
Selama semalaman aku hanya terduduk di tanah dan memainkan pasir di tanganku, rasa perih karena gigitan Rhys benar-benar tidak aku rasakan. Aku hanya melamun tentang apa yang harusnya aku lakukan untuk melakukan hidupku selama aku menjadi tahanan organisasi tertinggi.
Matahari yang menyengat tubuhku sama sekali tidak aku rasakan lagi, aku berjalan menuju ke sebuah sungai yang luas tidak jauh dari kota, aku merebahkan tubuhku di pinggir sungai dan menikmati hari yang cerah. Matahari mulai terbenam dan aku hanya melamun menatap matahari itu tanpa melakukan apapun.
"Kenapa kau masih ada disini?" ucap seorang pria di atasku, aku mengangkat wajahku dan melihat Rhys yang sedang terduduk di atas sebuah pohon.
"Lalu... aku harus kemana lagi? Aku tidak tahu wilayahmu, lalu kemana aku harus pergi?" Tanyaku kembali memejamkan kedua mataku.
"Ya kau kan pintar melarikan diri dan bersembunyi."
"Percuma saja kalau kau mengikatku dengan tanda di leher dan gelang yang kau berikan ini."
"Oh kenapa kau nampak pasrah? Padahal kamu tidak peduli dengan apapun."
"Aku berhutang budi padamu jadi aku masih melakukannya."
"Berhutang budi ya? Kau kira aku melakukan hukumanmu agar kau memiliki hutang budi padaku!"
"Tidak, bukan itu maksudku."
"Lalu?" Tanya Rhys dingin.
"Aku tidak peduli apa statusku bagimu hanya saja... aku hanya belajar jatuh hati dan jatuh cinta padamu, hanya itu."
"Jatuh hati dan jatuh cinta padaku setelah malam itu? Aku tidak yakin kalau kau akan jatuh hati dan jatuh cinta padaku."
"Yaah memang tapi aku hanya bisa berusaha saja..." gumamku pelan.
"Berusaha ya... kau memang sangat lucu Raelyn!"
"Memang, hidupku juga sangat lucu. Terkadang aku penasaran, bagaimana rasanya kalau senjatamu itu menusuk jantungku?"
"Apa kau benar-benar ingin aku bunuh?"
"Tentu saja, aku sudah lelah dengan hidup ini."
"Kalau begitu... lalukanlah!" Ucap Rhys melempar senjatanya kearahku.
"Apa kau yakin?" Tanyaku dingin.
"Kalau kau ingin ya lakukanlah!" Ucap Rhys menatapku dingin.
__ADS_1
"Oh baiklah..." gumamku mengambil senjata itu dan mengarahkannya ke jantungku. Belum sampai aku mengayunkannya, Rhys turun dan merebut senjata itu dengan cepat.
"Kau kira aku akan membiarkan tahanan organisasi tertinggi mati dengan mudah?" Ucap Rhys menatapku dingin.
"Lalu kau maunya apa?" Protesku kesal, Rhys mendekatkan wajahnya di depanku.
"Aku... ingin kau hidup menderita..." ucap Rhys dingin dan kembali berjalan pergi.
"Ya sudah lakukan saja sesukamu!" Teriakku kencang dan kembali memejamkan kedua mataku. Rhys menghentikan langkahnya dan kembali berjalan kearahku.
"Kau masih ingin disini?" Tanya Rhys berdiri di depanku.
"Lalu?"
"Kau tahanan organisasi tertinggi jadi kau harus ikut denganku!" Ucap Rhys menarik tanganku kuat dan melepaskannya dengan cepat yang membuatku terjatuh ke tanah.
"Dasar lelet, cepat! Atau aku akan meninggalkanmu!" Ucap Rhys berjalan pergi.
"Ciiihh menyebalkan! Awas kau!" Gerutuku kesal dan segera berlari mengejar Rhys yang berjalan jauh di depanku.
Di depan sebuah bangunan yang besar dan megah di depanku, tiba-tiba banyak orang yang bermunculan dan menundukkan badan mereka kearah kami.
"Yaah, oh ya bawa dia ke ruang itu!" Ucap Rhys dingin dan berjalan pergi.
"Baik tuan muda, mari nona saya antarkan anda..." gumam pria itu pelan dan berjalan mendahuluiku.
"Oh ya apakah anda nona Sani Shin?" Tanya pria itu pelan.
"Mmm ya."
