
Di kamar mandi ini, aku menatap cahaya matahari yang sinarnya menyinari masuk ke dalam kamar mandi ini. Valentino memelukku dari belakang dengan nafas pelannya dia sama sekali tidak mau melepaskanku.
"Valentino..." gumamku pelan.
"Apa?"
"Menurutmu, apa aku bisa melakukannya?" Tanyaku pelan.
"Melakukan apa?" Tanya Valentino bingung dan aku langsung memutar tubuhku menatap Valentino serius.
"Membunuh kedua orang tuaku sendiri."
"Bisa jika kau memiliki tekat."
"Tapi mereka kuat dan..."
"Dengar Raelyn, kamu memilikiku dan aku ada di pihakmu jadi apa yang kau khawatirkan?"
"Tapi kan... Apa aku mampu?" Tanyaku pelan dan Valentino mendekatkan wajahnya di wajahku.
"Mampu, kau mampu melakukannya. Kau bukan lagi gadis cengeng di kehidupan pertama, kau Raelyn masa kini! Tunjukan kemampuanmu sayang!" Ucap Valentino serius dan aku tersenyum menatap Valentino.
"Kamu benar, aku akan melakukannya. Bantu aku ya suamiku..." bisikku mencium Valentino lembut dan Valentino membalas ciumanku.
Toookkk... Ttookkk...
Terdengar suara ketukan kamar mandi yang sangat keras yang membuat kami terkejut. "Ayah... Ibu... Apa kalian didalam?" Teriakan Satria yang kencang membuat kami kalang kabut jadinya. Aku dan Valentino memakai baju mandi dan keluar bersama dari kamar mandi.
"Ayah dan ibu kenapa di dalam kamar mandi lama?" Tanya Satria bingung.
"Mmm ya i-itu... Anu.. Mmm i-ibu..." gumamku terus terbata-bata.
"Hanya mengatur strategi saja anakku..." ucap Valentino serius dan Satria menganggukkan kepalanya mengerti.
"Lain kali di luar saja, bahaya tahu di kamar mandi! Oh ya pertemuan akan kembali di mulai, ayah dan ibu harus berganti pakaian!" Ucap Satria berjalan pergi.
"Haaah lain kali pintu kamar di kunci Valentino!" gerutuku kesal.
"Ya maaf sayang aku terlupa tadi..."
"Kau selalu saja seperti itu Valentino!" Ucapku dingin tapi Valentino menciumku lembut.
"Yaah maafkan aku istriku..." bisik Valentino pelan dan kembali membuka pakaianku kembali.
"V-Valentino kenapa kamu uugghh..."
"Permainan kita belum selesai."
"Tapi pintunya belum dikunci!" Protesku kesal tapi Valentino langsung mendorongku kearah pintu.
"Valentino k-kamu sangat nakal ya..."
"Nakal kepada istri sendiri, apa itu salah?"
"Tidak hanya saja... Uugghhh..."
"Tidak perlu protes dan nikmatilah..." bisik Valentino pelan dan aku hanya pasrah di setiap permainannya.
"Ayaaah... Ibuuu... Kenapa kalian lama!" Protes Satria di luar kamar yang membuatku terkejut.
__ADS_1
"Satria menunggu kita dan uuugghhh..."
"Sebentar lagi Satria, kamu kesanalah dulu dengan Paman Fadil!" Teriak Valentino kencang.
"Baik ayah..." gumam Satria pelan dan pergi dari depan kamar.
"Sudah beres kan..." bisik Valentino pelan sedangkan aku kembali melakukan semua permainan Valentino sampai Valentino memelukku sangat erat dan kembali menciumku lembut.
"Sayang, terimakasih..." bisik Valentino pelan dan kembali menciumku.
"Ya sudahlah mari kita ke pertemuan nanti keburu ada masalah!" Gumam Valentino memakai pakaiannya kembali dan memakaikanku pakaian dengan rapi.
