"Benarkah? Dimana dia?" Tanyaku pelan.


"Di dalam ruang pertemuan."


"Pertemuan?"


"Ya pertemuan para mafia."


"Tapi kenapa para tetua organisasi mafia datang juga?" Tanyaku serius.


"Ada suatu pertemuan penting, makanya banyak orang penting yang berjubah hitam dan memakai topeng di kapal ini..."


"Pertemuan apa? Apakah kita..."


"Tidak perlu, Freya dan Frey sudah menemani tetua lagi pula jika kau ikut pasti penyamaranmu bertahun-tahun ini akan gagal!"


"Oohh mmm baiklah..." desahku pelan.


Tiba-tiba alunan musik terdengar di telingaku, banyak tamu yang menikmatinya dan ada juga yang berjalan keluar aula pesta, Fadil mendekatkan bibirnya di telingaku dan mencoba membisikkan sesuatu.


"Ayo kita juga harus pergi..."


"Kita juga?"


"Kau ingin tugas dari Sanjaya selesai tidak?" Tanya Fadil pelan.


"Oh baiklah..." desahku menyembunyikan lencana asli milikku dan pergi ke suatu ruangan di tengah-tengah kapal pesiar ini.


"Tunjukkan lencana anda!" Ucap seorang pria di depanku, aku menunjukkan lencana mafiaku dan pria itu mengijinkan aku masuk ke dalam ruangan.


Di dalam ruangan itu aku melihat banyak ketua mafia datang ke pertemuan itu diantara mereka semua hanya beberapa orang yang aku kenali selain itu aku tidak mengenalnya.


"Sani, apa pria itu target kita?" Tanya Fadil pelan.


" Haaah? Pria? Pria yang mana?" Tanyaku penasaran.


"Itu, yang di jaga ketat tuh..." gumam Fadil menatap orang yang ada di kursi paling pojok dengan penjagaan ketat.


"Dia? Terlihat sangat tua ya..." gumamku mengambil kertas tugasku dari tetua dan mencoba mencocokannya.


"Dia juga targetku..." gumamku mengembalikan kertas itu pada Fadil.

__ADS_1


"Tapi nampaknya agak sulit Sani."


"Yaaah mungkin, oh ya apa akan ada pertunjukan?"


"Ada sepertinya."


"Benarkah?"


"Kalau tidak, mana mungkin pria itu dijaga sangat ketat,"


"Ohhh mmmm benar juga sih..." desahku pelan.


"...baiklah pertemuan kali ini dimulai..." gumam pembawa acara serius.


"Haaahhh...." desahku menatap Sanjaya yang menatapku dingin sedari tadi. "Dia kenapa sih!" gerutuku dalam hati.


"...apa ada usulan?" tanya pembawa acara serius dan satu persatu memberi masukkannya.


"Kak Fadil kamu yang menjawabnya.." gumamku pelan dan Fadil menganggukkan kepalanya. Aku mengambil beberapa jarum beracunku dari dalam tas dan mempersiapkannya untuk targetku.


Disaat Fadil memberikan masukan di pertemuan itu, membuat fokus bicara semua orang kearah Fadil tapi hanya pria targetku yang berfokus kepada lingkungan sekitarnya. Aku mencoba melemparkan jarumku tapi ternyata jarumku tidak bisa mengenai kakinya.


"Ciihh menyebalkan!" Gerutuku kesal, Fadil menghentikan ucapannya dan menatapku bingung.


"Ada apa?"


"Fokuslah di pertemuan inilah!" Gerutuku kesal dan Fadil kembali melanjutkan ucapannya. "Bagaimana aku melakukan ini!" gerutuku kesal.


"...Jadi bisa disimpulkan bahwa..."


"Semua orang belum mengusulkan pendapatnya loh..." gumamku dingin.


"Kan semua sudah me..."


"Lalu... kenapa pria itu tidak mengusulkan pendapatnya?" Ucapku melempar jarumku ke arah leher pria itu sambil berpura-pura sedang menunjuknya. Ternyata jarumku mengenai area kepalanya.


"Heeehh? Aku?" Ucap pria itu terkejut.


"Ya anda ada di pertemuan ini pastinya anda juga harus mengusulkan pendapat anda.." gumamku dingin.


"Tidaklah, tidak ada yang ingin aku bicarakan!"


