Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 59 : Menyerahkan Titipan Tetua Mafia


__ADS_3

Setelah sekian hari aku sangat tersiksa karena harus meminum obat yang sangat pahit ini akhirnya selesai, Sino dan Fiyoni memaksaku untuk terus meminum obat itu membuatku kesal tapi aku tidak bisa melawannya sama sekali.


Hari ini adalah hari dimana pesta itu dimulai tepat dimana aku ulang tahun, walaupun aku ulang tahun aku tidak pernah mengatakan kepada siapapun bahkan wakilku sendiri jadi aku jarang dberi hadiah ulang tahun. Karena aku sudah keluar dari rumah sakit jadi aku dua hari ini aku berada di rumah Sino dan Fiyoni, aku datang ke pesta setelah Sino dan Fiyoni sudah pergi, setelah aku mengatakan kepada Sino kalau aku datang ke pesta itu tapi aku mendapatkan pesan untuk tidak mengatakannya sebelum bertemu dengan tetua mafia kalau tidak ada yang mengetahui apa tujuanku jadi aku memutuskan bilang kepada Sino dan Fiyoni kalau aku mungkin tidak jadi datang.


Pagi ini seperti biasa aku makan dan mandi sendirian, aku tidak tahu sejak semalam aku tidak bertemu dengan Sino dan Fiyoni, aku tidak tahu dia dimana dan aku tidak peduli juga. Setelah berganti pakaian aku terkejut melihat Victory dan Fadil yang sedang terduduk di sofa kamar sambil meminum wine dengan santai.


"Astaga...kalian mengagetkanku!" gerutuku mengatur nafasku.


"Memangnya kamu tidak mendengar suara pintu terbuka?" tanya Victory santai.


"Tidak... eeh tunggu dulu kenapa kamu bisa masuk disini dengan mudah? Kalau mereka berdua tahu baagaimana?" tanyaku terkejut.


"Pemilik rumah sedang pergi ke pesta sejak tadi malam apa kamu tidak tahu?"


"Oh benarkah? Baguslah kalau begitu, kita pergi juga sebentar lagi. Aku sedang mempersiapkan bahannya dulu."


"Kamu mau membawa senjatamu? Mana bisa?" tanya Victory terkejut.


"Kita memiliki undangan khusus untuk bertemu dengan tetua mafia, jadi sebelum ke pesta lebih baik kita ke tetua mafia dulu."


"Oh...apa tetua mafia tertinggi mengatakannya kepadamu?"


"Ya, dia mengirimiku pesan kemarin. Untungnya pembantunya yang di utus kak Sino membuang undanganku itu jadi dengan mengendap-endap Fadil mengambil undangan ini dan menggantinya dengan kertas palsu sebelum dibakar olehnya." gumamku meracik racunku dengan hati-hati.


"Oh ya Sani, bagaimana hasil investigasi racunmu?"


"Aku tidak tahu, Fiyoni tidak memberitahukanku. Mereka datang ke pesta itu untuk mencari informasi."


"Paling juga mereka bermain wanita!" sindir Victory menatapku dingin.


"Victory!" gerutu Fadil memberikan kode kepada Victory.


"Apa, itu kenyataan kan? Kalau mereka tidak melakukannya pasti mereka tidak dapat informasi apapun, benarkan?."


"Yaah benar kata kamu Victory, mereka memang melarangku ikut tapi ya kau tahu sendirikan kalau kita dapat tugas kita tidak bisa menolak apalagi ini tugas antar ketua organisasi jadi ya mau bagaimana lagi..." desahku memakai jubah hitamku dan keluar dari kamar.


"Aku tahu lagi pula sudah lama aku tidak datang ke pesta." gumam Victory mengikutiku bersama dengan Fadil.


"Apa kamu sudah mempersiapkan semuanya Sani?" tanya Victory duduk di sampingku.


"Kamu sudah membawa barang yang di perintahkan?" tanyaku serius.


"Aku tanya dulu loh seharusnya kamu yang menjawabku dulu. Haish ya sudahlah, aku membawanya tenang saja...lalu bagaimana denganmu?"


"Ya tentu saja aku punya rencana kalau tidak aku tidak mungkin berani kesana sendiri..." gumamku memberikan rencanaku.


