
Selama seharian aku tertidur bersama Ray, tidur bersama Ray membuatku sangat nyaman walaupun berkali-kali Ray mempermainkanku tapi aku sama sekali tidak mempermasalahkannya dan menikmatinya.
"Haahhh Ray aku uugghhh..." rintihku pelan dan Ray memelukku erat sambil kembali menciumku.
Tookkk toookkk tookkk
Suara ketukan pintu di depan kamar membuatku terkejut, Ray memakaikan pakaian kepadaku lalu membuka pintu kamar, tiba-tiba masuklah tetua agung ke dalam kamar.
"Kemana Sani?" Tanya teyua agung pelan.
"Itu Sani."
"Eehh kenapa tubuhnya memerah seperti sedang..." gumam tetua agung menatapku terkejut.
"Itu perbuatan saya."
"Hmmm apa kamu menghukumnya?"
"Ya begitulah tetua agung."
"Haish aku mengerti... Ini tugas untuknya, kau mau ikut atau tidak itu terserahmu."
"Tugas ini? Tentu saja harus ikut, aku akan menjaga istriku?"
"Kalau begitu lakukanlah, oh ya akan ada rapat dengan beberapa tetua di seluruh organisasi jadi kamu harus ikut!"
"Tapi istriku harus ikut!"
"Sani tetap ikut apalagi mafia kegelapan memegang peranan penting di organisasi mafia pusat jadi dia akan mengawal kita."
"Kapan rapat itu dilakukan?"
"Enam bulan lagi jadi beberapa bulan kedepan kita akan sering melakukan rapat sekalian Sani menyelesaikan tugasnya."
"Tapi aku ingin ikut dengan Sani!"
"Kau boleh ikut selama tidak melakukan rapat dengan para tetua agung Ray! Lagi pula ini tugas yang tidak berat!" Ucap tetua agung dingin, Ray memberikan kertas itu padaku dan aku langsung membacanya.
"Baik tetua agung saya akan segera menyelesaikannya."
__ADS_1
"Bagus, temui kami ketika sudah selesai Sani!" Ucap tetua agung dingin.
"Baik tetua agung..." gumamku pelan dan tetua agung pergi keluar kamar.
"Haahh... Haahhh..." desahku pelan, Ray mengangkat daguku dan kembali menciumku lembut.
"Apa kamu sanggup melakukan tugas itu?"
"Ya aku bisa melakukannya."
"Baiklah jika butuh bantuan hubungi aku ya."
"Iya." Ray menciumku lembut, tiba-tiba pintu kamar kembali terbuka dan muncul tetua agung di depan pintu sambil menatap kami terkejut.
"Ada apa tetua agung?" gumam Ray dingin dan kembali menciumku lembut.
"Eehh mmm kita harus melakukan pertemuan tuan Kim Ray Valentine!" Ucap tetua agung dingin dan menutup kembali pintu kamar.
"Tunggu... Namamu Kim Ray Valentine?" Tanyaku terkejut.
"Hmmm... Ya benar, ayahmu dan Valentino adalah pamanku kandungku."
"Dan intinya kau tetap milikku Raelyn!" Ucap Ray dingin yang membuatku terkejut.
"Astaga kenapa bisa seperti itu? Kenapa aku baru tahu dan..."
"Dan intinya hanya itu.. Ya sudah segera kerjakan tugasmu!" Ucap Ray dingin dan berjalan pergi meninggalkanku.
"Hmmm baiklah..." gumamku memakai jubahku dan menelepon Fadil agar Fadil menyiapkan bawahanku untuk menyelesaikan tugas-tugas kami.
Aku langsung berjalan keluar dari markas dan melihat Fadil yang sedang menyiapkan beberapa bawahan kami di halaman markas.
"Sudah siap semua San...ni eehhh kenapa dengan tubuhmu?" Gumam Fadil menatapku terkejut, aku menatap sekitarku dan di jendela lantai atas markas aku melihat Ray, tetua agung dan tetua wakil sedang menatap kami dengan tatapan dingin.
"Haish jangan di bahas, mari berangkat..." gumamku memakai tudung jubahku dan pergi dari markas. Melihat tatapan Ray membuatku tidak menyangka kalau dia pantas untuk mendapatkan gelar tetua agung di usia muda sedangkan aku hanya seorang yang bodoh dan tidak pantas memiliki gelar tertinggi seperti Ray.
