
Selama beberapa menit aku asik bermain game bahkan sampai selesai bermain Ray terus terdiam tanpa kata. Tiba-tiba handphone Ray berdering keras, Ray langsung mengangkat telepon itu tapi wajahnya terus disembunyikan di leherku.
"Ya...mmm...begitu ya..." gumam Ray kembali menggenggam erat tanganku.
"Ya aku mengerti...ya...cari informasi lainnya...makasih ya..." gumam Ray pelan dan memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku jasnya.
Walau di luar mobil terdengar suara hiruk pikuk orang tapi telingaku mendengar suara sesenggukan yang sangat pelan dari Ray, aku tidak tahu kenapa Ray tiba-tiba menangis padahal kan tadi dia hanya terdiam saja. Ingin aku bertanya tapi aku tidak berani untuk bertanya sebelum dia bercerita kepadaku. Aku hanya mengusap lembut rambut Ray dan Ray terus terdiam sambil memelukku erat.
"Ray... hoeee Ray!!" teriak Soni di luar mobil.
"Jangan bilang kau menangis!" teriak Soni menatap kami berdua dengan dingin.
"Kakak bisa tidak kau tidak berteriak!" protesku kesal.
"Aku hanya punya urusan dengan Ray, segera pergi! Jangan biarkan Ray masih menggigitmu!" ucap Soni menatapku terkejut.
"Kenapa?" tanyaku bingung, tiba-tiba aku merasakan leherku terasa sangat nyeri dan dadaku terasa sangat sakit. Soni berusaha menarik tubuh Ray dan saat terlepas dari pelukanku, aku melihat di bibir Ray terlihat warna hitam pekat mirip seperti racun yang bercampur dengan warna merah darahku.
"Kau!! Kau ingin membunuh adikku apa!!" teriak Soni menarik Ray keluar dari mobil. Di luar mobil aku melihat Viu, Xiau Min berdiri di depan mobil sedangkan Fadil yang berlari kearahku dengan tatapan khawatir.
"Kau tidak apa Sani?" tanya Fadil naik ke atas mobil.
"Ti...tidak, memangnya kenapa... uuhhuuukkk... uuuhhhuukkk..." gumamku terus terbatuk-batuk.
"Kau terkena racun Ray tahu!" gerutu Fadil segera mengikat bahu kananku dengan sebuah perban.
"Terkena racun ya...hahaha!" desahku tertawa pelan.
"Kau masih bisa tertawa saat terkena racun? Kau memang gila Sani!" gerutu Fadil kesal.
"Aku sudah biasa terkena racun dan kalian benar-benar panik seperti itu."
"Racun dia berbeda dengan racunmu tahu! Saudaraku mati secara perlahan setelah digigit Ray!"
"Mati ya? Ya udahlah mati ya tinggal mati, aku malah... mengharapkan hal itu terjadi padaku..." desahku menatap Soni yang terus memarahi Ray sedangkan Ray hanya menundukkan wajahnya.
__ADS_1
"Kau kira ketiga kakakmu akan mengizinkan kau mati! Apa kau tidak memikirkan masa depan Pangeran jika kau mati!"
"Entahlah...aku tidak tahu...kehilangan Satria dan Ria serta Rio membuatku berasa seperti mayat yang berjalan saat ini..." gumamku pelan.
"Udahlah kau jangan kebanyakan berbicara!"
"Oh ya, kenapa racun milik kak Ray bisa keluar?" tanyaku pelan.
"Kalau dia sedang sedih atau marah, dia tidak biaa mengendalikan pikirannya dan racunnya. Apapun yang dia gigit pasti terkena racunnya."
"Sedang sedih dan marah ya? Memangnya kenapa dia sedih dan marah?" tanyaku penasaran.
"Kau jangan banyam bertanya napa!"
"Udah jelasin aja napa!" gerutuku dingin.
"Haish, tasi mata-mata kepercayaannya menelepon Soni kalau mereka menemukan fakta dari Ray, Ray bisa memiliki racun karena kesalahan keluarga Khun saat menjadikannya kelinci percobaan keluarga Khun."
"Kelinci percobaan?" tanyaku terkejut.
"Ya, keluarga Khun adalah ilmuan saat itu. Karena Ray adalah anak dari perselingkuhan Nyonya Khun dengan adik dari Tuan Khun yang membuat tuan Khun sangat marah, untuk mendapatkan pengakuan di keluarga Khun maka Tuan Khun melakukan eksperimen gilanya kepada Ray, karena tuan Khun saat itu selalu gagal dan kehabisan dana akhirnya Tuan Khun meminta bantuan Tuan Shin dan dengan klaim kalau Ray bisa menjagamu yang lemah di masa lalu maka Tuan Shin setuju untuk membantu Tuan Khun dengan memberikan uang dan menjamin Ray dengan cara mengikat kalian dengan kontrak dari kecil. Ya itulah cerita sesungguhnya..." gumam Fadil memberikanku sebuah obat dan aku langsung meminumnya.
