
Keesokan paginya Valentino berpamitan akan pergi pertemuan dengan kembarku bersama dengan Fadil sedangkan kedua anakku langsung aku titipkan ke bawahanku dan Satria aku ajak pergi ke akademinya. Akademinya adalah akademi tempatku menimba ilmu dulu jadi ada beberapa orang yang mungkin aku kenal. Selama perjalanan aku hanya terdiam menatap gelang di tanganku sambil terus melamun, Satria memegang tanganku lembut dan menatapku serius.
"Ibu ada apa?"
"Eehhh mmm tidak ada kok nak."
"Lalu kenapa ibu melihat gelang yang diberi ayah itu? Apa ibu rindu ayah?"
"Tidak, aku tidak merindukannya."
"Tapi Satria merindukan ayah, bolehkah Satria bertemu dengan ayah?" Tanya Satria pelan, aku menatapnya dingin yang membuatnya melepaskan tanganku.
"Eehh mmm maaf ibu..." gumam Satria pelan dan aku hanya terdiam menatap gelang dengan tatapan kosong.
"Kalau kamu rindu kamu boleh bertemu dengannya..." gumamku pelan.
"Benarkah ibu?"
"Ya tapi kamu tidak bisa menginap dengannya."
"Satria hanya ingin bertemu saja ibu." gumam Satria pelan dan aku hanya terdiam tanpa menjawabnya. Tidak lama kami sampai di akademi, Satria turun mendahuluiku dan aku mengikutinya dari belakang.
"Saat aku mengikuti Satria masuk ke dapam lingkungan akademi aku melihat kepala akademi sedang mengobrol dengan Pria yang mirip dengan Han.
"AYAAAH!!!" Teriak Satria senang dan berlari kearah Han dan memeluknya erat.
"Eehh Sani lama tidak bertemu denganmu ya!" Ucap lepala akademi menatapku senang aku membungkukkan badanku.
"Ya tetua, bagaimana kabar anda?"
"Aku baik saja, oh ya ini anakmu kah?" Tanya kepala akademi terkejut.
"Ya tetua."
"Lalu kenapa dia memanggil Han ayah? Apa Han adalah ayahnya?"
"Ya dia anakku guru..." gumam Han memeluk Satria erat.
"Benarkah, apa kalian pernah menikah?"
"Ya di kehidupan yang..."
"Ya kami pernah menikah guru!" Ucap Han memotong ucapanku.
"Oh benarkah? Pantas saja anak ini sangat berbakat disini, ternyata anak dari murid-muridku yang sangat berbakat!" Ucap kepala akademi senang.
"Anakku harus berbakat benar kah Satria?" gumam Han senang dan Satria menganggukkan kepalanya kuat.
"Benar guru, Satria ingin melindungi ibu dan ayah!" Ucap Satria senang dan mereka berdua terlihat sangat bahagia saat bertemu.
"Yaaah jadilah kuat seperti ayah ibumu nak, pastinya ayah dan ibumu akan sangat bangga!" Ucap kepala akademi mengacak rambut Satria.
"Oh ya ngomong-ngomong bukannya organisasi kalian... Bermusuhan? Bagaimana kalian menikah?" Tanya kepala akademi bingung.
"Hanya suatu kebetulan tetua..." gumamku pelan.
"Lalu kenapa kalian bisa cerai?"
"Itu karena..."
"Hanya karena takdir guru!" Ucap Han memotong pembicaraanku lagi.
"Walaupun kalian cerai dan bermusuhan kalau bisa tetaplah memberikan kesih sayang kepada dia, dia sangat butuh kasih sayang orang tuanya."
"Tentu saja, akan kami lakukan guru!" Gumam Han pelan.
"Ya sudah, Satria sudah waktunya pelajaran mari ke kelas."
"Baik guru... Bye ayah bye ibu!!" Ucap Satria berjalan pergi bersama kepala akademi, Han melambaikan tangannya ke arah Satria dan mengubah wajahnya dinginnya dengan cepat.
"Jadi kenapa kamu ingin bertemu denganku?" Ucap Han dingin. Tanpa mengatakan apapun aku melangkahkan kakiku pergi dan Han mengikutiku dari belakang.
__ADS_1
Di sebuah taman akademi yang dipenuhi dengan pohon maple aku menghentikan langkah kakiku dan menatap Han dengan dingin. Daun maple yang berjatuhan membuah pertemuan kami terlihat sangat bermakna.
"Jadi apa yang kamu inginkan?" Tanya Han dingin, aku menghela nafasku panjang dan menatap kedua matanya.
"Terimakasih."
"Terimakasih? Untuk apa?"
