Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 193 : Kebimbangan


__ADS_3

Aku dan Rycha terus bertarung di dalam ruangan, orang-orang berjubah yang berjaga di sekitar gedung pergi menghilang bersama Valentino, aku penasaran dengan apa yang di berikan Valentino tadi tapi Rycha mengajakku bertarung yang membuatku mau tidak mau melawannya.


"Ternyata kau hebat juga ya!" Ucap Rycha dingin dan aku hanya terdiam tidak memperdulikannya.


"Kau sangat menarik Raelyn, jika kau bisa melukaiku maka aku akan melakukan apapun yang kau inginkan tapi jika aku yang melukaimu maka kamu harus mengikuti apapun yang aku mau. Bagaimana?" Ucap Rycha diingin.


"Kau mengajakku bertaruh?"


"Tentu saja. Bagaimana?" Tanya Rycha dingin.


"Boleh juga, kau ingin mode serius atau bermain-main?" Tanyaku dingin dan Rycha tertawa kencang.


"Hahahaha kau kira ini pertarungan anak kecil?" Ucap Rycha dingin tapi aku tetap meladeninya dengan bermain-main.


"Raelyn!!! Raelyn!!!" teriak seorang pria di luar ruangan dengan kencang, suara yang di aneh bagiku.


"Raelyn!!" Teriak pria itu kencang dan aku menyadari itu suara Fadil saat Fadil berada di depan pintu.


"Kak Fadil?"


"Astaga Raelyn kau malah bermain-main disini, ayo pulang! Ayahmu jatuh sakit!!" Ucap Fadil dingin yang membuatku terkejut.


"Ayah? Benarkah?" Ucapku terkejut yang membuatku sedikit tidak fokus dan hampir terkena senjata Rycha.


"Ciiihh kurang dikit lagi!" Gerutu Rycha kesal.


"Kemampuanmu berada jauh di bawahku ya ternyata Rycha, ckckck sangat memalukan bukan? Kau memang seperti ibu ya... Suka bermain dengan banyak pria!" Sindirku dingin.


"Jangan kau samakan aku dengan wanita murahan itu!" Protes Rycha kesal.


"Itu kenyataannya, ya sudahlah aku ada urusanku sendiri!" Ucapku memutar tubuhku dan melukai Rycha yang membuat semua orang terkejut.


"T-tunggu... Apa!!" Teriak Rycha terkejut.


"Kau kalah Rycha jadi kau harua melakukan apapun yang aku perintahkan sesuai dengan pertaruhan kita!" Ucapku dingin.


"Ciiihhh!!! Apa maumu?"


"Ada banyak sih apa ya..." gumamku pelan.


"Woooy Raelyn cepatlah!!!" teriak Fadil kencang yang membuatku terkejut.


"Mmm ya permintaanku yang pertama, kau harus tunduk kepada Ryraen mulai sekarang."


"Tunggu!! Apa?" Teriak Rycha terkejut.


"Peemintaanku kedua... Mmm apa ya...." gumamku bingung.


"Woiiyy Raelyn!! Ayahmu sekarat tahu!!" Teriak Fadil kencang yang membuatku terkejut.


"Tunggu, sekarat?" Ucapku terkejut.


"Apa permintaanmu yang kedua?" Tanya Rycha serius.


"Mmm kau... nantilah, lakukan permintaanku pertama dulu!" Ucapku memasukkan senjataku dan pergi bersama Fadil keluar dari gedung itu masuk ke dalam mobil.


"Bagaimana bisa kak Fadil?" Tanyaku serius.


"Semebjak kau di culik ayahmu tidak mau makan dan minum yang menbuat penyakitnya kambuh. Aku sudah biasa dengan aksi gilamu tapi ayahmu tidak!" Ucap Fadil dingin.


"Kenapa tidak kak Fadil jelaskan!"


"Percuma, ayahmu tetap yang khawatir."


"Haish benar-benar diluar rencana..." gumamku keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah, aku berlari menuju kamar Raelan dan melihat Raelan yang terbaring dengan wajah pucat di temani Ravaro.

__ADS_1


"Raelyn?" Ucap Ravaro terkejut.


"Kata kak Fadil kalau penyakitnya kambuh..." gumamku melukai lenganku dan mengarahkan darahku di mulut Raelan.


"Haish kau kemana saja?" tanya Ravaro dingin.


"Menjalankan tugas saja..." gumamku pelan, aku melihat kedua mata Raelan yang berkedip dan jari tangan yang bergerak-gerak yang membuatku sangat lega.


"Ayah... Ayah sudah sadar?" gumamku pelan, Raelan membuka kedua matanya dan memelukku erat.


"Raelyn, anakku... Astaga kamu... Kamu tidak apa-apa kan anakku?" Ucap Raelan pelan dan aku menganggukkan kepalaku.


"Aku tidak apa-apa ayah hanya menjalankan tugasku saja."


"Tapi kan kamu diculik dan..."


"Aku baik-baik saja ayah."


"Apa kamu serius?" Tanya Raelan menatapku dingin.


"Ya ayah."


"Ohh mmm syukurlah, ayah sangat khawatir padamu."


"Jangan khawatir ayah, aku tidak apa-apa ayah. Minumlah lagi ayah..." gumamku pelan dan Raelan memegang lenganku dengan erat.


"Wajahmu sangat pucat Raelyn, ada apa?" Tanya Ravaro pelan.


"Mmm tidak ada kok kak, oh ya kakak... Apa kakak tahu tentang Rycha?" Tanyaku pepan.


"Rycha? Bagaimana kamu tahu tentang dia?"


"Yaah aku bertemu dengannya di wilayah bayangan."


