Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 110 : Kemarahan Soni


__ADS_3

Beberapa jam berlalu, Ray yang akan menemaniku tertidur malah tertidur disampingku. Di tempat tidur aku hanya menatap gelang yang aku pakai dan mencoba mengingat-ingat kenangan masa kecilku, tapi aku sama sekali tidak mengingat apapun tentang kakak kandungku.


Ceeekkrrreeekkk


Terdengar suara pintu terdengar keras di telingaku, aku berusaha terduduk tapi rangkulan Ray sangat kuat yang membuatku tetap bertahan di pelukan Ray.


"Kan sudah aku bilang, biarkan istriku istirahat dahulu!" ucap Ray dingin.


"Aku tahu, tapi dia..."


"Ayah! Ibu!" Teriak seorang anak kecil dengan kencang membuat aku dan Ray terkejut. Aku segera berlari dan menatap Pangeran yang digandeng Fadil.


"Eeehhh Pangeran?" gumam Ray terkejut.


"Kenapa Pangeran ada disini? Pangeran kemari dengan siapa?" tanyaku khawatir.


"Denganku..." ucap seorang pria di belakang Pangeran, aku mengangkat wajahku dan melihat Alvaro berjalan bersama dengan seorang pria tampan dan aku berpikir kalau pria tampan itu adalah Elvaro.


"Eehhh kakak?"


"Elvaro yang membawanya kemari, tidak aku sangka kau sudah punya anak Sani!" Ucap Alvaro dingin.


"Dia sudah punya dua anak tapi anak satunya meninggal dibunuh ayahnya sendiri dan ini anaknya dengan Ray bahkan saat ini Sani sedang hamil anaknya Ray..." jelas Fadil pelan.


"Anaknya Ray? Kenapa kalian menikah tidak undang kami!" Protes Alvaro serius.


"Mereka belum menikah resmi."


"Belum menikah tapi punya anak? Apa kau gila Sani?" Protes Alvaro kesal.


"A...aku..."


"Tunggu dulu, kalau ini anaknya dengan Ray lalu... anaknya yang meninggal itu anaknya dengan siapa?" tanya pria disebelah Alvaro


"Anaknya dengan Han tapi anaknya mati dibunuh Han atas perintah Tian..." ucap Fadil santai.


"Tunggu dulu! Han? Keluarga Li?" Tanya Alvaro terkejut.


"Yups benar sekali."


"Bagaimana bisa dia memiliki anak dengan Han?" Protes Alvaro kesal.


"Terkena obat perangsang... yaaah begitulah sama seperti yang Elvaro lakukan dengan gadis yang kau bunuh dulu..." ucap Soni dingin.


"APA!!!" teriak dua pria itu terkejut.


"Yaaahh begitulah, kau tahu kan apa yang dilakukan adikmu selama kau tinggal pergi dan apa kau berani menghukumnya seperti yang kau lakukan dengan gadis itu?" Ucap Soni dingin.


"Gadis itu? Maksud kamu Sania adik kandungmu yang dibunuh Alvaro saat itu?" Tanya Fadil terkejut.


"Ya benar, adik kandungku yang sekaligus mantan kekasih Ray di saat kanak-kanak." Soni menatap Alvaro dingin dan Alvaro hanya menghela nafas panjang sambil menatapku serius.


"Jadi, kau ingin aku menghukumnya seperti yang aku lakukan pada Sania dulu?" tanya Alvaro pelan.


"Menurutmu?" Ucap Soni dingin, "Sania? Dia adik kandung kak Soni? Kenapa aku baru tahu tentang hal itu ya?" Gumamku dalam hati.


"Baiklah kalau kau ingin aku melakukannya..." ucap Alvaro mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya padaku tapi tiba-tiba Ray mengeluarkan senjatanya dan mengarahkannya pada Alvaro.


"Jika kau berani menyakitinya, aku tidak akan memaafkan keluarga Shin pertama dan keturunan kalian berdua seumur hidupku!" Ucap Ray dingin.


"Lalu...kau ingin apa?"


"Dia istriku sekarang dan kau tidak berhak menyakiti atau bahkan..."


"Ini keinginan wakilmu sendiri bukan keinginanku!" Ucap Alvaro dingin.


"Kalau begitu... aku yang akan menghukumnya sendiri, dia milikku kau tahu!"