"Jadi kita masuk ke dalam ruang tetua lewat jalur tikus?"

__ADS_1


"Benar, tetua mafia pusat yang memberitahukanku." gumamku menyetir mobil milik Sino.


"Dia memberitahukanmu?" tanya Victory terkejut.


"Ya, katanya aku ketua mafia pusat Inggris makanya tetua memberitahukanku."


"Haish padahal kamu sudah tidak pernah datang ke Inggris tapi masih dianggap ketua mafia pusat ya, sungguh beruntungnya kamu!" gerutu Victory kesal, aku hanya meliriknya dan mempercepat laju kendaraan kami.


Tidak terasa waktu sudah sore hari, tepat pukul 4 sore aku sampai tepat waktu di gedung di pinggir laut yang menjadi tempat pesta, banyak orang yang berpakaian mewah datang ke tempat itu.


Aku segera berlari melewati jalan yang di beritahukan kepadaku sebelum kapal pelelangan bersandar di belakang gedung, setelah berlati melewati lorong bawah tanah akhirnya kami bertiga sampai di ruangan tetua mafia.


"Haaaiii Sani, Victory, dan Fadil... sudah lama tidak bertemu kalian... kemana wakilmu Victory?" tanya tetua mafia yang sedang duduk bersama dengan seluruh tetua organisasi mafia sambil meminum teh hijau.


"Kabar baik tetua, oh ya tetua, kami datang memberikan titipan anda tetua.." gumamku memberikan kotak hitam kepada tetua, denga. cepat tetua mafia membuka kotak itu dan bernafas lega.


"Huuhh akhirnya kamu bisa menyelesaikannya tepat waktu Sani.. Oh ya... kata tetua mafia tertinggi kamu terkena racun musuh ya?"


"Eeehh mmm i..iya tetua, mohon maaf atas kecerobohan saya."


"Tidak, aku bangga punya ketua mafia hebat sepertimu. Walaupun kamu sangat hebat tapi kamu tidak takut mati untuk menyelamatkan wakilmu."


"Kak Fadil sudah aku anggap sebagai kakak saya tetua, saya selama ini hidup sendiri jadi hanya kak Fadil yang selalu ada bersama saya. Kalau saya sampai kehilangan kak Fadil pasti saya akan depresi tetua.." gumamku pelan.


"Ya aku tahu kok Sani, mungkin kehilangan tuan Shin membuatmu sangat menderita sampai kamu menghilang bertahun-tahun. Oh ya sekarang umurmu berapa?" tanya tetua serius.


"Tunggu jangan bilang kamu ulang tahun?" tanya Victory terkejut.


"Ya memang aku hari ini ulang tahun..." gumamku pelan.


"Kenapa kamu tidak bilang? Kalau kamu bilang kan aku akan membeli beberapa hadiah tadi!" protes Victory kesal


"Tidak perlu, aku bisa..."


"Sani kemarilah.." ucap tetua memotong pembicaraanku, aku segera berjalan kearah para tetua di depanku.


"Iya tetua..."


"Ini hadiah dari kami semua, semoga bermanfaat untukmu.." gumam tetua mafia memberikanku kotak panjang.


"Ti...tidak perlu repot tetua, aku..."


"Terima saja, anggap saja ini sebagai hadiah pencapaianmu selama ini."


"Ma...makasih tetua semua..." gumamku menundukkan badanku


"Bukalah..." gumam tetua serius, aku membukannya dan melihat pedang dan samurai langka yang hanya orang khusus di dunia yang memilikinya.

__ADS_1


"Bu...bukannya ini..."


"Ya ini pedang dan samurai yang cocok untukmu, jadi kamu bisa memakainya. Setiap pedang itu terkena darah, pedang itu akan menyebarkan racun yang setara dengan racun yang melukaimu.


"Racun yang melukaiku? Racun apa itu tetua?" tanyaku terkejut.


"Itu racun level tertinggi milik ayahmu, sepertinya ayahmu dibunuh oleh musuh dan senjatanya dipakai oleh mereka. Sedangkan pedang dan samuraimu memiliki level murni milik kakekmu, kamu berada di keluarga pengguna racun yang terkenal kejam dan itu pedang milik kakekmu dulu."


