
"Sani, katanya kamu ingin bertanya padaku. Apa yang kamu tanyakan?" Tanya Revaro menatapku serius.
"Eehh mmm oh ya kakak, kenapa benang merahku ini terhubung di dua pria. Apa mungkin jodohku di dua orang?" Tanyaku serius.
"Dua orang? Tidak mungkin dua orang adikku, kamu hanya mendapatkan satu jodoh!"
"Iihh kakak serius! Benang merah ini menghubungkan benang merah milik Sebastian dan Raechan!" Ucapku serius.
"Sebastian? Raechan? Tunggu Raechan? Maksudmu Rehan?" Tanya Revaro serius.
"Aku tidak tahu nama aslinya kakak, yang aku tahu dia Raechan wakil ketua organisasi tersembunyi saja."
"Iya, namanya Rehan! Dia yang membunuhku."
"Tunggu... apa?" Tanyaku terkejut.
"Ya, Rehan membunuhku dan Ryhan membunuh ibu. Itu kenyataannya Sani."
"Tapi kenapa... kenapa bisa?"
"Ryhan tidak terima kalau kamu menikah dengan Sebastian jadi dia membunuh ibu sedangkan Rehan membunuhku karena aku tidak rela kamu menikah dengan Rehan."
"T-tapi apa benar aku.. "
"Yaah kamu terikat pernikahan kontrak dengan dua pria itu sejak kecil. Ayah dan ibu yang melakukannya..." ucap Revaro serius.
"Ayah... Ibu? Kenapa ibu... kenapa aku di ikat di penikahan kontrak?" Tanyaku bingung.
"Bukan pernikahan kontrak tapi kawin kontrak, ayah dan ibu melalukan itu karena... kami takut akan masa depanmu anakku.. " guman ibu pelan.
"Takut? Kenapa ibu?"
"Kamu memiliki penyakit langka, apapun kami lakukan agar kamu bisa terus hidup dan diantara banyak pria hanya Rehan dan Sebastian yang memiliki penyakit langka sepertimu. Jadi ayah dan ibu sepakan mengikat mereka berdua denganmu."
"Tapi... kenapa harus dua-duanya ibu! Akukan..."
"Karena keegoisan ayah dan ibu. Ayah ingin agar Rehan yang menikah denganmu tapi ibu ingin Sebastian yang menikah denganmu."
"Tapi kenapa kakak tidak rela aku menikah dengan Rehan?" Tanyaku menatap Revaro serius.
"Karena... Rehan itu musuhku sejak dulu. Hanya karena itu."
"Rehan dengan kakak... seumuran?" Tanyaku terkejut.
"Ya Rehan sangat pintar dan licik, kami berteman baik dulu tapi karena suatu hal yang membuatku membencinya dan tidak rela kau menikah dengannya!" Ucap Revaro dingin.
"Kalau dengan Sebastian?"
"Dia menyiksamu seperti itu membuatku juga membencimya!" Ucap Revaro dingin.
"Tapi kakak... mereka berdua mengikatku..." gumamku menunjukkan tanda di leherku.
__ADS_1
"Ciiihhh kenapa mereka bodoh melakukan itu kepada adik kecilku!" Gerutu Revaro kesal.
"Lebih baik kau segera inkarnasi Revaro, hidup Sani benar-benar kacau sekarang..." ucap Sania serius.
"Kacau? Kenapa? Apa maksudnya?" Tanyaku bingung.
"Tanda dilehermu adalah tanda yang terlarang, jika tanda itu ada di lehermu pastinya kamu tidak bisa mencintai siapapun kecuali mereka berdua. Dan mungkin kamu bisa mengalami demam yang hebat karena tubuhmu tidak kuat menahan tanda terlarang itu!!" Ucap Sania menatapku serius.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" Tanyaku pelan.
"Saat ini ada pertarungan Sebastian dan Rehan, kamu harus menghentikannya Sani!" Ucap Sania serius.
"Aku? Kenapa harus aku?" Tanyaku bingung.
"Hanya kamu yang bisa menghentikan mereka berdua!"
"Aku tidak mau! Aku ingin disini dengan ibu dan kakak!" protesku kesal.
"Tapi anakku, disana masih ada ayah dan kedua kakakmu. Takutnya mereka berdua melukai ayah!" Ucap ibu serius, aku terdiam dan menatap Revaro di depanku.
"Tidak apa kembalilah, kakak berjanji akan menyusulmu agar bisa menjagamu adikku..." ucap Revaro pelan dan aku hanya terdiam menganggukkan kepalaku.
"Pejamlah matamu dan kau akan kembali sadar..." ucap Sania menutup kedua mataku, saat kedua mataku terbuka aku melihat sebuah ruang perawatan dan Fadil yang menatapku dengan tatapan terkejut.
"S-Sani, kamu sudah sadar? Astaga aku sangat khawatir denganmu!" Teriak Fadil senang.
