Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 165 : Berencana Balas Dendam


__ADS_3

"Permisi nona muda..." ucap seorang pria memberikanku setumpuk kertas.


"Eehh apa ini?" Tanyaku terkejut.


"Ini semua berkas yang belum anda tanda tangani nona muda."


"Eehh berkas apa?" Tanyaku terkejut.


"Berkas mafia dan organisasi selama beberapa tahun nona muda."


"Berkas ya?" Gumamku membaca salah satu berkas itu dan meletakkannya kembali.


"Oh baiklah, terimakasih ya..." gumamku pelan dan bawahanku itu berlalu pergi.


"Berkas yang sama seperti kehidupanku yang lalu dan tidak aku sangka bisa sebanyak ini..." gumamku menandatangani satu persatu berkas itu.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Fadil berjalan masuk ke dalam ruangan dengan rambut yang masih basah.


"Hanya menandatangani berkas."


"Oh berkas ya, yaah emang banyak dan..."


"Dan seharusnya kak Fadil yang menandatanganinya!" protesku kesal.


"Eehh kok aku, kan kau yang ketua."


"Walaupun begitu aku sudah memberikanmu wewenang dari kehidupan yang lalu jadi kak Fadil yang menandatanganinya saja..." gumamku meletakkan bolpoin di atas meja.


"Eehh, mana aku tahu kalau kau..."


"Aku ketuamu kak Fadil!" Ucapku dingin.


"Haish baik-baik nanti aku tanda tangani semua!" Gerutu Fadil terduduk di sampingku dan menandatangani berkas-berkas itu.


"Mmm kak Fadil, cepat ceritakan!"


"Ceritakan apa?"


"Masalah kehidupan ini dan siapa Saputra itu?" Tanyaku serius.


"Oh ya sebelumnya kau harus tahu dulu tentang wilayah mafia, di seluruh dunia ada lima wilayah yakni wilayah utara, wilayah selatan, wilayah barat, wilayah timur, dan wilayah utama. Diantara semua wilayah hanya wilayah utama yang paling menakutkan dan paling kejam. Untuk masuk ke wilayah utama sangat susah dan asalkan kau tahu Sani, dua kembarmu dan Revaro berada di wilayah utama sekarang."


"Eehh benarkah? Apa mereka hebat?"


"Ya mereka hebat dan juga licik, sebenarnya jika dibandingkan denganmu mungkin mereka tidak ada apa-apanya sih."


"Kata Saputra kalau mereka punya niat jahat padaku? Benarkah?"


"Yaah kemungkinan, apalagi wilayah utama memiliki banyak tugas rahasia. Bisa jadi mereka datang ke wilayah utara bukan ingin bertemu denganmu tapi karena hal-hal yang rahasia lainnya."


"Kenapa kak Fadil memiliki pemikiran seperti itu?" Tanyaku serius, Fadil menghela nafas panjangnya dan menatapku serius.


"Mereka salah satu mata-mata yang memiliki sebutan Agen X dan Agen Z, yaah tidak ada yang tahu identitas mereka kecuali kita dan Saputra."


"Benarkah? Kenapa begitu?"


"Karena kita juga termasuk mafia mata-mata dan Saputra juga, ya intinya hanya beberapa orang saja yang mengetahui hal itu."


"kalau begitu wilayah utama sangat hebat dong?" Tanyaku serius.

__ADS_1


"Ya jika di bandingkan dengan wilayah utara kita, wilayah utama lebih unggul dari pada wilayah kita dan wilayah lainnya. Jika tidak ada kamu mungkin wilayah utara tidak ada apa-apanya."


"Lalu kalau Saputra?"


"Oh Saputra dari wilayah barat, wilayah yang jaraknya lebih dekat dengan wilayah utama dan wilayah nomor dua yang terkuat setelah wilayah utama."


"Lalu Saputra itu siapa?"


"Saputra adalah ketua organisasi pusat wilayah barat dan sekaligus calon raja kerajaan Arre yang ditakuti seluruh mafia di wilayah utara."


"Hanya itu? Lalu aku pernah mendengar ada kerajaan lain yang..."


"Ya banyak kerajaan yang berdiri di masing-masing wilayah dan kerajaan yang paling ditakuti selain kerajaan Arre adalah kerajaan Arsy dari wilayah utama."


"Kerajaan Arsy? Aku pertama kali mendengarnya, lalu siapa rajanya?" Tanyaku serius.


"Ya calon rajanya yaaah Raelan."


"Eehh dia? Astaga, lalu kenapa dia bisa bermusuhan denganku?"


"Karena kau hebat dari kecil dan kau memiliki penyakit khusus yang langka, mungkin kau tidak pernah mendengar ucapan ini di kehidupan sebelumnya."


"Ucapan? Ucapan apa?" Tanyaku serius.


"Wanita pemilik penyakit khusus dan berasal dari beberapa keluarga elite pasti akan menguasai dunia mafia dan menghancurkan mafia serta organisasi yang ada saat ini."


