Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 96 : Persiapan Ke Pesta


__ADS_3

Suara dengkuran keras terdengar di telingaku, aku membuka mataku yang ternyata Ray menyelimutiku dengan selimut tebal dan Ray yang tertidur sambil terduduk di atasku. Dia terlihat begitu lelah sehingga dengkurannya terdengar keras, aku mencoba menggerakkan tanganku yang masih terasa kaku tapi untungnya sudah bisa aku gerakkan dengan pelan. Aku terduduk di sebelahnya dan membaringkan tubuhnya di kakiku lalu menyelimutinya sambil terus mengusapnya lembut.


"Sani!" ucap Fadil menatapku serius.


"Ada apa?" tanyaku pelan.


"Kamu sudah sembuh?"


"Ya, lumayan. Ada apa?"


"Tidak ada apapun..." gumam Fadil memberikanku sebuah kertas dan aku langsung membacanya.


"Acara itu tidak jadi kemarin?" tanyaku pelan.


"Tidak, acaranya diundur oleh guru."


"Oh, lalu apa yang kamu maksud menyelamatkannya dan..." tanyaku pelan.


"Disana akan ada banyak wanita yang akan berusaha merebut Ray. Memang Ray mencintaimu tapi ini wilayahnya dan banyak wanita yang mencintainya dan berusaha menjebak Ray di acara pesta itu untuk merebut Ray, alasan kamu diajak ke pesta itu oleh Ray karena para wanita itu tapi malah dia melukaimu yang membuatku kesal!" gerutu Fadil dingin.


"Oh lalu tentang ini?" gumamku menunjukkan beberapa gambar barang di kertas itu.


"Itu tugas dari guru, guru meminta kita untuk mencari itu di dalam pesta dan menangkap beberapa orang yang menjadi mata-mata di pesta ini. Semoga kau bisa melakukannya setelah terkena racun dari Ray itu!"


"Ya, tenang saja. Yang penting kamu cari tahu siapa saja mereka..." gumamku pelan.


"Baiklah, jangan khawatir. Oh ya nanti ada pertemuan dan kamu diundang sekalian ke pertemuan mafia elite. Di pesta ini banyak hal yang tidak terduga Sani jadi kamu harus selalu hati-hati..." gumam Fadil berjalan pergi.


"Baiklah aku mengerti..." gumamku pelan, aku mengabari semua bawahanku tentang tugas itu dan untungnya bawahanku mengerti akan hal itu sehingga membuatku tenang.


"Oh mmm..." desahku memejamkan kedua mataku dan merasakan angin laut di pagi buta yang terasa dingin.


"Sayang..." gumam Ray menatapku dengan mata sayunya.


"Iya, ada apa kak Ray..."


"Kenapa aku bisa tidur di kakimu? Apa kamu yang memindahkanku saat aku tidur?"


"Ya."


"Kenapa kamu melakukannya?"


"Hanya ingin saja."


"Hmmm..." desah Ray menggenggam erat tanganku dan sesekali mencium tanganku.


"Ada apa kak Ray?"


"Tidak ada, mmm maaf aku sangat lelah jadi aku hanya menyelimutimu dan tidak bisa membawamu pergi dari sini."


"Tidak apa, aku tidak keberatan."


"Kamu mau memakai selimut ini?"


"Tidak, pakai saja."


"Tapi tanganmu dingin!"


"Tidak apa pakai saja kak Ray..." gumamku pelan.


"Hmmm...sayang..."


"Iya kak Ray, ada apa?"


"Tidak ada, aku hanya memanggil saja.." gumam Ray pelan dan aku kembali memejamkan mataku.

__ADS_1


"Mmm sayang..." gumam Ray pelan, aku membuka kedua mataku dan menatap Ray.


"Iya, ada apa kak Ray?"


"Mmm tidak ada..." ucap Ray dan aku kembali menutup mataku.


"Mmm sayang..." gumam Ray lagi.


"Ada apa?"


"I love you..."


"I love you too..." gumamku pelan.


"Sayang..." gumam Ray terus menerus memanggilku.


"Ada apa kak Ray? Kalau ada sesuatu katakan saja..." gumamku membuka mataku dan menatap Ray serius.


"Mmm nanti di pesta akan ada banyak wanita yang menggangguku, aku takut kamu marah lagi padaku."


"Ya aku tahu, tenang saja. Aku akan melindungimu."


"Tapi kan..."


"Tidak perlu khawatir sayang, kamu milikku aku terikat denganmu tidak mungkin aku membiarkan milikku di rebut orang lain lagi!" ucapku serius.


"Oohh mmm baiklah, aku lega mendengarnya..." desah Ray memainkan jariku.


"Apa kamu khawatir?"


"Ya aku khawatir apalagi aku kemarin melukaimu, aku takut kamu meninggalkanku...." gumam Ray pelan.


"Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sayang."


"Hmmm terimakasih sayang..." gumam Ray menutup matanya kembali.


"Pesta dimulai tepat pagi nanti sayang, tapi pertemuan nanti akan diadakan di malam hari, apa kamu akan ikut pertemuan juga?"


"Kalau kamu ikut maka aku juga ikut."


"Benarkah?"


"Ya, apa aku tidak boleh ikut?"


"Boleh... boleh banget!" ucap Ray senang.


"Kenapa kamu terlihat senang?"


"Ya, kamu akan tahu kenapa aku terlihat senang nantinya sayang..." gumam Ray menggenggam erat tanganku.


