Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 178 : Menunjukkan Bukti


__ADS_3

Fadil membaca semua tulisan yang aku tulis sedari tadi tanpa kesalahan apapun sedangkan aku hanya menulis di buku catatanku sambil mendengarkan pertemuan ini.


"Kalau begitu mana buktinya!" Ucap seorang pria kesal, aku menatap pria itu dan ternyata pria itu adalah Han.


"Bukti ya..." gumamku menunjukkan beberapa bukti dan menjelaskannya dengan terperinci.


"Jadi... apa kau masih tidak mengerti tuan?" Ucapku dingin


"Tidak seperti itu dan..."


"Dan kalian mencoba lepas tangan dalam kasus ini? Heeeh?" Ucapku dingin.


"Lagi pula... kau kaki tangan mafia musuh bersama dengan pria-pria yang aku sebutkan itu benarkan?" Ucapku tersenyum dingin yang membuat Han kesal.


"Apa yang membuatmu bisa mengatakan aku kaki tangan mafia musuh?" Ucap Han kesal, aku terduduk di atas meja dan membuka buku catatanku yang pertama dan menunjukkan sebuah foto lama kepadanya.


"I-itu kan... itu tidak pernah terjadi di kehidupan ini dan..."


"Itu terjadi di kehidupan yang lalu, apa kau kira aku akan melupakan kejadian itu Han? Kau membunuh Satria di depanku dan dua kali kau membunuhnya, apa kau kira aku akan melupakannya?" Tanyaku dingin, aku membuka topeng wajahku yang membuat Han terkejut.


"Tunggu... kau.. kau Sani? Sani Shin? Benarkah?" Tanya Han terkejut.


"Sani yah? Heehh tidak ada nama Sani Shin di dunia mafia ini lagi dan... aku muak dengan nama itu..." ucapku melempar senjataku kearah Han tapi tiba-tiba muncul seorang pria yang tidak pernah kulupa yaitu Alan berdiri menepis senjataku.


"Aahh kita bertemu lagi malaikat kecil..."


"Ciihh kau lagi, kenapa sih aku mau membunuh dia tahu!" Gerutuku kesal.


"Membunuh Han ya? Apa sebegitu bencinya kau dengan Han?"


"Tidak juga sih tapi aku... benci dengan kalian semua!" Gerutuku kesal dan pria itu hanya tertawa lepas.


"Kau saja masih lemah tapi sombong ingin membunuhku lagi pula kau kira Revaro dan Redgar tidak ingin membunuhmu? Ciih kalau saja dua gadis menyebalkan itu tidak melakukan ritual terlarang pasti kau sudah mati!" Gerutu Alan kesal. "Revaro? Redgar? Jadi mereka benar-benar orang yang membunuhku ya?" gumamku dalam hati.


"Lagi pula kau saja masih lemah, walaupun ini kehidupan yang baru bagimu tapi kehidupan ini tetaplah kelanjutan kehidupan sebelumnya dan lagi penyakit menyakitkanmu masih ada ditubuhmu dan akan terus menggerogoti tubuhmu lebih baik kau berdoa saja agar bisa hidup lama dan bisa membalas dendam hahaha!" Tawa Alan kencang dan pergi menghilang bersama dengan Han dan orang-orang yang menjadi musuh lainnya.


"Ooohh..." desahku kembali terduduk di kursiku dan kembali menulis di buku catatanku.


"Sani... kamu tidak apa?" tanya Fadil pelan.


"Tidak."


"Jangan dengarkan dia, dia hanya ingin menjatuhkan mentalmu seperti dulu..." gumam Fadil pelan dan aku hanya terdiam di kursiku.


"Eehh mmm baiklah bagaimana dengan raja kerajaan terkutuk?" Tanya pria itu pelan.


"Aku setuju dengan dia."


"Eehh setuju?" Ucap semua orang terkejut.


"Tentu saja, ide dia bagus tapi sebelumnya apa rencanamu?"

__ADS_1


"Untuk apa kau menanyakan rencanaku?" Tanyaku pelan.


"Hanya untuk memastikan kalau idemu sempurna saja dan tidak lebih dari itu!" Ucap Lyraen dingin, aku melempar sebuah kertas kearahnya, Lyraen langsung menangkapnya dan membacanya.


"Apa kau yakin akan melakukan ini?"


"Ya."


"Itu rencana yang gila dan kau kira aku akan..."


"Sudah aku katakan kan... apa kau tidak percaya denganku?"


"Tapi ini benar-benar gila!" Protes Lyraen kesal.


"Itu urusanku dan sudah aku katakan kan jangan ikut campur dengan urusanku, aku sudah mengatakannya kan?"


"Tapi kan... haish terserah kau sajalah..." desah Lyraen melemparkanku sebuah buku dan aku membaca tulisan di atasnya. "Temui aku setelah ini? Kenapa?" Ucapku dalam hati bingung.