"Benarkah? Lalu kenapa anda berada disini kalau anda tidak ingin melakukan pertemuan? Apa anda hanya mata-mata?" Tanyaku dingin.


"Heeeii jaga mulutmu! Aku orang penting disini!"


"Benarkah? Aku tidak pernah mengetahui bahkan mengenal anda..." gumamku dingin.


"Dia orang penting disini jadi kau tidak perlu mengganggu Sani!" Ucap Ray menatapku dingin.

__ADS_1


"Ohh benarkah? Aku kok tidak mengetahuinya ya..." desahku terduduk di mejaku dan menatap Ray dingin.


"Apa yang kau tahu? Kau sama sekali tidak mengetahui apapun!"


"Aaahh benar sekali, aku tidak mengetahui apapun... hanya saja yang ku ketahui adalah... dendamku padamu Ray!" Gerutuku dingin.


"Dendam? Hahaha kau yang emang lemah Sani?"


"Lemah katamu? Aku tidak selemah itu kau tahu!" gerutuku kesal.


"Benarkah? Sering di permainkan banyak pria bahkan dijadikan sebuah alat apa kau kira kau...."


"Tutup mulutmu!" Gerutuku mengeluarkan senjataku asli.


"S...Sani... jangan terprovokasi..." gumam Fadil mencoba menangkanku.


"Apa? Kan benar kata dia? Kau hanya sebuah alat lagi pula menyenangkan bisa bermain denganmu sama seperti ibumu itu hahaha!! Memang semua wanita sama saja mu-ra-han..." ucap Fiyoni memancing kemarahanku, aku berdiri di depan meja dan menatap Fiyoni dengan kesal.


"Aku tidak masalah kau mengatakan seperti itu padaku... tapi aku tidak terima kalau kau merendahkan wanita!" gerutuku mengarahkan senjataku kearah Fiyoni dan bersiap menyerangnya tapi Alvaro segera menahanku.


"Ini masih pertemuan adikku!" ucap Alvaro dingin yang membuatku kesal.


"Ciihhh menyebalkan!" gerutuku memasukkan senjataku dan kembali terduduk.


"Sani... kau gila apa mengeluarkan senjata aslimu!" Protes Fadil pelan.


"Benarkah? Bodo amat lah!"


"Bukannya gitu, tapi dari tadi Sanjaya menatap senjatamu loh!"


"Benarkah?" gumamku pelan dan menatap Sanjaya mengerutkan alisnya kearahku.


"Haish ya sudahlah..." desahku menyandarkan tubuhku di kursiku.


"Oh ya apa tetua mengatakan hal tentang Sanjaya?"


"Tidak terlalu, hanya saja tadi aku memang bertemu dengan dia dengan tetua organisasi misterius..."


"Organisasi...Eehh serius? Dia juga tahu kau dengan tetua Ben?" Tanya Fadil terkejut.


"Ya kami sama-sama tahu, bahkan tetua Ben berkata agar aku berhati-hati dengan Sanjaya... udah gitu aja."


"Oh my God, kalian memang berjodoh tapi bertentangan organisasi ya...." gumam Fadil pelan.


"Yaah mungkin akan terjadi saling bunuh membunuh aku dengan dia nantinya apalagi... aku yakin Sanjaya lebih hebat dari yang saat ini..." gumamku pelan.


"Kalau begitu kau harus berhati-hati Sani, lagi pula kita tidak tahu Sanjaya seperti apa."


"Aku sedang berusaha mencari tahu..." gumamku menatap sebuah lencana berwarna merah di balik jubah Sanjaya, aku mencoba mengamati lencana yang terlihat samar-samar, "Regu Satu... atas nama Ryu Lu... eehhh Lu? Apa dia benar-benar Ryu Lucian?" gumamku dalam hati. Melihat aku berfokus di jubahnya dengan cepat Sanjaya menutupi lencana itu dengan berpura-pura sedang membenahi pakaiannya.

__ADS_1


"Dia... benar-benar musuhku kak Fadil..." gumamku pelan sedangkan Fadil menatapku bingung. Tatapan kami berdua benar-benar dingin bahkan terlihat kalau kami berdua memiliki dendam tersendiri diantara ketua mafia yang ada di pertemuan ini jadi aku harus hati-hati dengan Sanjaya.


__ADS_2