
Di depan sebuah pintu aku melihat sebuah papan nama yang bertuliskan namaku, aku segera masuk dan mengunci pintu itu. Saat aku akan berjalan menuju ke tempat tidur di depanku, tiba-tiba ada seorang pria yang mendorongku ke pintu dan menekan tubuhku dengan kuat, pria itu menciumku dan tanganku tergenggam erat yang membuatku tidak bisa memberontak sama sekali.
"Siapa kamu... mmppphhh..." gumamku berusaha melepaskan genggamannya tapi aku sama sekali tidak bisa terlepas, pria itu menarikku lalu mendorongku ke tempat tidur dan menekanku kembali yang membuatku benar-benar tidak bisa memberontak. Suasana kamar yang gelap membuatku kesulitan mengenali pria di depanku itu, aku berusaha mencari saklar lampu meja di dekatku tapi aku kesulitan menjangkaunya.
"Ciiihhh!!" Gerutuku dalam hati, aku terus berusaha memberontak dan menjangkau saklar lampu tersebut. Setelah berusaha mati-matian akhirnya tanganku dapat mencapai saklar itu dan menghidupkan lampu dengan cepat. Di depan wajahku aku melihat wajah Rhys yang sedang menciumku, melihat itu benar-benar membuatku sangat terkejut.
"Sebasti... mmppphhh..." Rhys terus menerus menciumku dan menekanku yang membuatku benar-benar tidak bisa memberontak sama sekali, saat Rhys menyentuh lenganku membuatku merintih kesakitan.
"Kenapa lenganmu terluka?" Tanya Rhys pelan, Rhys segera melepas jubahku dan melihat perban yang terbalut di lenganku.
"Kenapa lenganmu terluka?" Tanya Rhys sekali lagi.
"Jawab!"
"Karenamu! Kau yang menembakku!" Teriakku kencang yang membuat Rhys terkejut.
"Menembakmu?"
"Ya kau menembakku saat aku di kapal pesiar, tadi pagi kau menembakku!" protesku kesal.
"Oh mmm jadi wanita itu... kamu?"
"Kau kira siapa orang yang bisa terjatuh tersungkur karena senjatamu!" Protesku kesal, Rhys menghela nafasnya pelan dan memelukku erat.
"M-maaf aku tidak sengaja. Targetku pria di depanmu itu."
"Pria di depanku? Maksudmu Ryu Lucian?" Tanyaku terkejut.
"Ya benar."
"Kenapa kau ingin membunuhnya?" Tanyaku terkejut.
"Karena sesuatu..."
"Sesuatu? Apa itu?"
"Ya karena sesuatu, kenapa kau terlihat terkejut?"
"Dia dijodohkan denganku! Untuk apa kau ingin membunuhnya?" Tanyaku dingin, Rhys melepaskan pelukannya dan menatapku dingin.
"Kau milikku dan tidak ada yang boleh memilikimu!" Ucap Rhys menatapku dingin.
"Milikmu? Apa maksudmu?" Tanyaku terkejut.
"Kau terikat pernikahan kontrak denganku, jadi kau milikku!"
"Pernikahan kontrak? Apa maksudmu?" Tanyaku terkejut, Rhys menunjukkan sebuah kertas yang tertulis pernikahan kontrak di depan mataku, aku membaca tulisan itu dan terkejut kalau ayah yang menyetujui perjanjian penrikahan kontrak itu.
"T-tapi kenapa bisa..." gumamku terkejut.
"Ayahmu yang memintaku untuk menjadi suamimu tapi aku menolak karena aku tidak mencintaimu bahkan aku menolak cintamu tapi dengan diam-diam ayahmu dan ayahku melakukan perjanjian pernikahan kontrak untuk kita."
"T-tapi kenapa, kenapa ayah berkata kalau Ryu Lucian jodohku!" Protesku kesal.
"Mana aku tahu, yang ku tahu hanya... kau milikku Sani Shin..." gumam Rhys kembali menciumku.
"Tidak bisa! Aku tidak menyetujuinya dan..."
