
Walaupun aku memejamkan kedua mataku tapi aku masih mendengar pembicaraan ketiga kakakku dan Ray, Ray tetap berbaring di sampingku dan tidak bergerak sama sekali, mungkin Ray takut dia mengganggu tidurku.
"Bagaimana menurutmu Ray?" tanya Xiao Min serius.
"Itu terserah kalian, lagi pula jika dipikir-pikir kita selalu melakukan pertemuan tidak penting yang membuatku bosan..." gumam Ray pelan.
"Kau jangan ikut-ikut Sani, dia memang tidak tertarik dengan pertemuan dan ujung-ujungnya aku dengan Fadil yang mengikuti pertemuan itu..." gumam Victory menatap Ray serius.
"Aku juga tidak tertarik ikut pertemuan, aku datang kepertemuan karena istriku juga ikut kalau dia tidak ikut ya aku juga tidak ikut, lagi pula aku punya agenda pertemuan dengan seseorang nantinya..." gumam Ray pelan.
"Pertemuan dengan kelas elite? Kamu jadi ikut itu?" tanya Soni terkejut.
"Ya, itu pertemuan lebih penting dari pada pertemuan mafia itu..." gumam Ray pelan.
"Kalau kamu tidak datang tidak masalah tapi Sani..." gumam Victory dingin.
"Aku tidak mau..aku ada urusanku sendiri..." gumamku melemparkan handphoneku kearah Fadil.
"Oh benarkah? Tumben kamu mendapatkan kesempatan lagi Sani..." gumam Fadil meletakkan handphoneku di meja.
"Ya kan kak Fadil tahu sendiri alasannya..." gumamku menyembunyikan wajahku lagi.
"Kesempatan apa maksudnya sayang?" tanya Ray penasaran.
"Dia mendapatkan..."
"Tidak ada apa-apa. nanti kalau sudah tahu keputudannya aku akan memberitahukanmu.." gumamku serius.
"Kau selalu seperti itu Sani!" gerutu Fadil kesal.
"Tapi kak Fadil menyukainya kan? Lagi pula anggap saja liburan...fokus utama kita hanya itu kak Fadil..."
"Ya aku tahu..." gumam Fadil pelan.
"Lalu apa kak Fadil ingin membatalkannya?"
"Eeeh ja..jangan lebih baik lakukan saja okey, aku butuh peregangan juga..." gumam Fadil serius.
"Apa ada peperangan istriku?" tanya Ray serius.
"Mungkin saja sih...mmm setelah pesta aku ijin pergi sebentar ya."
"Kemana?"
"Ada pertemuan di gedung ini juga kok..."
"Baiklah, aku juga ada pertemuan. Jaga dirimu baik-baik sayang..."
"Baiklah...biar aku saja yang mengikuti pertemuan itu...Aku lapar, kalian tidak ke pesta?" gumam Viu beranjak dari tempat duduk.
"Ya kami akan menyusul..." gumam Ray pelan.
"Baiklah..." gumam Viu keluar kamar kami dengan Xiao Min.
Aku memainkan kancing pakaian Ray dan Ray hanya terdiam sambil terus mengusap rambutku.
"Kak Ray aku mau mandi dulu kak Ray..." gumamku beranjak dari tempat tidur
"Oh ya sayang mulai besok sampai beberapa bulan kedepan kamu tidak boleh melakukan apapun istriku!" ucap Ray serius.
"Ya...aku mengerti..." gumamku segera pergi ke kamar mandi.
Di kamar mandi aku menatap perutku yang semakin membesar, padahal aku sudah permah merasakan hamil tapi menurutku kali ini berbeda.
Aku mendapatkan pesan dari tetua tertinggi untuk menghadiri pertemuan kelas elite, walaupun Ray juga akan datang tapi aku tidak akan memberitahukannya apalagi pertemuan kelas elite hanya beberapa ketua mafia tingkat SS saja yang diperkenankan hadir.
"Hmmm...yang sabar ya nak, ibu tidak akan meninggalkanmu seperti kakak-kakakmu yang dulu. Semoga kamu menjadi anak yang kuat ya..." gumamku pelan.
__ADS_1
Aku segera berganti pakaian dan memakai jubahku dan kembali ke dalam kamar. Di kamar aku hanya melihat Fadil yang sedang memakan cemilan yang ada di dalam lemari.
"Loh kemana kakak dan kak Ray?" tanyaku pelan.
"Mereka sudah berangkat mereka kan termasuk petinggi elite Sani."
"Oh benarkah?" gumamku memakai topengku.
"Kamu mau ke pesta?"
"Tidak, aku tidak suka pesta dan kak Fadil tahu hal itu..."
"Jadi mau kesana langsung?"
"Ya aku sangat capek Kak Fadil, ingin segera menyelesaikan semua ini."
"Kalau kamu tidak kuat jangan dipaksakan?"
