
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya kami sampai ke pesta mafia, pesta ini setiap tahun selalu di adakan disaat musim semi tiba. Dalam dunia mafia terkadang kata pesta hanya sebagai kedok beberapa ketua mafia untuk melakukan kejahatan sesama mafia jadi tidak heran akan ada pertarungan di setiap pesta.
Saat kami sampai di pesta Ray benar-benar tidak melepaskan genggamanku bahkan dilihat banyak orang tapi Ray sama sekali tidak peduli.
"Yang sabar ya adikku..." gumam Soni pelan.
"Tidak masalah kok kak..." gumamku pelan.
Aku melihat banyak orang yang menatap kami tapi karena Ray tidak peduli aku juga tidak peduli juga jadi banyak orang yang mengalihkan pandangannya saat langkah kaki Ray terhenti.
Disekitarku aku menatap satu persatu orang yang datang, aku melihat benar-benar seluruh musuhku datang yang membuatku kesal.
"Kamu mau apa sayang?" tanya Ray berhenti di depan meja yang tersedia banyak makanan.
"Aku mau wine.."
"Gak boleh!"
"Tapi aku maunya wine!" gumamku pelan, tanpa berkata apapun Ray mengambilkanku salad dan air putih ya ada di depannya.
"Untuk sementara kamu harus makan ini..." gumam Ray memberikanku makanan itu, dengan teliti aku memandangi salad dan air putih di depanku.
"Ada apa sayang?" tanya Ray bingung.
"Bentar..." gumamku melihat ada keganjalan di salad itu, aku menatap salad yang lain dan beberapa menu lain dan ternyata sama.
"Ada racun khusus di makanan ini..." gumamku mengembalikan salad itu.
"Racun khusus? Kamu jangan mengada-ada sayang!"
"Aku pengguna racun kak Ray, aku tahu racun seperti apa!" protesku kesal.
"Yang dikatakan Sani benar, hanya kue itu dan beberapa air putih yang tidak terkontaminasi." gumam Victory serius.
"Kenapa bisa pesta ini tidak ada makanan yang layak konsumsi!" protes Ray kesal.
"Setiap pesta pasti ada makanan seperti itu, itulah alasan kenapa Sani tidak pernah makan makanan di pesta dan hanya meminum wine yang masih tersegel..." gumam Victory serius.
"Kenapa bisa begitu?" tanya Ray terkejut.
"Ya kamu pasti tahu setiap pesta ada pertarungan Ray, Sani selalu menghindari yang namanya makanan pesta mafia karena takut terjebak. Jadi kamu harus lebih belajar dari Sani..." gumam Victory mengambil wine di depanku.
"Oh baiklah... kamu boleh mengambil apapun tapi tidak boleh dua minuman ini..." gumam Ray menunjuk Wine dan Whisky di depanku.
"Hmmm baiklah..." gumamku mengambil salah satu makanan dan menuangkan penawar racunku ke dalamnya.
"Benar-benar khusus..." gumamku meletakkan kembali makanan itu.
"Jangan makan apapun kak Ray!" ucapku serius.
"Ya baiklah..." gumam Ray mengambil whinsky di depanku.
Aku menatap sekitarku dan melemparkan beberapa jarumku ke arah orang-orang yang menjadi target misi Victory dan Wahyu.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Ray menatapku.
"Eee..mmm tidak ada..." gumamku pelan.
"Hmmm oh ya memang itu racun khusus seperti apa?" tanya Ray penasaran.
"Ya racun untuk makanan bukan untuk senjata. Racun untuk makanan tidak ada penawarnya, ya bisa dibilang dia akan tidak ingat apa yang dia lakukan di pesta itu atau bahkan tidak sadarkan diri bisa dibilang dia merasa dia hanya berada di alam mimpi..." gumamku mengambil salah satu penawar racun khususku dan menuangkannya ke dalam salah satu makanan di depanku.
"Benar-benar tidak bisa hilang..." gumamku meletakkan kembali makanan itu dan menarik Ray menjauh.
"Jangan disini..." gumamku pelan, aku melihat ada Nana yang berada di tengah pesta yang membuatku kesal.
"Baiklah..." desah Ray mengikutiku di pojokkan ruangan, aku berdiri di belakang Ray sambil bersandar di tubuh Ray.
"Ada apa sayang?" tanya Ray bingung.
"Ada adikmu...Kak Ray kalau aku tidak sangaja membunuh adikmu jangan salahkan aku ya" gumamku pelan.
"Oh terserah kamu..." desah Ray menggenggam erat tanganku.
Selama berjam-jam aku bertahan dengan bersembunyi di belakang tubuh Ray apalagi dengan seperti ini aku bisa sedikit terhindar dari keramaian.
Aku menatap di luar jendela yang benar- benar gelap dan hanya di sinari cahaya bulan purnama saja. Aku membuka handphoneku dan melihat perkembangan di sekitar pesta, saat aku jalan ke pojokan tadi aku sudah memberikan jarumku kearah musuh agar Wahyu serta Victory melakukan pekerjaannya dengan mudah.
"Hai Ray..." sapa seorang perempuan di belakangku, aku menatap ke arah jendela dan menikah seorang wanita cantik bersama dengan Ray.
"Ya..." gumam Ray dingin.
"Kakak kau masih saja dingin sih, lembut sedikit dong sama wanita!" gerutu Nana kesal.
"Kau selalu seperti itu kak!" gerutu Nana kesal.
"Biarlah..." gumam Ray kesal, dari jendela aku melihat wanita cantik itu membawa segelas minuman berwarna sedikit kemerahan seperti minuman yang sudah di campur oleh obat.
