
"Sani, apa yang kau lamunkan?" Tanya Fadil mengagetkanku.
"Eehh mmm tidak ada kok."
"Kamu jangan berpikir aneh-aneh Sani!" Ucap Fadil menatapku dingin.
"Yaahh aku tahu kok, aku tidak berpikir apapun kak Fadil."
"Hmmm... ayo buka mulutumu, kamu harus makan!" Ucap Fadil mengarahkan sendok yang penuh dengan makanan ke mulutku, aku membuka mulutku dan Fadil menyuapiku dengan lembut.
"Mmm makanannya enak, apa kak Fadil yang masak?"
"Tentu, jadi kamu harus makan yang banyak biar cepat sembuh!"
"Aku sudah sembuh kok kak Fadil."
"Haish kamu baru sadar kau tahu!"
"Hmmm oh ya kak Fadil bolehkah aku bertanya?"
"Bertanya tentang apa?" Tanya Fadil serius.
"Kak Fadil kenal dengan pria yang bernama Revaro?"
"Revaro ya? Kenal, tapi tidak kenal dekat. Bagaimana kamu tahu tentang Revaro?" Tanya Fadil terkejut.
"Mmm benarkah? Revaro itu pria seperti apa?"
"Revaro ya? Entahlah, dia tidak pernah datang ke keluarga Shin. Dia lebih memilih pergi mengurusi mafianya dari pada keluarganya, tapi entah kenapa saat dia pulang ke keluarga Shin dan disaat itu juga ibumu dan dia terbunuh oleh Rehan dan Sebastian."
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
"Bagaimana kau tahu tentang Revaro?"
"Yaaah hanya kebetulan mendengar nama itu saja kak Fadil."
"Oh mmm ya Revaro itu kakak kandungmu bisa dibilang anak pertama di keluarga Shin, tapi setelah kematian dia dan ibumu... kedua kakakmu dan ayahmu menyembunyikan keberadaan mereka darimu dan aku tidak boleh menceritakannya padamu."
"Kenapa?" Tanyalu penasaran.
"Entah, aku tidak tahu. Aku hanya wakilmu dan hanya berusaha melindungimu seperti sumpah setiaku saja..." gumam Fadil berdiri di sampingku.
"Kak Fadil, terimakasih ya sudah menjagaku selama ini..." gumamku pelan, Fadil mengusap rambutku lembut dan tersenyum kearahku.
"Tidak masalah, kamu sudah aku anggap adik kandungku jadi aku akan menjagamu layaknya seorang adik dan kakak..." gumam Fadil tersenyum kearahku dan berjalan pergi.
"Hmmm..." desahku pelan, aku kembali menatap benang merah di tanganku. Tiga cabang itu terus bergerak seperti mengikuti kemana pemilik benang itu pergi.
"Siapa ya pemilik benang merah yang terhubung denganku itu?" Gumamku pelan.
"Apa yang kamu pikirkan Sani?" Tanya Fadil menatapku bingung.
"Eehh mmm tidak ada kak Fadil."
"Benarkah?"
"Yaaah aku tidak memikirkan apapun..." gumamku pelan, tidak lama kemudian seorang pria berjas putih masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Permisi..."
"Eehh dokter, ada apa dokter?"
"Saya ijin mengecek noma muda, tuan!"
"Oh baiklah silahkan..." gumam Fadil berdiri di sampingku dan dokter mulai memeriksakanku.
"Bagaimana dok?"
"Nona muda sangat sehat, ini benar-benar sungguh ajaib!" Ucap dokter serius.
"Sehat? Kan dia baru sadar?" Tanya Fadil bingung.
"Ya benar tuan! Tapi denyut nadi, darah dan semuanya diatas normal..." dokter melepaskan kembali infus di tanganku dan memberiku obat.
"Kalau begitu, apa aku boleh pulang dokter?" tanyaku pelan.
"Tentu nona muda, tapi anda harus meminum obatnya rutin!" ucap dokter serius.
"Baik dokter!" Ucapku senang.
"Baiklah saya permisi dulu nona muda..." gumam dokter itu berjalan pergi.
"Yaahh syukurlah kamu bisa langsung pulang Sani, biasanya kau harus berbulan-bulan menginap di rumah sakit."
"Kan aku udah bilang kalau aku baik-baik saja kak Fadil..." gumamku pelan.
"Oh ya kak Fadil, bagaimana dengan tugasmu kak Fadil?" Tanyaku serius.
"Mengganggu? Mengganggu bagaimana kak Fadil?"
"Yaaah dimanapun tugasku selalu dia dan kedua wakilnya ada di tempat dimana aku berada yang benar-benar menghambatku!" gerutu Fadil kesal.
"Ohhh benarkah? Hmmm memangnya dia mengganggumu kak Fadil?"
"Tentu saja! Kalau aku ketahuan bisa-bisa aku dijatuhi hukuman sama sepertimu!"
"Eehh memangnya kenapa?"
"Kerajaan Arre sangat menentang organisasi manapun dan pastinya tugas apapun di suatu organisasi tetap salah dimata kerajaan Arre!" Ucap Fadil dingin.
