Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 85 : Memancing Keributan


__ADS_3

Selama beberapa menit guru Rendi menatap senjata yang ada dia pegang dan terlihat begitu senang, aku tahu kenapa dia nampak senang, karena senjata itu...adalah senjata milik guru Rendi yang hilang waktu masih menjadi guru dulu.


Aku menatap jarum jamku ternyata saat ini sudah pukul delapan pagi. "Haish sudah pagi lagi saja, waktu kenapa cepat banget sih..mana nanti ada pertemuan lanjutan lagi aah menyebalkan!" gerutuku kesal.


"Hahaha!!" tawa guru Rendi senang.


"Bagaimana?" tanyaku dingin.


"Be...benar...bagaimana kamu tahu kalau barang itu adalah..." tanya tetua mafia elite lainnya terkejut.


"Hanya...tebakan saja..." gumamku memotong pembicaraannya.


"Kamu selalu saja berbohong seperti itu, sebenarnya kamu tahu kan kalau ini senjata milikku yang di curi bertahun-tahun yang lalu!" gerutu guru Rendi serius.


"Mana ada, aku hanya..." gumamku dingin tapi guru Rendi mengacak rambutku senang.


"Aku sangat senang, padahal tidak aku minta tapi kamu benar-benar melakukan janjimu padaku muridku..." gumam guru Rendi senang.


"Tung...tunggu murid? Jangan bilang dia...Sani?" teriak Ray terkejut.


"Memang dia Sani, apa kamu tidak menyadarinya?" gerutu Soni dingin.


"Ke...kenapa...oh astaga!" gerutu Ray langsung melepaskan genggaman wanita di sampingnya.


"Kan dari tadi aku menyindir kalian tapi...haish ya sudahlah...uruslah urusanmu dengan istrimu, aku tidak ikut-ikut..." gumam Soni dingin.


"Oh, jadi...jadi dia istri Ray? Apapun yang terjadi Ray milikku!!" teriak wanita itu berlari kearahku sambil membawa senjatanya. Mengerti hal itu, aku segera menepis pedangnya dan melukainya yang membuat wanita itu jatuh ke lantai.


"Kau tadi sok-sokan ingin membunuhku ya?" gumamku mengambil pedang miliknya dan menggoreskannya di tanganku.


"Apa kau kira racunmu berpengaruh padaku?" gumamku tersenyum dingin.


"Tu...tunggu kenapa bisa?" tanya wanita itu terkejut.


"Dia pengguna racun tipe SSS, tiga kali lebih tinggi darimu.." gumam Ray dingin.


"A...apa...Aauuu sa...sakit.." rintih wanita itu kesakitan.


"Heeeh...terkena racunku saja sudah kesakitan sok-sokan ingin membunuhku!" sindirku dingin.


"Haish kamu ini suka banget menindas yang lemah Sani.." desah guru Rendi menggelengkan kepalanya dan terduduk di kursinya kembali.


"Tidak juga, hanya ingin memberi pelajaran bagi siapapun yang... beraninya menyentuh milikku saja..." gumamku menggenggam erat pedang di tanganku.


"Haish...baiklah, mana benda yang kamu dapatkan?" tanya guru Rendi serius, aku mengambil kotak hitam dari balik jubahku dan menunjukkan senjata yang aku pegang kepada guru Rendi.


"Ja..jadi itu senjata beracun itu? Apa kamu sudah melihat racun apa yang ada di dalamnya?"


"Sudah sih...tuh kelinci percobaanku..." gumamku menunjukkan wanita yang menggoda Ray tadi.


"Racun level yang setara denganmu?"


"Ya bisa dibilang seperti itu...kalaupun aku terkena juga tidak masalah sebenarnya... tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi kalau melawan dengan racunku juga akan berhasil imbang guru. Jadi aku membutuhkan beberapa racun untuk..."


"Aku...aku bisa membantumu!" teriak Ray sambil melompat-lompat ke arahku seperti anak kecil.


"Enyahlah!" gerutuku kesal.


"Sayang jangan ngambek dong!"


"Bodo..." gerutuku membuang mukaku.


"Ayolah, jangan ngambek istriku..." gumam Ray terus manja kepadaku.


"Ku bilang enyahlah, apa kau tidak...mmmpphhh..." gerutuku kesal tapi Ray langsung menciumku yang membuatku terkejut.

__ADS_1


"Maafkan aku...bukan salahku, dia...dia yang selalu menempel padaku bukan aku...aku tidak menyukai dia selalu menempel padaku tapi...dia selalu seperti itu bahkan banyak wanita yang melakukan itu..." gumam Ray menggenggam tanganku erat.


