Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 55 : Datang Ke Rumah Lama


__ADS_3

Hari ini aku dan Satria pergi ke Eropa untuk berziarah ke makam keluarga besarku sekalian mengambil senjataku yang masih tertinggal di dalam rumah, ditemani Fadil, Caca dan Cici. Kurang lebih kami berlima naik pesawat pribadi milikku dan kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil milikku.


Selama di mobil Satria hanya tertidur di kakiku sambil mengusap rambut Satria, walaupun aku pergi jauh seperti ini aku juga memikirkan rencanaku selanjutnya. Walaupun informasi yang aku dapat saat ini kalau Hans adalah X itu tapi aku tidak percaya seratus persen, apalagi dunia mafia penuh dengan kebohongan yang menyebalkan dan siapapun yang baru pertama kali terjun ke dunia mafia dia pasti akan terjerumus ke dalam hal yang negatif.


"Apa yang kamu pikirkan Sani?" tanya Fadil mengagetkanku.


"Tidak ada, oh ya Fadil...hubungi Victory sekalian ya."


"Victory? Kenapa?"


"Ya mumpung aku ke Eropa, aku ingin menanyakan sesuatu kepada Victory."


"Oh ya baiklah, aku akan menanyakannya nanti. Hanya Victory saja?"


"Ya hanya dia, mau siapa lagi coba?" gumamku pelan.


"Baiklah." desah Fadil pelan, aku menatap Caca dan Cici di depanku, mereka berdua mirip dengan Caca dan Cici bawahanku tapi aku tidak tahu bagaimana kekuatan mereka berdua.


"Ada apa nona muda?" tanya Caca menatapku.


"Mmm tidak ada kok, apa kalian kembar?"


"Tidak nona muda."


"Jadi kalian berbeda ya?"


"Ya nona muda, kami bukan saudara juga hanya sekelas di akademi Asia."


"Oh begitu ya, aku tidak begitu mengerti akademi Asia."


"Lalu nona muda lulusan akademi mana?" tanya Caca penasaran.


"Aku ya...dulu aku lulusan akademi Amerika, aku dengan Sino dan Fiyoni se akademi."


"Oh benarkah? Waah pasti nona muda sama sehebatnya dengan tuan muda." ucap Cici terkejut.


"Dulu aku pernah mendengar seorang ketua mafia terkejam yang menguasai Asia, Amerika dan Eropa, awalnya aku berfikir kalau itu tuan muda Fiyoni tapi dengar-dengar dia seorang perempuan. Kalau tidak salah dia ketua mafia penguasa deh.." gumam Caca pelan.


"Dia itu ketua mafia penguasa..." gumam Fadil yang membuat Caca dan Cici terkejut.


"Oh  benarkah? Waah tidak kami sangka bisa bertemu dengan ketua perempuan yang hebat itu!!" teriak Caca dan Cici kerang yang membuat Satria terbangun.


"Huusstt..." desahku pelan.


"Ibu ada apa?" tanya Satria polos.


"Eee tidak ada kok sayang, tidurlah lagi." gumamku kembali mengusap rambut Satria.


"Ma...Maaf nona muda membangunkan..." gumam Caca pelan.


"Tidak apa, pasti responnya orang kalau tahu identitasku sih."


"Nona muda kenapa nona tidak memberitahukan identitas nona kepada orang lain?" tanya Cici bingung.


"Ya karena tidak ingin saja, seperti kak Sino yang tidak akan memberitahukan identitasnya kepada orang lain, jadi karena kamu tahu identitasku jangan beritahukan kepada orang lain ya.."


"Baik nona muda..."


"Oh ya Sani, kata Victory boleh aja... dia sudah ada dirumahmu yang dulu."


"Baiklah... Satria kita sampai sayang..." gumamku membangunkan Satria.


"Iya ibu..." gumam Satria terbangun dan beranjak mengikutiku.

__ADS_1


Karena letak rumahku berada di tengah hutan dan juga sudah lama jalan menuju rumah tidak pernah dibersihkan jadi jalan yang biasanya muat oleh mobil sekarang dipenuhi oleh ilalang dan juga pohon yang tumbang. Aku melangkahkan kakiku memasuki hutan.


Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya aku sampai di sebuah rumah tua yang dipenuhi oleh noda darah di sekeliling rumah, di depan rumah aku melihat Victory yang sedang merokok sambil membaca sebuah buku di tangannya.


"Anda sudah ada disini saja ketua." gumamku pelan.


"Ya mumpung aku ada di sekitar sini jadi sekalian saja mampir, lalu apa yang ingin kamu bahas bersamaku?" tanya Victory serius, aku memberikan secarik kertas kepada Victory dan Victory langsung membaca isi kertasku itu.


"Ya memang dia, di Eropa sendiri sudah hampir di kuasai mereka." gumam Victory mengembalikan kertas itu. kepadaku.


"Lalu wilayah mana yang mereka kuasai?" tanyaku terkejut.


"Hampir seluruh wilayahmu, tapi untungnya wilayahmu sangat ganas Sani jadi mereka di pukul mundur oleh bawahanmu. Aku jadi iri melihat bawahanmu yang masih mempertahankan kekuasaannya padahal ketuanya aja entah gak tahu kemana." sidir Victory dingin.


"Kau tidak tahu apa yang terjadi," gumamku memberikan kode.


"Ohh...aku mengerti, jadi kenapa kamu kembali ke Eropa?"


"Hanya ingin berziarah dan mengambil senjataku saja."


"Oh ya sudah ziarahlah dulu," gumam Victory pelan.


"Ya..." desahku menarik tangan Satria dan berjalan menuju ke makam keluarga besarku yang ada di samping rumah.


"Ibu ini makam siapa?"


"Makam keluarga besar ibu anakku." gumamku terduduk di tanah.


"Ibu...maaf baru bisa menengok ibu sekarang, apakah ibu dan keluarga disana bahagia? Ibu...maaf belum sempat membalas kematian ibu dan Sani belum tahu dimana makam ayah, tapi Sani janji ibu...Sani akan balas dendam kematian ayah dan ibu nantinya..." ucapku serius, air mataku menetes di pipiku.


"Ibu...ibu kenapa menangis?" tanya Satria bingung.


"Mmm tidak apa anakku, oh ya nak...jangan sampai lengah bertemu dengan ayahmu ya."


"Kenapa ibu?"


"Baik ibu, Satria mengerti ibu tapi ibu apakah Satria tidak bisa bertemu ayah?"


"Apa kamu ingin bertemu dengannya?" tanyaku terkejut.


"Ya, Satria ingin bertemu dengan ayah."


"Mmm baiklah, nanti ibu akan meminta ayahmu untuk bertemu."


"Benarkah? Baik ibu!!" teriak Satria senang.


"Baiklah, mari kita masuk ke dalam rumah untuk mencari suatu barang." gumamku pelan dan menarik Satria kembali menuju ke pintu depan.


"Udah selesai Sani?" tanya Victory menatapku


"Ya, aku mau ke dalam dulu ketua." gumamku membuka pintu rumah yang sudah lapuk itu.


Aku dan Satria berjalan memasuki rumah lama yang penuh dengan kenangan menyedihkan, masih banyak noda darah yang tertempel di dinding dan lantai. Aku membuka satu persatu pintu yang berada di rumah lamaku ini.


"Satria tunggu disini sebentar ya..." gumamku membuka pintu kamarku dan Satria hanya menganggukkan kepalanya.


Aku membuka satu persatu brankasku untuk mengambil beberapa senjata yang aku sembunyikan. Senjata yang aku sembunyikan adalah jarum beracun dan pedang beracun serta botol racun dan obat penawar yang aku sembunyikan dan senjata yang aku pakai saat aku ikut perang mafia yang sebelumnya.


Setelah aku mengambil senjataku dan kembali ke ruang tengah, tapi aku tidak menemukan Satria sama sekali.


"Satria...kamu dimana?" teriakku kencang tapi tidak ada jawaban. Aku mencari sekitar rumah dan menemukan Satria terdiam melihat sebuah foto di tangannya.


"Satria..."

__ADS_1


"Mmm ibu ini foto siapa?" tanya Satria menunjukkan foto seorang perempuan dengan beberapa orang laki-laki.


