
Setelah mendapatkan ijin dari Ray membuatku segera pergi menuju ke penjara khusus bersama dengan Fadil dan Soni, awalnya aku menolak saat Soni memintaku untuk ikut tapi karena Ray yang menyuruh Soni ikut maka mau tidak mau Soni ikut bersama dengan kami sedangkan Ray kembali rapat dengan Wahyu, guru Rendi dan tetua mafia.
"Apa yang kamu lamunkan Sani?" tanya Soni menatapku serius.
"Tidak, aku hanya berfikir saja kak."
"Berfikir apa?"
"Ya berfikir sesuatulah..." desahku membuka pintu dan berjalan menuju penjara khusus yang terletak di bawah tanah. Penjara khusus ini tidak ada siapapun yang tahu tapi karena Soni ikut maka mau tidak mau Soni akan mengetahui penjara ini.
"Jangan beritahukan siapapun Soni!" gerutu Fadil menatap Soni dingin.
"Yaaah tenang saja, aku tidak akan memberitahukan siapapun kok..." gumam Soni santai.
"Selamat datang nona muda..." ucap bawahanku yang menjaga penjara khususku.
"Iya, tolong tunjukan jalannya..." gumamku menatap bawahanku serius.
"Baik nona muda, mari nona muda..." ucap bawahanku berjalan mendahuluiku.
Tanganku benar-benar tidak bisa berhenti bergemetar, aku takut jawaban Samuel tidak sesuai harapanku apalagi aku menerima apapun hukuman dari Ray tapi kalau hasilnya tidak sesuai harapanku pastinya akan lebih menyakitkan hatiku.
Di tangga, Soni terus bertanya tentang penjara ini kepada Fadil sampai Fadil kesal menjawab pertanyaan Soni dan mereka berdua terus bertengkar di belakangku. Di penjara paling bawah terdapat pintu yang di dalamnya terdapat Samuel yang sedang terkurung di dalam penjara.
"Ini ruangannya nona muda..." ucap bawahanku serius.
"Oh mmm kakak disini saja..." gumam membuka pintu di depanku.
"Eeehh kenapa aku tidak boleh masuk?" tanya Soni terkejut.
"Udahlah kau tidak berkepentingan juga!" gerutu Fadil mengikuti dari belakang dan segera menutup pintu dengan cepat.
"Huufftt..."
"Ada apa Sani?" tanya Fadil menatapku bingung.
"Tidak ada..." gumamku pelan. Menatap wajah Samuel pasti akan membuatku teringat masa lalu dengan Samuel yang menyakitkan.
"Kalau kamu belum siap bisa lain hari saja."
"Tidak! Harus aku dapatkan informasinya sekarang!" gerutuku masuk ke dalam ruangan yang hanya memiliki beberapa sel penjara dan salah satunya penjara yang ditempati Samuel.
Di dalam penjara aku melihat kaki dan tangan Samuel yang sedang di rantai di dinding. Melihat kedatanganku, Samuel mengangkat kepalanya dan terlihat wajah yang penuh luka. Mungkin Fadil terlalu kuat menyakiti Samuel tapi Samuel masih bertahan tidak mau memberitahukan apapun kepada Fadil.
"Oohh ternyata kamu ya...Sani..." ucap Samuel pelan.
"Yaahh, aku dengar kamu tidak mau mengatakan apapun kepada wakilku ya?" gumamku terduduk di kursi depan Samuel.
"Mengatakan apa? Tidak ada yang harus dikatakan juga."
"Oh benarkah? Kalau begitu aku ingin bertanya padamu dan jawab apapun yang kamu ketahui."
"Heeehh, untuk apa aku menjawabnya... tidak ada yang bisa aku katakan juga!" gerutu Samuel membuang mukanya. Aku berbisik kearah Fadil dan Fadil langsung membuka rantai di tangan Samuel lalu Fadil pergi meninggalkan kami berdua.
"Baiklah hanya kita berdua dan kamu tidak mau mengatakan apapun?"
"Tidak!" gerutu Samuel membuka matanya.
"Kamu masih saja sombong seperti saat dulu ya Samuel." gumamku membuka handphoneku yang tiba-tiba berbunyi.
"Kamu masih ingat?" tanya Samuel terkejut.
"Yaah bagaimana aku tidak ingat kalau selama kita berpacaran, kita selalu saja berantem apapun masalahnya dan kau selalu menyombongkan diri tentang kehebatanmu kepadaku..." gumamku pelan, aku membaca pesan dari bawahanku tentang informasi yang di dapatkan bawahanku.
