Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 196 : Bertemu Valentino Kembali


__ADS_3

Aku berjalan menyusuri jalan setapak di antara dinding tebing danau ini sambil membawa beberapa batang pohon pisang yang Fadil rangkai menjadi perahu yang bisa kami naiki melewati danau itu.


Dengan hati-hati Fadil mengayuh perahu itu pelan tanpa suara sampai kami berada di pinggir pulau itu. Aku dan Fadil bersembunyi dan masuk ke wilayah pulau tersembunyi itu pelan-pelan agar tidak ketahuan oleh penjaga. Tapi bagaimanapun caranya kami berusaha agar tidak ketahuan tapi tetap saja kami tetap ketahuan oleh para penjaga itu.


Para penjaga itu menghadang kami berdua dan menangkap kami berdua, tanganku dan Fadil diikat dengan sebuah tali khusus lalu membawa kami masuk ke dalam kerajaan megah itu. Awalnya aku kira kerajaan ini tidak luas tapi ternyata kerajaan ini sangat luas, para penjaga itu membawa kami masuk ke sebuah ruangan dan di lantai atas aku melihat satu orang bermata biru berdiri dengan tatapan dingin menakutkan.


"Mohon maaf tuan, kami menemukan dua orang mata-mata dari wilayah lain masuk ke wilayah kita!" Ucap salah satu penjaga itu dengan pelan.


"Tuan muda sedang pergi, masukkan mereka ke dalam penjara bawah tanah!" Ucap pria bermata biru itu dingin dan kami berdua dimasukkan ke sebuah penjara bawah tanah yang sangat lembab dan juga dingin. Penjaraku dengan Fadil berada di satu lokasi penjara dan di penjara itu juga dihuni oleh beberapa orang yang terluka parah seperti telah mendapatkan siksaan yang parah.


"Haish tetap saja kita ketahuan Sani..." desah Fadil bersandar di dinding penjara.


"Tidak masalah, lebih bagus bisa langsung bertemu dengan dia langsung tanpa mencari lagi pula kita sudah di awasi sejak semalam."


"Benarkah? Kenapa kamu tidak memberitahukan padaku!" Protes Fadil kesal.


"Memang aku sengaja kak Fadil..."


"Haish memang pemikiranmu tidak bisa di tebak ya Sani..." Gumam Fadil menggelengkan kepalanya.


"Entahlah, aku hanya melakukan mengikuti alur yang ada karena begitulah cara kita menguasai dunia mafia kak Fadil..." gumamku pelan dan Fadil hanya menganggukkan kepalanya.


Aku terduduk di lantai dan menatap tali yang mengikat di kedua tanganku sambil sedikit melonggarkannya, aku memikirkan rencana apa yang harus aku lakukan jika aku bertemu dengan Valentino. Sudah seminggu aku dan Fadil hidup di penjara tanpa makan dan tanpa minum, bagi kami tidak masalah jika tidak makan dan minum hanya saja udara yang lembab dan tidak ada sinar matahari sama sekali benar-benar menyiksa kami.


"Tuan muda akan datang!!" Teriak seorang pria di luar penjara yang membuat para tahanan yang lain terlihat sangat ketakutan yang membuatku bingung.


"Kenapa mereka ketakutan?" Tanyaku pelan dan tiba-tiba datang seorang pria berjubah hitam milik Valentino masuk ke penjara bersama dengan pria bermata biru di sampingnya.


"Yang mana penyusup itu?" Tanya pria itu dingin.


"Dua orang itu!" Ucap pria bermata biru dingin dan pria disebelahnya menatap kami dengan tatapan dingin, pria itu masuk ke dalam penjagaku dan Fadil dan menatap dengan tatapan merahnya yang menakutkan.


"Katakan siapa kalian dan apa alasan kalian datang kemari?" Tanya pria itu dingin tapi aku maupun Fadil hanya terdiam.


"Heeii jawablah! Apa kalian ingin dibunuh?" Protes pria bermata biru kesal.


"Kalau ingin membunuh ya bunuh saja lagi pula aku juga bosan hidup dan ternyata penjaramu sangat buruk ya Valentino..." ucapku dingin yang membuat pria bermata biru kesal.


"Apa katamu!!" Protes pria bermata biru itu kesal tapi pria di sampingnya menahannya dan berjalan kearahku, tangannya menekan pipiku dan menatapku dingin.


"Oohhh ternyata kau ya gadis kecil, untuk apa kau datang kemari?" Tanya Valentino dingin dan aku hanya tersenyum sambil melepaskan tali yang sudah aku longgarkan kemarin, aku mengusap pipinya dan membuka topeng hitam di wajahnya.

