
Aku terus menerus menatap sekeliling ruangan ini sedangkan Valentino melepaskan jubahnya dan pergi ke dalam kamar mandi yang berada di dalam ruangan. Di atas meja sudut ruangan aku melihat sebuah fotoku dan Valentino ketika masih muda di kehidupan pertama, foto yang berwarna hitam putih sedikit lusuh itu terpajang dengan rapi di atas meja itu.
Dengan memaksakan tubuhku bergerak, aku berjalan tertatih-tatih menuju ke meja itu, aku mengambil foto itu dan menatapnya dengan serius. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang dan mendekatan wajahnya di telingaku.
"Kamu ingat foto itu Raelyn?" Bisik Valentino pelan dan aku menganggukkan kepalaku.
"Ya, aku ingat..." gumamku pelan dan meletakkannya kembali.
"Benarkah?"
"Ya, foto pertama kali kita untuk merayakan hari jadi kita benarkan?" Gumamku pelan dan Valentino memelukku erat.
"Benar, ternyata kamu ingat ya..." gumam Valentino senang dan aku langsung memutar tubuhku ke belakang.
"Tentu saja aku mengingatnya..." gumamku mencium Valentino dan wajah Valentino sangat memerah.
"Mmm j-jadi apa kamu mau menjadi istriku?" Tanya Valentino pelan dan aku menganggukkan kepalaku pelan.
"B-benarkah?"
"Tentu, aku sangat mencintaimu..." gumamku melepaskan pakaian mandinya dan terlihat dada bidang dan perut kotak-kotak terlihat nyata di depan mataku, di dadanya aku melihat sebuah luka jahitan yang masih baru dan beberapa luka lebam di tubuhnya membuatku bingung.
"Ini... Kenapa?" Tanyaku pelan.
"Oh hanya luka kecil saja."
"Bagaimana kamu mendapatkannya?" Tanyaku pelan.
"Hanya pertarungan kecil saja."
"Pertarungan kecil ya..." desahku mendorong Valentino yang membuatnya terjatuh keatas tempat tidur, aku menekan kedua tangannya dan menatapnya dingin.
"Katakan, apa yang terjadi?"
"Aku hanya bertarung melawan Lyraen dan Ryraen saja."
"Benarkah? Kenapa bisa terjadi seperti itu?"
"Karena aku mencarimu."
"Mencariku?" Tanyaku bingung tapi Valentino mendorongku dan menekan kedua tanganku.
"Ya, aku ingin merebut istriku!" Ucap Valentino pelan dan kembali menciumku.
"Benarkah?"
"Tentu, walaupun aku memintamu datang jika kau ingin melepaskan ikatan itu tapi aku tidak bisa jauh darimu jadi aku mencarimu."
"Oh begitu ya... K-kamu... Apa yang kamu lakukan?" Tanyaku bingung saat Valentino membuka pakaianku.
"Aku hanya ingin."
"Tapi kan mmmpphhh..."
"Aku hanya ingin membuat kamu seutuhnya milikku Raelyn..." bisik Valentino pelan.
"Tapi kan aku baru uuugghhh..." rintihku pelan dan Valentino terus mempermainkanku.
"Bagaimana sayang?" Bisik Valentino pelan tapi aku hanya memeluknya erat.
"Padahal kamu pernah melakukannya dengan pria lain loh tapi ternyata kamu masih seperti gadis cantik yang polos ya."
"Tidak juga aku hanya... Uuugghhh..."
"Hanya apa?"
"Hanya ... Uuugghhh ... s-sakit..." rintihku pelan tapi Valentino tetap mempermainkanku.
"Besok akan aku adakan upacara pernikahan kita jadi kamu malam ini harus terus bersamaku."
"T-tunggu pernikahan? Tapi kan ayah... Uuugghh..."
__ADS_1
"Ayahmu akan datang, dia sudah merestui kita."
"B-benarkah?"
"Tentu saja, aku ingin memilikimu seutuhnya Raelyn...." gumam Valentino pelan dan menjatuhkan tubuhnya di atasku dan tertidur dengan lelap.