"Hmmm baiklah, matahari sudah muncul mari kembali kak Ray."


"Baiklah..." gumam Ray beranjak dan menggandeng tanganku pergi karena kakiku masih sedikit kaku yang aku terjatuh.


"Eeh sayang!!" teriak Ray berjongkok didepanku sambil menatapku terkejut.


"Kamu tidak apa?"


"Eehh mmm tidak, maaf kakiku dan tanganku masih kaku."


"Oh mmm kenapa kamu tidak bilang sayang..." gumam Ray menggigitku dan memelukku erat.


"Maaf ya sayang membuatmu...menderita..." gumam Ray pelan.


"Tidak apa kok..." ucapku mencoba menggerakkan tanganku dan ternyata sembuh dengan cepat.

__ADS_1


"Bagaimana bisa?" tanyaku terkejut.


"Ya racunku sudah menyebar di tulang dan sendimu yang membuat tangan dan kakimu kaku, apa sudah sembuh?"


"Ya sudah kok terimakasih."


"Oh mmm syukurlah..." desah Ray membalut kakiku dengan perban tipis.


"Mari sayang..." ucap Ray kembali menarikku pergi.


Di depan gedung besar aku melihat banyak tamu yang berlalu lalang dengan pakaian yang bagus, Ray menarikku melewati semak-semak yang merupakan jalan rahasia menuju ke arah sebuah kamar.


"Sayang mandilah dulu nanti gantian..." gumam Ray membuka pintu kamar.


"Baiklah, aku mandi dulu..." desahku segera pergi ke kamar mandi dan segera mandi, dua hari lebih tidak mandi benar-benar membuat kulitku terasa lengket.


Setelah mandi, aku segera memakai gaun yang telah disiapkan di ruang ganti dan kembali ke dalam kamar. Sambil menunggu Ray aku terduduk di sofa sambil meminum wiski di atas meja. Memikirkan rencana itulah yang aku lakukan saat ini untuk melaksanakan tugasku dari guru sekaligus menjaga Ray juga.


"Apa aku harus menggunakan rencana itu?" gumamku pelan sambil menatap botol wiski di tanganku.


"Sayang, kamu memikirkan apa?" tanya Ray menatapku bingung.


"Eehhh tid...tidak ada kok, aku sedang menunggumu..." gumamku menatap Ray yang hanya memakai celana pendek dengan kemeja yang belum di kancingkan.


"Benarkah? Apa kamu memikirkan rencana?"


"Tidak kok, aku benar-benar menunggumu..." gumamku beranjak berdiri dan mengancingkan kemejanya.


"Kenapa tidak mengancingkannya sekalian?"


"Aku memang sengaja agar kamu yang mengancingkannya hehehe.."


"Kamu ini ya ..." desahku menggelengkan kepalaku dan memeluknya erat.


"Mmm ada apa sayang?"


"Tidak ada, hanya ingin merasakan hangatnya tubuhmu."


"Hmmm kamu istriku dan kamu milikku hanya kamu yang boleh merasakan hangatnya tubuhku sayang."


"Ya, aku tidak mengizinkan siapapun menyentuhmu walaupun sejengkal saja. wajah ini...milikku, tubuh ini... milikku, dan kamu... selamanya milikku!" ucapku mengusap lembut wajah Ray sampai perut sixpack milik Ray.


"Yaaah semua milikmu dan kamu milikku seutuhnya. Kamu istriku seutuhnya sayang..." gumam Ray menciumku dan memelukku erat.


"Eheeemm bisa-bisanya ya kalian romantis saat ini!" gerutu Soni membuka kamar.


"Apaan sih!" gerutu Ray kembali menciumku.


"Kau sudah ditunggu tahu dipesta Ray!"


"Ya aku tahu..." gumam Ray terus menciumku tanpa henti.


"Hei kau terus menerus mencium adikku jangan sampai adikku kau racuni lagi Ray!!" gerutu Soni kesal.


"Aku tidak sengaja meracuninya, dia istriku...walaupun dia terkena racunku tapi tidak aku biarkan istriku mati Soni..." gumam Ray memakai celana panjangnya dan memakai Jas hitamnya.


"Sani adik kami yang berharga, kalau kau membuatnya menderita kami sebagai kakaknya tidak akan mengampunimu apalagi aku tidak segan akan membunuhmu walaupun kau ketuaku!" gerutu Soni kembali berjalan keluar.


"Yaaah aku tahu, kau boleh membunuhku jika aku membuatnya mati ditanganku. Aku juga merasa bersalah telah melukai istriku tapi...aku tidak akan membuatnya menderita apalagi Sani adalah istriku..." gumam Ray tersenyum kearahku dan aku hanya terdiam membalas senyumnya.


"Ternyata kakak masih kesal ya..." gumamku dalam hati.


"Sayang mari pergi, jangan jauh dariku ya..." gumam Ray menarik tanganku keluar kamar.


"Ya tenang saja suamiku..." gumamku mengikuti langkah laki Ray.

__ADS_1


Entah dia takut kepada siapa sampai aku harus turun tangan menanganinya apalagi mata-mata...siapa mata-mata yang dimaksud oleh guru Rendi, bahkan barang yang di inginkan guru Rendi benar-benar membuatku kerepotan, kalau tidak dibantu anggota mafiaku aku tidak yakin bisa melakukannya.


__ADS_2