"Dia...mirip sepertiku..." desahku pelan, aku menatap keluar jendela mobil dan melihat ketiga kakakku benar-benar memukul Ray dengan kesal tapi ray tidak melawan sama sekali yang membuatku benar-benar kasihan, aku beranjak dari tempat dudukku.
"Sani...kau mau kemana!!" teriak Fadil terkejut. Tanpa memerdulikan apapun aku memeluk Ray tanpa diduga ketiga kakakku dan pukulan yang terlanjur diarahkan ke Ray menjadi mengarah ke tubuhku. "Astaga, mereka benar-benar memukul dong!" gumamku dalam hati.
"Ka...kau ngapain melindunginya!" protes Xiao Min kesal.
"La..lalu kenapa, dia suamiku jadi aku harus melindunginya!" protesku kesal.
"Kau hampir terbunuh olehnya dan kau malah melindunginya? Apa kau gila!" protes Soni kesal.
"Sudah pernah ku katakan kan, aku tidak masalah terbunuh oleh suaamiku sendiri. Kenapa kalian yang begitu peduli padaku? Aku hanya adik tiri kalian, dari pada kalian menghakimi dia mending kalian urus para tamu itu!" gerutuku dingin. Ketiga kakakku melihat beberapa tamu yang melihat kearah kami yang membuat mereka terkejut, tanpa berpikir lagi mereka bertiga langsung membubatkan kerumunan tamu itu sedangkan Ray langsung beranjak pergi meninggalkanku.
"Kak Ray!!" teriakku kencang tapi Ray terus berjalan meninggalkanku. Saat aku akan mengejarnya, Fadil menahanku dan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Biarkan dia intropeksi dirinya, guru tidak bisa datang sekarang jadi pesta diundur sampai besok atau bahkan besok lusa..." ucap Fadil pelan.
"Oh mmm..." desahku pelan.
"Sani kau istirahatlah agar racunnya tidak menyebar lebih parah!"
"Nanti saja dulu, aku ingin sendiri dulu..."
"Tidak boleh! Kau tetap disini denganku!"
"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun. Hanya ingin menyendiri saja, jangan lupa tugasmu cepat selesaikan kak Fadil!" ucapku dingin.
"Besok saja, keselamatanmu lebih penting!"
"Kau ingin guru Rendi menagih barang yang diinginkan jika bertemu besok?" tanyaku dingin.
"Astaga baik-baik, tapi jangan sampai terluka tahu!" gerutu Fadil beranjak pergi.
"Hmmm..." desahku berjalan mengikuti langkah kaki Ray masuk ke dalam hutan.
"Astaga ini orang kemana sih!" gerutuku terus mengikuti langkah kakinya. Tanah yang sedikit berlumpur membuatku sedikit terbantu mencari keberadaannya.
Tepat di tengah hutan, aku melihat Ray yang duduk di bawah pohon besar sambil melingkarkan kedua tangannya di kedua kakinya. Aku mendengar dia terus menangis, walaupun sedih melihatnya menangis tapi aku tidak mau mengganggu ketenangannya apalagi pukulan ketiga kakakku benar-benar menyakitkan, aku berjalan pergi dan melewati tanah yang kering karena aku tidak ingin siapapun mengganggu ketenanganku juga.
Tidak lama berjalan, aku sampai di sebuah tebing yang sangat indah, matahari terbenam terlihat jelas di depanku. Ketenangan di hutan membuat suasana senja ini benar-benar sempurna. Aku melepaskan perban yang ada di tubuhku dan rasa nyeri kembali terasa sangat menyakitkan di tubuhku.
"Jadi...begini ya rasanya racun milik Ray?" gumamku pelan, aku terduduk di bawah sebuah pohon dan menyandarkan tubuhku di pohon.
"Haaah...tidak begitu buruk bagiku..." desahku menatap matahari terbenam di depanku.
"Ayah, menurutmu...aku ini menderita atau tidak sih?" gumamku pelan.
"Kau menjodohkanku dengan pria seperti Ray, apa karena kami sama-sama bukan anak dari keturunan asli yang menjadi dasar ayah menjodohkanku dengan Ray?" gumamku pelan.
"Hahaha hidupku selalu lucu loh ayah, apa ayah senang aku hidup menderita?" tawaku pelan.
__ADS_1
"Walaupun ayah bilang tidak tapi dalam hati ayah, aku yakin ayah senang melihatku menderita diseumur hidupku..." gumamku memejamkan kedua mataku.
Melihat masa lalu Ray sebenarnya membuatku iba tapi aku sendiri memiliki kehidupan yang benar-benar menderita dan sangat suram, hanya dijadikan alat dan selalu hidup menderita.