
Selama rapat semua ketua umum saling mengutarakan pendapat yang berbeda-beda dan hanya aku yang terdiam menunggu jawaban bawahanku tentang mafia X yang dibicarakan oleh tetua mafia.
Tiiinngggg
Tiba-tiba terdengar suara pesan dari dua bawahanku yang ahli dalam mencari informasi dilapangan kalau ketua mafia X itu mantan pacar yang dulu pernah pacaran denganku saat masih akademi.
"Bintang Shinju?" teriakku kencang yang membuat semua orang menatapku bingung.
Tiba-tiba muncul pria berjubah hitam dan bertopeng hitam yang berdiri di depanku, aku menatapnya dan pria itu mengangkat daguku tinggi.
"Lama tidak berjumpa gadis kecilku."
"Tidak aku sangka kamu masih hidup Bin...mmmpphh..." Bintang membungkam bibirku dan mendekatkan wajahnya di telingaku.
"Bagaimana kamu bisa tahu identitasku?" gumam Bintang dingin, aku mencoba melepaskan tangannya dan menatap Bintang dingin.
"Menurutmu? Apa kamu kira aku tidak tahu siapa kamu?" gumamku dingin.
"Oh baguslah...ikut aku sebentar..." gumam Bintang menutup mataku dengan kain dan aku merasa Bintang menggendongku dengan berlari kencang.
Tiba-tiba aku mendengar suara hewan malam di sekelilingku, Bintang membuka kain di mataku dan menggenggam kedua tanganku dengan tangannya.
"Kenapa kamu membawaku ke hutan?" protesku kesal.
"Hanya ingin berbicara denganmu."
"Berbicara denganku? Apa maksudmu?" tanyaku kesal.
"Bagaimana kamu bisa tahu identitasku?"
"Hanya kebetulan tahu saja." gumamku dingin, Bintang mencekik leherku dan menatapku serius.
"Dari mana? Tidak ada yang tahu seluruh identitas mafia misterius kau tahu!" gerutu Bintang kesal.
"Wi...Wili juga mafia misterius kan? Dan kata Wili kamu yang hanya ikut-ikut mafia miliknya..." gumamku pelan.
"Wili ya? Dia yang ikut-ikut mafiaku, tahu gak aku sangat dendam dengannya. Dia yang membuat ulah seluruh dunia mafia tapi dia menyalahkan mafiaku membuatku sangat kesal." gerutu Bintang memperkuat cekikannya sambil menciumku yang membuat aku tidak bisa bernafas.
"Le...lepasin!"
"Kamu sekutu kan dengan Wili itu?" tanya Bintang serius.
"Ma...mana aku tahu...haaah...a..aku dengan dia berbeda organisasi..." gumamku kesakitan.
"Heeei lepasin istriku!!" teriak Ray mencoba menolongku. Saat Ray terlihat benar-benar marah, Bintang melepaskan cekikannya dan mundur ke belakang.
"Uuhhhuukkk...uuuhhuukkk..." cekikan Bintang sangat kuat membuatku hampir mati kehabisan nafas.
"Sayang kamu tidak apa?" tanya Ray khawatir.
"Ti...tidak ada apa-apa..." gumamku terus mengatur nafasku.
"Oh istri ya? Tidak aku sangka banyak yang menginginkanmu Sani..."
"Bukan urusanmu, urusanmu hanya Wili kan ya sudah dia ada di belakang tuh kenapa kau yang hampir membunuhku!" gerutuku menunjuk Wili bersama dengan ketua umum lainnya dan tetua mafia.
"Membunuh dia sangat mudah bagiku tapi membunuhmu lebih sulit dari pada yang lainnya. Tidak aku sangka banyak yang mengganggu tugasku saja..." gumam Bintang tersenyum dingin.
"Tugas? Tugas apa?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu tahu."
"Aku tahu identitasmu, kalau kamu tidak memberitahukanku maka aku akan menunjukkan seluruh identitas mafia misterius yang asli loh..." gumamku tersenyum dingin.
"Mafia misterius...asli?" teriak semua orang terkejut.
"Kamu mengancamku!" protes Bintang kesal.
"Ya bisa dikatakan seperti itu, jadi beritahu padaku!" gumamku dingin, Bintang terlihat menghela nafas panjang dan melemparku sebuah gulungan kertas.
"Ya karena kamu berhasil menebak identitasku dan kamu gadis kecilku, aku akan memberitahukannya padamu, kalau bisa hanya kamu saja yang tahu!" gumam Bintang menghilang dari pandangan kami.
Aku segera membuka gulungan itu dan terkejut kalau keluarga Li yang menyuruh mafia misterius untuk membunuhku dan membunuh keluargaku dan mafia misterius milik Wili hanya sebagai pemancing agar aku salah sangka dan tidak menyalahkan keluarga Li dan juga mafia misterius milik Bintang dan mafia misterius milik Bintang juga memiliki tujuan untuk menghancurkan seluruh dunia mafia dan mencoba merebut segalanya dari genggamanku.
Tapi karena adanya mafia misterius milik Wili yang semula mafia miliknya untuk mencegah siapapun tahu identitas mafia milik Bintang tapi malah semua mafia mengetahui keberadaannya yang membuat Bintang dendam, di bawah tulisan yang panjang itu terdapat nomor handphone Bintang jika aku ingin bekerja sama dengan Bintang.
"Heeii kaaauuu kembali kaaauu!!!" teriakku berusaha mengejar Bintang tapi Ray menahan tanganku.
