
Pertemuan yang awalnya berjalan lancar tiba-tiba berubah menjadi ricuh, banyak ketua mafia yang tidak setuju dengan pendapat ketua mafia yang lain sedangkan aku dan Sanjaya terdiam saling menatap satu sama lain dwngan tatapan dingin bahkan tanpa berkedip sama sekali.
"Kalau aku tetap dengan pendapatmu, mari kita bertarung saja!" teriak seorang pria kesal.
"Heeii sudah tenanglah!" teriak pembawa acara melerai beberapa ketua mafia yang bertengkar.
"Sani...Sani!!!" teriak Fadil mengagetkanku.
"Eeehh mmm ada apa?" Tanyaku menatap Fadil bingung.
"Tuhh targetmu mau kabur..." gumam Fadil menunjuk pria yang menjadi targetku itu, aku mengambil kertas di jubah Fadil dan melemparkan senjataku tepat di depan pria yang menjadi targetku itu.
"Astaga!!!" teriak pria itu yang membuat semua orang terkejut.
"Pertemuan belum selesai loh, kenapa buru-buru pergi..." gumamku dingin.
"A...aku ada urusan dan..."
"Urusan ya? Hahaha orang paling penting? Hahaha apa kau kira bisa membohongiku? Kau bisa membohongi semua ketua mafia tapi kau sama sekali tidak bisa membohongiku!" Ucapku dingin, aku berjalan kearah Alvaro dan duduk di depannya membaca catatan Alvaro.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku ya? Mencuri barang penting dari organisasi lain termasuk pelanggaran pasal 362 undang-undang mafia dan harus di hukum mati!" Ucapku dingin yang membuat pria itu terkejut.
"A...apa maksudmu?" Tanya pria itu terkejut.
"Kau mengambil barang penting organisasi misterius beberapa tahun yang lalu disaat kau memohon agar masuk ke organisasi misterius dan setelah mendapatkan barang penting itu langsung pergi menghilang selama beberapa tahun... ckckck..." gumamku dingin.
"Ka...kau jangan memfitnah kalau kau tidak ada bukti!"
"Benarkah? Kalau begitu... barang ini apa tidak termasuk bukti?" tanyaku menunjukkan barang yang di cari oleh bawahanku di tugas Sanjaya sebelumnya.
"Mana tahu orang lain yang mengambil barang itu! Kau jangan memfitnah!" Protes Ray menatapku dingin.
"Orang lain ya? Lalu apa bukti video dia mencuri itu tidak bisa dijadikan bukti?" Gumamku menunjukkan CCTV yang diambil bawahanku saat itu.
"K-kau...!!" Ucap pria itu segera berlari keluar, aku segera menjentikkan jari tanganku yang membuat pria itu terjatuh ke lantai.
"Kau bersalah tapi kau mau kabur? Apa kau gila melakukan itu?" Gumamku memberikan barang yang dibawa Alvaro sebelumnya kepada Sanjaya dan kembali terduduk.
"Tugasku sudah selesai, selanjutnya terserah kau mau apa..." gumamku dingin dan Sanjay memberi kode kepada bawahannya untuk membawa pergi pria itu.
"Sani, apa kau gila menjelaskan semua itu? Bisa menjelaskan sedetail tentang organisasi misterius pasti akan mencurigakan!" Ucap Fadil serius.
"Tenang saja, aku akan mengurusnya bila Sanjaya menanyakan hal itu..." gumamku pelan, aku mengembalikan kertas itu kepada Fadil dan meminum wineku sampai habis.
"Eehhh mmm ba...baiklah... kita lanjutkan pertemuan ini..." ucap pembawa acara pelan, aku kembali berdiri dan melangkah pergi.
"Aku tidak mau meneruskannya, aku capek..." gumamku dingin.
"T-tapi nona muda..."
"Disana ada wakil ketuaku jadi biar dia yang melanjutkannya..." gumamku pelan.
Belum sempat aku melangkah lagi, Ray melempar senjatanya kearahku dan dengan cepat aku menepisnya lalu berdiri di belakangnya sambil mengarahkan senjataku di lehernya.