"Baiklah mari sayang..." bisik Valentino pelan dan menarikku keluar kamar.
"Sayang... Lehermu merah-merah tahu!" Ucapku terkejut melihat leher Valentino yang memerah.
"Kamu juga kok sayang."
"Tunggu t-tapi kan..."
"Memangnya kenapa? Kita kan sudah menikah."
"Kamu tidak malu?"
"Tidak, buat apa aku malu!" Ucap Valentino pelan dan masuk ke dalam ruang pertemuan, Valentino melepaskan genggaman tangannya dan terduduk di kursinya sedangkan aku duduk di kursiku.
"Kamu lama banget Sani!" Gerutu Fadil menatap wajahku dan menghela nafas dalam.
"Haish kau sempat-sempatnya bermain dengan Valentino..."
"Valentino yang melakukannya kak Fadil dan..."
"Dan tidak perlu dijelaskan, aku sudah mengerti!" Ucap Fadil pelan sedangkan aku hanya menghela nafas pelan.
"Tidak ada titik temu."
"Ya sudah mending kita pulang saja!" Ucapku beranjak dari tempat dudukku.
"Kau mau kemana Raelyn?" Tanya tetua serius.
"Percuma melakukan pertemuan jika tidak ada titik temunya!" Ucapku dingin.
"Masalahnya semua ada pada keputusanmu!" Ucap tetua yang membuat langkahku terhenti.
"Lalu. Apa masalahnya?" Ucapku berbalik dan menatap tetua dingin.
"Pembatalan perang jika kita menuruti semua keinginan mereka."
"Menuruti keinginan mereka ya? Ciiihhh enak kali kau menjadikan kami budak dan satu hal lagi... Aku sudah muak menjadi budak kalian!" Ucapku dingin dan kembali berjalan.
"Kau ternyata semakin dewasa ya adikku..." ucap seorang pria yang membuatku terkejut, aku membalikkan tubuhku dan melihat Revaro terduduk di meja milik Han.
"Oh... Tentu saja aku sudah dewasa!" Ucapku dingin.
"Ngomong-ngomong bagaimana rasa Valentino? Lezat?" Ucap Revaro dingin yang membuatku tertarik, aku duduk di mejaku sambil menatap Revaro santai.
"Sangat lezat loh bahkan Valentino terus melakukannya denganku, apa kakak ingin merasakannya?" Ucapku dingin.
"Merasakanmu? Ciiihhh mending aku bermain dengan ibu dari pada denganmu ! Sama seperti Valentino dulu yang sering bermain dengan ibu kau tahu!" Ucap Revaro dingin yang membuatku penasaran.
__ADS_1
"Benarkah? Sungguh membuatku penasaran..." gumamku berjalan kearah Valentino dan mengusap lembut pipinya.
"Beri tahu aku Valentino... Seberapa nikmat ibuku?" gumamku pelan sedangkan Valentino mencoba tidak peduli dengan ucapan kami berdua.
"Heeeh mana mau ngaku dia! Dia saja penggila wanita!" Sindir Revaro dingin yang membuat Valentino kesal tapi dia menutupinya dengan wajah dinginnya.
"Benarkah? Tentu ibu juga sama saja kan, ibu juga penggemar banyak pria sampai yaaah tidak ada yang tahu siapa saja yang bermain dengannya bahkan dia sendiri juga tidak bisa membedakan mana pria tua dan mana pria muda... Ciiihh memalukan!" Sindirku menatap seorang wanita dan pria yang bersembunyi di atas jendela.
"Aku juga malu punya anak seperti kau Raelyn!" Ucap ibuku dingin yang membuatku tertawa kencang.
"Malu ya? Hahaha kau kira aku tidak lebih malu memiliki ibu sepertimu!" Sindirku kesal.
