
Disaat aku dan Sanjaya asik berduaan tiba-tiba jam tangan kami berdua berbunyi bersamaan yang membuat kami terkejut. Aku menatap jam tanganku ternyata sebuah pesan peringatan.
"Eehh mmm sayang nanti lagi ya, sepertinya ada keadaan yang mmmm ya tunggu sebentar ya..." gumam Sanjaya berlari pergi meninggalkanku.
"Dia... punya jam tangan yang sama denganku?" gumamku bingung, aku membaca pesan peringatan itu dan ternyata Frey yang mengirimiku informasi kalau sedang ada pertarungan di dalam antar ketua mafia.
"Hanya ketua mafia saja? Kurang serulah..." gumamku pelan.
"Astaga kau masih disini Raelyn?" Ucap seorang pria di belakangku, aku menoleh kebelakang dan melihat Tuan Ben dan Frey berjalam kearahku.
"Eehh tetua..." gumamku segera membungkukkan badanku.
"Kau tidak ikut pertarungan di dalam?"
"Tidak tertarik tetua."
"Haish kau masih saja menyukai pertarungan yang barbahaya ya."
"Mmm tidak juga tuan."
"Oh ya sepertinya kamu terlihat sangat akrab dengan pria itu, apa kau mendapatkan informasi?"
"Untuk saat ini saya hanya mendapatkan informasi kalau pria itu memang..."
"Oh begitu ya..." desah Tuan Ben memotong pembicaraanku.
"Lalu? Apa ada yang lain?"
"Untuk saat ini... hanya itu tuan Ben."
"Apa ada target yang ingin kamu capai?"
"Ada tuan."
"Apa itu?" Tanya Tuan Ben serius.
"Saya hanya penasaran dengan... cara bertarungnya, sepertinya dia tidak menunjukkan keahliannya saat ini."
"Jadi kamu berpikir kalau dia itu sepertimu?"
"Ya benar tuan, dia juga ketua regu satu tuan."
"Regu satu? Apa kau yakin?" Tanya Frey serius.
"Ya, aku tadi tidak sengaja membaca lencananya."
"Oh begitu ya, berarti sama sepertimu Raelyn..." gumam Tuan Ben pelan.
"Tunggu, jadi dia akan menjadi musuh terkuatmu jika kalian bermusuhan?" Tanya Frey terkejut.
"Yaah benar sekali."
"Kalau begitu kau harus hati-hati Raelyn..." gumam tuan Ben berjalan pergi bersama Frey.
"Baik tuan..." gumamku pelan dan menghela nafas dalam.
"Tuan!!!" Teriakku kencang dan tuan Ben menghentikan langkahnya.
"Ada apa Raelyn?"
"Tuan, saya meminta ijin untuk menggunakan hal itu jika darurat?" Tanyaku pelan.
"Apa kau membutuhkannya?"
"Mengingat lawan saya yang terlihat sangat hebat maka..."
__ADS_1
"Kalau kau membutuhkannya lakukan saja, kau ketua regu satu... posisimu tepat di bawahku lalu untuk apa kau meminta ijin padaku?" ucap tuan Ben melempar sesuatu kepadaku, aku menatap benda di depanku ternyata sebuah lencana istimewa.
"Kita sudah lama tidak bertemu, aku tidak sempat memberimu lencana itu... mungkin karena itu kau kesulitan melakukan tugasmu, sekarang kamu mempunyai lencananya jadi lakukan sesukamu, untuk tugas selanjutnya... aku akan menginformasikan kepada Fadil jadi kau bisa datang ke organisasi sesukamu dan jika kau benar-benar ku butuhkan, jangan mempermalukan organisasi tersembunyi Raelyn..." gumam tetua Ben berjalan pergi.
"Eehhh mmmm terimakasih tetua..." gumamku menghela nafas dan mengambil lencana itu, aku terduduk kembali di pinggir balkon dan menatap sekitarku. Dibawah aku melihat Sanjaya dengan pria bertopeng kembali, Sanjaya sepertinya mengucapkan sesuatu dan pria bertopeng itu hanya menggelengkan kepalanya. Aku benar-benar penasaran dengan ucapan mereka, aku memikirkan apa yang bisa aku lakukan agar aku bisa memata-matai ucapan mereka.
"Mmm..." gumamku melihat seorang pelayan yang berjalan tidak jauh dari dua orang itu, aku segera turun dari balkon kapal dan menarik pelayan itu untuk bersembunyi di balik pintu.
