Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 209 : Berkencan.


__ADS_3

Bisa bercinta dengan Han membuatku sangat bingung dengan diriku sendiri sangat menikmati bahkan sudah tiga kali kami bermain disaksikan oleh Fadil yang nampak tidak peduli dengan apa yang kami lakukan. Sebelum bertemu dengan Han aku memang sengaja meminum obat perangsang agar Han mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Aku sangat mecintaimu wanitaku..." desah Han memelukku erat sambil mencium leherku lembut sedangkan aku hanya mengangkat wajahku sambil menggigit bibirku kuat.


"Kalian sudah tiga kali bermain apa kalian tidak lelah?" Tanya Fadil menatap kami dingin.


"Tidak, lagi pula kau bisa-bisanya menahan diri saat melihat seorang tubuh wanita cantik sedang bercumbu di depanmu."


"Aku sudah biasa melihat tubuh dia sejak kecil."


"Apa kau pernah memegang tubuhnya? Tanya Han pelan.


"Ya tentu saja tapi aku tidak pernah merabanya."


"Apa kamu mau melakukannya? Kau sering bermain dengan kembarannya apa kau tidak ingin sekali bermain dengan dia?" gumam Han yang membuatku terkejut.


"K-kau gila apa Han!" Protesku kesal.


"Lalu kenapa? Kau dulu mencintai Fadil bukan?"


"Aku memang pernah mencintainya tapi..."


"Fadil sudah pernah bermain dengan Raesya dan Raetya apa kau tidak ingin memberikan kesempatan sekali dengan Fadil."


"Tidak!"


"Haish kau gila apa Han, aku bermain dengan mereka berdua karena obat perangsang dan lagi pula aku tidak akan melakukannya kepada ketua mafiaku sendiri..." gumam Fadil pelan dan merapikan pakaianku yang berantakan.


"Hari hampir petang, lebih baik kau pulang Satria menunggumu di mobil dari tadi..." gumam Fadil pelan.


"Oh mmm baiklah... Han aku mau pulang dulu..." gumamku pelan dan Han kembali menciumku sambil tersenyun ke arahku.


"Ya, tolong jaga Satria ya..." gumam Han pelan dan peegi menghilang dengan cepat sedangkan aku hanya terdiam berjalan mendahului Fadil.


"Haish bisa-bisanya kau bermain dengan Han sih! Kalau Valentino tahu bagaimana?"


"Ya kak Fadil tidak perlu memberitahukannya."


"Tapi dengan keadaanmu yang seperti ini dan mmmppphhh..." aku mencium Fadil lembut yang membuatnya terkejut, Fadil memelukku erat dan kami terus berciuman.


"Kenapa kamu menciumku Sani?" gumam Fadil pelan.


"Itu kan yang kak Fadil inginkan sejak dulu..." gumamku pelan.


"Kenapa kamu berkata seperti itu?"


"Mendengar ucapan Han membuatku teringat saat aku terluka parah kak Fadil pernah sedikit meraba tubuhku bukan..." bisikku pelan yang membuat wajah Fadil memerah.


"Jawablah kak Fadil."


"Mmm i-iya... Tubuhmu lebih bagus dari pada Raesya dan Raetya yang membuatku tidak sengaja menyentuh tubuhmu, maaf ya Sani..." gumam Fadil pelan.

__ADS_1


"Apa kamu ingin meraba tubuhku lagi?"


"T-tidak... Nanti kamu malah..."


"Jika kamu ingin maka aku ijinkan melakukannya apalagi kak Fadil sengaja bukan tidak memperbaiki pakaianku dengan benar..." gumamku pelan dan Fadil langsung mendorongku ke batang pohon maple dan menciumku lembut.


"Kau yang memaksaku melakukannya Sani, nafsuku lebih tinggi dari pada pria yang sering bermain denganmu tapi kamu malah memancingku... Apa Han memberikan obat kepadamu?" Bisik Fadil pelan.


"Tidak, aku sendiri yang melakukannya..." gumamku pelan dan Fadil membuka kancing pakaianku satu persatu.


"Kau memang sengaja memancing Han bukan?" bisik Fadil menciumi tubuhku lembut.


"Y-yah begitulah, jika aku tidak meminum dua obat tidak mungkin aku bertahan bermain dengan Han berkali-kali dan bermain denganmu kak Fadil..." bisikku pelan.


"Ternyata kamu sangat imut ya jika sudah gila karena obat..." bisik Fadil mempermainkanku.


"Benarkah aku hanya uugghhh..." rintihku pelan.


"Padahal kamu sudah melahirkan dua anak di kehidupan ini tapi kamu tetap terasa seperti gadis Sani..."


"B-benarkah aku seperti itu kah?"


"Tentu saja, jika boleh jujur aku memang ingin melakukan ini sejak lama denganmu walaupun hanya sekali saja tapi ternyata realitanya sama seperti imajinasiku Sani..." bisik Fadil pelan.


"Benarkah? Apa kamu menikmatinya?"


"Tentu saja aku sangat menikmatinya, Sani jika nantinya kamu hamil anakku maka aku akan menjaganya dengan sepenuh hati..." bisik Fadil pelan yang membuatku terkejut.


"Kak Fadil jangan bilang... Uugghhh...."


"K-kenapa kamu ingin memiliki anak denganku Kak Fadil padahal aku..." desahku pelan tapi Fadil menatapku dan mencium dadaku lembut.


"Aku ingin memiliki anak yang hebat seperti Satria, anakku dengan Raesya tidak sepintar Satria."


