
Ray membuat sebuah tanda padaku di leher dan kembali menciumku dengan lembut, aku menatap wajahnya yang dingin itu dan membuatku tertawa kencang.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Tidak ada, wajahmu tetap saja dingin seperti itu ya."
"Yaah begitulah, oh ya... Kapan kamu akan pergi menemui tetua agung?"
"Apa yang akan dibahas oleh tetua?" Tanyaku pelan.
"Ya kamu akan tahu sendiri lagi pula kamu harus kembali ke wilayah pusat, waktu bermain-mainmu sudah habis Sani Shin!" Ucap Ray menatapku dingin dan aku hanya menghela nafas dalam.
"Haish baiklah hari ini kita pergi!" Ucapku dingin, aku pergi ke kamar mandi dan berganti pakaian lalu memakai jubah hitamku, aku menggunakan make up sama seperti make upku yang dulu dan menatap wajahku berbeda dari wajahku yang biasanya.
"Baiklah, mari berangkat!" Ucapku dingin dan berjalan keluar dari kamar. Di depanku aku melihat Fadil yang sedang bermain dengan anak-anak dan saat melihatku Fadil terlihat sangat terkejut.
"Aku mau ke pusat, kau mau ikut atau tetap disini?" Ucapku dingin.
"Aku ikut! Tunggu sebentar!" Ucap Fadil berlari pergi sedangkan aku terdiam mengambil botol wine di depanku.
"Kamu mau kemana Raelyn?" Tanya Raelan menatapku dingin, di sampingnya aku melihat Valentino yang terlihat sedih tapi aku tidak peduli.
"Aku mau ke wilayahku."
"Wilayahmu?" Tanya Raelan bingung.
"Ya ayah, tetua sedang mencariku."
"Tetuamu? Tetua Asia sedang ada rapat dan..."
"Wilayah tempat seharusnya Raelyn berada paman!" Ucap Ray dingin.
"Dimana itu? Kenapa aku tidak tahu?" Gumam Raelan dingin.
"Ayah ikutlah denganku sebentar..." gumamku berjalan pergi dan Raelan mengikutiku di belakangku.
"Ray jika Fadil sudah siap tunggulah di mobil!" Ucapku dingin dan Ray membungkukkan badannya kearahku.
Aku melangkahkan keluar dari kerajaan dan berdiri di bawah pohon besar di depan kerajaan, Raelan menatapku dingin dan aku menunjukkan kertas yang diberikan Ray untukku.
"Tetua agung? Tunggu jadi kamu anggota organisasi mafia pusat yang terkenal rahasia dan sadis?" Tanya Raelam terkejut.
"Ya ayah, waktuku bermain-main sudah habis. Banyak tugasku yang tertunda itupun Ray sudah sedikit membantu tugasku. Jadi ayah mengerti kan?" Gumamku pelan.
"Jadi kamu tidak akan kembali anakku?" Tanya Raelan sedih.
"Seharusnya iya ayah."
"Tapi nak... Ayah tidak bisa jauh darimu, kamu satu-satunya harta terbaik ayah..." gumam Raelan pelan, aku mengambil ponselku di dalam pakaianku dan memberikannya kepada Raelan.
"Ini ponsel milikku ayah, kalau ada apapun ayah hubungi aku di nomorku khusus, nomornya sudah aku simpan di ponselku itu. Jangan beritahu siapapun masalah ini ayah bahkan Valentinopun jangan diberitahu, apa ayah mengerti?" Ucapku pelan.
"Kenapa? Apa kamu masih membencinya?"
"Bisa dikatakan seperti itu dan lagi ayah tahu kan organisasiku seperti apa jadi jangan beritahu siapapun."
__ADS_1
"Tapi kalau ayah rindu denganmu bagaimana dan..." aku menepuk bahu Raelan pelan.
"Ayah aku akan mengunjungimu setiap waktu, yang penting apapun yang terjadi ayah kabari aku ya."
"Tapi kalau aku bernasib seperti kemarin bagaimana? Banyak yang ingin ayah mati anakku."