"Oh mmm nampaknya tuan muda terlihat sangat marah, apa dia marah?"
"Yah dia marah padaku."
"Oh mmm anda harus sabar nona, memang tuan muda pria yang baik dan tanggung jawab tapi karena suatu hal tuan muda bersikap jahat dan bahkan dia suka menyakiti Siapapun bahkan pernah menyiksa tahanan dan siapapun sampai mati."
"Oh benarkah?"
"Ya nona, untung anda istrinya pasti anda tidak akan merasakan hal yang sama."
"Benarkah? Tapi aku sama sekali tidak yakin akan hal itu."
__ADS_1
"Nona tenang saja, tuan muda akan baik hati kepada anda tapi jika dilihat dengan tatapannya sepertinya akan membutuhkan waktu yang lama..."
"Benarkah? Lalu... apa yang membuatnya seperti itu?" Tanyaku serius, pria itu menghentikan langkah kakinya dan mendekatkan bibirnya di telingaku.
"Atas kematian orang tuanya yang dibunuh oleh... orang tua anda..." bisik pria itu terkejut.
"Di...dibunuh?" ucapku terkejut.
"Ya benar, tuan muda terus menolak dengan perjodohan kalian sampai akhirnya orang tua nona membunuh orang tua tuan muda sehingga tuan muda tidak bisa melawan kontrak kalian berdua."
"Kalau begitu kenapa dia..."
"Tuan muda hanya berusaha agar bisa mencintai anda tapi sepertinya akan sangat sulit untuk tuan muda lakukan apalagi anda juga melakukan kesalahan yang fatal..." gumam pria itu kembali berjalan mendahuluiku.
"Jadi... dia sama sekali tidak mencintaiku?"
"Tidak, lihatlah wajahnya yang sangat dingin dan terlihat sangat memendam sebuah dendam yang sangat dalam, tapi selain itu ada lagi yang membuat tuan muda sangat membenci anda..." ucap pria itu menatap Rhys yang sedang terduduk di sebuah kursi dengan Raivyes.
"Apa itu?"
"Karena kaluarga Shin menodainya saat kecil."
"Menodainya?"
"Ya gadis yang dibunuhnya waktu tuan muda kecil, semua keluarga besar tahu akan hal itu dan tuan muda benat-benar menderita sejak kecil. Tidak sampai disitu saja penderitaan tuan muda, tuan muda kehilangan harga dirinya dan orang tuanya yang membuatnya sangat hancur. Bisa menjadi hebat sekarangpun tidak mudah dilalui tuan muda apalagi perjuangannya sangat berbahaya dari kecil."
"Apa ada hal yang lainnya?"
"Ada, tapi saya tidak bisa menjelaskannya kepada anda... baiklah ini kamar anda, selamat beristirahat nona..." gumam pria itu menunjukkan sebuah pintu yang usang dan berkarat di lantai atas bangunan itu. Aku membuka pintu itu dan terlihat sebuah ruangan yang sangat kotor dan tidak terawat, ruangan ini tidak memiliki dipan ataupun lemari pakaian bahkan kamar mandinya benar-benar sangat kotor.
"Ciiihhh menyebalkan!" gerutuku kesal, aku mengambil sebuah tikar di pojokan dan menggelarnya di lantai yang kotor di bawahku, kalau Fadil tahu akan hal ini pasti dia akan marah besar tapi kebetulan Fadil sedang pergi menyelesaikan tugas dari tetua selama aku menjadi tahanan Rhys.
"Kenapa bisa ya ayah dan ibu membunuh orang tua Rhys? Apa hanya karena takut Rhys tidak menikahiku? Atau karena..." gumamku menatap langit-langit kamar yang gelap ini.
"Ayah dan ibu dendam karena kematian Lani?" gumamku pelan.
"Haaah membuatku bingung..." desahku pelan.
Saat aku melamun dan memikirkan kemungkinan yang terjadi aku merasa ada seseorang yang mengawasiku, aku sesekali menatap sebuah celah di antara pintu dan dinding. Disaat aku menatap celah itu aku melihat sebuah benda bundar kecil yang berwarna merah keunguan dan saat aku amati lebih dalam aku terkejut kalau benda itu adalah mata milik Rhys. Walaupun aku tahu tapi aku hanya terdiam dan berpura-pura tidak memperdulikannya.
"Haaahh aku ingin semua berakhir saat ini..." teriakku kesal dan kembali melamun menatap langit-langit kamar.
__ADS_1