"Ini perintah dari sudah lama kak Fadil, kalau aku tiba-tiba menolak pasti ketua yang akan menggantikanku dan...kamu tahu akibatnya apa..." gumamku memberikan topeng kepada Fadil.
"Benar juga, Victory tidak bisa diandalkan..." gumam Fadil pelan.
"Mari kita berangkat kak Fadil..." gumamku berjalan mendahului Fadil menaiki lift tersembunyi di pojok lorong kamar.
"Sani, apa kita harus menyembunyikan identitas kita?"
"Tidak perlu, kakek juga pasti sudah tahu..." gumamku pelan.
"Petinggi elite masih kau anggap kakekmu?"
"Ya dia guru besar kita Kak Fadil, kita di ajarkan oleh kakek sejak kecil selain tetua jadi kita harus menghormatinya..." gumamku pelan.
"Ya kau murid yang sangat di sayang Sani!"
"Kak Fadil juga kok.." gumamku santai.
Guru Rendi adalah satu-satunya guru besar yang bersedia mengajariku berlatih dan menjadi orang yang kuat sampai sekarang, kalau tidak ada guru mungkin aku tidak bisa sekuat ini.
Tepat di depan guru besar aku melihat Ray yang sedang memakai topeng terduduk dengan tatapan dinginnya, tatapannya sangat berbeda dengan tatapan sedih dan manjanya jika hanya bersamaku, mungkin kalau orang lain yang tidak tahu Ray yang sesungguhnya pasti akan berfikir dia manusia paling dingin dan menyebalkan di dunia mafia.
"Oh kalian berdua sudah datang ya...kemarilah..." gumam guru Rendi menatapku dingin, tanpa berkata apapun aku berjalan kedepannya dan membungkukkan badanku bersama dengan Fadil.
"Sudah lama tidak bertemu dengan kalian berdua, tidak aku sangka kalian sudah sebesar ini...Aku dengar saat ini pencapaian kalian sangat pesat dari beberapa tahun yang lalu ya...hahaha. " gumam guru Rendi tertawa pelan. Suara guru Rendi yang besar di tambah ruangan yang tetutup rapat membuat suaranya sangat menggema.
"Terimakasih, sudah membimbing kami guru..." gumamku pelan.
"Eehhh suara wanita?" gumam beberapa orang di belakangku terkejut.
"Iya aku kira kalau seorang pria ternyata seorang wanita..." gumam orang-orang di sekitarku terkejut.
"Oh ya...bagaimana penawaranku? Tetuamu berkata semua terserah padamu..."
"Apa itu tugas penting?"
"Ya... kemungkinan kamu juga akan mendapatkan petunjuk tentang informasi yang kamu inginkan."
"Harus membutuhkan waktu berapa lama melakukannya?"
"Kalau kamu bisa cepat menuntaskannya pasti akan selesai dengan cepat tapi kalau kamu melakukannya dengan santai pasti tidak akan selesai seperti ketuamu dulu."
"Ketua? Mmm apa tugasnya?" gumamku pelan.
"Kamu harus mencari informasi dan beberapa data yang ada di mafia tingkat atas, seperti tugas biasanya kamu harus menyamar untuk melakukan itu tapi kamu masih bisa melakukan aktifitasmu biasanya, apa kalian siap?" tanya guru Rendi serius.
"Tapi apakah bisa beberapa bulan kemudian? Saya sedang..."
"Tidak masalah, aku tahu apa yang terjadi...Jadi bagaimana keputusanmu?" tanya guru Rendi serius. Aku menatap Fadil dan Fadil hanya menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
"Baik...kami akan lakukan guru..." gumamku pelan.
"Bagus...daftar yang diberikan tetua kalian berikan saja kepada Victory atau yang lainnya...tugasmu hanya mencari barang itu..." gumam guru Rendi melemparkan sebuah gulungan dan membacanya. "Oh astaga memang kelas elite.." desahku dalam hati.
"Mmm jika kami mengalami kesulitan atau butuh bantuan bagaimana?" tanya Fadil serius.
"Tenang saja, ini tugas para elite, mereka akan membantu kalian. Ya seharusnya sih tugas mereka tapi mereka menolak karena tugas yang berat, karena aku percaya kalian berdua jadinya aku berikan tugas khusus itu buat kalian...Apa yang ingin kalian tanyakan lagi?"
"Satu hal, boleh tidak kami membalaskan dendam tanpa adanya aturan larangan?" tanyaku pelan.
"Khusus untuk kalian... boleh...apapun yang kalian lakukan tidak akan mendapat hukman apapun dari dewan keadilan dan juga kalian mendapat kekuasaan melakukan sesuka hati kalian mulai sekarang!" gumam guru Rendi memberikanku dan Fadil sebuah lencana.
"Oh mmm baik, kami bisa melakukannya sendiri...terimakasih atas pengertiannya kakek..." gumamku pelan.
