
Selama beberapa minggu aku berobat dan Raelan terus menjagaku bahkan tidak pernah melepaskan pandangannya dariku, walaupun aku sedikit tidak suka tapi aku sudah terbiasa dengan sikap Raelan itu.
Sudah hampir tiga bulan lamanya Fadil berusaha mencari tahu tentang pulau tersembunyi itu tapi sampai sekarang tidak pernah menemukan pulau itu yang membuatku berpikir untuk mencari cara yang lainnya untuk saat ini.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Fadil mengagetkanku.
"Aku hanya berpikir."
"Cara untuk kesana?"
"Ya. Kak Fadil mari ke wilayah bayangan."
"Kesana? Untuk apa?"
"Mencari pulau itu dan juga untuk menyelesaikan tugasku."
"Apa belum selesai?" Tanya Fadil bingung.
"Belum semuanya, aku tidak mau tetua menunggu terlalu lama kak Fadil."
"Oh mmm baiklah minta ijin dulu kepada ayahmu, dia sedang ada rapat dengan Ravaro."
"Kak Fadil saja yang meminta ijin, ponselku kan kak Fadil yang bawa."
"Di dalam tas?"
"Ya dan pastinya baterainya sudah habis."
"Haish baiklah..." desah Fadil membuka ponselnya dan aku langsung berjalan pergi.
"Kamu mau kemana?"
"Pergi ke sana."
"Eeehh sekarang?" Tanya Fadil terkejut.
"Ya, aku ingin segera selesai!" Ucapku pelan dan pergi masuk ke dalam mobil. Fadil terduduk di depanku sambil memainkan ponsel yang ada di tangannya.
"Ada apa kak Fadil?" Tanyaku bingung tapi Fadil hanya menggelengkan kepalanya sambil memasukkan ponselnya ke dalam sakunya.
__ADS_1
"Tidak ada, hanya ayahmu memintaku untuk menjagamu."
"Oohh begitu ya...." desahku menatap telapak tanganku dan sesekali menggenggam erat tanganku. "Ternyata setelah aku sadar cincin di tanganku menghilang ya..." gumamku dalam hati dan memejamkan kedua mataku.
"Sani, kita sudah sampai..." ucap Fadil pelan dan aku langsung membuka kedua mataku menatap kami sudah melewati gerbang masuk wilayah bayangan.
"Eehh kak Fadil dengan mudah ya masuk ke dalam wilayah musuh ya..."
"Tentu saja, dengan lencana yang aku dapatkan jadi aku bisa masuk dengan mudah."
"Oohh lencana yang kemarin ya?"
"Ya memang."
"Oh begitu ya, kak Fadil pinjam ponselmu!" Ucapku pelan dan Fadil memberikan poselnya padaku. Aku mencari sebuah perpustakaan di wilayah bayangan menggunakan ponsel Fadil ini.
"Kak Fadil, nanti belok kiri terus ke kiri lagi terus ke kanan kak Fadil."
"Kau mau ke kota?" Tanya Fadil bingung.
"Aku mau ke perpustakaan kota dulu, ada hal yang ingin aku cari."
"Tidak ada ya..." gumamku pelan dan terus mencari seluruh buku yang membahas tentang pulau tersembunyi.
"Nona, perpustakaan akan tutup!" Ucap seorang pria di depanku yang membuatku terkejut, aku menatap pria bertopeng itu serius. "Tunggu sepertinya aku pernah bertemu tapi dimana ya?" gumamku dalam hati pelan.
"Eehh mmm maaf tuan..." gumamku menutup buku di depanku dan meletakkan satu persatu buku yang aku baca itu kembali ke dalam rak.
"Kamu mengeluarkan banyak buku untuk apa?" Tanya pria itu serius.
"Hanya ingin membaca-baca saja."
"Oh ya kamu nampaknya bukan orang di wilayah sini, bagaimana kamu bisa masuk ke wilayah bayangan? Jika penguasa wilayah bayangan tahu pasti kamu akan dihukum olehnya!" ucap pria itu yang membuatku terkejut.
"Penguasa? Siapa?" Tanyaku penasaran.
"Tuan Kim Valentino Permata."
"Oh begitu ya..." desahku meletakkan kembali buku-buku itu.
