
Disebuah pesta topeng, aku dan Fadil berjalan santai dan seolah-olah sedang menikmati pesta. Sebelumnya aku telah memberikan beberapa rencanaku kepada Fadil, sama seperti bisanya kehidupan yang lalu dimana aku mengecohkan fokus musuh sedangkan Fadil berfokus pada tugasnya.
"Kau harus hati-hati Sani."
"Ya aku tahu kak Fadil..." gumamku berjalan meninggalkan Fadil.
Di luar jendela aku melihat bulan purnama merah yang masih bersinar terang, aku mengambil segelas wine dan meminumnya.
"Tumben di kehidupan ini ada bulan merah padahal di kehidupanku yang sebelumnya tidak ada bulan merah jika bukan karena suatu kejadian langka..." gumamku berjalan menuju balkon gedung dan berdiri di pinggir balkon melihat sekitarku.
"Hmmm..." desahku menatap seseorang berjubah yang sedang berdiri di atas sebuah gedung yang berada di depanku.
"Siapa pria itu? Kenapa dia disana?" Gumamku dalam hati, di bawahnya aku melihat dua wanita yang melihat terluka parah dan saat aku amati ternyata dua wanita itu adalah Raesya dan Raetya.
"K-Kak Raesya? Dik Raetya?" ucapku terkejut dan segera pergi dimana kedua kembaranku terluka itu.
Di tempat itu, aku melihat seseorang yang berdiri itu adalah seorang pria, dia memegang sebuah senjata yang terlihat sangat tajam di tangannya. Saat melihat pria itu mengayunkan senjatanya, aku dengan cepat berdiri di depan kedua kembarku dan menahan senjata pria itu.
"Raelyn?" Ucap Raesya terkejut.
"Beraninya kau melukai kembaranku!" Ucapku dingin, aku menatap pria itu kesal.
"Ahh aku bertemu denganmu lagi gadis kecil..." ucap pria itu dingin, aku mengamati pria itu dan terkejut kalau pria itu adalah pria yang bertemu aku di hutan kemarin.
"K-kau? Kau Naecan kan? Untuk apa kau disini?" Tanyaku serius.
"Naecan? Hahaha... apa kau salah sangka setelah kau salah mengambil lencana pria bodoh itu dariku?" Tawa pria itu kencang.
"Tunggu? Apa?" Tanyaku terkejut.
"Lencana yang kau ambil itu bukan lencanaku dan lagi... apa kau tidak menyadari kalau lencanamu hilang?" Ucap pria itu mengangkat lencana milikku yang membuatku terkejut.
"Heeii! Kembalikan lencanaku!!!" Protesku kesal tapi pria itu memasukan kembali lencana itu dan kembali tersenyum kearahku.
"Heeeiii kembalikan!!" Protesku kesal dan berusaha merebut kembali lencanaku.
"Raelyn mundurlah!! Dia sangat licik, hebat, dan kejam!" Ucap Raesya kencang tapi aku tidak memperdulikannya.
"Kau benar-benar keras kepala seperti Raelan ya gadis kecil, sungguh menarik..."
__ADS_1
"Diam kau dan kembalikan lencanaku!" gerutuku kesal berusaha mengambil lencanaku dan tidak aku sangka senjatanya mengenai lenganku sehingga lenganku berdarah.
"Raelyn mundurlah!!" Teriak Raesya kencang tapi aku tidak mendengarnya dan tetap berusaha mengambil lencana milikku.
Saat aku sibuk dengan usahaku mengambil lencana itu, aku melihat mata pria itu berubah menjadi merah keunguan seperti milikku saat melihat darahku. Melihat perubahan itu membuatku menghindar dan berusaha mundur selangkah demi selangkah tetapi pria itu langsung mendorongku ke lantai dan menggigit leherku kuat.
"Uuugghhh sa...sa...mmmppphhhh..." Tangan pria itu langsung membungkam bibirku dan menggigitku kuat.
"Raelyn!!!" Teriak Raesya berusaha berdiri tapi tubuhnya tidak bisa di ajak berdiri.
"Aaahh akhirnya aku bisa mencicipi darah ini."
"A-apa maksudmu?" Tanyaku terkejut tapi pria itu kembali membungkam bibirku dengan tangannya. Di dalam jubah terlihat sebuah lencana berwarna emas yang mencuri perhatianku, aku langsung mengambil lencana itu dan memasukkannya di sakuku, walaupun aku tahu itu bukan lencanaku tapi aku ingin mengambil lencana yang ada di jubahnya itu.
"Kau!! Lepaskan adikku!!" Teriak Raesya kencang, Raesya terus berusaha berdiri tapi tubuhnya terlihat tidak mampu melakukannya.
"Kau memang berisik ya Raesya..." ucap pria itu dingin.
"Dia adikku dan kau tidak boleh mengganggunya!"
"Tidak boleh ya? Why?"