"Kau pernah menghukumku karena pria itu tapi kau hanya minta maaf saja!" protesku kesal.


"Kamu boleh menghukumku, apapun hukumanmu aku lakukan bagaimana?"


"Kau yakin Ray? Hukuman dia lebih tidak berperikemanusiaan loh?" tanya Fadil terkejut.


"Ya kalau aku membuat istriku marah jadi hukuman apapun aku akan melakukannya!"


"Baiklah lihat saja nanti!" gerutuku menepis tangan Ray tapi Ray tetap tidak mau melepaskan genggamannya.


"Haish dasar anak muda jaman sekarang, jadi apa rencanamu?" tanya guru Rendi serius dan aku memberikan catatanku kepada guru Rendi.


"Aaah begitu ya? Sepertinya menarik.... rencana ini bisa dilakukan nanti saat perang itu terjadi ya...mmm baguslah, tidak sia-sia dulu aku mengajarimu muridku hahaha!!" tawa guru Rendi kencang kembali.


"Baiklah saya pamit guru..." gumamku menundukkan badanku dan berjalan pergi tapi Ray terus menahanku.


"Lepasin kak Ray!" gerutuku kesal.


"Gak mau, aku mau ikut!"


"Bodo, pergi sana!" gerutuku kesal.


"Gak mau, aku mau ikut!!"


"Ray...pertemuan belum selesai, biarkan Sani pergi!" teriak guru Rendi kencang.


"Ta...tapi..." gumam Ray sedikit melonggarkan genggamannya.


"Hiiihh!" gerutuku melepaskan genggaman Ray dan berjalan pergi.


"Hati-hati Ray, Sani kalau ngambek tuh seperti... roooaaaarr..." sindir Fadil menekuk tangannya seakan-akan itu tangan seekor harimau yang kelaparan.


"Kak Fadil!" teriakku kesal.


"Aahh ba...baiklah nona muda..." ucap Fadil berlari mengikutiku masuk ke dalam lift.


"Kamu mau lanjut pertemuan?"


"Ya mau bagaimana lagi..." gumamku melangkahkan kakiku kembali ke pertemuan dengan seluruh mafia di Amerika itu.


Di dalam ruangan aku melihat sudah banyak ketua mafia yang datang ke pertemuan itu, padahal hari masih sangat pagi tapi mereka sudah berada di ruangan pertemuan itu.


"Sani...kamu dari mana saja?" tanya Victory menatapku serius.


"Ya kami dari..."


"Tidak dari mana-mana kok!" gumamku memotong pembicaraan Fadil.


"Oh mmm ini wine untukmu!" ucap Victory memberikanku sebotol wine kepadaku.


"Aah terimakasih..." gumamku mengambil botol wine itu dan meminumnya.


"Selamat datang Sani Shin! Baiklah, kita lanjutkan!" ucap tetua mafia melanjutkan pertemuan yang sudah dilakukan itu sedangkan aku hanya terduduk sambil meminum wineku. Di depanku aku melihat banyak mafia Amerika yang benar-benar serius bahkan Victory juga sama-sama seriusnya, mungkin...tidak ada yang tahu kalau aku juga mata-mata di sini. Entah aku pribadi bingung antara memilih mafia elite atau mafia tertinggi karena keduanya aku tidak diuntungkan sama sekali.


"Kita memiliki beberapa ancaman saat ini, mafia X yang sering menyebabkan kekacauan ini dan juga kita tidak tahu apa yang dibahas oleh rapat mafia elite saat ini, mengingat nanti malam kita ada pertemuan dengan mafia elite!" ucap Fiyoni serius, dia mafia pusat Amerika dan pastinya dia yang akan berperan aktif di wilayah Amerika sedangkan Victory, karena dia ketua mafia Pusat di seluruh dunia mafia dia hanya diminta usulan saja.


"Sani...jangan bilang kamu baru dari mafia elite?" ucap Victory pelan.


"Ketua sudah tahu kan? Jadi diamlah!"


"Emang apa yang mereka bahas?"


"Entah, aku datang juga sudah telat. Aku hanya memyerahkan titipan guru Rendi saja habis itu udah aku balik lagi."


"Kamu tidak tahu apa yang mereka bicarakan?"


"Tidak."

__ADS_1


"Haish, ku kira kau tahu..." desah Victory pelan.


"Walaupun aku tahu tapi aku benar-benar tidak peduli. Berada di dua tempat yang berbeda pandangan membuatku sakit kepala!" gerutuku kesal.