"Terimakasih sudah menjaga Satria."
"Maksudnya?" Tanya Han bingung.
"Terimakasih sudah membunuh Satria demi kebaikan Satria padahal kamu tidak perlu itu, biarkan Satria membunuhku... Aku akan merasa terhormat jika terbunuh di tangan anakku sendiri..." gumamku pelan yang membuat Han terkejut.
"Apa Satria menceritakannya padamu?"
"Ya dia menceritakan semuanya padaku dan terimakasih sudah menjaga Satria agar tetap menjadi anak yang penurut..." gumamku pelan tapi Han hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, aku menatap tubuh Han dan melihat gelang yang sama dengan gelangku tetap berada di tangannya.
"Kamu masih memakai gelang itu?" Gumamku terduduk di tanah dan memainkan sebuah daun maple di tanganku.
"Ya, ternyata kamu juga ya."
"Yaah begitulah..." desahku memejamkan kedua mataku dan menikmati angin musim semi yang menusuk tulang.
"Hari ini cuaca dingin kenapa kamu tidak menggunakan jaket?" Tanya Han pelan.
"Tidak masalah, aku sudah biasa..." gumamku pelan, Han memakaikan aku jaket bulu miliknya yang membuatku terkejut.
"Pakailah, aku tidak mau kamu sakit."
"Kenapa kamu peduli denganku?"
"Walaupun ini kehidupan yang baru tapi aku tetap menganggapmu istriku."
"Kenapa kau menganggapku istrimu?"
"Kita belum pernah cerai dan kamu masih terikat kontrak denganku!" Ucap Han serius yang membuatku tertawa.
"Apa yang membuatmu tertawa?" Tanya Han serius.
"Ternyata kamu pintar sekali, kau tahu... Walaupun kau menikah dengan pria lain tapi kau tetap berada di genggamanku Raelyn!" Ucap Han dingin.
"Kau masih saja seperti itu Han, suamiku yang ini akan tetap menjadi suamiku yang..."
"Apa peduliku? Kau tetap milikku Raelyn!" Ucap Han dingin.
"Benark... Mmmppphhh..." Han menciumku dengan tiba-tiba yang membuatku terkejut, ciuman Han benar-benar lembut sama seperti saat kami masih bersama dulu. Han mengusap pipiku sedangkan aku hanya mengusap bibirku dengan lenganku.
"Kau masih saja manis wanitaku."
"Manis ya? Kau tetap saja pintar menggombal Han."
"Tidak juga aku mengatakan yang sebenarnya, jika nantinya aku lebih kuat dari pria itu pastinya aku akan merebutmu kembali wanitaku, jadi nikmatilah bermain dengan pria-pria itu!"
"Kau kira pernikahanku saat ini hanya permainan?"
"Apa peduliku? Kau tetap wanitaku sampai kapanpun!"
"Aku tidak bisa hidup denganmu Han, aku..."
"Aku tidak ingin apapun darimu, aku hanya ingin kamu tetap hidup dan bisa menjaga Satria kecilku sudah membuatku senang."
"Apa kamu tidak menikah lagi?" Tanyaku bingung.
"Tidak, di kehidupan ini aku tidak memiliki niat untuk menikah dengan wanita lain. Mengikatmu dengan kawin kontrak saja sudah membuatku merasa punya seorang istri ditambah kembali hidupnya Satria membuatku merasa aku memiliki keluarga kecil yang harus aku lindungi."
"Kenapa kamu menganggap hal seperti itu?" Tanyaku pelan.
"Karena aku mencintaimu... Hanya itu. Aku memang mencintaimu tapi aku tahu kita tidak mungkin bisa bersama jadi dengan bertemu dan mengobrol denganmu saja sudah membuatku senang Raelyn."
"Benarkah?"
__ADS_1
"Tentu saja."
"Apa kamu tidak ingin bercinta dengan seorang wanita?"
"Sebagai pria siapa yang menolak tapi aku memiliki wanita spesial di dalam hidupku dan aku sudah pernah merasakannya jadi aku tidak tertarik lagi dengan wanita dikehidupan ini."
"Oh begitu ya..." gumamku mengusap pipi Han dan menatapnya serius.
"Han maaf ya aku salah sangka denganmu, harusnya aku mendengarkan penjelasanmu dahulu tapi rasa sakit hatiku dan dendamku padamu membuatku tidak bersedia mendengarkan penjelasanmu."
"Tidak apa, aku tidak menyalahkanmu.. Aku memang melarang Han dan Satria menjelaskan padamu."
"Kenapa?"
"Aku ingin kamu membenciku, membunuh anakku sendiri merupakan beban tersendiri bagiku yang membuatku merasa bersalah."