"Oh begitu ya... hmmm Kak Fadil, aku ingin meminum coklat panas."
"Dimana?" Tanya Fadil bingung.
"Di dimanapun boleh, aku tidak tahu wilayah organisasi misterius."
"Kita sudah keluar dari wilayah Sebastian."
"Oh benarkah, kalau begitu dimanapun boleh lah..." gumamku pelan.
"Baiklah, mari pergi..." gumam Fadil menggenggam erat tanganku dan berjalan pergi keluar dari rumah sakit.
Di kota ini terlihat benar-benar ramai, banyak orang yang menghabiskan waktu di taman. Aku menatap ponselku dan ternyata hari ini adalah hari minggu, pantas saja banyak orang di taman ini.
Disaat aku berjalan bersama Fadil, di depanku sedang berjalan seorang pria dengan satu wanita dan satu pria disampingnya. Awalnya aku tidak peduli tapi tatapan mata dingin dan menggunakan topeng hitam yang menutupi sebagian wajahnya membuatku penasaran, siapa pria itu?
__ADS_1
"Apa yang kau lamunkan Sani?" Ucap Fadil menatapku serius.
"Eehh mmm tidak ada, kakak bisa tidak kalau di luar memanggilku Raelyn saja, aku malas bertemu orang-orang menyebalkan."
"Oh baiklah, apa kamu capek?"
"Tidak kok kak, tapi apa masih jauh?" tanyaku pelan.
"Tidak, itu tempatnya... mari pergi Raelyn!" Ucap Fadil kencang disaat aku berpapasan dengan pria itu, disaat namaku disebut pria itu menghentikan langkahnya di belakangku, walaupun aku tidak melihatnya tapi terdengar suara langkah kaki berat yang berhenti di belakangku.
"Dimana kak Fadil?" Tanyaku pura-pura polos.
"Di kedai itu aku dengar sangat enak makanannya!" Ucap Fadil menunjuk ke suatu kedai makanan di pinggir jalan. Aku menoleh sekitarku dan berpura-pura mengamati sekitar, disaat aku menoleh kebelakang aku melihat pria tadi menatapku dengan tatapan terkejut, aku tidak tahu kenapa tapi terlihat dia benar-benar terkejut melihatku.
"Oh benarkah? Bolehlah."
"Baiklah mari pergi Raelyn!" Ucap Fadil menarikku pergi ke kedai yang dimaksud. Dikedai itu Fadil memesankan beberapa makanan sedangkan aku terduduk di pinggir jendela lantai dua sambil menatap orang-orang yang berlalu lalang di depan kedai. Disaat aku asik menikmati ketenangan ini, aku terkejut mendengar beberapa orang berjalan ke lantai dua ini. Aku sedikit melirik orang-orang itu dan ternyata pria bertopeng tadi berjalan kelantai dua sambil membahas sesuatu yang tidak aku mengerti.
"Siapa sih dia?" Gumamku pelan dan kembali menatap keluar jendela.
"Raelyn ini makananmu!" Ucap Fadil meletakkan beberapa makanan diatas meja.
"Oh terimakasih kak Fadil."
"Kamu yakin tidak makan?"
"Tidak kak Fadil...." gumamku meminum coklat panas itu.
"Oh ya, kapan hari itu tetua memberikanmu ini..." gumam Fadil memberikanku secarik kertas.
"Apa ini?" Tanyaku membaca kertas itu.
"Itu beberapa tugas yang.."
"Uuhhuukk..uuuhhuukkk..." aku langsung berpura-pura terbatuk untuk menghentikan ucapan Fadil.
"Eehhh kamu kenapa Raelyn?" Tanya Fadil terkejut.
"Eeee mungkin penyakitku kambuh."
"Kalau begitu mari kembali ke rumah sakit!"
"Tidak perlu kak Fadil! Aku tidak apa!" gumamku dingin dan kembali meminum coklat panasku.
"Haish kamu masih saja tidak mau jika ke dokter, setelah ini kamu harus istirahat total, kamu baru keluar dari rumah sakit!" ucap Fadil dingin.
"Baiklah, aku mengerti kak Fadil..." gumamku menatap benang merahku dan aku terkejut saat melihat salah satu cabangnya menyamping dan terhubung dengan benang merah milik pria bertopeng itu.
"Sebenarnya siapa pria itu ya?" Gumamku dalam hati bingung.
"Raelyn mari pergi!" Ucap Fadil menarikku pergi.
"Kemana?" tanyaku bingung.
"Wajahmu sangat pucat, kamu harus istirahat total!" Ucap Fadil dingin dan terus menarikku pergi.
Aku benar-benar tidak mengerti siapa pria itu dan kenapa dia terlihat mengikutiku dari tadi setelah Fadil memanggilku nama mafiaku, aku sama sekali tidak mengerti tapi yang membuatku lebih terkejut saat tahu benang merahku terhubung dengan pria itu yang membuatku sangat bingung.
__ADS_1