__ADS_1
"Oh..." gumam Samuel menundukkan wajahnya.
"Baiklah daripada aku membuang waktuku sia-sia, aku ingin bertanya sesuatu padamu.." gumamku beranjak dari tempat dudukku dan berjongkok di depan Samuel.
"Dimana ayahku berada?" tanyaku menatap Samuel serius.
"Aku tidak tahu."
"Benarkah? Kenapa kau menutupi dariku Samuel? Saat itu kau bilang kalau ada di bawah laut?" ucapku serius.
"Kan sudah aku jawab, kenapa kau tanya lagi?" gerutu Samuel kesal.
"Memang, aku hanya bertanya bawah laut mana?" tanyaku serius.
"Aku tidak tahu."
"Benarkah?"
"Ya, aku tidak tahu!"
"Masa kamu tidak tahu! Kamu orang kepercayaan Alan kan? Jadi beritahu aku!" protesku kesal.
"Tidak percaya ya sudah terserah!" gumam Samuel memainkan jari tangannya sambil menunduk ke bawah.
"Haish..." desahku memegang lembut kedua tangan Samuel yang membuat Samuel menatapku terkejut.
"Aku mohon padamu, beritahu aku Samuel!" ucapku memohon kepada Samuel.
"Ka.. kamu...hmmm kenapa kamu sampai memohon padaku?" tanya Samuel pelan.
"Aku ingin menyelamatkan ayahku, aku hanya punya ayah aja Samuel...aku merindukan ayahku, walaupun aku tahu kamu sangat membenci ayahku tapi dia ayahku satu-satunya Samuel, aku ingin..."
"Percuma saja, ayahmu pasti sudah mati sekarang."
"Kau menangkapku dan Alan pasti sangat kesal dan membunuh ayahmu yang ada di tangannya."
"Apa kamu yakin?" tanyaku tidak percaya.
"Tidak yakin sih, cuma mungkin saja... tanyakan sendiri pada Alan..." gumam Samuel menekan tombol di anting miliknya.
"A...apa?" ucapku terkejut.
"Ohh hebat juga kamu bisa menangkap orang kepercayaanku ya Sani..." ucap seseorang dari anting yang dikenakan Samuel. Tiba-tiba anting itu memancarkan cahaya yang membuatku bisa melihat wajah Alan dengan langsung.
"Ka...kamu..." gumamku terkejut, tidak aku sangka Samuel membawa alat di tubuhnya.
"Eehh kamu kenapa terlihat terkejut seperti itu? Kau pasti tahu apa kelebihanku, benarkan? Tapi tidak aku sangka, aku tidak bisa melacak keberadaan orang kepercayaanku saat ini..." gumam Alan santai. "Oh astaga, benar-benar tidak sesuai ekspektasiku!" gerutuku dalam hati, berulang kali aku menggertakkan gigiku sambil memikirkan apa yang akan aku lakukan sekarang.
"Saking terkejutnya sampai menunjukkan wajah yang cantik seperti itu ya Sani..." gumam Alan santai.
"Huufftt tidak juga..." desahku melepaskan genggamanku dan mencoba duduk santai di depan Samuel.
"Tidak juga? Heeh kamu benar-benar cantik sampai-sampai Ray saja benar-benar mencintaimu dan tidak ingin melepasmu loh..." gumam Alan santai.
"Kalau iya kenapa?" ucap seseorang di belakangku, aku menoleh kebelakang dan melihat Ray yang berjalan kearahku.
"Ka...kak Ray?" ucapku terkejut.
"Aahh ternyata kau datang juga Ray."
"Kalau iya kenapa? Kau sudah kalah melawanku dan beraninya kau menyebut istriku cantik..." gerutu Ray merangkulku dari belakang.
"Heeh aku hanya mengatakan yang sebenarnya, lagi pula hanya Sani yang memiliki darah khusus yang sangat..."
__ADS_1
"Emang kau kira aku akan mengijinkan siapapun menyentuh istriku ataupun meminum darahnya? Heeh mimpi saja kau Alan!" gerutu Ray menggigit lenganku yang tadi memegang tangan Samuel.
"Ciiihhh akan ku rebut Sani dari tanganmu Ray!" gerutu Alan kesal.