"Kamu sangat lelah ya..." gumamku menatap darah yang menetes di dadanya yang membuatku sangat haus. Aku menggigit lehernya dan meminum darahnya tapi Valentino tetap tertidur di pelukanku.
"Kamu sangat imut ya Valentino..." gumamku pelan dan mencium bibirnya tapi tiba-tiba kedua mata Valentino terbuka dan langsung menggigit leherku kuat yang membuatku terkejut.
"V-Valentino? A-apa yang mmmpphhhh..." gumamku pelan tapi Valentino membungkam bibirku sambil terus meminum darahku, aku melepaskan bungkamannya dan menggenggam erat tangan Valentino.
"Kamu... Juga memiliki penyakit sepertiku ya?" gumamku pelan dan Valentino menganggukkan kepalanya pelan.
"Ohhh begitu ya..." desahku menggigit lengan Valentino pelan dan meminum darahnya.
Selama beberapa menit aku dan Valentino saling meminum darah sampai akhirnya Valentino melepaskan gigitannya dan tersenyum kearahku.
"Terimakasih istriku..." bisik Valentino pelan dan aku menganggukan kepalaku pelan.
"Haaahh hari-hari yang aku inginkan akhirnya bisa terwujud..." desah Valentino kembali menciumku dan mempermainkanku kembali.
"Va-Valentino aku sudah tidak... Uuugghhh..." rintihku pelan tapi Valentino terus mempermainkanku.
"Valentino aku sudah tidak kuat jadi... Uugghhh...." rintihku pelan.
"Tidak mau, aku masih mau bermain denganmu Raelyn...."
"Tapi aku... Uuuggghhh ya sudah terserah kau saja..." desahku pasrah ketika Valentino terus mempermainkanku.
Sudah seharian aku dan Valentino bermain bersama dan akhirnya saat pagi tiba Valentino terlelap di atas tubuhku, aku meraih selimut di bawah kakiku dan menutupi tubuh kami berdua ketika mendengar suara seorang pria yang memanggil dari luar kamar.
"Tuan muda, tetua mencarimu! Tuan muda!!" Teriak Cakra mengetuk pintu kencang tapi aku tidak bisa membukanya karena tubuh Valentino yang berat.
"Valentino ada yang mencarimu..." bisikku pelan tapi Valentino terus memelukku dari atas yang membuatku tidak bisa bergerak.
"Tuan muda!!!" Teriak Cakra kencang dan Valentino menekan sebuah tombol yang membuat pintu kamar terbuka.
"Dia istriku, apa itu masalah untukmu?"
"Bukan aku tapi tetua, mereka yang..."
"Valentino, kenapa kami panggil kau tidak... Astaga kau malah sudah bermain dengan seorang wanita sebelum menikah!" Ucap seorang pria tua dengan kesal.
"Dia istriku. Ada apa memanggilku?" Tanya Valentino menatap pria itu dingin.
"Aku mempermasalahkan pernikahanmu dengan wilayah lain, jika dia musuh bagaimana dan..."
"Dia istriku dan keputusanku adalah mutlak!" Ucap Valentino dingin sambil kembali menciumku lembut.
"Tapi kan... Kau tahu dia siapa?"
"Aku tahu."
"Jika kau menikahinya maka dia bagian dari wilayah bayangan, kalau dia melakukan itu hanya karena tugas bagaimana?" Ucap tetua dingin.
"Aku sudah mengikatnya lagi pula tugas dia sudah selesai... Benarkan Raelyn?" ucap Valentino pelan dan aku menganggukkan kepalaku pelan.
"Haish kamu masih saja keras kepala Valentino! Apa kamu serius akan menikahi dia?"
"Ya aku serius, dia milikku dan jika dia melakukan hal yang sama seperti tetua katakan, aku sudah menyiapkan hukuman yang pantas untuknya..." gumam Valentino dingin dan kembali menciumku.
"Haish baik-baik terserah kau saja, kalau kau memang benar-benar ingin menikah dengannya kami akan menyiapkan semuanya sebelum acara dimulai malam nanti..." gumam pria itu dingin dan pergi dari kamar bersama dengan wakilnya Cakra.