"Eehh aku tidak mungkin melakukan itu dan..."


"Itu fakta Sani, Saputra bercerita di kehidupanmu sebelumnya dan dia mengatakan bahwa kamu adalah satu-satunya wanita yang kuat dan hebat. banyak yang kau taklukkan dan wilayah lain juga tunduk padamu bahkan wilayah utama yang sangat hebatpun lebih memilih untuk bersembunyi saat itu karena kehebatanmu dan hanya kau satu-satunya wanita yang berani memenjarakan Raelan di penjara bawah tanah."


"Eehh aku? Aku saja baru mendengar nama Raelan dan..."


"Entah Saputra yang mengatakannya padaku."


"Coba kamu ingat-ingat Sani!"


"Aku enggak ingat nama itu sumpah kak Fadil!"


"Entahlah, tapi Saputra bilang kamu mengenalnya saat kecil."


"Saat kecil? Kalau begitu kamu juga tahu dong kak Fadil!"


"Tidak lah, mimpimu saja seperti apa aku bingung malah aku tidak tahu apapun."


"Kan aku sudah menceritakannya kepadamu kak Fadil!"


"Memang, tapi kan hanya ceritamu saja sedangkan aku tidak mengalaminya Sani!"


"Hmmm Apa hanya kedua kembarku, Revaro, aku dan Saputra saja ya yang ingat?" Tanyaku serius.


"Mungkin, melakukan ritual terlarang dilakukan dengan tiga orang. Mungkin saat melakukannya Saputra memergoki ketiga saudaramu melakukan ritual terlarang itu jadi dia juga tahu masalah mimpimu."


"Apa itu mempengaruhi juga?"


"Sepengetahuanku, ya itu sangat berpengaruh. Kenapa kamu penasaran seperti itu?"


"Oh begitu ya... Yaaah tidak ada hanya saja anggap saja mimpiku itu kehidupanku yang lalu."


"Kehidupan yang lalu? Kau pikir kau berinkarnasi apa? Kau hanya bermimpi saja Sani!" Ucap Fadil kembali menandatangani berkas-berkas di depanku.

__ADS_1


"Yaaah aku hanya menganggapnya seperti itu, lagipula aku masih penasaran di kehidupanku saat ini dan apa benar kalau mimpi itu adalah kehidupanku yang sesungguhnya."


"Kalau itu realitanya, apa itu masalah untukmu?"


"Tidak juga sih, aku hanya... ingin balas dendam... hanya itu yang aku inginkan!" Ucapku dingin.


"Astaga, kau masih kecil Sani dan..."


"Masih kecil atau aku sudah dewasa bukan menjadi alasan untukku tidak balas dendam kak Fadil!"


"Memang kau sangat dendam apa?"


"Tentu saja dan aku benar-benar sangat dendam kepada mereka yang membuatku menderita!"


"Oh baiklah, tulis saja nama-nama mereka dan aku akan mencari tahu identitas mereka.."


"Kak Fadil mau membantuku?"


"Aku wakil ketuamu jadi aku pasti akan melakukannya."


"Baiklah, ini nama-namanya..." gumamku merebut bolpoin milik Fadil dan menulis semua pria yang telah membuatku menderita.


"Eehh t-tunggu, inikan..."


"Memangnya kenapa?" Tanyaku bingung.


"Mereka orang-orang di wilayah utama!!"


"Eehh ohh mmm benarkah?" Tanyaku terkejut.


"Ya, apalagi Ray, Viu, xiao Min, dan Soni dia salah satu ketua dan wakil ketua mafia terkejam yang ada di wilayah utama."


"Aaah terkejam apanya dia tidak seperti itu."


"Tapi beneran loh Sani."


"Yaah kalau benar begitu... lumayan lah."


"Lumayan apanya?"


"Ya aku enak balas dendamnya, aku tahu kelemahan mereka semua..."


"Orang-orang ini? Kamu tahu kelemahan mereka?"


"Ya kalau mimpiku itu kenyataan pasti kelemahan mereka sama."


"Tapi kan kata kamu hidupmu yang sekarang berbeda dengan yang sebelumnya Sani!"


"Tidak masalah, tinggal mencari tahu lagi kelemahan mereka dan... beres."


"Astaga kau jangan seperti yang lalu Sani! Kalau kembaranmu tahu pasti mereka akan..."


"Tenang saja, aku tahu apa kesalahanku jadi aku tidak akan melakukannya lagi..." gumamku beranjak pergi.


"Kamu mau kemana?" Tanya Fadil serius.


"Hanya ingin istirahat."


"Oh kamarmu di ujung lorong!"

__ADS_1


"Baiklah..." desahku berjalan menyusuri lorong gelap di depanku.


Walaupun berbeda dengan yang telah aku lalui di sebelumnya tapi kali ini aku harus bisa membalaskan dendam atas penderitaanku selama bertahun-tahun yang lalu!


__ADS_2