"Oh ya, aku belum memperkenalkan kalian berdua kepada para petinggi elite ya... aku perkenalkan kedua murid kepercayaan kami para petinggi seluruh kelas... mafia penguasa kegelapan...Sani Shin bersama wakilnya Fadil!!" teriak guru Rendi yang membuat semua orang terkejut.
"Kakek...bisa tidak kakek tidak perlu memberitahu nama kami!" gerutuku beranjak berdiri.
"Memiliki cucu hebat sepertimu siapa yang tidak bangga, tidak sia-sia aku mengajari Sani Shin yang penakut dan lemah menjadi Sani Shin yang kuat hahaha!" tawa guru Rendi senang.
"Astaga kambuh lagi itu orang..." desah Fadil menggelengkan kepalanya.
"Tu...tunggu kenapa harus dia tetua!!" protes Ray mengangkat kedua tangannya.
"Hanya dia yang cocok mendapatkan tugas itu."
"Tapi kan itu tugas berat tetua... mereka para elite saja tidak berani mengambil resikonya!!"
"Memang, tapi mereka berdua tahu apa yang akan mereka hadapi. Tenang saja mereka berdua tidak akan mati, kalau mereka mati kamu bisa menuntutku sebagai petinggi kelas elite..."
"Tapi kan..." Ray terus menolak jika aku yang mendapatkan tugas itu, ya memang itu tugas berat tapi mendapatkan kekuasaan istimewa adalah tujuan yang aku dan Fadil inginkan sejak dulu apalagi aku ingat bagaimana Han mengurungku karena hukuman yang tidak masuk akal di masa itu.
"Apa kalian masih ingin melakukannya Sani?" tanya guru Rendi serius.
"Ya kami akan melakukannya, lagi pula kami tahu apa yang akan kami lakukan yang penting penuhi permintaan kami selain kekuasaan istimewa tadi..." gumamku memberikan beberapa barang yang sudah aku dan Fadil dapatkan sebelumnya.
"Waaah gila, dia langsung mendapatkannya sebelumnya?" ucap beberapa orang terkejut.
"Hahaha memang murid andalanku, bagaimana kalian tahu barang ini penting?"
"Tetua yang memberitahukan kami kakek, sebelum kami melakukan yang lainnya... kami memiliki beberapa keinginan!" gumamku melempar gulungan kepada guru Rendi.
"Baik, bisa diatur. Baiklah mulai sekarang...Kalian berdua boleh melakukan apapun sesuka kalian, keamanan keluarga kalian akan dijaga oleh petinggi kelas elite, apapun keputusan kalian adalah mutlak, dan di saat perang mafia yang sesungguhnya kalian boleh menggila sesuka kalian serta kalian boleh membunuh siapapun tanpa adanya hukuman!!" gumam guru Rendi serius.
"Baiklah terimakasih kakek, kami berdua pamit..." gumamku berjalan pergi kembali ke dalam kamar.
Saat aku membuka pintu kamar, tiba-tiba Ray mendorongku dan menatapku serius.
"Apa kau gila menerima tugas berat itu istriku!!" protes Ray serius.
"Kenapa? Apa kamu khawatir?"
"Ya tentu saja aku khawatir, kalau tahu kamu melakukan pertemuan dengan petinggi elite aku sudah melarangmu pergi!" protes Ray serius.
"Sayang...dengar aku tidak masalah...diantara beberapa tugas yang berat itu kami sudah mendapatkannya tinggal yang mudah sayang.."
"Tapi kan Sani..."
"Suamiku, jangan khawatir...selama aku kembali pulang jadi tidak masalah kan, lagi pula aku tidak akan meninggalkanmu dan tidak meninggalkan anak kita.." gumamku meyakinkan Ray.
"Tapi... mmm baiklah, kamu harus berjanji untuk tidak terluka atau terbunuh ya sayang..." gumam Ray memelukku erat.
"Ya, aku akan baik-baik saja selama kamu selalu menemaniku kak Ray..." gumamku pelan.
Mungkin karena pertama kalinya Ray mengetahui aku mendapatkan tugas yang berat membuatnya sangat khawatir padahal tugas seberat apapun aku dan Fadil sudah sering melaluinya yang membuat kami dianggap menakutkan dan berdarah dingin, sebenarnya aku sudah capek melakukan itu semua tapi demi mendapatkan kekuasaan istimewa dari petinggi elite aku tidak masalah menerimanya.
Selama ini aku tidak bisa berbuat apapun karena Han adalah ketua mafia keadilan sekaligus dewan keadilan, kalau aku tidak mendapatkan kekuasaan istimewa itu aku pasti akan ditangkap Han dan dihukum dengan hukuman yang tidak jelas membuatku frustasi untuk melakukan sesuatu apalagi jika perang mafia benar terjadi tanpa mendapatkan kekuasaan istimewa aku tidak bisa melakukan sesuka hatiku.
__ADS_1