"Hmm baiklah, ayah panggil kak Ravaro..." gumamku pelan.
"Baiklah, tunggu sebentar ya..." gumam Raelan berlari pergi, aku mengambil ponselku dan menelepon salah satu bawahanku.
"Datanglah kemari!" Ucapku dingin.
"Baik nona muda..." gumam salah satu bawahanku dan menutup teleponnya.
"Ini Ravaro nak!" Ucap Raelan serius.
"Ada apa?" Tanya Ravaro menatapku serius.
"Kak aku titip ayah, aku akan kembali ke wilayahku."
"Wilayahmu?" Tanya Ravaro bingung dan Raelan langsung menjelaskannya pada Ravaro.
"T-Tunggu, benarkah? Jadi mafia kegelapan yang sangat misterius itu milikmu? Bukannya nama ketuanya kalau tidak salah Sani Shin ya?" Tanya Ravaro terkejut.
"Ya itu namaku kak! Karena kakak tahu, kakak harus merahasiakan apapun masalah ini kepada siapapun bahkan kepada kembaranku dan Valentino,"
"Kenapa mereka tidak boleh tahu?" Tanya Ravaro bingung.
"Karena mereka mafia dari organisasi musuh kak, walaupun kalian juga tapi kalian aku anggap keluargaku jadi aku memberitahukan kepada kalian..." gumamku pelan dan tiba-tiba bawahan yang aku telepon tadi muncul di sampingku sambil terduduk dan menekuk salah satu kakinya.
"Hormat nona muda, ada yang bisa hamba lakukan?" Ucap bawahanku dingin. Ravaro dan Raelan melihat bawahanku terkejut.
"Ren, aku menugaskanmu melindungi dan mengawasi ayahku dan kakak... Jika ada hal yang mencurigakan atau ada musuh yang datang melukai mereka jangan segan-segan membunuhnya tapi kalau dirasa kamu tidak mampu maka langsung hubungi aku, apa kamu mengerti?" Ucapku dingin.
"Baik nona muda..." gumam bawahanku dan langsung pergi menghilang.
"Ayah untuk keselamatan ayah, Raelyn sudah memerintahkan bawahanku untuk menjaga ayah jadi ayah jangan khawatir ya..." gumamku pelan.
"Mmm baiklah, jaga dirimu dan yang penting jangan lupa mengunjungi ayah ya!" Ucap Raelan pelan dan aku langsung memeluk Raelan.
"Baik ayah, ayah jangan khawatir. Aku pergi dulu..." gumamku melepaskan pelukanku dan berjalan pergi ke dalam mobil. Di dalam mobil Fadil dan Ray mengobrol hal penting dan selama perjalananpun mereka berdua tetap asik mengobrol.
"Hmmm..." desahku melihat laut yang sedikit terang karena matahari mulai terbit.
Laut yang mengingatkanku tentang masa lalu saat aku masih menjadi ketua mafia terkuat dan terhebat masih teringat jelas di ingatanku. Saat kami sampai di sebuah pulau terpencil kami bertiga turun dari mobil dan berjalan melewati penjagaan yang ketat di depan.
"Tunjukkan identitasmu!" Ucap seorang pria berbadan besar di depanku. Aku menunjukkan lencana organisasi pusat dan pria itu membuka gerbang besar di depanku.
"Selamat datang kembali nona muda, tetua agung sedang menunggu anda di lantai atas..." gumam pria itu membungkukkan badannya ke arahku dan aku langsung masuk ke halaman markas organisasi pusat.
Suasana yang sama disetiap detail markas ini masih teringat jelas di otakku, aku berjalan masuk ke markas untuk menemui tetua agung. Di sebuah ruangan aku melihat tetua agung dan tetua wakil sedang bermain catur bersama.
"Skaak!! Hahaha!!!" teriak tetua agung senang.
"Heeii kau curang!" Protes tetua wakil kesal.
__ADS_1
"Tidak! Aku menang welkk!! Hahaha!!" tawa tetua agung kencang, melihat mereka berdua membuatku hanya menggelengkan kepala dan menghela nafas panjang.
