
Di pertemuan ini begitu sangat terlihat tatapan dingin dan menakutkan terasa sampai ketulang, suasana di pertemuan malam ini benar-benar terasa berbeda dengan pertemuan sebelumnya. Keluarga musuh? Keluarga dari mana sebenarnya yang memiliki niatan untuk mempermalukanku di masa dulu? Kenapa mereka melakukannya? Hanya itu yang aku pikirkan sekarang ini.
Selama pertemuan ini Fadil yang memberikan keputusan bahkan saranpun Fadil yang memberikannya sedangkan aku hanya terdiam sambil memainkan jari tanganku. Aku tidak mengerti pertemuan ini membahas tentang apa, aku membaca setumpuk berkaspun masih tidak aku mengerti sama sekali. Aku menghela nafas panjang dan menatap sekitarku, aku mencoba mengamati satu persatu ketua mafia yang hadir di pertemuan kali ini. tepat di atas kami aku melihat dua orang asing yang memakai jubah hitam dan terduduk santai di sela-sela jendela di atas kami.
"Ada apa sayang?" tanya Ray menatapku serius.
"Mmm tidak ada."
"Apa kau memikirkan sesuatu?"
"Tidak juga sih, eehhh mmmm ada sih. Tapi nanti saja..." gumamku pelan, aku menatap dua orang asing itu serius tapi aku sama sekali tidak mengenal mereka.
"Tentang apa?"
"Banyak hal."
"Salah satunya apa?" Tanya Ray menatapku serius.
"Nanti saja aku tidak ingin membicarakannya saat ini..." gumamku berdiri di samping Ray dan duduk di mejaku dengan santai.
"Mmmm nona muda bisakah anda duduk kembali di kursi anda?" ucap pria tua di depanku tapi aku hanya terdiam memainkan senjataku.
"Sayang ada apa?" Tanya Ray serius.
"Tidak ada, hanya saja penasaran... memangnya kalian berdua tidak ada kerjaan ya selain menguping pembicaraan orang lain?" Gumamku santai sambil menatap dua orang asing di atasku itu, tiba-tiba dua orang asing itu turun tepat di depanku yang membuat kami semua terkejut.
"B-bagaimana bisa ada penyusup di pertemuan kali ini!" Teriak pria tua di depanku dengan terkejut.
"Ternyata kau sangat hebat ya Sani Shin..." ucap seorang pria di salah satu orang asing di depanku.
"Tidak juga, hanya kebetulan saja."
"Tidak ada yang namanya kebetulan kau tahu!"
__ADS_1
"Ada, di hidup ini banyak sekali kebetulan. Ngomong-ngomong siapa kamu?" Tanyaku memainkan senjataku dengan santai.
"Lebih baik kau tidak tahu."
"Kalau aku tidak tahu sedangkan kau tahu nama aku kan namanya enggak adil, benarkan?"
"Adil atau tidak itu tidak pernah kau permasalahkan bahkan kau tidak pernah adil dalam hal apapun benarkan?"
"Dalam hal apapun ya? Haah apa yang kau tahu tentangku?" Ucapku dingin, pria di depanku mengeluarkan senjatanya dan tertulis mafia pusat Amerika yang membuatku terkejut, aku menggenggam erat senjataku dan menatap pria itu dingin, melihat senjatanya membuatku teringat kalau pria itu adalah Fiyoni ketua mafia pusat Amerika. Aku sebenarnya tidak membencinya tapi dia juga ikut membunuh anakku yang membuatku benar-benar membencinya, tapi aku sendiri tidak yakin kalau pria itu Fiyoni.
"Waahh nampaknya kau mengingat aku siapa ya..."
"Untuk apa kau datang kemari?" Tanyaku dingin.
"Menurutmu?" Gumam pria itu melempar sebuah gulungan dan aku benar-benar terkejut dengan isi gulungan itu.
"K-kau! Kau masih saja menyebalkan!" Teriakku kesal dan langsung menyerang pria itu.
"Hahaha hanya dengan itu saja kau bisa terlihat marah ya."
"Kau kira hanya Satria? Pria kecil disana juga loh!" Ucap pria itu menunjuk ke belakangku, aku menoleh kebelakang dan melihat Pangeran yang berdiri di pintu ruang pertemuan dengan luka di sekujur tubuhnya.
