
Setelah mandi dan berganti baju, Fadil memberikanku lencana organisasi padaku dan juga jubah hitam khusus milikku. Walaupun ini kehidupan yang baru tapi jika aku mendapatkan undangan pertemuan seluruh organisasi mungkin seluruh organisasi yang ada di seluruh wilayah berkumpul di tempat yang telah di tentukan itu.
Selama perjalanan Fadil menjelaskan kalau organisasi terkuat wilayah bayangan juga akan hadir dan menurut Fadil kalau hal ini adalah kesempatanku untuk mencari tahu tentang wilayah bayangan itu.
"Hmmm begitu ya..." desahku menatap Fadil yang terlihat serius menjelaskannya padaku.
"Ya, apa kau punya rencana?"
"Belum ada sih, nanti saja kalau aku sudah menilai situasinya. Ngomong-ngomong apa pertemuan itu sudah mulai?" Tanyaku pelan.
"Ya, sudah setengah jam yang lalu. Apa kau takut terlambat?"
"Tidak, aku lebih suka terlambat sehingga bisa membaca situasi yang ada."
"Oh ku kira kamu takut kalau terlambat."
"Aku terlambatpun tidak akan masalah tapi mungkin pertemuan itu akan sangat di tunda karena aku belum hadir..." gumamku turun dari mobil setelah mobil sampai di sebuah bangunan yang berada di pulau terpencil jauh dari pulau utama.
"Hmmm ternyata jauh juga ya kita melalui jembatan tadi" Gumamku menatap beberapa bangunan di pulau utama yang terlihat sangat kecil.
"Yaah kau tahu sendirilah tadi seberapa jauh kita melewati jembatan tadi?"
"Memang sih..." desahku menatap jembatan yang aku lalui tadi tertutup air laut dan tenggelam.
"Teknologi di kehidupan ini sangat hebat..." gumamku memakai topeng wajahku sambil melangkahkan kakiku masuk ke dalam bangunan dan diikuti Fadil di belakangku.
Di sebuah lorong aku mendengar suara keributan yang sangat mengganggu telingaku, keributan dalam pertemuan adalah hal biasa dan aku sama sekali tidak terkejut akan hal itu. Di sebuah pintu para penjaga langsung membuka pintu itu dan kebisingan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu berubah menjadi keheningan.
Aku melangkahkan kakiku dan beberapa tetua serta ketua dewan menundukkan badan mereka ke arahku sedangkan beberapa orang bingung melihatku. Fadil menarik kursiku dan aku langsung duduk di kursi itu.
"Eehh mmm selamat datang ketua tertinggi organisasi tersembunyi..." gumam seorang pria pelan dan aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.
"Baiklah, seluruh ketua organisasi sudah hadir maka kita mulai pertemuan kali ini..." gumam pria itu pelan dan pertemuan kembali di mulai.
Sekitarku aku melihat orang-orang di masa lalu hadir dan Lyraen terduduk di kursi organisasi misterius dengan topeng di wajahnya sedangkan di depannya seorang pria bertopeng duduk di kursi khusus organisasi bayangan di wilayah bayangan.
"Organisasi bayangan? Kak Fadil apa itu sama dengan organisasi milik Alan?"
"Bukan, menurut informan kita itu organisasi yang tidak diketahui keberadaannya dan bekerja lebih cepat dari organisasi misterius milik Lyraen."
"Benarkah? Jadi berbeda ya?" Gumamku pelan.
"Ya, tidak ada yang tahu organisasi itu dan tugasmu hanya mencari tahu identitas ketua organisasinya dan bagaimana organisasi bayangan dan wilayah bayangan itu yang sesungguhnya!" Ucap Fadil serius.
"Apa tidak ada yang tahu wajah mereka?"
__ADS_1
"Tidak ada, di pertemuan ini kau harus mencari cara agar mereka berdua melepaskan topeng itu."
"Oh begitu ya, apa itu yang diinginkan tetua?" Tanyaku pelan.
"Benar."
"Oh oke aku pikirkan dulu caranya..." gumamku mengamati sekitarku dan juga mengamati kedua pria itu dengan serius.
"Baiklah... Bagaimana menurut anda ketua tertinggi organisasi tersembunyi?" Gumam pria di depanku pelan.
"Menurut kami hal itu memang biasa terjadi dan tidak perlu di permasalahkan!" Ucap Fadil dingin.
"Heeiii kami mau mendengar pendapat ketua tertinggi bukan dari wakil yang tidak tahu apapun!" Protes Ravaro menatap Fadil dingin.
"Lalu kenapa jika aku yang mengatakannya?"
"Kau gila apa! Kau hanya wakil yang..."
"Lalu... Apa itu masalah untukmu tuan?" Ucapku dingin yang membuat semua orang terkejut.
"Suara perempuan?"
"Bagaimana bisa?" Ucap beberapa orang terkejut.
"Suara ini!! Tunggu dulu... Apakah boleh tahu siapa nama anda?" Tanya Lyraen serius.
"Itu penting dan bahkan ketua organisasi bayangan juga berpikir seperti itu!"
"Walaupun aku bermusuhan dengan organisasi dia tapi aku sepemikiran."