"Dan kau masih ingin terus menutupinya? Heeh walaupun kehidupan ini kalian berdua yang mengatur tapi kalian tidak bisa mengatur hidupku!" Ucap pria itu menjentikkan jarinya dan muncul dua orang yang siap menyerang kembaranku, melihat hal itu aku langsung menggelengkan kepalaku mencoba memohon kepada pria itu.
"Kenapa?" tanya pria itu dingin dan melepaskan bungkamannya.
"Mereka kembaranku, ku mohon jangan sakiti mereka... urusan kita ya urusan kita jadi jangan bawa mereka ke dalam urusan kita..." ucapku pelan dan pria itu tersenyum dingin.
"Oh... baiklah kalau itu maumu gadis kecil..." gumam pria itu pelan dan langsung menciumku yang membuatku terkejut, aku berusaha melepaskan ciuman itu tapi pria itu memelukku erat yang membuatku tidak bisa melepaskan ciumannya.
"Uuugghhh s-sakit..." rintihku pelan saat pria itu menggigit bibirku yang membuatnya berdarah.
"Akhirnya... aku menemukanmu malaikat kecilku..." ucapku pelan, Entah kenapa tapi saat bibirku tergigit itu aku secara tidak sadar mengatakan hal yang aneh sehingga membuat pria itu melepaskan ciumannya dan tersenyum dingin kearahku.
"Aah benar ya jadi selama ini kau ada di tubuh gadis ini ya, benar-benar merepotkan tapi kalau dilihat-lihat wajah kalian benar-benar mirip juga ya..." gumam pria itu pelan sambil mengusap pipiku.
"Tapi tidak apa, asalkan aku bisa bertemu kembali gadis kecilku..." gumam pria itu kembali menciumku lembut dan melepaskan pelukannya lalu berdiri di sampingku.
"Ya sudahlah jaga dirimu gadis kecil..." gumam pria itu membalikkan badan dan berjalan pergi, aku segera terduduk dan mengambil lencana emas tadi.
__ADS_1
"Oh ya... kau kira hanya lencanaku yang ada di kamu? Heeh jangan lupa lencanamu ada di tanganku juga..." ucapku menunjukkan lencana emas itu dan pria itu hanya menatapku dengan tersenyum dingin lalu pergi menghilang.
"Eeehh dia pergi? Apa aku salah mengambil lencana lagi?" gumamku terkejut.
"Tidak Raelyn, itu memang lencana pria itu..." gumam Raesya pelan.
"Eehh kakak!" Ucapku segera berlari mengobati kedua kembarku.
"Yang kau pegang adalah lencana miliknya, dia berasal dari organisasi mafia misterius yang ada di dunia. Nama dia Lyraen dan nama kamu sebenarnya diambil dari nama dia Raelyn."
"Namaku? Kenapa?" Tanyaku terkejut.
"Yaahh bisa dibilang kau sudah pernah inkarnasi di tiga kali, alasan usaha kami gagal karena kau pernah inkarnasi sebelumnya. Kau adalah seorang istri Lyraen di kehidupan pertama dan kau mati di tangan Lyraen ketika beberapa minggu melahirkan anak pertama, yaaah alasan kamu kembali hidup disaat anak kandungmu mati itu adalah karena kehidupanmu yang pertama kau mati memeluk anakmu sendiri..." jelas Raesya pelan.
"Tu... tunggu benarkah?" Tanyaku terkejut.
"Yaah begitulah, di kehidupanmu yang kedua dia berusaha mencarimu tapi tidak bertemu."
"Oh mmm apa dia jahat?"
"Di kehidupan pertama dia sangat jahat tapi mungkin dia bersalah membunuh istrinya sendiri yang membuat pria itu berusaha mencarimu."
"Lalu?"
"Lalu ya tepat saat kematianmulah Lyraen menemukanmu tapi kau dibunuh Revaro dan Saputra yang membuat Lyraen dendam."
"Lalu kenapa dia terlihat membenci kalian?"
"Saat kami melakukan ritual terlarang Lyraen mengetahuinya dan belum sempat dia dan yang lainnya menghentikan kami ritual itu berhasil dan kita semua kembali ke masa kecil dengan ingatan yang masih ada."
"Oh begitu ya... uuuhhuukkk... uuhhuukk..."
"Raelyn kamu kenapa?" Tanya kembaranku terkejut.
"Mmm t-tidak kakak... ya sudah kakak kembalilah, luka kalian masih basah jadi aku takut akan terinfeksi."
"Tapi kamu juga terluka!"
"Aku tidak apa kak, lebih baik kakak segera pergi sebelum ada orang lain yang tahu kakak disini?"
__ADS_1
"Oh mmm baiklah, jaga dirimu adikku..." gumam Raesya segera pergi dari tempat ini. Aku terus terbatuk-batuk dan berusaha berdiri untuk menjaga keseimbangan tubuhku, penjelasan kedua kembarku membuatku terkejut dan didalam pikiranku apakah kehidupanku saat ini adalah kehidupan awalku sebelum inkarnasi itu?