"Apa mereka seperti itu setiap hari?" Tanyaku pelan.
"Yaahh begitulah, jadi jangan terkejut aja..." gumam Ray dingin, aku melangkahkan kakiku ke depan dan langsung duduk menekuk salah satu kakiku.
"Hormat kepada tetua agung dan tetua wakil..." gumamku pelan.
"Eehhh Sani akhirnya kau datang juga ya!" Ucap tetua agung senang.
"Mmm iya tetua agung, kalau boleh tahu apa yang membuat tetua agung ingin bertemu hamba?"
"Ada sesuatu hal yang harus kamu lakukan, di tambah lagi masa bermain-mainmu sudah habis kau tahu! Kenapa kau tetap saja membandel Sani!!" Gerutu tetua agung menarik telingaku yang membuatku kesakitan, Ray memegang tangan tetua agung yang membuatnya melepaskan telingaku.
"Mohon maaf tetua agung, ini kesalahan saya yang membuat Sani seperti ini..." gumam Ray pelan.
"Haish baik-baik aku maafkan yang terpenting Sani aku tidak akan mengijinkan kamu keluar dari dunia mafia! Apa kau mengerti?" Ucap tetua agung serius.
"Hamba mengerti tetua."
"Dan satu lagi, kau sudah resmi keluar menjadi bawahan organisasi tersembunyi dan organisasi umum, tugas yang aku beri saat itu sudah lengkap menurut laporan Fadil jadi kau tidak perlu kembali lagi ke organisasi itu dan membuat masalah lagi!" Ucap tetua agung menatapku dingin.
"B-baik tetua agung, tapi... hamba mohon ijin untuk sesekali pergi ke organisasi tersembunyi tetua, disana ada ayah hamba dan..."
"Apa kau memiliki anak dengan organisasi luar Sani?" Ucap tetua agung dingin.
"Mmm i-iya tetua agung."
"Kau tahu itu salah kan?"
"Hamba tahu tetua, hamba siap menjalankan hukumannya..." gumamku pelan.
"Baiklah sebelum kamu beristirahat lakukanlah hukuman cambuk 3000 kali!" Ucap tetua agung dingin.
"Tapi tetua agung, dia kan..." Protes Ray kesal, aku mengangkat salah satu tanganku dan berdiri tegap.
"Baik tetua agung, hamba akan melakukannya... Hamba permisi dulu..."
"Oh ya Sani istirahatlah malam ini besok malam aku akan memberitahukanmu jadi temui aku di ruanganku dengan mereka berdua!" Ucap tetua agung dingin, aku membungkukkan tubuhku dan berjalan pergi. Di lorong Ray menarik bahuku dan mendorongku ke dinding sambil menatapku dingin.
"Apa?" Tanyaku dingin.
"Apa kau gila menerima hukuman itu?" Ucap Ray dingin.
"Lalu kenapa?"
"Kau bisa bertahan hidup itu suatu keajaiban kau tahu!"
"Tidak apa, ini kesalahanku juga jadi aku berhak mendapatkannya jadi menepilah!" Ucapku dingin dan berjalan pergi ke ruang bawah tanah.
"Haish Sani kau harus meminta keringanan tetua agung!" Protes Ray kencang tapi aku tidak memperdulikannya dan melangkahkan kakiku menuruni tangga di depanku.
"Sani!! Sani!! Dengarkan aku!" Protes Ray mencoba mengejarku tapi aku masuk ke dalam ruang hukuman.
"Mohon maaf tuan muda anda tidak bisa masuk!" Ucap dua orang pria menghalangi Ray, Ray terus memanggil-manggil namaku kencang tapi aku tidak memperdulikannya.
__ADS_1
"Silahkan mengganti pakaian anda nona muda..." gumam seorang pria di depanku dan aku langsung pergi mengganti pakaianku.
"Baiklah lakukan saja..." desahku terduduk di lantai dan pria itu terus mencambukku dengan cambukan yang menyakitkan, walaupun sangat menyakitkan tapi aku hanya terdiam menahan sakit itu apalagi ini adalah hukuman yang pantas bagiku.