
Sanjaya berusaha mengobati lenganku yang terluka, aku tahu Rhys membenciku karena keputusanku masuk organisasi Tersembunyi tapi kenapa saat itu Rhys memfokuskan senjatanya kearah Sanjaya, entah itu kebetulan karena kapal yang kami tumpangi bergerak atau memang dia sengaja ingin melukai sanjaya.
"Sani, tetua Ben ingin bertemu denganmu..." gumam Fadil masuk ke dalam kamar.
"Aku? Kenapa?" Tanyaku bingung.
"Entah, Sanjaya keluarlah sebentar..." gumam Fadil menarik Sanjaya keluar dan tetua Ben masuk bersama dengan Frey.
"T-tetua..." gumamku sedikit membungkukkan badanku.
"Aku dengar dari Fadil kamu di lukai pria itu?" tanya Tetua Ben menatapku serius.
"Mmmm ya tapi tidak terlalu parah tuan. hanya luka kecil."
"Oh mmm syukurlah kalau begitu, aku ada tugas untukmu tapi ternyata dia memulai dahulu..." gumam Tetua Ben pelan.
"Tugas? Apa itu tetua?"
"Tugas masuk ke wilayah organisasi peringkat tinggi."
"Eehhh untuk apa tetua?"
"Untuk mengambil kembali barang langka yang di curi Rhys dan cara informasi tentang organisasi kegelapan."
"Tapi kalau saya melakukannya nanti..."
"Tenang saja Sanjaya memiliki tugas berbeda di organisasi lainnya, ini termasuk kerjasaman tapi demi menyukseskan tugasmu maka kalian berdua memiliki tugas yang berbeda..." gumam Frey menatapku serius.
"Barang apa kalau boleh tahu?" Tanyaku penasaran dan tetua memberikanku sebuah kertas.
"Itu tugas yang harus kamu lakukan, tugas Sanjaya lebih mudah darimu. Awalnya aku pikir untuk memberikan tugas ini padanya tapi setelah aku pertimbangkan matang-matanh lebih baik aku berikan padamu apalagi kamu kenal dengan Rhys."
"Tapi kami sekarang bermusuhan dan..."
"Kamu pintar bermuka dua dan kamu pintar menarik ulur pria jadi lakukanlah sebisamu, aku percaya padamu."
"Baik tetua, tapi tetua... untuk masuk ke wilayah organiaasi kegelapan sangat susah apalagi jika tahu kalau saya organisasi tersembunyi."
"Organisasi tersembunyi dan organisasi kegelapan itu bersahabat tapi karena kamu ketua dan Rhys ketua apalagi kalian bermusuhan jadi terlihat kalau kedua organisasi bertengkar."
"Eehh Rhys? Dia ketua?" Tanyaku terkejut.
"Ya benar, pengangkatan dia sebagai ketua tepat saat kamu juga diangkat jadi ketua."
"Oh saya tidak tahu akan hal itu tetua."
"Tidak masalah, intinya kamu harus hati-hati dengan mereka."
"Baik tetua, kapan saya harus memulainya?"
__ADS_1
"Setelah Sanjaya pergi dahulu, tapi kalau bisa kamu minggu depan harus pergi. Kalau Ryu Lucian tahu dan ikut bersamamu pasti akan menyulitkanmu."
"Apa dia tahu tetua?"
"Tidak, tetuanya akan mengatakan dia ada tugas penting bersama kakakmu."
"Baik tetua saya mengerti."
"Ya sudah nikmatilah hari ini, oh ya ini agenda Rhys selama setahun ini!" Gumam tetua Ben memberikanku sebuah buku kecil. aku membaca buku itu dan ternyata agenda seluruh kegiatan Rhys.
"Ba...bagaimana anda tahu ini bukunya Rhys?" Tanyaku terkejut.
"Frey yang menemukannya, aku kira itu buku yang tidak penting jadi aku menyuruhnya membuangnya tapi Frey yang penasaran membuka buku itu dan melihat ada fotomu dan fotonya saat waktu kecil dan buku itu berisi banyak agenda jadi aku memutuskan memberikannya padamu."
"Ohh mmm tetua, bolehkah saya melakukannya dengan cepat? Ada agenda pertemuan organisasi tetua."
"Tanggal berapa itu?"
"Mmm besok tetua."
"Ohh memang besok ada agenda pertemuan sih, tapi kan Ryu Lucian tidak mungkin pergi hari ini..." gumam tetua Ben pelan, aku berjalan ke arah balkon dan melihat Sanjaya bersama tetua dan Alvaro berdiri di pinggir kapal pesiar.
"Aku yakin dia pergi hari ini tetua..." gumamku menatap wajah Sanjaya yang seperti menolak keinginan tetuanya sama seperti waktu itu.
"Kalau memang dia pergi hari ini jadi tidak masalah kamu ikut pertemuan juga, lagi pula ini juga pertekuan antara tetua dan ketua organisasi."
"Ya pertemuan itu berada di wilayah organisasi kegelapan, sebenarnya jika kamu ikut di pertemuan nantinya mungkin akan mempermudahkanmu menemui pria itu, pria itu sulit di temui walaupun kamu berada di wilayah organisasi kegelapan."
"Apa dia sibuk tetua?"
"Tidak, dia pria yang misterius. Wajahnya saja hanya wakilnya, tetuanya, dan kau yang tahu."
"Benarkah? Kenapa dia seperti itu?"