__ADS_1
"Kau terikat denganku dan perjanjian ini tidak bisa di batalkan, walaupun ayahmu yang membatalkannya tetap saja tidak bisa dibatalkan, keputusan ada di ayahku dan ayahku sudah tiada lama jadi tidak bisa di batalkan sama sekali!" Ucap Rhys dingin yang membuatku benar-benar terkejut.
"T-tapi kan..."
"Itu keputusannya dan kau tidak bisa menolaknya, kau akan hidup denganku selamanya dan menjadi istriku Sani. tidak hanya istri kontrak tapi kau akan menjadi istri resmiku!" Ucal Rhys kembali menciumku.
"Tapi kan..." gumamku pelan, Rhys menggigit leherku kuat yang membuatku kesakitan.
"Uuugghhh s-sakit..." rintihku pelan.
"Hanya begini saja kau kesakitan? Kau terikat denganku dan kau bermain dengan banyak pria di luar sana kau kira aku tidak sakit apa!" Protes Rhys kesal.
"K-kamu tahu?" Tanyaku terkejut.
"Kau kira... kau tidak terkenal apa di dunia mafia? Kau terkenal sebagai wanita murahan kau tahu!" Ucap Rhys kesal yang membuatku terdiam.
"Oh... begitu ya..." desahku memejamkan kedua mataku.
"Kau terkenal suka bermain dengan pria dan kau tidak menyadari hal itu?" Tanya Rhys melepaskan gigitannya dan beberapa kali menamparku.
"Hey, jawab!"
"Jawab!!" Teriak Rhys terus menamparku.
"Hmmm kau sudah tahu kan betapa kotornya aku, lalu... untuk apa kau masih mau bersamaku!" Protesku mendorong Rhys kuat.
"Untuk apa kau masih mau bersamaku? Untuk apa!!!" Teriakku kencang.
"Karena... kita terikat... hanya itu alasannya..." gumam Rhys mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan benang merah padaku.
"Terikat?"
"Untuk apa kau mencariku?" Tanyaku dingin.
"Karena... aku meminta pertanggungjawabanmu atas kontrak ini dan ternyata kau datang sendiri menemuiku jadi kau tidak akan bisa keluar dari wilayahku Sani Shin!" gerutu Rhys kembali menekan tanganku.
"Tapi kan..."
"Aku sudah memberimu tanda jadi jika kau keluar dari wilayah ini pastinya semua orang tahu kau milikku!"
"Tanda? Jangan-jangan..." gumamku mencari kaca dan melihat leherku dengan terkejut.
"K-kamu! Kenapa kau lakukan?" Protesku kesal.
"Kau istri kontrakku dan kau tahanan organisasi tertinggi karena kelakuanmu benar-benar mencoreng organisasi tertinggi!"
"Kelakuanku yang mana?"
"Bermain dengan banyak pria termasuk pelanggaran pasal 95 undang-undang organisasi tertinggi!" Ucap Rhys memasang sebuah gelang di tanganku.
"Astaga kau apa-apaan sih!" Gerutuku kesal.
"Aku ketua tertinggi di antara ketua organisasi jadi... aku berhak menghukummu apalagi kau istriku Sani Shin..." gumam Rhys kembali menekanku dan menciumku lembut.
"Bunuh saja aku dari pada kau menyiksaku di tempat terpencil seperti ini!" gerutuku kesal.
"Membunuhmu? Heeh tidak semudah itu, aku lebih suka membuatmu menderita seumur hidupmu istriku yang menyebalkan..."
__ADS_1
"Membuatku menderita? Apa kau mengatakan hal itu pada Sania?"
"Yaahh memang, kau kira aku hanya sekali mati suri? Aku berulang kali melakukannya..." gumam Rhys menciumku lembut.
"Jadi apa yang akan kau lakukan? Hidupku saja sudah menderita dan..."
"Menderita? Heeeh... aku tunjukkan bagaimana rasanya menderita..." gumam Rhys mempermainkanku yang membuatku terkejut.
"Uuuggghhh bisa tidak kau lebih lembut!" Protesku kesal.
"Padahal kau sering bermain dengan banyak pria tapi kamu masih saja cantik Raelyn..." gumam Rhys pelan.