"Eeehhh ce...cepatnya..." ucap semua orang terkejut.
"Oh ya kau kira aku selemah yang kau tahu selama ini? Haah kau salah besar Ray Khun... aku sebenarnya bisa saja membunuhmu tapi Sania memintaku untuk menjagamu jadi aku akan biarkan kau hidup kali ini...Jangan membuatku marah jika kau ingin hidup apa kau mengerti?" Gerutuku dingin dan Ray hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Bagus..." gumamku memasukkan senjataku dan kembali berjalan pergi. Aku berjalan menuju ke balkon kapal dan menatap matahari yang akan tenggelam di ufuk barat, terduduk di pinggir balkon sambil menikmati angin dingin yang menerpa tubuhku.
Tiba-tiba ada seseorang yang mengarahkan senjatanya ke leherku yang membuatku terkejut, aku berusaha santai dan tidak panik sama sekali.
"Apa yang kau inginkan?" Tanyaku pelan.
__ADS_1
"Aku ingin bertanya padamu..." gumam Sanjaya menatapku dingin dari samping.
"Yaahhh mau tanya apa?"
"Bagaimana kau tahu kalau pria itu mengambil barang dari organisasi misterius?" bisik Sanjaya dingin.
"Aku ya.... hanya kebetulan.."
"Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan kau tahu, apa kau memata-matai organisasi misterius?"
"Memata-matai ya? Haah untuk apa aku melakukannya?" gumamku dingin.
"Ya mana tahu kau..."
"Kalau aku melakukan penyerangan di organisasi misterius? Apa kau kira aku sehebat itu? Letak markas utama organisasi misterius tidak ada yang tahu untuk apa aku melakukannya, lagi pula... kenapa kau terlihat mempermasalahkan hal itu? Apa kau anggota organisasi misterius?" tanyaku pura-pura polos, mendengar pertanyaanku membuat Sanjaya memasukkan senjatanya dan bernafas panjang.
"Tidak, aku hanya penasaran saja."
"Oh benarkah? Ya kau nampak khawatir dari tadi, apa kau benar-benar anggota organisasi misterius?"
"Tidak, aku hanya tetua dewan keadilan saja..." gumam Sanjaya terduduk di sebelahku.
"Benarkah?" Gumamku memejamkan kedua mataku pelan.
"Oh ya... aku mau tanya... apa kau tahu tentang mafia tersembunyi?" Tanya Sanjaya serius. "Astaga kenapa dia tanya seperti itu sih! Mana pura-pura polos lagi!" gerutuku dalam hati.
"Tidak."
"Masa kamu tidak tahu tentang Organisasi tersembunyi?" tanya Sanjaya serius, aku membuka mataku dan menatap Sanjaya serius.
"Tidak, apa aku terlihat membohongimu?" Tanyaku dingin.
"Ohh mmm ya mana tahu kamu..."
"Kau tahu lah tidak ada yang tahu tentang organisasi misterius dan organisasi tersembunyi seperti apa."
"Di internet, ada orang yang mengaku anggota organisasi tersembunyi dan mengupload video CCTV di internet lalu sekarang di hapus postingannya..." gumamku berbohong.
"Be...benarkah?" tanya Sanjaya terkejut, "Yeess kena perangkapku!" gumamku dalam hati.
"Ya benar, kenapa kamu nampak terkejut?" Tanyaku polos.
"Mmm ti...tidak ada kok..." gumam Sanjaya pelan.
"Apa ada yang kau sembunyikan?"
"Ad... mmm tidak ada."
"Ada atau tidak?"
"Tidak ada, tidak ada yang ku sembunyikan."
"Benarkah?"
"Apa kau tidak percaya denganku?" Tanya Sanjaya menatapku dingin, aku menghela nafas panjang dan bersandar di bahu Sanjaya.
"Yaah aku percaya kok..." desahku pelan.
"Badanmu kok panas? Apa kamu meriang?" Tanya Sanjaya menyentuh dahiku lembut.
"Tidak kok hanya... mmmpphhh..." Sanjaya menciumku dan merangkulku erat.