__ADS_1
"Lalu untuk apa anda datang ke wilayah bayangan?"
"Ohh mmm aku... Aku kebetulan ada urusan dengan penguasa kalian, apa kamu tahu dimana dia?"
"Ada di pulau tersembunyi."
"Apa kamu tahu dimana letaknya?"
"Aku tidak bisa memberitahukanmu kalau..." gumam pria itu pelan dan aku langsung menunjukkan kertas dari Valentino.
"Ohh begitu ya... Mmm ya tempatnya ada di pedalaman hutan hujan tropis. Hutan itu terkenal banyak hewan buas jadi lupakan saja dan lebih baik kamu kembalilah ke wilayahmu!" Ucap pria itu serius sedangkan aku langsung bergegas pergi.
"Terimakasih."
"Heeii!!! Kau tidak mendengarkanku? Oohh astaga..." desah pria itu pelan sedangkan aku segera menemui Fadil yang sedang tertidur di mobil, aku membuka pintu mobil dan Fadil langsung terbangun karena terkejut.
"Mari ke hutan hujan tropis kak Fadil!" Ucapku serius dan Fadil langsung mengendarai mobil meninggalkan area perkotaan dan kami sampai di wilayah hutan hujan tropis, aku dan Fadil turun dari mobil dan berjalan melangkahkan kakiku masuk ke dalam hutan yang sepi.
Hari sudah memasuki tengah malam sedangkan aku dan Fadil terus melangkahkan kakiku menelusuri hutan ini, suara binatang buas dan udara yang dingin terasa di kulit. Setelah berjalan jauh akhirnya kami sampai di sebuah tebing pantai yang curam, di depan kami melihat sebuah pulau yang sangat luas terlihat dari tempat kami berdiri. Aku kira kalau pulau yang dimaksud adalah pulau yang berada di laut tapi ternyata pulau yang berada di tengah-tengah danau yang sangat luas.
"Inikah pulau itu?" Tanya Fadil pelan sedangkan aku menganggukkan kepalaku.
"Sepertinya."
"Tapi bagaimana kita kesana? Medan yang curam, danau yang dipenuhi buaya dan pulau itu terlihat dijaga banyak orang?"
"Entahlah, kita istirahat saja dulu..." desahku bersandar di sebuah pohon besar di belakangku.
Aku menatap pulau itu dan berpikir bagaimana caraku ke pulau itu tanpa ketahuan apalagi jarak dari tempatku dengan pulau itu lumayan jauh, aku kira kalau pulau itu hanya sebuah pulau yang dipenuhi oleh hutan tapi ternyata disaat hari mulai beranjak pagi dan kabut sedikit menghilang aku melihat sebuah kota kecil dengan sebuah kerajaan yang megah di tengahnya.
Di sebuah atap yang ada kerajaan itu aku melihat ada dua orang yang berdiri sambil menatap ke arah aku dan Fadil berada. Matahari terbit dari ufuk timur dan terlihat bagaimana kemegahan kerajaan itu yang membuatku sangat kagum, padahal ketua organisasi bayangan tidak memiliki kerajaan semegah itu tapi Valentino memilikinya dan dia dijuluki penguasa wilayah bayangan yang membuatku bingung, sebenarnya seperti apa wilayah bayangan itu.
Fadil memanggilkan sebuah burung elang liar dan aku langsung menulis semua informasi yang aku dapatkan di perpustakaan kota tentang wilayah bayangan dan mengirimkannya kepada tetua menggunakan burung elang itu. Walaupun kami memiliki ponsel untuk mengirim surat tapk aku takut kalau wilayah bayangan meretas pesan yang kami kirimkan.
"Kamu sudah selesai Sani?" Tanya Fadil menatapku serius dan aku menganggukkan kepalaku, Fadil mberikanku burung elang itu dan aku memasukkan kertas itu ke sebuah tas kecil yang aku pasang di kaki burung itu.
"Kirimkan ke tetua ya..." gumamku mengusap burung elang itu dan menerbangkannya.
"Mari kita kesana kak Fadil..." gumamku pelan dan pergi mencari akses termudah menuju ke pulau tersembunyi itu tanpa ketahuan oleh penjaga pulau yang mengawasi pesisir pulau itu.
__ADS_1