"Ya memang tetua mafia Amerika dengan guru Rendi memang berbeda pandangan."


"Makanya itu, tapi...ketua nanti lihat saja, sebentar lagi ada pertunjukan menarik."


"Pertunjukan...menarik?" tanya Victory terkejut.


"Ya, nanti di pertarungan akan ada pertunjukan menarik..." gumamku menatap Han yang sama-sama menatapku dengan tatapan dinginnya. Saat Han menatapku aku melihat bibirnya bergerak pelan dan ternyata dia mengucapkan "Kamu semakin cantik saja istriku!" sambil tersenyum dingin kearahku.


"Astaga belum aja dipancing tapi dia sudah mulai menggoda, dasar buaya!" gerutuku kesal.


"Ada apa Sani?" tanya Victory bingung.


"Tidak ada, hanya beberapa buaya yang menyebalkan."


"Melihatmu yang sangat cantik pasti banyak buaya yang berlomba-lomba ingin memilikimu dan itu tidak diragukan lagi Sani..."


"Ya aku tahu, makanya aku muak!" gerutuku kesal.


"Sani!" ucap tetua mafia yang membuatku terkejut.


"Eee...mmmm i...iya tetua?"


"Menurutmu mafia X yang menjadi penyerangan itu adalah mafia yang itu?'


"Saya tidak tahu, apa mafia Amerika yang lain tidak tahu?" tanyaku dingin.


"Kalau kami tahu, kami tidak bertanya padamu Sani!" gerutu Sino kesal.


"Lalu apa tugas kalian apalagi kamu mafia rahasia? Seharusnya sebagai mata-mata kamu tahu apa yang kamu lakukan!"


"Kau kira menjadi mata-mata itu mudah!"


"Mata-mata ya? Tidak juga, jika kau niat bekerja pasti kamu sudah lakukan seperti dulu tapi sekarang kau semakin malas kak Lan Shi...." sindirku dingin.


"Kau!!" teriak Sino kesal.


"Sudahlah! Benar kata Sani, biasanya kamu yang memiliki informasi tapi beberapa tahun ini kamu sama sekali tidak memiliki informasi untukku!" ucap tetua mafia dingin.


"Mmmm...a...anu...begini tetua..."


"Halah alasan saja, terlanjur nyaman dengan Rina kan sampai lupa dengan tugasmu sendiri..." sindirku dingin.


"Kau!!" teriak Sino menatapku kesal.


"Kakak...apa yang kamu inginkan sebenarnya?" ucap Rina membela Sino.


"Aku apa? Aku hanya mengungkapkan fakta saja tidak lebih, sama halnya mafia keadilan. Dia sangat tunduk dengan musuh sampai-sampai tidak melakukan tugasnya sesuai janji jabatannya dan melakukan pekerjaan jika mendapatkan perintah dari musuh...benarkan Hans?" gumamku menatap pria yang sejak tadi bersembunyi di jendela dan mengetahui jika akumenyadari kehadirannya, dia langsung menghilang.


"Siapa dia?" tanya tetua mafia terkejut.


"Hanya salah satu mata-mata yang mendengarkan pembicaraan hari ini saja."


"Aduhh kenapa bisa ada mata-mata sih!" gerutu tetua mafia kesal.


"Ya mana saya tahu tetua, lagi pula ini kan acaranya Fiyoni jadi tanyakan pada Fiyoni sendiri..." gumamku beranjak dari tempat dudukku.


"Kamu mau kemana?" tanya tetua terkejut.


"Tidak kemanapun, hanya malas saja pertemuan tertutup bisa di ketahui oleh mata-mata musuh jadi...percuma saja diadakan pertemuan ini!"


"Haish Sani kamu masih saja benci jika pembicaraan penting di ketahui orang lain ya..." desah tetua mafia pelan.


"Lalu...apa tetua mafia suka jika ada musuh yang mengetahui rencana tetua lalu musuh bisa mengalahkan tetua dengan mudah? Tidak kan? Ya itu alasannya!" gerutuku dingin.


"Ya baiklah, aku mengerti...makanlah dulu, nanti temui aku Sani!" ucap tetua dingin dan aku hanya terdiam sambil melangkahkan kakiku pergi dari ruangan.

__ADS_1


Ya walaupun tidak seperti rencana awal tapi bisa memancing emosi ketiga pria itu bisa memancing emosi Ray, jadi aku bisa tahu bagaimana kekuatan Ray yang sebenarnya.


__ADS_2