__ADS_1


"Itu tergantung bagaimana keputusan wakilmu."


"Kau kira kehilangan seseorang yang kau sayang mati di depanmu bisa kau terima?" Ucap Soni menatap Ray dingin.


"Lalu... apa yang kau inginkan?"


"Menurutmu?"


"Hmmm Fadil bawa Pangeran pergi dulu..." gumam Ray pelan.


"Ayah..."


"Pangeran ikutin paman Fadil dulu ya."


"Kemana ayah?"


"Mari kita beli es krim dulu Pangeran..." ucap Fadil menggandeng tangan Pangeran keluar kamar.


"Baiklah... apa yang kau inginkan Soni?" gumam Ray dingin.


"Kau tahu kan Sania dibunuh oleh mereka dan seharusnya kau..."


"Kau ingin aku membunuh Sani seperti mereka membunuh Sania?" tanya Ray serius.


"Ya, benar!"


"Kenapa kau tidak melakukannya sendiri?" Ucap Ray dingin.


"Kenapa aku yang harus melakukannya?"


"Kau yang masih dendam atas kematian Sania kan? Jadi lakukanlah sendiri."


"Tidak, aku tidak bisa melakukannya dan kau tahu akan hal itu!" Protes Soni menatap Ray serius.


"Kalau begitu bunuh aku jika kau tidak berani melakukannya kepada Sani."


"Apa kau gila Ray! Kau ketuaku tidak mungkin aku membunuhmu! Urusanmu dan jadwalmu sangat rumit dan padat aku tidak sanggup melakukannya sendirian kau tau!" Protes Soni menarik kerah pakaian Ray dengan kuat.


"Aaaahh lupakan!" Teriak Soni kencang dan pergi dari kamar dengan kesal. Aku yang masih bingung dengan apa yang terjadi saat ini hanya terdiam menatap ketiga pria tampan di depanku dengan tatapan bingung.


"Hmmm aku mau mandi dulu, jaga istriku..." gumam Ray berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


"Haish..." desah Alvaro pelan dan menghidupkan rokoknya di depanku.


"Ada apa kak?" Tanya pria di depanku pelan.


"Mmm tidak ada, oh ya kau belum berkenalan dengan dia..."


"Benar juga, oh ya aku Elvaro... kembaran Alvaro, senang bisa bertemu denganmu adik kecil."


"Oh mmmm a...aku Sani, mmm sepertinya kita tidak pernah bertemu ya?"


"Yups benar sekali, aku tidak pernah di keluarga Shin sejak kecil dan ya setelah lulus akademi aku memutuskan menjadi wakil ketua mafia Alvaro."


"Oh begitu ya..." gumamku pelan, Alvaro berjalan kearah balkon kamar dan Elvaro terduduk di depanku.


"Oh ya kamu pasti terkejut dengan kejadian barusaja ya? Mmm yaaah itu karena masa lalu saja."


"Masa lalu?" Tanyaku penasaran.


"Ya benar, sebenarnya aku tidak tahu apapun dan tidak salah apapun hanya saja karena kejadian itu membuat Soni, Alvaro, dan Ray bermusuhan... yah lebih tepatnya Soni dan Alvaro yang bermusuhan."


"Kejadian apa kak?"


"Kejadian yang kau alami dengan Han dan itu... aku juga mengalaminya dengan Sania."


"Be...benarkah?"

__ADS_1


"Ya, ceritanya panjang jika harus diceritakan sekarang."


"Tapi aku penasaran kakak!"


"Kita tunggu saja keputusan kakak pukul berapa pertemuan dilakukan kembali, takutnya ceritaku belum selesai harus terpotong karena pertemuan itu."


"Oh mmm baiklah kak..." desahku pelan.


"Padahal kau sudah memiliki anak tiga tapi kau masih terlihat sangat cantik adikku..."


"Benarkah? Memangnya aku terlihat masih cantik kah?"


"Ya, aku dengar kamu masih disukai banyak pria bahkan Han juga masih mencintaimu apakah itu benar?"


"Mmmm ya benar kak..."


"Ohh ngomong-ngomong berapa usiamu?"


"Aku masih dua puluh tahun kak."


"Benarkah? Kamu masih sangat muda, kalau umurmu segitu sekarang jadi diumur berapa kamu memiliki anak dengan Han?"