"Kamu seharusnya tidak perlu melakukan itu, walaupun aku terbunuh kau bisa menjaga Satria kecilku."
"Tidak, aku tidak bisa melihatmu terbunuh, aku tidak bi mmppphhh..." aku mencium Han yang membuatnya terkejut dan membalas ciumanku.
"Lain kali jangan lakukan itu, aku hanya memohon padamu."
"Tapi aku tidak bisa Raelyn, aku sangat mencintaimu sungguh."
"Yaah aku mengerti kok Han tapi kamu harus belajar tega, organisasi kita musuh jadi tidak mungkin kita bersama."
"Aku tahu! Aku tahu! Tapi aku mencintaimu aku benar-benar mencintaimu... Raelyn walaupun kita tidak bisa bersama bolehkah aku hanya sekedar menciummu jika bertemu untuk mengobati rasa rinduku..." gumam Han pelan.
"Aku tidak yakin Han dan..."
"Itu permintaan kecilku. Jika kamu tidak bersedia tidak masalah bagiku karena aku mmmpphhh..." Aku kembali mencium Han lembut dan menatapnya serius.
"Ya lihat saja nanti, aku tidak bisa menciummu jika ada orang lain apalagi aku sudah menikah resmi."
"Aku tahu kok..." desah Han pelan dan menciumku lembut.
Kami terus berciuman dan sesekali Han meraba tubuhku sambil terus menciumku yang membuatku sesekali menggeliat kegelian, Han terlihat sangat senang bahkan sesekali dia menciumi tubuhku dengan mesra.
"Ckckck bisa-bisanya kalian berdua bercinta di ruang terbuka seperti ini!" Sindir seorang pria dingin, aku menatap belakang Han dan melihat Fadil terduduk di atas pohon sambil menatap kami dingin.
"Aku hanya ingin mencium wanitaku saja!" Ucap Han dingin.
"Kau masih saja seperti itu Han. Jelas-jelas dia sudah menikah dengan pilihannya yang..."
"Apa peduliku? Aku hanya ingin seperti ini saja lagi pula jika aku merebutnya percuma karena kami tidak bisa bersama..." gumam Han membuka pakaianku dan mencium tubuhku lembut.
"Itu kau tahu, kau jangan keras kepala tetap mengikat kawin kontrak dengan dia, walaupun hanya kita yang tahu dan siapapun tidak bisa membatalkan kontrak itu tapi dia sudah ada yang punya."
"Aku tahu masalah itu tapi aku tidak peduli, yang aku peduli dia tetap milikku..." gumam Han mengendongku dan menekanku di batang pohon maple sambil terus menciumku.
"Kau tetap saja keras kepala ya Han jika diberitahu..." gumam Fadil pelan tapi Han menyibakkan rambutku dan pakaianku sambil terus menciumku lembut.
"Aku tahu, aku tidak akan membuatnya hamil karena kau tahu sendiri alasannya kenapa..." gumam Han mempermainkanku yang membuatku merintih kesakitan.
"Han jangan kau uugghhh..." rintihku pelan tapi Han terus menciumku.
"Jadi kau tetap tidak bisa menghamili walaupun beda kehidupan?" Tanya Fadil pelan.
"Y-ya benar, mereka benar-benar menyiksaku setelah aku membunuh Satria jadi ya walaupun aku masih memiliki nafsu tapi aku akan menjadi pria yang tidak bisa memiliki anak lagi."
"K-kenapa bisa seperti itu Han? Apa yang terjadi?" Tanyaku pelan, aku menggigit bawah bibirku dan Han terus mempermainkanku.
"Akan susah untukku menjelaskan padamu."
"Katakan padaku atau aku akan uugghh..."
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Katakan padaku Han!" Rengekku pelan dan Han kembali menciumku.
"Mereka memberikanku sebuah racun langka yang membuatku tidak bisa memiliki anak lagi jadi aku hanya bisa memuaskan nafsumu saja tanpa bisa memberikanmu anak..." gumam Han pelan, aku meremas punggung Han kuat dan berteriak dengan kencang.
__ADS_1
"Jadi racun apa yang diberikan padamu Han hufftt..." desahku pelan.
"Aku tidak tahu, hanya itu yang aku ketahui jadi mau menikah dengan siapapun kamu tapi kamu tetap wanitaku!" Ucap Han pelan sedangkan aku hanya terdiam mengatur nafasku yang masih terengah-engah, aku benar-benar tidak menyangka aku bisa bermain dengan Han tanpa perlawanan sama sekali bahkan aku benar-benar menikmatinya yang membuatku bingung.