"Eeehhh no...nona ada apa?" Tanya pelayan itu terkejut.
"Huusstt diamlah..." gumamku dingin dan mendekatkan telingaku disela-sela pintu.
"Kumohon tetua, bolehkah aku melakukannya secepatnya! aku sangat ingin mengakhiri ini semua!" Ucap Sanjaya serius.
"Tidak! Sudah ku katakan kan! Kalau dia benar-benar Raelyn dan dia memiliki lencana istimewa akan sangat susah melakukannya kau tahu!" Ucap pria itu dingin. "Eehh melakukan apa?" Gumamku dalam hati.
"Dia hanya seorang gadis yang lemah dan..."
"Dia hanya berpura-pura, kamu juga tahu kan kecepatan, kepintaran, bahkan keahliannya seperti apa! Kau harus berhati-hati, apalagi aku dengar dia juga ketua regu satu dibawah tetuanya pasti dia sangat hebat!"
"Ke...ketua regu satu?" Ucap Sanjaya serius.
"Ya, dia sama denganmu bahkan dia adalah wanita kepercayaan organisasi tersembunyi sama sepertimu, kita tidak tahu apa yang direncanakan Ben dan apa tugas yang diberikan Ben pada wanita itu jadi kau harus mencari informasi tentang wanita itu..." gumam pria itu serius.
"informasi tentangku?" Gumamku pelan.
"Tapi bagaimana rencana menghabisinya tuan?" Tanya Sanjaya serius.
"Melihat dia wanita yang hebat pasti akan membuatmu kesulitan jadi kau berfokuslah dengan tugas yang aku berikan itu dan terus awasi wanita itu, jangan lupa sembunyikan identitasmu Ryu Lucian!" Ucap pria itu dingin.
"Tugas?" gumamku dingin.
"Siapa itu?" Ucap Sanjaya dingin.
"Eehh astaga..." gumamku panik, aku segera menempatkan pelayan itu di depan pintu dan bersembunyi di sebuah lorong kecil. Di depan pintu aku melihat Sanjaya yang menatap dingin pelayan itu.
"Huufftt..." desahku mengatur nafasku.
"Haaahh... mengawasiku ya? Emangnya apa yang menjadi tugas Sanjaya sebenarnya?" Gumamku pelan.
"Aku harus segera mencari tahu dan.. "
"Sayang kenapa kau ada di lorong sempit?" Ucap Sanjaya di depanku yang membuatku terkejut.
"Astaga huuffttt kau membuatku terkejut!" gerutuku mengusap dadaku.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Sanjaya pura-pura tidak tahu, aku menarik Sanjaya yang membuatnya terjatuh di depanku.
"Huusstt... di luar banyak orang berkelahi, aku tadi dikejar orang gila jadi aku bersembunyi disini..."
"Orang gila?"
"Ya, tadi aku terus ditarik ke sebuah ruangan dan hampir di permainkan... karena aku takut jadi aku bersembunyi disini..." gumamku berbohong.
"Benarkah? Mana ada yang berani melakukan itu kepada ketua mafia?"
"Aku seorang wanita dan kau tahu kan banyak yang menyukaiku apalagi mempermainkanku..." gumamku polos.
"Kalau begitu, tunjukkan padaku! Mana orangnya!" ucap Sanjaya menarikku keluar lorong.
"Eeehh tapi Sanjaya..."
"Kamu istriku, berani-beraninya menggoda istriku!" Gerutu Sanjaya kesal, genggaman tangan Sanjaya begitu kuat yang membuatku bingung.
"Mana orangnya?" Tanya Sanjaya dingin.
__ADS_1
"Ta...tadi ada disini..." gumamku pelan, Sanjaya melepaskan genggamannya dan mencari seseorang di sekitar kami.
"Tidak ada siapapun disini!"
"Yaahh m-mungkin dia sudah pergi..." gumamku pelan, "Aduh kenapa dia mencari sih kan ini hanya bualanku!" gerutuku dalam hati, di ujung lorong aku melihat seseorang yang menjadi targetku sedang bersama dengan wanita.
"I...itu dia..." gumamku berpura-pura takut, melihat pria di depanku Sanjaya langsung mengejar pria itu dan langsung menghajarnya habis-habisan tepat di depanku.
"Waahhh dia sangat hebat, tapi aku tidak yakin jika ini keahlian di sesungguhnya..." gumamku dalam hati.