"B-baiklah sudah lewat tengah malam, pertemuan kali ini ditunda dan bisa kembali berkumpul besok pukul 10 pagi untuk membahas hal yang lainnya!" Ucap pria di depanku menutup pertemuan hari ini.


"Aah membuat punggungku capek saja..." desahku beranjak pergi dari ruangan itu.


"Sani! Heei kau mau kemana? Ini kunci kamarmu!" Ucap Fadil memberikanku sebuah kunci kamar.


"Oh mmm terimakasih kak Fadil, istirahatlah."


"Kau mau kemana?"


"Uuuggghhh... Sakitnya!" Rintihku pelan tapi orang itu hanya terdiam memelukku erat dari belakang, aku mencoba menoleh dan melihat Lyraen lah yang sedang menggigitku.


"K-kenapa kamu menggigitku?" Tanyaku pelan.


"Hanya ingin."


"Ingin yaaah..." desahku bersandar di tubuh Lyraen dan Lyraen memperat pelukannya agar aku tidak jatuh.


"Kenapa kamu berpikir kalau rencanaku gila?" Tanyaku pelan dan Lyraen menggigitku dengan kuat.


"Aaaauuh Hei sakitlah!" Protesku kesakitan.


"Apa kau mengerti?"


"Apa? Kamu tidak mengatakan apapun, bagaimana aku bisa mengerti!" Protesku kesal, Lyraen menghela nafas panjang dan melepaskan gigitannya.


"Rencanamu itu bagus tapi kau mengorbankan dirimu sendiri, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!"


"Aku tidak mengorbankan diriku! Aku memang bodoh di kehidupan yang lalu tapi di kehidupan saat ini aku tidak ingin melakukan kebodohan itu lagi."


"Apa kau kira aku percaya denganmu?"


"Percaya atau tidak terserahlah..." desahku menatap bulan diatasku berubah warna menjadi merah secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Bulan merah? Kan ini bukan waktunya?" Gumamku terkejut.


"Aku yang mengendalikannya..." gumam Lyraen menggendongku pergi ke dalam bangunan.


"Tunggu? Kamu? Bagaimana bisa?" Tanyaku terkejut.


"Kalau hal itu tidak penting."


"Itu penting!" Protesku kesal, Lyraen membuka sebuah kamar yang di jaga ketat oleh beberapa orang berjubah hitam dan menguncinya dari dalam.


"Nantinya kamu tahu sendiri istriku yang bandel..." gumam Lyraen menekan leherku kuat yang membuatku terkejut.


"Katakan padaku, kenapa kau hampir membunuhku tadi?"


"S-sudah aku katakan, i-itu tidak penting!"


"Tapi bagiku penting, jadi katakan!"


"Kau mencekikku seperti ini bagaimana aku bisa... uuhhuukk... uuhhhuukk..." desahku terus terbatuk-batuk.


"Katakan!"


"Bunuh aku langsung saja dengan pedangmu dari pada kau siksa aku Lyraen!!!" Protesku kesal dan bola mata Lyraen langsung berubah warna.


"Eehh mmm m-maaf aku... aku tidak sengaja... apa itu sakit?" Ucap Lyraen khawatir.


"Lepaskan! Aku sudah biasa..." gumamku mengatur nafasku.


"Maaf sayang, kemarahanku hampir membunuhmu lagi..." desah Lyraen kembali mendorongku dan menciumku lembut.


"Maafkan aku sayang aku tidak bermaksud ingin membunuhmu, aku... sangat mencintaimu.." desah Lyraen pelan tapi aku hanya terdiam, saat aku menatap jendela dan melihat cahaya bulan berubah ke normal lagi.


"Apa kemarahanmu membuat bulan menjadi merah?" Tanyaku pelan dan Lyraen menganggukkan kepalanya.


"Oh, kenapa bisa?" Tanyaku penasaran.


"Itu sebuah kutukan milikku, yaah sama seperti Raelan tapi berbeda dengan Raelan, kutukan raja kerajaan terkutuk memang seperti itu."


"Jadi setiap bulan memerah itu..."


"Itu karena aku marah dan pastinya ada korban jiwa jika bulan memerah."


"Begitu yaah apa itu terjadi di kehidupan sebelumnya?"


"Ya memang, bahkan saat aku membunuhmu waktu itu bulan berwarna merah darah dan saat kamu mati tiba-tiba turun hujan darah yang membuatku tersadar kalau aku telah membunuh istriku sendiri."


"Benarkah? Kenapa bisa begitu?"


"Yaah entahlah aku tidak tahu..." gumam Lyraen kembali menciumku dan aku hanya terdiam berpikir di dalam otakku.


Bulan merah? Bagaimana bisa dia mengendalikan bulan bahkan bisa turun sebuah hujan darah? Kutukan macam apa itu? Hanya pertanyaan demi pertanyaan yang terus bermunculan di pikiranku.

__ADS_1


__ADS_2