Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 148 : Kerajaan Arre


__ADS_3

Setelah lama berjalan akhirnya kami sampai di sebuah bangunan yang berbentuk kerajaan, melihat bangunan itu membuatku sangat bingung dan juga terkejut. Aku tidak menyangka kalau Saputra ini merupakan putra mahkota kerajaan Arre yang ditakuti semua mafia.


"Selamat datang yang mulia..." ucap beberapa orang yang menunduk kearah kami.


"Apa kamar mereka sudah siap?" Tanya Saputra dingin.


"Sudah yang mulia!"


"Baiklah, Raelyn mana pembantu yang kamu inginkan?" Tanya Saputra pelan.


"Pembantu? tidak perlu, aku bisa melakukan apapun sendiri."


"Oh mmm baiklah, Caca... Cici tolong urusi dia..." gumam Saputra menurunkanku.


"Kan aku bilang tidak perlu!" Protesku kesal.


"Baik yang mulia..." ucap dua wanita serius.


"Mari kami antarkan anda tuan putri..." ucap dua wanita itu dengan sopan, dari wajah mereka terlihat kalau umur mereka berada di bawahku dan mereka benar-benar sopan


"Fadil, ikut denganku!" Ucap Saputra dingin dan Fadil mengikutinya sedangkan aku mengikuti langkah kaki dua wanita di depanku ini.


"Mmm ngomong-ngomong, nama kalian siapa?" Tanyaku pelan.


"Oh ya kami lupa memperkenalkan diri, saya Caca dan dia Cici... kami akan menjadi pembantu anda tuan putri."


"Pembantu ya? Aku tidak mau punya pembantu!" ucapku dingin.


"T-tapi tuan putri, jika anda menolak nanti yang mulia akan menghukum kami..." ucap dua wanita itu ketakutan.


"Menghukum kalian?" Tanyaku terkejut.


"I-iya tuan putri, pasti yang mulia akan menganggap kami gagal menjalankan tugas dan..."


"Kami akan dibunuhnya!" Ucap dua wanita itu ketakutan, melihat wajah mereka membuatku kasihan.


"Hmmm baiklah, tapi jangan panggil pembantu atau apapun dan anggap aku teman kalian apa kalian mengerti?" Ucapku pelan.


"Baik tuan putri!" Ucap dua wanita itu senang.


"Kalau begitu... mana Caca dan mana Cici?"

__ADS_1


Saya Caca dan dia Cici tuan putri... ucap wanita berpita merah pelan.


"Oh baiklah, salam kenal... aku Sani Shin atau Raelyn, kalian boleh memanggilku sesuka kalian."


"Raelyn? Tunggu, anda yang menyelamatkan yang mulia?"


"Aku tidak melakukan apapun..." gumamku pelan.


"Anda menyelamatkan yang mulia saat itu tuan putri, oh ya Ini kamar anda tuan putri..." gumam Caca membuka sebuah pintu di depanku.


"Hmmm baiklah aku mau mandi dahulu..." gumamku segera pergi ke kamar mandi, setelah mandi aku menatap leherku di cermin dan ternyata tanda di leherku menghilang.


"Menghilang? Bagaimana bisa?" Gumamku terkejut.


"Astaga benar-benar ajaib!" Teriakku kencang, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang kuat di luar kamar mandi.


"Tuan Putri! Tuan Putri tidak apa-apa?" Teriak Caca khawatir, aku segera membuka pintu kamar mandi.


"Eehh mmm ya aku tidak apa, tadi hanya ada serangga saja."


"Serangga? Dimana serangganya?"


"Mmm maaf jika kamar mandinya ada serangganya tuan putri."


"Tidak apa, aku tidak akan menyalahkan siapapun..." gumamku pelan.


"Mari saya sisirkan rambut anda tuan putri..." ucap Cici pelan, aku terduduk di depan meja rias dan Cici langsung menyisir rambutku.


"Oh ya boleh aku tanya sesuatu?"


"Tanya apa tuan putri?"