"Oh ya bagaimana kabarmu Ray?" tanya wanita itu mendekatkan dirinya pada Ray.
"Seperti biasanya, tumben kamu peduli padaku..." gumam Ray dingin.
"Aku kekasihmu bagaimana aku tidak peduli..."
"Mmm kekasih ya? Kan itu sudah bertahun-tahun lalu kau bilang tidak ingin berhubungan denganku ya sudah aku menganggap kamu bukan kekasihku!"
"Saat itu aku belum siap Ray, aku mencintaimu."
"Mencintaiku ya? Apa kamu kira aku percaya padamu?" tanya Ray dingin.
"Aku mengatakan yang sebenarnya Ray, aku masih sangat mencintaimu..Aku mencari keberadaanmu tapi tidak bisa ketemu sampainya akhirnya aku bertemu adikmu..." jelas wanita itu mengurai rambutnya, saat rambutnya terurai aku sadar kalau Cantika adalah musuhku di akademi dan dia selalu hampir mencelakaiku. Aku menggenggam erat tangan Ray karena kesal melihat wanita yang seharusnya mati itu masih bisa berdiri di pesta ini.
"Oh benarkah? Tapi maaf aku tidak mencintaimu..." gumam Ray santai.
"Haish kau selalu saja bercanda loh Ray..." gumam wanita itu mencium Ray yang membuatku terkejut melihatnya.
"Ka...kau!!" teriak Ray terkejut.
__ADS_1
"Jangan terkejut seperti itu lah Ray, seperti pertama kali saja kita berciuman..." gumam Cantika dingin.
"Memang kita tidak pernah berciuman, kau ku sentuh saja tidak mau!" gumam Ray mencoba mengusap bibirnya.
"Kan sudah aku katakan, aku belum siap...Oh ya ini minumanmu Ray..." gumam Cantika memberikan Ray menuman yang di bawanya, sebelum diambil Ray aku segera mengambil minuman itu yang membuat Cantika dan Nana terkejut.
"Minuman ya? Lebih baik kau meminum minuman yang lain dari pada minuman dari wanita gila ini!" gumamku dingin.
"Ka..kau!" teriak Nana dan Cantika kencang yang membuat semua orang menatap kami.
"Oh kalian berdua ya, lama tidak bertemu musuhku!" gumamku tersenyum dingin.
"Kau...kau ngapain masih hidup sih!" gerutu Nana kesal.
"Mmm aku yang seharusnya penasaran kenapa kalian berdua masih hidup sampai sekarang..." gumamku menarik kerah Ray dan menciumnya lembut.
"Kau beraninya mencium kakakku!" protes Nana kesal.
"Lalu kenapa? Dia suamiku, lagi pula suamimu kan Han. Apa masih kurang pemberianku?" tanyaku dingin.
"Haah suami ya? Beraninya kau mengakui istri kekasihku!" gerutu Cantika kesal.
"Apa kau kira aku berbohong dasar si lemah..." gumamku menunjukkan cincinku dengan Ray.
"Tunggu! A...apa?" teriak Cantika terkejut.
"Sudah aku katakan kan...kau tidak akan bisa mengalahkanku...mau menjebak suamiku dengan minuman yang tercampur dengan obat perangsang? Hahaha emang ya wanita jaman sekarang!" tawaku keras.
"Kau jangan memfitnahku! Aku laporkan kau!" protes Cantika kesal.
"Heh laporkan ya? Walaupun kau melaporkannya kepada Han tapi jabatanku lebih tinggi dari pada Han sekarang... benarkan mantan suamiku?" gumamku menatap Han kesal dan Han hanya tersenyum dingin di atas balkon lantai dua. Aku mengambil beberapa jarumku dan melemparkan ke arah Nana dan Cantika.
"Ka...kamu!!" gerutu Cantika segera pergi meninggalkanku, tapi aku memegang tangan Cantika kesal.
"Oh ya kamu bilang aku memfitnahmu kan... kalau begitu mari kita buktikan..." gumamku memberikan minuman itu kepada seorang pria di sampingku.
"Terimakasih minumannya nona..." gumam pria itu meminum minuman itu.
"Berterimakasihlah kepada dia..." gumamku menunjuk Cantika.
"Oh benarkah? Minuman ini sangat...enak..." gumam pria itu pelan.Tidak lama setelah meletakkan gelas yang masih sedikit terisi itu, tiba-tiba wajah pria itu memerah.
"Tuh benarkan ucapanku..." gumamku mengambil lagi gelas itu.
"Tuan...dia yang ingin berhubungan denganmu..." gumamku menunjuk Cantika dan tanpa basa basi pria itu berjalan ke arah Cantika.
"Ka..kau...apa kau gila!!!" teriak Cantika mencoba melepaskan genggamannya.
"Kau kira aku akan mengizinkanmu mencelakai suamiku...jadi selamat bersenang-senang ya..." gumamku melepaskan genggamanku dan Cantika berusaha menghindari pria itu.
"Bawa pria itu pergi!!" teriak Cantika dan bawahannya mencoba membawa pria itu keluar walaupun terlihat kesulitan karena pria itu terkena obat dari Cantika sendiri.
"Ingin menjebak Ray seperti yang kau lakukan kepadaku di saat akademi? Hahaha apa kau masih saja bodoh Cantika!" tawaku keras yang membuat Cantika kesal.
__ADS_1
Aku ingat bagaimana aku selalu hampir terjebak oleh semua jebakan Cantika, kalau bukan karena Fadil menyelamatkanku pastinya aku sudah mati saat itu.