"S-sejak kapan kau suka memanggilku dengan nama Raelyn?"
"Sejak aku bertemu denganmu, aku benar-benar jatuh hati padamu. Astaga betapa bodohnya aku menolak cintamu di masa kecil dulu..."
"Kau memang bodoh kok Sebastian!" sindirku dingin.
"Haish kau masih saja tidak sopan padaku Sani..."
"Lalu kenapa? Apa kau mau menghukumku Sebastian?"
"Tentu saja, buatlah kesalahan aku akan dengan senang hati menghukummu gadis kecilku..." desah Rhys terjatuh di atasku.
"Benarkah?"gumamku pelan.
"Sani... apa kau masih mencintaiku?" Tanya Rhys pelan.
"Aku masih mencintaimu tapi... dendamku atas kematian Lani masih ada padamu Rhys!" Gerutuku kesal, Rhys kembali menciumku dan mengigit bibirku pelan.
"Maafkan aku, aku melakukannya karena saat itu aku sangat kesal dengannya."
"Kesal? Kenapa kau kesal dengannya?" Tanyaku serius.
"Malam sebelumnya... Lani mengajakku pergi ke sebuah danau, aku yang waktu itu masih polos jadi aku ikut ke danau itu. Di danau itu terdapat banyak orang bahkan Ryu Lucian juga ada disana."
"Ryu Lucian?" tanyaku terkejut.
"Yaah, kami meminum sebuah wine di malam itu. Semua orang yang ada bermain dengan wanita bahkan Ryu Lucian juga melakukannya dengan Rani..."
"R-Rani?" Tanyaku terkejut.
"Benar, dan hanya aku dan Lani yang tidak melakukannya. Rani terus menyuruh Lani melakukannya denganku dan saat itu Lanipun melakukannya padaku disaat aku benar-benar mabuk dan aku tidak bisa melakukan apapun saat itu. Disaat aku tersadar... pakaianku dan Lani benar-benar terlepas semua yang membuatku sangat kesal saat itu. Saat aku tanya Lani menjelaskannya dengan santai sambil memakai pakaiannya. Kau tahukan aku dari keluarga terpandang dan melakukan itu di umurku masih anak-anak membuatku benar-benar depresi dan marah besar padanya, melihatku marah Rani langsung mengajak Lani pergi pulang ke rumah dan ya aku langsung mengejar mereka sampai ke rumahmu... begitulah ceritanya..." gumam Rhys serius yang membuatku terdiam.
"Itu cerita yang sebenarnya, aku tidak berbohong. Apalagi kau tahu aku pria yang tidak suka berbohong..." gumam Rhys pelan, aku menghela nafas panjang dan memejamkan kedua mataku. "Apa ini benar-benar karma atas perilaku ibu dimasa hidupnya ya..." gumamku dalam hati.
"Eehh Sani kenapa kamu menangis?" Tanya Rhys penasaran.
"Aku hanya... merasa gagal sebagai seorang kakak, aku... mmmpppphh..."
"Maaf kalau saat itu aku membunuh Lani, aku memang bersalah padamu jadi kau boleh menghukumku istriku..." gumam Rhys pelan tapi aku hanya terdiam.
"Sayang jawablah..." gumam Rhys serius, aku mendorong Rhys dan mengigit lehernya yang membuat Rhys merintih kesakitan.
"A-apa kamu haus sayang?" Tanya Rhys pelan sedangkan aku hanya terdiam meminum darah Rhys.
"Hmmm kalau begitu minumlah sayang, kamu masih saja suka meminum darah ya istriku sayang..." desah Rhys mengusap lembut rambutku sedangkan aku hanya terdiam sambil terus meneteskan air mataku.
__ADS_1
Mendengar cerita Rhys benar-benar membuatku sangat sedih, aku ingin marah tapi aku tidak tahu bagaimana caranya aku marah apalagi ternyata Rani yang menghasut Lani, mau tidak percaya cerita Rhys tapi Rhys pria yang sangat jujur jadi aku percaya dengan Rhys dan aku benar-benar kecewa dengan Rani.