__ADS_1


"Menurutmu?" gumamku pelan dan mencium bibirnya yang membuatnya terkejut.


"K-kamu... Kamu menciumku?" Tanya pria di depanku terkejut, wajah terkejut Valentino benar-benar tidak bisa dia sembunyikan sama sekali.


"Menurutmu?"


"Tapi... Tunggu dulu! Jangan-jangan ini hanya akal-akalanmu saja untuk..." gumam Valentino dingin dan aku mengambil senjata yang ada di balik jubahnya.


"Aku bersalah padamu jadi bunuhlah aku."


"Membunuhmu?" Tanya Valentino terkejut.


"Ya, aku telah sering bermain dengan pria lain di kehidupan lalu sampai di kehidupan ini dan demi menebus kesalahanku maka... Bunuhlah aku..." gumamku mengarahkan senjata itu di leherku tapi dangan cepat Valentino merebut senjata itu dan memelukku erat.


"Tidak! Aku tidak bisa!" Ucap Valentino pelan.


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa melukai gadis kecilku jadi aku tidak bisa melakukannya."


"Tapi kan kesalahanku..."


"Kamu... Memaafkanku?" Tanyaku pelan dan Valentino tersenyum manis kearahku.


"Tentu saja, aku mencintaimu Raelyn."


"Tapi kan..."


"Aku mengatakan yang sesungguhnya, aku mencintaimu."


"Ohh mmm aku kira kamu akan membunuhku karena tidak memaafkanku."


"Aku tidak akan melakukan itu, aku kira kamu datang kemari karena ingin melepaskan ikatan itu..."


"Aku tidak akan melakukan itu jika benang merahku terhubung denganmu Valentino."


"Benang merah? Apa maksudmu?"


"Maksudku aku tidak akan melakukan itu jika kau memang jodohku Valentino."


"Oh begitu ya..." desah Valentino kembali memelukku erat dan mengusap lembut rambutku.

__ADS_1


"Tidak aku sangka kamu benar-benar datang kemari Raelyn, aku kira kamu tidak akan datang."


"Apa kamu menungguku?"


"Setiap saat aku menunggumu dan aku mencarimu ke seluruh wilayah agar kamu datang padaku tapi kamu tidak pernah datang membuatku sangat sedih."


"Oh mmm maafkan aku."


"Tidak apa, ngomong-ngomong siapa dia?" Tanya Valentino pelan.


"Dia wakilku, namanya Fadil."


"Oh apa dia ada di kehidupan lalu?"


"Tidak, aku bertemu dia di kehidupan yang ke dua. Dia wakilku yang setia."


"Oh benarkah? Cakra lepaskan ikatan pria itu!" Ucap Valentino dingin dan pria bermata biru itu melepaskan ikatan di tangan Fadil.


"Terimakasih..." desahku pelan dan tubuhku tiba-tiba terasa lemas dan Valentino langsung menahan tubuhku.


"Kamu kenapa?" Tanya Valentino terkejut tapi aku hanya terdiam tanpa kata apapun.


"Hei kau wakilnya, kenapa dengan Raelyn?" Tanya Valentino dingin.


"Kami sudah seminggu tidak makan dan minum apapun ditambah dia selama seminggu disini tidak tidur sama sekali."


"Oh benarkah? Hmmm Cakra ambilkan makanan dan minuman segera dan antarkan ke kamarku!" Ucap Valentino menggendongku dan pria bermata biru itu menundukkan kepalanya dan pergi meninggalkan kami.


"Kau... Ikut aku..." ucap Valentino dingin dan pergi keluar dari penjara.


Walaupun tubuhku lemas tapi aku masih tersadar dan menatap setiap ruangan yang ada di dalam kerajaan ini, Valentino membaringkan tubuhku dan Fadil berdiri di belakang Valentino.


"Ini makanannya tuan muda!" Ucap pria bermata biru itu membawa beberapa nampan berisi makanan.


"Terimakasih, oh ya... Wajah pria itu pucat, antar dia ke kamar Cakra dan temanilah dia.." gumam Valentino mengambil semangkuk sup dan meletakkannya di meja.


"Lalu makanan ini?"


"Biarkan wakilnya untuk makan, dia terlihat sangat pucat."


"Oh baiklah, mari tuan...." ucap pria bermata biru itu pelan dan Fadil mengikutinya dari belakang. Aku menatap seluruh kamar ini dan terkejut kalau kamar ini terasa sangat luas dan bersih, semua teknologi canggih ada di dalam kamar ini dan benar-benar membuat nyaman.

__ADS_1


__ADS_2