"Tidak kakak, malah dia kalah bertaruh denganku."


"Benarkah? Akhirnya kau bisa membalaskan dendammu adikku."


"Tidak. Itu bukan balas dendam kakak!" Ucapku dingin.


"Bukan? Jadi kau ingin membunuhnya?"


"Yaahh mungkin."


"Astaga kamu memang hebat adikku bisa melukai dia!" Ucap Ravaro bangga.


"Tidak juga sih kak."


"Lalu disana kamu bertemu dengan siapa lagi?"


"Aku bertemu dengan Ryraen dan...Valentino.!"


"Tunggu, Kim Valentino Permata?" Tanya Raelan terkejut.


"Iya ayah, apa ayah tahu dia siapa?"


"Oh mmm dia dulu kekasihmu tapi karena perjodohanmu dengan Lyraen yang membuat kalian terpisah."


"Jadi benar-benar di jodohkan ya..." gumamku pelan.


Tiba-tiba kepala aku terasa sangat pusing dan perutku terasa sangat sakit tapi demi kesehatan Raelan aku harus berusaha untuk terus bertahan.


"Apa dia menyakitimu nak?" Tanya Raelan khawatir.


"Eee mmm t-tidak ayah hanya dia tadi memasukkanku sebuah benda di dalam mulutku dan aku tidak sengaja menelannya."

__ADS_1


"Tunggu benarkah? Apa yang dia katakan?"


"Valentino berkata kalau dia tidak akan membiarkanku hamil anak dengan orang lain dan... Huuuhhh..." desahku terjatuh dilantai yang membuat semua terkejut.


"Raelyn ada apa denganmu?" Tanya Raelan dan Ravaro terkejut.


"Aku pusing ayah dan perutku sangat sakit... Aku..." rintihku pelan dan pingsan di saat ini juga. Rasa sakit sakit yang luar biasa terasa di tubuhku yang benar-benar aku tidak tahan lagi.


"Raelyn!! Raelyn!!!" Ucap seorang wanita di sekitarku, aku membuka mataku dan melihat seorang wanita bermata hijau yang sangat cantik, aku langsung terduduk dan menatap wanita itu bingung.


"S-siapa kamu?" Tanyaku serius.


"Aku Sani Shin."


"Sani? Shin?" Tanyaku terkejut dan menatap sekelilingku.


"Ya aku Sani Shin."


"Apa aku sudah mati?" Tanyaku bingung dan wanita itu menggelengkan kepalanya.


"Tidak, kamu hanya pingsan setelah diberi obat penggugur kandungan oleh Valentino..." gumam wanita itu pelan yang membuatku terkejut


"P-penggugur kandungan? Tapi kan..." gumamku pelan dan aku benar-benar terkejut.


"Memang itu yang terjadi, selain itu dia juga memberikan tanda padamu dan menghapus semua ikatanmu drngan Lyraen."


"Benarkah? B-bagaimana bisa?" Tanyaku terkejut.


"Ciuman itu, adalah ciuman tanda bahwa kapanpun itu kamu akan tetap miliknya..." ucap wanita itu terkejut.


"Jadi perjodohanku dengan Lyraen..."


"Itu sudah tidak berlaku, perjodohanmu sudah lenyap."


"Eehhh benarkah?" Tanyaku terkejut.


"Memang, ikatan benang merahmu terhubung dengan Valentino jadi memilikimu lagi bukan hal sulit untuknya merebutmu kembali."


"Lalu benang merahnya Lyraen ke siapa?"


"Raesya sedangkan Raetya ke Ryraen."


"T-tidak mungkin!" Ucapku serius.


"Itu memang terjadi Raelyn lihatlah!" Ucap wanita itu menunjuk ke benang merah yang ada di tanganku dan saat aku amati ternyata benar yang dikatakan wanita ini.


"Jadi begitu ya... Apa kau menemuiku hanya untuk menunjukkan ini?" Tanyaku pelan.


"Tidak juga sih, ayah yang memasukkan setengah rohku di tubuhmu dan karena Valentino sudah mengikatmu maka rohku kembali ke surga."


"Apakah kamu tidak inkarnasi?"


"Sayangnya tidak, aku tidak mendapatkan kesempatan inkarnasi karena kelakuanku dan juga aku berpesan padamu jadilah wanita baik-baik Raelyn jangan sepertiku."


"Tapi kan aku hanya menjalankan nya karena tugas!"


"Menurutmu aku tidak melakukan karena tugas, ya bersyukurlah kedua kembarmu berhasil melakukan ritual itu jadi kau bisa berinkarnasi kalau tidak nasibmu akan sama denganku."


"Lalu bagaiaman aku menebus kesalahanku?" Tanyaku pelan.


"Temui Valentino dan minta maaflah padanya jika dia memaafkanmu maka dosamu akan gugur tapi tidak kau harus dibunuh olehnya agar kamu menjadi suci kembali."


"Oh begitu ya..." desahku pelan.


"Raelyn ini pertemuan kita yang terakhir, terimakasih sudah membuat nama Sani Shin dikenal orang sebagai pribadi yang hebat dan kau boleh tidak menggunakan nama itu karena aku tidak akan pernah menyalahkanmu atas semua perilakumu karena setengah rohku ada di kamu jadi jika kamu seperti itu juga aku tidak akan menyalahkanmu, terimakasih Raelyn..." ucap wanita itu pelan dan lama kelamaan menghilang mendengar apa yang sebenarnya terjadi membuatku merasa bersalah kepada Valentino, aku kira kalau di jodohkan akan tetap menjadi jodoh tapi ternyata benang merah penentu jodoh ini tidak bisa berpaling sama sekali.

__ADS_1


__ADS_2