Tugasku kali ini adalah mengambil barang yang diambil musuh dan kebetulan musuh barada di sebuah hutan di luar wilayah markas organisasi pusat sehingga aku ditugaskan mengambil narang itu dan membunuh semua musuh tanpa terkecuali.
"Menurut informasi depan adalah wilayah yang diambil musuh Sani!" Ucap Fadil serius, aku melihat sekitarku dan melihat beberapa orang yang berjaga tapi saat aku amati ternyata aku tidak mengenal mereka.
__ADS_1
"Ini musuh yang berbeda ya?" gumamku pelan.
"Ya benar, jadi kita harus berhati-hati."
"Oh baiklah..." desahku melemparkan beberapa jarum dan melemparkannya ke arah orang-orang itu yang membuat orang-orang itu terjatuh lalu dengan cepat kami pergi menyusup kedalam kerumunan pengamanan wilayah hutan ini.
Berhari-hari aku dan bawahanku melawan dan menyusup untuk mengalahkan mafia musuh di hutan ini, aku pikir kalau musuh ini hanya sedikit tapi ternyata sebagian besar musuh telah menguasai area hutan ini.
"Sani ini makananmu..." ucap Fadil memberikanku daging paha rusa hasil tangkapan bawahanku.
"Eehh mmm terimakasih kak Fadil."
"Ya sudah makanlah lalu istirahat, aku mau mempersiapkan beberapa senjata untuk besok jika perkiraan kita bertemu mereka lagi!" Ucap Fadil serius dan berjalan pergi sedangkan aku hanya menghela nafas menatap bulan purnama di depanku.
Selama beberapa hari kami beristirahat di dalam sebuah gua tersembunyi agar musuh terkecoh dan tidak dapat menemukan keberadaan kami. Karena aku bosan maka aku memutuskan untuk jalan-jalan disekitar gua, dengan membawa daging paha rusa aku duduk di atas pohon dan menikmati malam yang sunyi ini.
Saat aku sedang melahap daging paha rusa, di depanku aku melihat seorang pria dan wanita yang tidak asing buatku, aku mengamatinya dan ternyata ibu oandungku dan ayahku yang berasal dari keluarga Viu yang membuatku penasaran. Aku menyusup berusaha untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Bagaimana perkembangannya?" Tanya ibuku dengan dingin.
"Menurut informasi pengamanan kami di luar kalau mereka tiba-tiba merasa sakit dan mati rasa."
"Mati rasa? Apa ada jarum di tubuh mereka?" Tanya ibuku serius
"Tidak ada nyonya besar."
"Tidak ada? Haish aku kira kalau wnaita itu datang kemari!" Ucap ibuku dingin.
"Sudahlah jangan khawatir sayang, mungkin mereka salah makan apalagi banyak makananberacun yang tumbuh di sekitar sini..." gumam ayah Viu serius.
"Yaaah mungkin saja, baiklah jaga barang-barang itu esok lusa aku akan mengambil barang itu!" Ucap ibuku dingin dan pergi.
"Oh jadi ini bawahan ibu ya..." gumamku pelan sambil terus mengamati gerak gerik mereka.
"Oh ya... Jika barang itu hilang maka aku akan membatalkan perjanjian mafia ini dan bunuh kalian semua!" Ucap ibuku dingin dan pergi menghilang.
"Jadi ini musuh yang lain jadi bukan milik ibu ya..." desahku mengamati sekitarku dan memikirkan strategi apa yang akan aku lakukan jika bertemu dengan musuhku besok lusa apalagi barang yang aku cari berada di depan mataku.
"Aku harus memikirkan rencana dengan Fadil!" Ucapku serius dan kembali ke dalam gua tersembunyi.
__ADS_1
Di dalam gua aku memikirkan cara matang-matang untuk mengambil barang itu apalagi melihat orang yang menjaga barang itu terlihat kuat jadi tidak mungkin aku menyelesaikan tugasku tanpa menggunakan rencana apalagi dibalik ini semua ada sosok ibuku dan ayahku dari keluarga Viu pasti akan sangat kesulitan kami menghadapinya