"Merebut milikku ya...hahaha, sudah ku katakan berulang kali padamu kan. Apapun milikku tidak akan aku berikan kepada orang lain apalagi kepadamu!!" gerutu Ray dingin sedangkan Alan begitu terlihat sangat kesal.
"Alan...dimana ayahku?" gumamku yang membuat Alan dan Ray terdiam, namun tiba-tiba Alan tertawa kencang yang membuatku terkejut.
"Hahaha, untuk apa kau bertanya padaku."
"Dia ayahku! Untuk apa kau menahan ayahku!" protesku kesal.
"Untuk apa ya? Hahaha, tentu saja untuk...membalaskan dendamku dan juga untuk merebutmu gadis kecil."
"Merebutku? Untuk apa kau ingin merebutku!" gerutuku kesal.
"Untuk apa ya... mmmm tentu saja demi darah khususmu."
"Heeeh jangan mimpi kau Alan!" gumam Ray dingin.
"Mau mimpi atau tidak itu tergantung, lagi pula tidak dapat darah Sani tidak masalah bagiku yang terpenting dendamku benarkan pak tua..." gumam Alan menarik rambut seorang pria tua di sampingnya dan aku terkejut melihat pria tua itu adalah ayahku.
"A...ayah..." ucapku terkejut.
"Baiklah waktumu satu menit pria tua!" gerutu Alan mengarahkan senjatanya kearah ayah.
"Sa...Sani...syukurlah kamu masih hidup anakku..." gumam ayah tersenyum kearahku. Setelah beberapa tahun tidak bertemu ayah membuatku terkejut dengan penampilan ayah yang sangat kurus kering dan rambut yang mulai memutih.
"Ayah, Sani akan membebaskan ayah. Katakan dimana ayah sekarang...Sani akan menyelamatkan ayah!!" ucapku menatap wajah ayah serius.
"Tidak perlu anakku, melihatmu bisa tubuh dewasa dan sekarang berada di tangan Ray membuat ayah sangat lega..."
"Ayah...Sani akan menyelamatkan ayah, Sani berjanji pada ayah!!" ucapku serius tapi ayah hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum kearahku.
"Tidak Sani, teruslah hidup anakku. Kamu pasti penasaran dengan rahasia keluarga bukan? Soni akan menjelaskannya padamu, dia tahu semuanya oh ya jadilah ibu yang baik untuk anakmu jangan lupa teruslah kuat anakku, ayah percaya padamu."
"Ayah...kenapa ayah berkata seperti itu?" tanyaku pelan.
"Waktu ayah tidak lama anakku, bisa melihatmu untuk terakhir kali membuat ayah sangat lega."
"Tidak ayah, ayah harus tetap hidup!!"
"Kamu yang harus tetap hidup anakku, anggap saja kematian ayah sebagai pembalasan atas semua kesalahan ayah anakku..." gumam ayah tersenyum manis, terdengar suara letupan pistol yang terdengar sangat keras dan terlihat ayah yang berdarah di depan mataku membuatku terkejut.
"Uuuppsss sengaja..."sindir Alan dingin yang membuatku benar-benar terkejut.
"A...ayah..." ucapku pelan, melihat orang yang aku cintai mati di depan mataku untuk kedua kalinya membuatku benar-benar marah.
"Kau benar-benar keterlaluan Alan!" protes Soni kesal.
"Hahaha lalu kenapa? Apa urusannya denganku? Aku hanya membalas dendamku saja."
"Beraninya kau membunuh ayahku!!" teriakku kesal.
"Lalu apa? Kau dendam padaku? Hahaha, kalau kau dendam... ku tunggu kehadiranmu gadis cantik..." gumam Alan dan cahaya di anting Samuelpun menghilang sedangkan aku hanya terdiam sambil menundukkan kepalaku.
Dendam memang benar-benar membuatku sangat dendam, ingin sekali aku membalas dendam kematian ayahku. Kepalaku benar-benar sangat sakit tapi aku harus membalaskan dendam ini.
"Sani..." ucap Soni menatapku serius, aku menatap Fadil di sebelah Soni dan ingin segera pergi ke markas Alan itu.
"Fadil mari kita..."
"Sani...Sani..." teriak beberapa orang kencang saat aku benar-benar terjatuh di lantai.
__ADS_1
Rasa sakit di kepalaku di tambah rasa sedihku yang sangat dalam membuatku penyakit lamaku kambuh, badanku terasa sangat lemas dan benar-benar tidak bertenaga, aku menutup mataku dan kembali pingsan.