"Entah, itulah sebabnya tugas mencari informasi tentang organisasi kegelapan kami serahkan padamu. Kamu memiliki mafia yang masuk ke dalam anggota organisasi kegelapan."
"Mafia? Maksud tetua, mafia penguasa kegelapanku?" Tanyaku terkejut.
"Benar, mafia itu rintisan dari Rhys kan? Dan hanya mafiamu yang termasuk ke dalam organisasi kegelapan."
"Apa tidak ada mafia luar organisasi lainnya yang..."
"Tidak, mungkin dengan mengatas namakan mafiamu kamu bisa masuk ke dalam markas pusat organisasi kegelapan."
"Oh mmm tetua apa aku harus menyembunyikan wajahku?"
"Tidak perlu, malahan kau harus mwnunjukkan kepada pria itu kalau kau Raelyn, lagi pula ini pertama kalinya kau mengikuti pertemuan organisasi biasanya Frey yang akan mewakilimu..." gumam tetua Ben pelan.
"Dan itu menyebalkan tahu! Aku selalu tidak di dengar para ketua organisasi karena aku tidak memiliki wewenang sama sekali!" gerutu Frey kesal.
__ADS_1
"Kalau begitu, kamu saja ya yang jadi ketuanya..." gumamku menatap langit mendung di atasku.
"Aku? Aahh tidak mau! Bilang saja kau mau menghilang entah kemana setelah kamu melepaskan jabatanmu, aku tahu apa yang ada di pikiranmu!" Gerutu Frey kesal.
"Yaahh benar, tumben kau bisa menebak pikiranku."
"Pikiranmu tidak asing bagiku Raelyn! Bagaimana aku tidak bisa menebaknya!" protes Frey dingin dan aku hanya terdiam menatap langit mendung di atasku.
"Raelyn aku tahu tidak hanya keputusanmu untuk masuk ke dalam organisasiku yang membuatmu dan Rhys bermusuhan..." gumam tetua Ben pelan.
"Benarkah? Jadi menurut anda apa yang membuat kami bermusuhan?" Tanyaku pelan.
"Karena cinta... dia menolak cintamu karena dia menganggap kau adiknya yang membuatmu memutuskan pergi dari organisasi. benarkan?" tanya tetua Ben serius.
"Benar, tapi tidak hanya itu tetua..." gumamku pelan.
"Tidak hanya itu? Jadi permasalahan apa?" Tanya Frey serius.
"Karena... dia mencintai kembaranku dan membunuhnya di depan mataku!" Ucapku dingin dan di sertai kilatan gemuruh yang sangat kuat di atasku.
"Bukankah nama kembaranmu Rina? Rina Li?" Tanya Fadil berjalan kearahku.
"Sudah aku katakan kan, aku tidak percaya hasil DNA yang mengatakan Rina itu kembaranku, lagi pula... mana ada kembar tapi berbeda gen? Secara logika itu tidak mungkin..." gumamku pelan.
"Tapi kan..."
"Lagi pula kedua kakak kandungku dan ayah tidak pernah membahas masalah Rina, kalau Rina Ly adalah kembaranku pasti ayah dan kakak akan membahasnya kak Fadil!" Ucapku dingin.
"Benar... Rina Ly... bukan kembaran Sani..." Gumam seorang pria di dalam kamar, saat pria itu berjalan kearah kami ternyata pria itu adalah Alvaro.
"Oh benarkah? Lalu siapa kembarannya?" Tanya Tetua Ben penasaran.
"Nama kembarannya adalah Lani Shin dan Rani Shin, nama Rina dan Rani hampir sama dan kadang tertukar. Yang dibunuh Rhys adalah Lani Shin, karena Rani tidak bisa menyelamatkan kembaranya dan takut Sani marah besar padanya makanya dia pergi menghilang sampai sekarang. Ayah sebenarnya merindukan ketiga kembarnya tapi tidak pernah mengatakan kepada Sani karena takut akan menjadi beban Sani..." gumam Alvaro serius.
"Apa kau tahu bagaimama Lani bunuh?" Tanya tetua Ben serius.
"Saya tahu, saat itu yang melihatnya terbunuh hanya saya dan Rani tapi saat Sani datang dan menyerang Rhys dengan sangat marah Rani langsung berlari pergi seperti orang ketakutan."
"Apa kamu tidak curiga kalau Rani yang melakukannya?"
"Saya tidak berpikir kearah sana, yang jelas saat itu Rhys dan Raelyn benar-benar bertarung selama tiga hari tiga malam. Saya mencoba membantunya tapi malah saya terluka parah karena senjata Rhys..." gumam Alvaro pelan.
"Jadi alasan kau dan Elvaro meninggalkan Sani karena..."
"Karena aku ingin kuat dan melindungi adik kecilku, hanya itu yang aku pikirkan saat itu. Apalagi jika mereka bertemu takutnya akan ada pertarungan hebat lagi tetua. Saya mohon lindungi adik saya..." gumam Alvaro menundukkan badannya kearah tetua Ben.
"Ohh mmm ini pertama kalinya aku melihat seorang ketua memohon kepada tetua organisasi lain, tapi ya karena Raelyn orang kepercayaanku aku akan melindunginya."
"Terimakasih tetua Ben..." gumam Alvaro senang sedangkan aku hanya terdiam melihat kilatan kilat dan gemuruh gunrur di langit atasku.
__ADS_1