"Mmm kalau boleh tahu... kenapa Saputra memakai topeng?"


"Eehh mmm tapi... kami tidak berani menceritakannya tuan putri."


"Tidak apa, ceritakan saja."


"Tapi nanti yang mulia..."


"Tenang saja aku akan menjaga kalian berdua. Jadi ceritakan padaku! "

__ADS_1


"Ooohh mmm... yang mulia terkena kutukan tuan putri."


"Kutukan?" Tanyaku bingung.


"Benar! Setelah kejadian dimasa lalu itu, yang mulia tidak sadar selama bertahun-tahun dan sampai akhirnya yang mulia terbangun di usia dua puluh tahun. Saat sadar itu kulit yang mulia lama kelamaan menghitam dan berbentuk sebuah pola, melihat perubahannya membuat yang mulia depresi dan akhirnya menyembunyikan identitasnya dan juga kutukan di wajahnya dengan topeng wajah buatan..." gumam Cici pelan.


"Lalu?" Tanyaku penasaran.


"Lalu tuan muda menikah dengan seorang wanita yang wajahnya mirip dengan anda beberapa tahun yang lalu, awalnya pernikahan mereka sangat harmonis tapi semua berubah saat wanita itu mengetahui wajah asli yang mulia dan langsung bunuh diri terjun ke sungai depan kerajaan tuan putri..." icap Cici pelan dan aku hanya terdiam.


"Semenjak saat itu yang mulia sangat depresi dan tidak percaya siapapun, tapi suatu hari yang mulai melihat berita yang menyiarkan kesalahan besar yang anda lakukan membuat yang mulia berusaha mencari anda dan memutuskan memakai topeng hitam setelah kulitnya alergi menggunakan topeng buatan tuan putri!" aucap Caca serius.


"Oh mmm seperti apa kutukan itu?" Tanyaku penasaran.


"Hanya mirip seperti sebuah tato biasa tuan putri tapi disaat bulan purnama yang mulia bertingkah aneh dan harus mengerahkan seluruh orang yang ada di kerajaan ini menghentikan tingkah aneh yang mulia."


"Bulan purnama ya?"


"Ya benar tuan putri."


"Ohh terimakasih ya..." gumamku tersenyum manis.


"Sama-sama tuan putri, hari sudah malam anda bisa istirahat tuan putri..." gumam Caca dan Cici berjalan pergi.


"Bulan purnama ya..." gumamku mengambil ponselku dan mengecek kalender.


"Bulan purnama totalnya hari ini ya..." gumamku pelan dan meletakkan kembali ponselku.


"Kutukan ya? Apa seperti milik Sebastian?" gumamku penasaran.


"Tapi bagaimana bisa dia memilikinya..." gumamku pelan, disaat aku termenung sendiri tiba-tiba terdengar pintuku dikunci seseorang dari luar dan terdengar orang-orang di luar kamar yang berlarian seperti orang panik.


"Eeehh ada apa? Kenapa pintuku di kunci?" gumamku terkejut, aku membuka balkon kamar dan di bawah terlihat banyak orang yang berlari ketakutan, aku mengamati mereka dan terlihat seoramg pria yang penuh dengan darah menggigit satu persatu orang itu sampai pingsan.


"Siapa dia?" Gumamku penasaran, aku menatapnya serius dan ternyata pria itu adalah Saputra yang seperti sedang mencari darah dari orang-orang dibawah itu.


"Apa dia... membutuhkan darahku?" gumamku bingung.


"Tapi kenapa dia bersikap seperti itu?" gumamku pelan dan berusaha mencari jalan turun ke bawah.


"Astaga memang dia merencanakan ini agar aku tidak ikut campur apa!" gerutuku kesal, aku segera melompat ke balkon sebelah kamar dan turun melewati pohon di depannya. Walaupun bisa saja aku langsung turun menghentikan semuanya tapi aku ingin mengamati dahulu, takutnya bukan darahku yang dibutuhkan dan aku pastinya akan di omeli Fadil karena sikap bodohku lagi.

__ADS_1


__ADS_2