"Kak... Kak Fadil? Ini... ini dimana?"
"Mmm dimana Sebastian?"
"Kenapa kamu mencarinya?" Tanya Fadil dingin.
"Itu..."
"Kau tidak perlu tahu! Biarkan saja dia! Kau hidup tersiksa seperti itu, kenapa kau tidak mengatakannya padaku! Protes Fadil kesal.
"Aku hanya tidak ingin merepotkanmu kak Fadil."
"Itu sama sekali tidak merepotkan Sani!! Kalau kau sakit seperti ini merepotkan tahu!" protes Fadil kesal.
"Yaah aku tahu kok, maafkan aku kak Fadil..." gumamku pelan.
"Haish ya sudah istirahatlah, aku akan membawakan makanan untukmu..." gumam Fadil pelan.
"Kak Fadil hidupkan televisinya dong!" Ucapku pelan.
"Baiklah..." gumam Fadil menghidupkan televisi dan meninggalkan ku sendiri.
"...Telah terjadi peperangan besar antara organisasi kemiliteran mafia dan organisasi misterius yang sangat hebat. Banyak orang yang tewas karena peperangan ini, tidak ada yang bisa melerai dua ketua organisasi saat ini..." Ucap reporter dengan liputan terkininya.
"Bertarung? Karena apa?" gumamku bingung, aku menatap dua pria yang muncul di televisi itu dan terlihat benar-benar pertarungan yang sangat hebat diantara keduanya.
__ADS_1
"Aku... bagaimana aku bisa melerainya..." gumamku pelan, aku menatap tanganku dan ternyata cabang benang merah milikku bertambah lagi menjadi tiga cabang yang membuatku terkejut.
"Tiga... cabang? Kenapa bisa terdapat tiga cabang?" Gumamku terkejut, aku melepas infusku dan berjalan kearah balkon benar-benar terlihat kalau tiga cabang itu berbeda letak bahkan cabang yang baru terlihat sangat jauh dari dua cabang lainnya.
"Siapa lagi pria di cabang ini..." gumamku pelan.
"Sani! Mau kemana kau!" Ucap Fadil menggenggam erat tanganku.
"Aku hanya..."
"Kau tidak boleh kabur dari sini!" Gerutu Fadil menarikku kembali ke dalam kamar.
"Kau tidak boleh kemanapun, apa kau mengerti!" Ucap Fadil menatapku dingin.
"Aku hanya diluar situ kak Fadil."
"Tidak boleh! kau masih pucat jadi tidak boleh pergi kemanapun apalagi melepaskan infusmu!" Gerutu Fadil kembali memasang infus di tanganku.
"Hmmm kenapa kamu tampak khawatir kak Fadil?" Tanyaku pelan.
"Yaaah ada sesuatu yang membuatku sangat khawatir."
"Sesuatu? Apa itu?" Tanyaku penasaran.
"Kau ingat pria yang selalu kau ganggu dulu?"
"Pria ? Dulu banyak pria kecil yang aku ganggu kak Fadil."
"Tau, maksudku... seseorang yang selalu bersamamu saat perang mafia dan kau pernah sekali menyelamatkannya tapi dia tidak sadarkan diri sampai akhirnya kau menghilang karena merasa bersalah padanya?" Tanya Fadil serius.
"Ohh mmm tapi aku tidak ingat kak Fadil."
"Masa kamu tidak ingat?"
"Aku benar-benar tidak ingat kak Fadil. Memangnya kenapa?"
"Yaah dia tersadar dari kritisnya dan dia ternyata Putra Mahkota dari kerajaan Arre."
"Kerajaan Arre? Apa itu?"
"Astaga! Itu loh kerajaan pemilik organisasi mafia terbesar di masa lalu, dan pria itu sangat misterius bahkan dia saat ini selalu menggunakan topeng hitam di wajahnya..." ucap Fadil menunjukkan foto lamaku dengan seorang pria, saat aku menatap pria itu ternyata dia pria yang pernah aku selamatkan dengan darahku tapi tidak berhasil menyembuhkannya, walaupun aku ingat tentang dia tapi aku lupa namanya.
"Topeng hitam, lalu kenapa kak Fadil khawatir?"
"Kita tidak tahu apa dia mengingatmu atau tidak, tapi aku takut kalau dia akan melukaimu saat tahu gara-gara kau dia harus kritis selama bertahun-tahun!"
"Aku? Kenapa gara-gara aku?"
"Kau tidak ingat? Karena kau pria itu tidak sadar Sani! Jadi kau harus tetap disini dan bersembunyi!" Ucap Fadil serius.
"Oh mmm baiklah..." desahku membaringkan tubuhku dan memejamkan kedua mataku lagi.
__ADS_1
Sejujurnya aku tidak tahu dan aku sangat bingung dengan apa yang terjadi tapi aku benar-benar penasaran dengan pria misterius itu mana tahu aku bisa mengingat disaat perang mafia dulu.