"Kalau itu... mmm tapi kak Elvaro jangan beritahukan siapapun ya..." gumamku pelan.


"Baiklah, jadi...."


"Aku dulu mengira kalau aku memiliki anak dengan Han itu umur sekitar delapan belas tahun tapi ternyata saat itu aku berumur lima belas tahun sesuai dengan surat DNA yang aku dapatkan saat itu..."


"Tunggu dulu! Lima belas tahun sudah memiliki satu anak? Apa kau gila?" Teriak Elvaro kencang yang membuat Alvaro terkejut, Alvaro berjalan masuk ke dalam kamar dan menatapku dingin.


"Kau! Haish siapa yang memberimu obat perangsang?" Tanya Alvaro menatapku dingin.


"Itu..."


"Keluarga musuh yang melakukannya!" Ucap Ray keluar dari kamar mandi.


"Keluarga musuh? Untuk apa mereka melakukannya!"


"Tentu saja ingin mempermalukan Sani, dia adalah satu-satunya wanita yang menguasai seluruh mafia tapi bukannya Sani dipermalukan tapi banyak yang bangga dengan Sani tapi Sani sendiri yang sering depresi bahkan ingin bunuh diri disaat dia sendirian..." gumam Ray santai.


"Tunggu dulu! Aku tidak pernah sekalipun ingin bunuh diri ya!!" Protesku kesal.


"Lalu, kau memiliki pemikiran segera membalah dendam dan ingin mengakhiri semua ini yang tertulis dalam buku diary kecilmu ini untuk apa?" Tanya Ray menunjukkan sebuah buku diaryku sejak kecil yang dia genggam erat.


"B-bagaimana kamu menemukan bukuku?" Tanyaku terkejut.


"Bagaimananya tidak penting tapi benar kan kau ingin melakukannya?"


"Hmmm benar, aku sudah depresi sejak kecil karena perilaku yang aku dapatkan sejak dulu sampai sekarang dan..."


"Dan kau tidak percaya kepada siapapun kecuali Fadil, benarkah?" Tanya Ray memotong pembicaraanku.


"Mmmm yah benar, bahkan aku dan kak Fadil memiliki rencana kami sendiri untuk menyelesaikan ini semua."


"Kalian berdua memiliki niatan bunuh diri?" Tanya Alvaro terkejut.


"Tidak juga, hanya sebuah rencana balas dendam saja. Kehidupan kami dari kecil sangat menyakitkan dan bagiku hanya Sani yang menjadi semangatku hidup dan semangatku untuk melakukan balas dendam atas kepedihan masa kecil kami...." gumam Fadil berjalan masuk bersama Pangeran.


"Aku lahir di keluarga yang berbeda, di keluarga besarku saat itu aku hanya dianggap kesialan dan akhirnya aku dijual oleh keluarga terpandang saat itu, mereka memang menyayangiku tapi aku disiksa dan dianggap tahanan rumah oleh mereka tapi walaupun begitu aku sangat menyayangi dan menghormati mereka. Saat perang mafia pertama, keluarga angkatku itu mati dibunuh oleh musuh dan menyisakan aku sendiri... dingin dan sendirian ditengah banyaknya mayat membuatku benar-benar ketakutan tapi untungnya saat itu Sani menolongku dan aku bersumpah akan menjaga Sani diseumur hidupku!" Jelas Fadil serius dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Oh mmm lalu apa sebenarnya rencanamu?" Tanya Ray serius.


"Kalau itu... Rahasia... sudahlah sebaiknya kalian segera mengikuti pertemuan, banyak ketua mafia yang memprotes keputusan Alvado memundurkan pertemuan penting itu..." gumam Fadil berjalan pergi bersama Pangeran.


"Oh baiklah..." desah Alvaro berjalan pergi.


"Kak Elvaro nanti ceritakan padaku ya...." gumamku pelan.

__ADS_1


"Oke tenang saja...." gumam Elvaro berjalan pergi.


Ray menggandeng tanganku dan memapahku berjalan keluar kamar, aku tidak tahu bagaimana dan seperti apa kejadian asa itu yang membuat Soni, Ray dan Alvaro bisa bermusuhan dan lagi aku penasanran tentang siapa yang merencanakan memberiku obat perangsang di saat aku remaja dulu, benar-benar aku harus mencaritahunya saat ini.


__ADS_2