"Kak Fadil punya anak?" Tanyaku terkejut.


"Punya anak laki-laki, Raesya yang mengasuhnya karena aku tidak ingin kamu tahu tapi malah Valentino menceritakannya padamu, dia iri karena hanya aku yang bisa menghamili Raesya saja bahkan Raetya tidak bisa dihamili olehku ataupun Valentino..." gumam Fadil mengangkat tubuhku tinggi.


"Jadi a-apa Valentino juga pernah bermain dengan mereka?" Tanyaku bingung, Fadil memasukkan sesuatu di mulutnya dan menciumku yang membuatku merasa ada sesuatu yang masuk ke dalam kerongkonganku.


"Ya, kau pikir aku kesini karena apa? Karena aku muak melihat mereka berempat bercinta..." gumam Fadil pelan sambil mengangkat salah satu kakiku tinggi.


"Be-benarkah jadi kak Fadil balas dendam dengan bermain denganku?"


"Ya bisa dibilang begitu."


"Lalu apa yang kau masukkan ke dalam mulutku kak Fadil!"


"Hanya sebuah obat agar nantinya jika kau bermain dengan pria lain anakku tidak tercampur gennya dengan pria lain..."


"Jadi kak Fadil memang sengaja membuat aku hanya hamil anakmu saja dan uugghhh..."

__ADS_1


"Benar sekali, aku ingin memiliki anak yang sangat hebat."


"Tapi aku aakkkhh kak Fadil aku..."


"Ada apa sayang? Apa kamu menikmatinya?" bisik Fadil pelan.


"Kak Fadil... Ak... Aku... Antar aku ke Valentino!"


"Ya aku akan mengantarkanmu setelah puas denganmu ya..." bisik Fadil pelan dan kami berdua benar-benar bermain di taman pohon maple. Permainan Fadil benar-benar liar yang membuatku sangat kewalahan. Fadil menggigit bibirku kuat sampai aku tidak bisa berteriak hanya menggeliat seperti cacing yang kepanasan.


"Haaahh...haaah... Haaahh...." desah Fadil melepaskan gigitannya dan kembali menciumku lembut.


"Sani terimakasih ya..." bisik Fadil pelan sedangkan aku hanya terdiam lelah, Fadil memakaikan pakaianku kembali dan menggendongku pergi ke parkiran akademi.


"Paman! Ibu!" Teriak Satria terkejut.


"Paman... Ibu kenapa?" Tanya Satria bingung dan kau langsung menyembunyikan wajahku di dada bidang Fadil.


"Tidak ada, ibumu ketiduran tadi makanya lama."


"Lalu kenapa bibir paman berdarah?"


"Oh mmm tidak apa-apa hanya tadi terbentur sedikit."


"Apa itu sakit?" Tanya satria pelan.


"Tidak, tenang saja mari pulang..." gumam Fadil pelan.


Sepanjang perjalanan Satria menyetir mobil sedangkan Fadil terus meraba tubuhku di tengah kegelapan mobil ini.


"Kak ... Kak Fadil jangan nanti Satria mendengarnya..." bisikku pelan tapu Fadil tidak memperdulikanku dan tetap meraba tubuhku.


"Kak Fadil jangan uugghh..." rintihku pelan saat Fadil menyentuh titik sensitifku, aku menutupi mulutku dan sesekali Fadil menciumku lembut.


"Baiklah kita sampai paman..." ucap Satria pelan dan Fadil menghentikan tangannya.


"Parkirkan mobilnya dan segera tidur, paman akan mengantarkan ibumu ke kamar."


"Apakah ayah belum pulang?"


"Belum, jadi istirahatlah..." gumam Fadil pelan dan menggendongku masuk ke dalam rumah. Fadil melangkahkan kakinya ke tangga lantai bawah, di tangga aku mendengar suara jeritan kembaranku, saat pintu dibuka Fadil menurunkanku dan aku melihat Valentino sedang bermain dengan Raesya dan Raetya bersamaan.


"R-Raelyn mmpphhh... " gumam Valentino terkejut dan Raesya langsung mencium Valentino di depanku.


"Eehh maaf ya adikku, Valentino hanya melakukan persyaratan yang aku beri jadi kamu bisa bermain dengan mereka berdua..." gumam Raesya dingin, melihat pemandangan itu membuatku kesal tapi Fadil dan Cakra dengan cepat meraba tubuhku yang membuat nafsuku kembali muncul.


"Nikmatilah malam ini adikku!" Ucap Raesya kencang dan bermain dengan Valentino.


"Raelyn maaf aku harus uugghhh..." desah Valentino pelan tapi aku tidak memperdulikannya sedangkan Cakra dan Fadil meraba tubuhku.


"Aku sudah, kini giliranmu..." gumam Fadil pelan dan Cakra langsung mencium tubuhku dengan lembut.

__ADS_1


"Tubuh nona muda sangat indah..."


"Uuuggghhh sa-sakit!!" rintihku pelan dan Cakra terus mempermainkanku, niat awalku hanya untuk memancing Han kini aku harus bermain dengan tiga pria dalam sehari yang membuatku kesal. Jika dengan Han dan Fadil memang aku yang menawarkan tapi Cakra? Tidak, bahkan melihat dua kembarku bermain dengan suamiku di depan mataku dengan perjanjian yang disetujui oleh Valentino dan ternyata perjanjian yang seperti ini membuatku kesal, malam ini aku benar-benar tidak menikmati sama sekali.


__ADS_2