"Apa yang kau lakukan?" Protes wanita di depanku terkejut, Sanjaya mengangkat wajahnya dan menatap wanita itu dengan tatapan dinginnya.
"Kau? Kenapa kau..." gumam wanita itu terkejut, Sanjaya segera mendorong wanita itu dan memojokannya. Aku menatap wanita itu ternyata musuh bebuyutanku, Freya.
"Kenapa? Kenapa apanya?" Tanya Sanjaya dingin.
"Aku dengar... kau dijodohkan dengan dia ya? Ckckck menyedihkan..." Sindir Freya dingin.
"Kau tidak perlu mengerti apapun!"
"Aku? Kau kira aku tidak mengerti apapun? Aku bahkan tahu kalian berdua, bahkan lebih mengerti tentangmu Ryu Lu...mmmpphh..." ucap Freya dingin tapi Sanjaya langsung membungkam bibir Freya dengan cepat.
"Kau tidak mengerti apapun tentangku jadi diam kau!" Ucap Sanjaya dingin, disaat Sanjaya dan Freya asik dengan urusan mereka tiba-tiba Frey memberiku kode di jam tanganku agar aku berpura-pura tidak mendengarnya dan diam saja agar Sanjaya yang melakukan apapun sesukanya.
"Ohh mmmm baiklah..." desahku pelan.
"Kau pernah tidur denganku! Bagaimana aku tidak tahu tentangmu!" Ucap Freya yang membuatku terkejut.
"K-kalian tidur bersama?" Tanyaku terkejut.
"Tentu saja, sebelum kau... aku sudah tahu identitas dia yang sebenarnya, kau hanya mendapatkan sisa dariku R..."
"Oohh begitu ya, jadi kelakuan kalian seperti itu!" Protesku segera memotong ucapanku saat Freya hampir mengucapkan nama samaranku di mafia.
"Tidak sayang, dia berbohong dan..."
"Aku tidak pernah berbohong ya! Kau memiliki banyak bekas luka di punggungmu, aku tahu lebih dulu dari dia kan apa aku berbohong?" ucap Freya dingin, "Astaga memang Freya sangat bodoh!" gerutuku dalam hati.
"Hmmm apa kau mencintai dia?" tanyaku pelan.
"Tentu saja, aku mencintainya apalagi dia ketua regu satu di organisasi misterius!"
"Tutup mulutmu!" Ucap Sanjaya panik, aku menaikkan bibirku dan memberi kode kepada Frey di jam tanganku.
"Kalau dia terbunuh juga tidak apa, dia mata-mata dua organisasi dan sangat berbahaya bagi organisasi tersembunyi. Jadi tidak masalah kalau dia mati..." gumamku pelan saat membaca kode dari Frey.
"Ketua regu satu? Apa itu?" Tanyaku polos.
"Hahaha kau tidak tahu kan? Dia bernama Ryu Lucian dan dia ingin membunuhmu..." ucap Freya dingin.
"Mem...membunuhku? Kenapa membunuhku?"
"Tentu saja, kau sangat berbahaya bagi organisasi misterius dan kau wanita yang susah di tebak, dengan kehadiranmu pasti akan menyulitkan dia melakukan tugasnya."
"Tugas? Tugas apa?"
"Tentu saja tugas menghabisi organisasi tersembunyi dan juga menghabisimu!" Ucap Freya dingin.
"Haah? menghabisiku dan menghabisi Organisasi tersembunyi? Apa maksudmu aku benar-benar tidak mengerti?" Ucapku bingung.
"Hahaha apa yang kau tahu coba? Lagi pula Ryu Lucian sangat membencimu kau membunuh anggota keluarganya saat itu lagi pula dia juga mencintaiku dan tidak mencintaimu!" Ucap Freya tertawa lepas.
"Tidak mencintaiku ya..." gumamku pelan dan berjalan pergi.
"Sani!! Jangan dengarkan dia! Dia berbohong padamu Sani!!" teriak Sanjaya kencang tapi aku tidak memperdulikannya.
__ADS_1
"Aku? Membunuh anggota keluarganya? Siapa yang pernah aku bunuh? Aku rasa aku baru bertemu dengannya lalu siapa yang aku bunuh?" gumamku pelan sambil berjalan pergi.
Walaupun aku tidak peduli Sanjaya mencintaiku atau tidak tapi mendengar fakta dari Freya membuatku memikirkan sesuatu, siapa anggota keluarganya yang aku bunuh dan kenapa dia sangat ingin membinasakan organisasi tersembunyi dan membinasakanku?