"Foto?" tanyaku bingung, aku melihat foto itu dan terkejut melihat foto masa kecilku saat di akademi.


"Ya... ini ibu, ini ayahmu, ini paman Fadil, ini paman Soni, ini ayah Sino, ini ayah Fiyoni, sedangkan yang lain... aku tidak ingat siapa."


"Apa ini teman-teman ibu?"


"Mmm ya ini sepertinya foto kelulusan di akademi sih, tapi ibu tidak ingat kenapa mereka ikut foto padahal ibu hanya seangkatan dengan paman Fadil saja."


"Bukan...itu bukan foto kelulusan Sani..." gumam seorang pria di belakangku, aku menoleh kebelakang dan melihat Fadil berjalan ke arah kami.


"Lalu foto apa paman?" tanya Satria penasaran.


"Itu foto seluruh mafia di dunia Sani, apa kamu tidak ingat?" tanya Fadil serius.


"Oh benarkah? Aku tidak ingat." gumamku meletakkan kembali foto itu.


"Apa kamu mudah melupakan sesuatu yang sangat kau benci?"


"Ya bisa dikatakan seperti itu, kamu kenapa ada disini Fadil?" tanyaku pelan.


"Aku teringat sebuah kotak yang dulu dititipkan ayahmu untukmu sebelum keluarga Li menyerang."


"Keluarga Li? Bukannya itu keluarga ayah ya ibu?" tanya Satria bingung.


"Haduh Fadil, tolong lah jangan bilang itu di depan Satria!" gerutuku kesal.


"Mau bagaimanapun Satria anakmu dengan Han, jadi dia harus tau masalah itu Sani!" gumam Fadil meninggalkan kami berdua.


"Memang ada apa ibu? Ceritalah ibu!"


"Hmmm baiklah ibu akan cerita...dulu paman Soni bersama dengan keluarga Li dan paman Soni memiliki keinginan untuk balas dendam kepada nenek tiri yang sering menyiksa paman Soni yang membuat paman Soni pergi dari rumah sejak kecil." gumamku membuka berankas milik ayah yang ada di kamar ayah ini.


"Kalau begitu ibu kandung ibu kemana?"


"Beliau sudah meninggal di bunuh seseorang, ya itu tadi makam ibu kandungku sayang."


"Lalu ibu tiri dimana?"


"Tidak tahu, dulu setelah nenek tiri di bunuh paman Soni, ibu dibawa keluarga Li dan menjadi istri kontrak ayahmu..."


"Istri kontrak? apa itu ibu?"


"Istri kontrak itu...menjadi istri seseorang dengan perjanjian kontrak anakku."


"Kalau begitu apa ibu mencintai ayah?" tanya Satria serius.


"Mencintai ya? Tidak, ibu tidak pernah mencintai ayahmu tapi ibu menyayangi ayahmu..." desahku pelan.


"Apa itu alasannya ibu selalu meninggalkan Satria bersama ayah?" tanya Satria menatapku serius.


"Ada alasan ibu meninggalkan ayahmu anakku."


"Apa alasannya ibu? Satria ingin tahu!"


"Setelah kelahiranmu Keluarga Li dan ayahmu tidak menganggap ibu dan hanya menganggap ibu sebagai alat mereka, yang paling membuat ibu sangat marah adalah... mereka menyiksamu dan keluarga Li musuh dari keluarga Shin yang membuat ibu kesal." gerutuku kesal.


"Kenapa ibu terlihat kesal?"


"Ya bagaimana aku tidak kesal kalau keluarga Li dan mereka-mereka itu bekerjasama membunuh keluargaku dan juga menjadikanku alat!!" teriakku kencang sambil membanting barang di depanku yang membuat Satria terkejut.


"Ada apa Sani?" tanya Fadil masuk ke ruangan kembali, Satria terlihat sangat ketakutan dan memeluk Fadil erat.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak bisa mengendalikan diriku...tolong jaga Satria sebentar." gumamku berjalan pergi dari rumah lama itu.


Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa mengendalikan diriku padahal kejadian itu sudah beberapa tahun yang lalu, tapi di dalam diriku rasa kesal dan dendam masih teringat jelas di ingatanku.


__ADS_2