"Jangan dikejar!"
"Tapi...tapi... haish ya sudahlah!" gerutuku memasukan gulungan itu dan berjalan pergi.
"Fadil...Victory...Chen...mari pergi!" gerutuku berjalan pergi.
"Sani ada apa?" tanya tetua mafia bingung.
"Tidak ada tetua, kalau mau berperang ya berperanglah aku juga tidak peduli. Aku ada urusanku sendiri!" gerutuku kesal. Tetua mafia menahan tanganku dan menatapku dingin.
"Temui aku di ruangan Sani Shin!" ucap tetua serius, aku hanya menahan kesalku dan mengikuti tetua mafia menuju ke ruangan khusus.
"Siapa tadi Sani?" tanya tetua terduduk di kursi miliknya.
"Ketua mafia misterius yang asli."
"Mafia milik Wili hanya untuk pancingan agar semua orang tidak menyadari tentang mafia misterius sesuai kesepakatan mafia misterius dengan keluarga Li tapi ternyata keluarga Li berkhianat dan menyebarkan berita bohong tentang mafia misterius."
"Oh lalu gulungan itu?"
"Gulungan itu berisi yang saya jelaskan tadi."
"Oh begitu ya...mmm jadi inti dari peperangan ini keluarga Li?"
"Benar tetua."
"Yaah kalau begitu aku akan menyerahkan semuanya kepadamu Sani, jangan sampai orang lain tahu."
"Baik tetua."
"Sudah hampir tengah malam kamu beristirahatlah, keamanan disini sangat ketat jadi jangan takut kalau mafia milik Wili atau mafia milik Hans mengganggumu." gumam tetua memberikanku kunci kamar dan aku segera mengambilnya.
"Baik tetua, saya permisi dahulu.." gumamku menundukkan kepalaku dan berjalan pergi dari ruangan.
Rasa sakit di tenggorokanku masih sangat aku rasakan, aku tidak menduga Bintang bisa mencekikku dengan kuat bahkan membuat dadaku terasa sakit, untung tadi Ray menyelamatkanku. Kalau tidak, aku pasti sudah mati.
Aku berjalan menuju nomor pintu yang terpasang di depan pintu, aku membuka pintu itu dan terkejut saat melihat seorang pria mendorongku ke pintu dan menekan tubuhku, aku melihat pria itu ternyata Ray dengan wajah marahnya.
"Ke...kenapa kamu bisa tahu ini kamarku?" tanyaku terkejut.
"Kamarmu itu kamarku juga, apa kamu keberatan aku disini?" tanya Ray dingin.
__ADS_1
"Ti...tidak...uuugghhh..."rintihku terkejut saat Ray menggigit leherku.
"Siapa pria tadi?"
"Kamu tidak perlu tahu."
"Katakan siapa dia!!" protes Ray kesal.
"Kenapa kamu tiba-tiba marah?"
"Dia mencium istriku dan kamu tanpa perlawanan bagaimana aku tidak marah!" teriak Ray kesal.
"Dia mencekikku bagaimana aku bisa melawan!" protesku kesal, melihatku memarahi Ray, Ray menarik tanganku dan mendorongku ke tempat tidur lalu kembali menekan tubuhku.
"Jawab siapa pria itu?" tanya Ray serius.
"kamu tidak perlu...sa...sakit..." rintihku saat Ray menggigitku kuat.
"Beritahu aku!"
"Ba...baik-baik, dia Bintang Shinju ketua mafia misterius."
"Mafia misterius?" tanya Ray terkejut.
"I..iya, dia pemilik mafia misterius yang asli sedangkan Wili hanya buatan keluarga Li."
"Apa kamu kira aku akan percaya padamu?" gerutu Ray membuka pakaianku dan membaca isi gulungan dari Bintang.
"Apa dia mantan kekasihmu?" tanya Ray dingin.
"Iya dia mantan kekasihku."
"Oh...begitu ya..."
"A...apa yang kau lakukan?" tanyaku terkejut saat Ray membuka pakaiannya.
"Kamu istriku jadi turuti keinginan suamimu!"
"Tapi Ray aku kan..."
"Aku tidak peduli, aku cemburu melihatmu dicium oleh mantan kekasihmu di dapanku lagi, aku sangat cemburu bahkan ingin menyiksamu!"
"Tapi Ray...uuuggghhhh..."
"Katakan padaku, siapa yang kau cinta?" tanya Ray dingin.
"Aku mencintaimu!"
"Kamu bohong!" protes Ray menggigitku.
"Aku tidak bohong aku mencintaimu...Uuugghhh."
"Katakan siapa yang kamu cinta Sani Shin!"
"Aku mencintaimu kak Ray, aku mencintaimu!!"
"Benarkah? Buktikan kalau kamu mencintaiku Sani Shin.."
"Haaahh...aku mencintaimu, kenapa kamu menggigit seluruh tubuhku Ray. Sakit tahu!" protesku kesal tapi Ray tidak melepaskan gigitannya.
__ADS_1
"Aku tidak peduli, kamu milikku, aku cemburu dan kesal melihat milikku di cium orang lain!" gerutu Ray kembali mempermainkanku.
Melihat Ray benar-benar sangat marah membuatku tidak bisa berontak, jadi aku baru tahu maksud dari ketua umum organisasi mafia bayang yang kejam seperti apa. Dia benar-benar menyiksa tanpa memperdulikan apapun bahkan dia tidak peduli aku yang sedang hamil anaknya.