"Oh ya sepertinya jika aku tidak salah, kalian itu dua kelompok benarkan sehingga keinginan kalian yang utama juga berbeda. Kelompok Han menginginkan Satria jadi milik kalian dan kalian ingin membunuhku sedangkan kelompok yang satunya ingin merebut apapun yang jadi milikku dan membunuhku jadi bisa menguasai seluruh mafia, benarkan?" Ucapku mengusap lembut pipi Valentino sampai ke lehernya.
"Benar, ternyata kau pandai juga ya!" Ucap tuan Vyu dingin dan aku tertawa dengan kencang.
"Oohhh tentu saja tapi maaf saja aku tidak akan memberikan semudah itu dan bisa membunuhku untuk menguasai dunia? Hahaha apa kalian sedang berkomedi kepadaku!" Tawaku kencang yang membuat mereka kesal.
"Ciiih jangan sombong kau! Aku bisa saja membunuhmu dan merebut Raelan dan Valentino darimu!" Ucap ibuku dingin yang membuatku sangat tertarik menyindir mereka.
"Oh benarkah? Kalau begitu katakan padaku... Apa ibuku sangat nikmat saat bermain denganmu Valentino?" Ucapku manja tapi Valentino menatapku dingin dengan tangan yang sangat bergetar.
"Lebih nikmat mana? Aku atau ibuku Valentino?" gumamku melepaskan kancing pakaian Valentino yang membuat tubuhnya memerah karena ciumanku terlihat seluruhnya dan di lihat banyak orang.
"Atau kau memilih keduanya Valentino? Oohh kamu sangat rakus ya!" Ucapku mengendus lehernya yang membuat Valentino mulai berkeringat dingin.
"A-aku.... Aku memilihmu Raelyn!" Ucap Valentino dingin.
"Nah dengar tuh, Valentino saja memilihku loh? Dan tidak mungkin dong seorang wanita yang memiliki beberapa anak yang sudah dewasa ini menyukai kekasih anaknya? Rendah kali harga dirinya! Sangat bodoh!" Ucapku dingin dan mencium Valentino lembut.
"Kita sudah seharian bermain tapi kau malah memancing hasratku istriku, aku akan menghukummu setelah pertemuan ini!" Bisik Valentino pelan dan aku kembali mencium Valentino dingin.
"K-kau awas saja kau!" Ucap ibuku kesal dan semua musuh pergi meninggalkan ruang pertemuan.
"Ciihh dasar wanita tidak tahu diri!" Gerutuku kesal dan kembali ke tempat dudukku tapi Valentino langsung membopongku keluar pertemuan.
"Pertemuan ditunda!" Ucap Valentino dingin dan membawaku pergi kembali ke dalam kamar. Valentino menjatuhkanku di atas tempat tidur dan menatapku dingin.
"Kau sangat nakal ya istriku!" Ucap Valentino kembali menciumku lembut sambil membuka kemeja yang dipakainya.
"Aku hanya memancing mereka."
"Tapi kau juga memancing nafsuku kau tahu!"
"Hanya seperti itu kau sudah uuugghh..."
"Menurutmu?"
"Tapi... Apa kau sangat menikmati bermain dengan ibuku?" Gumamku pelan dan Valentino menatapku serius.
"Mau menikmati atau tidak itu sudah masa lalu. Dan untuk saat ini yang perlu kamu tahu adalah... Aku sangat menikmati jika bersamamu dan tidak ada yang lain selain kamu!".
"Oh benarkah dan... Uugghhh..."
"Dan aku mengatakan yang sebenarnya!"
"Oh mmm aku pikir kamu menikmati jika dengan ibuku, nanti aku akan memberikanmu padanya!"
"Apa kau gila? Aku hanya ingin denganmu!!" Protes Valentino kesal.
__ADS_1
"Uuuggghhh s-sakit..." rintihku pelan.
"Makanya jangan mengada-ada kau sayang!" Gerutu Valentino kesal dan aku hanya memeluknya erat. Entah antara percaya atau tidak dengan ucapan Valentino tapi memang aku tetap mempercayainya karena dia suamiku.