"Istirahatlah, kamu mungkin kecapekan istriku..." desah Sanjaya pelan.
"Mmmm yah mungkin saja..." gumamku sedikit menggigit tangan Sanjaya dan meminum darahnya.
__ADS_1
"Kamu haus?"
"Eehhh mmm maaf aku tidak sadar kalau..."
"Tidak apa, minumlah sepuasmu sayang."
"Kamu tidak marah?" Tanyaku pelan.
"Kamu menyelamatkanku saat di hutan saat itu lagi pula kamu istriku buat apa aku marah."
"Benarkah? Bukannya kamu suka membunuh wanita ya?"
"Dari mana kamu tahu?" Tanya Sanjaya menatapku terkejut.
"Kakak yang menceritakanku dan..."
"Ohhmmm ya itu ada alasannya aku melakukannya!" Gumam Sanjaya pelan.
"Apa itu alasannya?"
"Alasannya aku kesal tidak pernah menemukanmu dan banyak wanita yang mengaku kalau mereka jodoh yang dijodohkan denganku."
"Bagaimana kamu tahu kalau mereka itu bukan aku?"
"Dari darahnya, darahmu dengan banyak wanita berbeda dan baunyapun berbeda dengan wanita lainnya."
"Benarkah? Kamu tahu rasanya dan baunya?"
"Tahulah, saay di pertemuan itu dan di beberapa kantong darah yang kau berikan pada Vincent itu... aku yang membawanya, Vincent tidak bisa meminum darahmu jadi Vica memberikannya padaku dan dia mengatakan kalau kamu pergi setelah kau dimarahi olehnya."
"Lalu kau marahin Vica?"
"Pastinya lah! Aku mencarimu dari dulu dan saat menemukanmu kamu menghilang entah kemana membuatku benar-benar gila."
"Mmm saat di hutan, apa kamu tahu kalau aku yang menyelamatkanmu?"
"Tidak, aku saat itu benar-benar seperti berada di ujung hidupku. Andaikan kamu tidak menemukanmu pasti aku sudah mati saat itu, terimakasih..." gumam Sanjaya pelan.
"Eehh? Kamu bicara apa?" Tanyaku terkejut.
" Yah ini pertama kalinya aku mengucapkan terimakasih kepada orang lain tapi aku memang sangat berterimakasih padamu, kamu sudah menyelamatkanku bahkan kamu juga sudah menyelesaikan tugas dariku."
"Oh mmm ya tidak masalah kok, mmm aku juga... aku mau minta maaf padamu Sanjaya."
"Minta maaf? Untuk apa?" Tanya Sanjaya bingung.
"Maaf, kalau saat itu aku mengusirmu. Aku bermimpi buruk tentang Vincent, aku kira kamu itu Vincent jadi aku mengusirmu karena aku kesal saja."
"Oh jadi alasanmu itu, tapi mmm baiklah tidak masalah. Sekarang kamu sudah tahu kan bedanya aku dengan Vincent?"
"Aku sudah melihatmu luar dalam jadi aku tahu tentang kamu walaupun belum sepenuhnya."
"Yaahh kamu hanya perlu mengenalku sebatas ini saja."
"Kenapa?" Tanyaku pelan.
"Aku orang yang berbeda bahkan aku orang yang sangat jahat, aku takut kalau aku menyakitimu."
"Tidak masalah, aku juga orang yang sangat jahat lagi pula... aku sangat terhormat jika bisa mati di tanganmu Sanjaya..." gumamku pelan.
"Benarkah? Aku juga merasa terhormat jika bisa mati di tanganmu istriku, kalau nanti aku mati duluan pastinya akan aku tunggu kamu agar aku bisa ke surga bersamamu.." gumam Sanjaya pelan.
"A-apa kau yakin?" Tanyaku terkejut.
"Ya aku mengatakan yang sesungguhnya, aku sangat mencintaimu istriku..."
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu suamiku..." gumamku mencium Sanjaya dan Sanjaya membalas ciumanku. Di senja ini benar-benar membuatku senang apalagi ini pertama kalinya aku merasa sangat nyaman dengan seorang pria.