"Hahaha apa itu terlihat sangat penting?"
"Itu penting!! Kami tidak pernah mengetahui ketua tertinggi organisasi tersembunyi bahkan suaranya juga!" Ucap semua orang menatapku serius yang membuatku dan semua tetua tertawa.
"Hahaha lebih baik kalian memfokuskan pertemuan kalian ini dari pada memikirkan siapa dia!" Ucap para tetua dingin dan semua orang berdebat dengan para tetua.
Di celah antara dinding dan lemari aku melihat seseorang yang sedang bersembunyi yang membuatku penasaran tapi aku hanya terdiam berpura-pura tidak mengetahuinya, karena pertemuan semakin memanas Fadil melempar kursi disebelahku yang membuat kursi itu patah.
"Bisa tidak kalian diam!" Protes Fadil kesal
"Tunjukkan wajah ketua tertinggi organisasi tersembunyi sebelum pertemuan ini dilanjutkan!" Ucap beberapa orang serius.
"Tunjukkan wajah ya? Baiklah tapi aku ingin kedua pria ketua organisasi itu juga membuka topeng mereka, bagaimana?" ucapku dingin.
"Tidak!" Ucap Lyraen dan pria di depannya dengan dingin.
__ADS_1
"Kalau tidak mau maka aku juga tidak mau."
"Ciiihh kau sangat licik nona!" Ucap Lyraen kesal.
"Tidak ada yang tahu wajahku apa itu disebut licik?"
"Sudah buka saja!!!" Protes semua orang kencang dan Lyraen serta pria di depannya membuka topeng mereka bersamaan yang membuat semua orang terkejut karena ketampanan mereka berdua.
"Sudahkan! Jadi tunjukan padaku wajahmu!" Ucap Lyraen kesal.
"Baiklah... Tapi, anda juga harus membuka topengmu di pertemuan khusus ini tuan!" Ucapku dingin tapi semua orang bingung dengan ucapanku dan pria yang bersembunyi itu terlihat tidak peduli.
"Apa anda tidak mendengar ucapanku!" Gerutuku melempar senjataku dan langsung di tepis dengan cepat.
"Apa maumu!" Ucap pria itu kesal.
"Mauku ya... Hanya ingin melihat wajah tampanmu, apa itu salah tuan Ryraen!" Ucapku dingin dan pria itu tersenyum dingin kearahku.
"Ternyata kau mengetahui namaku ya..." gumam Ryraen dingin sedangkan aku hanya terdiam menatapnya. Ryraen adalah nama orang yang Lyraen berkata teman baiknya di kehidupan pertama padahal Ryraen adalah kembaran Lyraen dan merupakan pria yang dulu mencintaiku tapi merelakan aku menikah dengan Lyraen karena Ryraen ingin aku bahagia. Entah dari mana Fadil mendapatkan informasi itu tapi itu informasi yang berguna untukku.
"Tentu saja, aku tahu apapun yang ada!" Ucapku dingin.
"Ciihh jangan sombong dulu kau!"
"Sombong ya? Tidak juga, aku tidak melakukan apapun kok sombong dari mana?" Ucapku santai.
"Idih berisik kali kau!" gerutu Ryraen kesal.
"Lebih baik tunjukkan aku wajahmu dan duduklah di kursimu!" Ucapku dingin.
"Ciih menunjukkan wajahku? Heeh tidak semudah itu!"
"Kalau begitu aku tidak akan menunjukkan wajahku!" Ucapku santai dan banyak orang yang protes dan memaksa Ryraen menunjukkan wajahnya.
"Ciih berisik kalian!" Gerutu Ryraen kesal.
"Cepatlah!!" Protes orang-orang itu dengan kesal.
"Baik-baik ini adalah pertama dan terakhir!" Gerutu Ryraen kesal dan membuka topeng di wajahnya. Wajah yang mirip dengan Lyraen tapi hanya berbeda di kedua matanya saja dan terlihat tatapan yang kejam dan menyeramkan.
"Ciiihhh!! Apa kalian sudah puas?" Ucap Ryraen kesal.
"Bagus Sani, tugasmu berhasil!" Ucap Fadil pelan dan aku hanya terdiam menatap Lyraen dan Ryraen di depanku, kembar yang sangat mirip hanya berbeda warna mata saja, Lyraen memiliki warna mata yang mirip denganku dan Ryraen memiliki warna mata berwarna biru.
"Jadi... Tunjukkan wajahmu!" Ucap Ryraen kesal dan aku menyandarkan tubuhku di kursi dan membuka tudung jubahku yang membuat rambutku terurai panjang lalu membuka topeng wajahku yang membuat semua orang terkejut.
__ADS_1
"RAELYN???" Ucap Raelan, Ravaro, Lyraen, dan Ryraen terkejut.
"Sudah tahukan? Jadi lanjutkan saja pertemuan ini!" Ucapku dingin dan pria di depanku kembali melanjutkan pertemuan ini sedangkan keempat orang itu masih menatapku dengan terkejut. Padahal di kehidupan sebelumnya semua orang mengetahui tentangku tapi entah kenapa di kehidupan ini tidak ada orang yang mengetahuinya.