"Tetuamu terlihat sangat khawatir ya..." gumamku pelan.
"Ya, organisasi kita berbeda dan tujuan kita berbeda bahkan mafia kita sangat bertentangan pastinya tetuaku dan tetuamu akan tidak terima atas pernikahan ini."
"Dan kamu tidak mempermasalahakannya?"
"Tidak, semua keputusanku adalah mutlak sama sepertimu jadi jika kamu melakukan hal yang ditakutkan tetua maka aku akan menghukummu gadis kecil karena kau milikku..." gumam Valentino terus mempermainkanku.
__ADS_1
"Lakukanlah jika... Uuggghhh..."
"Wajah polosmu sangat imut ya sayang..." bisik Valentino pelan.
"Benarkah? Tapi jika aku liat lagi wajahmu sama imutnya."
"Imut ya? Padahal banyak yang mengatakan kalau wajahku sangat menyebalkan."
"Tapi kenapa denganku wajahmu sangat imut dan sangat tampan."
"Karena kamu istriku dan aku tidak bisa menunjukkan wajah dinginku padamu. Kamu benar-benar meluluhkanku Raelyn..." gumam Valentino kembali mempermainkanku.
"Valentino ada suatu hal yang ingin aku bicarakan padamu."
"Masalah apa?"
"Masalah... Uugghhh... D-diamlah dulu!" Protesku kesal tapi Valentino tidak memperdulilkannya.
"Katakan!"
"M-masalah perjanjian yang akan kita lakukan setelah menikah."
"Perjanjian? Tentang apa..." gumam Valentino menggenggam kedua tanganku dan terus mempermainkanku.
"Aku ingin mengajakmu melakukan perjanjian, apapun tugasku dan urusanku kamu tidak boleh ikut campur!" Ucapku dingin.
"Oh, hanya itu?"
"Ya hanya itu."
"Tidak masalah."
"Eehh b-benarkah?"
"Ya, asalkan kamu tidak bermain dengan pria lain hanya demi tugasmu selesai!" Ucap Valentino dingin.
"T-tapikan aku harus... Uuggghhh..."
"Dengar ya Raelyn, aku tidak akan mencampuri urusanmu malah kau boleh mencampuri semua urusanku tapi aku hanya meminta itu dan kau tidak bersedia?" Ucap Valentino dingin.
"Tapikan kau bisa menghukumku nanti jika sudah selesai dan..."
"Aku berbeda dengan pria lain, kau harus menuruti apa kata suamimu, kamu mengerti?"
"T-tapi bagaimana jika aku harus melakukan tugasku dengan cara itu dan... Uuggghhh..." rintihku pelan dan Valentino kembali menjatuhkan tubuhnya di atasku.
"Aku akan membantumu..."
"Membantuku?"
"Ya, aku tahu mengenai semua kelemahan mafia seluruh wilayah dan aku bahkan tahu apa kelemahanmu..." bisik Valentino mencium leherku pelan.
"J-jangan leher aku...aku..." gumamku pelan dan mendorong Valentino sambil menekan tangannya.
"Leher... Itu kan kelemahanmu?" Ucap Valentino dingin dan aku hanya menghela nafas pelan.
"Ya kelemahanku di leher..." desahku memeluk Valentino erat dan Valentino mengusap rambutku lembut.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Sudah aku katakan bukan, aku tahu semua kelemahan mafia di seluruh wilayah bahkan kelemahanmu seorang ketua organisasi tersembunyi yang tidak ada siapapun tahu tentangmu meskipun kamu menunjukkan identitasmu yang salah kepada lawanmu."
"Ohh mmm... Ya baguslah kalau kamu tahu tentangku..." desahku memejamkan kedua mataku.
"Kamu lelah?"
"Yaahh, bermain semalaman denganmu membuatku lelah..." desahku pelan tapi Valentino menatapku dengan tatapan manja.
"Kenapa?" Tanyaku pelan.
"Tidak ada, tidurlah sayang..." desah Valentino mengusap rambutku lembut dan aku tertidur di pelukan Valentino. Tidak aku sangka aku akan memilih Valentino menjadi suamiku di kehidupanku saat ini.
__ADS_1