"Pangeran!!!" Teriakku terkejut dan langsung segera berlari ke arah Pangeran.
"I-ibu..."
"Astaga Pangeran tidak apa?"
"T-tidak kok ibu..."
"Pangeraan!! Panggil dokter!!" Teriak Ray terkejut dan banyak bawahan Ray yang sibuk menelepon dokter tepat di tengah malam ini.
"K-Kau apa yang kau inginkan sebenarnya!" Protesku kesal
__ADS_1
"Hahaha aku? Kau kira aku yang memiliki niat melakukan semua ini? Tuan X yang menginginkannya dan juga menginginkan kau dan keturunanmu segera mati!" Ucap pria itu dingin yang membuatku sangat kesal.
"Kalau kalian ingin membunuhku bunuh saja kenapa harus lukai orang yang penting bagiku!" teriakku kencang.
"Hanya membunuhmu? Hah benar-benar tidak seru Sani, melihatmu menderita benar-benar menyenangkan loh Sani Shin..." gumam pria itu sedikit membuka sebuah benda di wajahnya dan ternyata pria itu memakai topeng. Saat topeng itu terbuka sedikit, aku melihat sebuah mata merah darah dengan sebuah anting panjang yang dia pasang di telinga kanannya. Melihat sedikit ciri-ciri pria itu membuatku semakin tidak percaya kalau dia Fiyoni tapi siapa dia sebenarnya?
"S-siapa kamu?" Tanyaku pelan tapi pria itu hanya tersenyum dingin dan memakai topengnya kembali.
"Siapa aku atau siapa identitasku saat ini tidaklah terlalu penting, tapi ingatlah... aku sangat menyukai penderitaanmu Sani Shin..." Ucap pria itu dingin dan dua orang asing di depanku itu langsung pergi menghilang.
"Aaaahhhh menyebalkan!!!" teriakku kesal.
"Sani tenanglah!" Ucap Fadil menenangkanku.
"Ayo bunuh saja semua mafia di dunia ini kak Fadil! Kenapa kau selalu mengatakan menunggu waktu yang tepat!!" Teriakku kesal.
"Hei kita tidak tahu siapa musuh kita apalagi pria asing tadi lagi pula kita harus menyelamatkan Pangeran!" Ucap Fadil serius yang membuatku terkejut.
"Benar juga, kita harus... uuhhhuuukkk...uuuhhuukkk..." tiba-tiba aku terbatuk dan terjatuh di lantai ruang pertemuan ini.
"Sani... apa kamu baik-baik saja?" Tanya Alvaro dan Elvaro bersamaan, aku hanya menggelengkan kepalaku dan terus terbatuk-batuk. Melihatku yang tiba-tiba terbatuk membuat Fadil mengambil gulungan kertas itu dan memeriksanya.
"Astaga itu tadi bubuk racun loh Sani!" Teriak Fadil menatapku serius dan aku hanya terdiam sambil terus terbatuk-batuk. "Siapa pria itu sebenarnya?" gumamku dalam hati.
Aku mengambil gulungan itu dan mencoba memeriksanya sendiri bubuk yang berwarna putih yang sudah menempel di dalam gulungan itu.
"Ini kan, bubuk khusus?" Gumamku dalam hati, aku mencoba memasukkan bubuk itu ke dalam sebuwh wadah dan aku simpan untuk aku periksa lebih jauh lagi.
"Kak Fadil, simpan bubuk itu ya... uuhhuukkk... uuhhuukkk"
"Sani kamu tidak apa-apa kan?" tanya Fadil khawatir saat melihatku terus terbatuk-batuk.
"Tidak, jaga Pangeran kak Fadil... aku lelah ingin istirahat sebentar..." gumamku pelan dan memejamkan kedua mataku.
__ADS_1
Sebenarnya efek bubuk itu hanya membuatku terbatuk saja, tapi tubuhku semakin lama semakin melemas yang membuatku hanya mengatakan lelah saja agar tidak membuat mereka merasa khawatir. Aku yakin bubuk yang ada di gulungan itu adalah bubuk khusus yang dimiliki mafia tertinggi untuk melemahkan musuh tapi untuk apa mereka memberikan bubuk khusus itu padaku dan siapa sebenarnya pria itu?