"Tapi tetua... saya campuran dari keluarga Li dan keluarga Shin, saya tidak pantas memakainya."


"Kamu anak tuan Shin sedangkan kembaranmu anak tuan Li, kalian memang kembar tapi kalian sangat berbeda. Dulu saat ibumu hamil, kakekm dan aku sebenarnya sudah tahu kalau ibumu itu bermain dengan tuan Li apalagi dia bermarga Li. Tapi apa kamu tahu Sani...memang secara nyata kalian kembar tapi aslinya kalian berbeda..." gmam tetua yang membuatku bingung


"Berbeda... maksudnya tetua?" tanyaku bingung.


"Kamu hidup dulu berada di dalam rahim sedangkan Rina hidup berada di luar rahim, dulu kakekmu memaksa untuk menggugurkan kandungan yang ada di luar rahim karena dokter menyarankan seperti itu, tapi ibumu menolak dan tetap menjaganya sampai lahir. Jadi...setelah kamu lahir normal, dokter melakukan operas mengangkat Rina. Dan ya sebenarnya itu yang terjadi..." gumam tetua memberikanku foto usang ibu yang sedang hamil dan melakukan operasi.


"Jadi...itu yang menyebabkan kami berbeda DNA tetua?"


"Ya benar, kalian berbeda bahkan kalian sama sekali tidak mirip dari kepribadian bahkan apapun itu kalian tidak mirip."


"Oh terimakasih tetua, mmm bolehkah saya membawa ini?" tanyaku pelan.


"Bawa saja, semestinya kamu juga harus tahu. Jadi di umurmu sekarang sudah tepat aku memberitahukanmu."


"Terimakasih tetua..." gumamku pelan.


"Oh ya Sani... Victory aku punya tugas untukmu..."


"Tugas?" tanya Victory terkejut.


"Ya... cari informasi tentang dalang yang sebenarnya dibalik peperangan di dalam kapal, jangan sampai ketahuan siapapun. Kalau kalian ketahuan akan sangat berbahaya."


"Dalangnya? Bukannya..." tanyaku terkejut.


"Bukan... kami mengidentifikasi ada seseorang yang memainkan peran ini dengan baik, jadi kalian harus sangat hati-hati mencari informasi itu. Di dalam kapal ada restoran, tempat tidur, bar, pelelangan, kolam renang, dan tempat judi sekaligus tempat hiburan malam. Kalian harus hati-hati di bar dan tempat judi itu, kamu ingat kenapa keluargamu dibunuh Sani... karena ayahmu melakukan kesalahan." gumam tetua mafia tertinggi serius.


"Melakukan kesalahan?" tanyaku terkejut.


"Ya, sebenarnya dia dulu mencari informasi sambil berjudi, tapi karena dia mabuk jadinya dia tidak bisa mengendalikan diri dan bertanya dengan nada keras yang membuat seluruh orang tahu apa yang dilakukan ayahmu, jadi pembantaian itu kemungkinan menjadi balasannya karena ayahmu saat itu berhasil melarikan diri dari kapal tapi dia malah terbunuh di rumah."


"Ya benar kata tetua mafia tertinggi, jadi kalian berdua harus hati-hati. Aku menunjuk kalian berdua karena kalian hebat dan tidak mengecewakanku..." gumam tetua serius.


"Baik tetua, kami akan melakukannya...kam mohon pamit..." gumamku menundukkan badanku dan berjalan pergi.


"Oh ya Sani, disana ada banyak ketua mafia bahkan orang biasa yang datang jadi...kalian berdua harus hati-hati!" ucap tetua kencang, tanpa berbicara apapun aku hanya menutup pintu rahasia itu dan berjalan keluar lorong bawah tanah.


"Astaga nampaknya berat sekali ini tugasnya..." desah Victory pelan.

__ADS_1


"Informasi di dalam kapal ya? Jadi ayah melakukan judi di kapal ini..." gumamku kembali memikirkan rencanaku mencari informasi tidak masalah untukku tapi... musuh di sekitarku, Han Li atau bahkan kedua pria dingin juga ada past akan lebih kesusahan bagiku melakukannya.


__ADS_2