Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 152 : Bertemu Satria


__ADS_3

Aku menundukkan kepalaku dan mengambil buku catatanku, aku menulis sebuah tulisan dan aku memberikannya kepada ayah. Ayah langsung membacanya dan menatapku terkejut.


"Apa kau yakin Sani?" Tanya ayah menatapku serius.


"Ya, mau menikah dengan siapapun tidak masalah asalkan ayah dan kakak merestuinya..." gumamku pelan.


"Hmmm..." desah ayah pelan.


"Ayah... aku mau menikah dengan Sani!!!" rengek Saputra pelan.


"Mmm Valo... kita bicara sebentar..." ucap pria paruh baya itu pelan dan ayah pergi bersama dengan semua saudaraku.


"Kak Revaro... Fadil kamu ikut juga!" Ucap Alvaro dingin dan mereka berdua mengikuti ayah dari belakang, aku menatap Saputra serius sambil mengamgkat salah satu alisku.


"Kenapa kamu merengek seperti itu tadi?" Tanyaku serius.


"Karena aku memang ingin menikah denganmu."


"Sampai merengek seperti itu?" Tanyaku terkejut.


"Meluluhkan ayahmu tidak mudah, ayahmu seorang ketua tertinggi mafia dan dia tipe orang yang keras kepala yang tidak akan keluar dari keputusannya. Kalau dia berkata jodohmu pria itu ya kamu harus menikah dengan dia."


"Oh tapi aku tidak peduli, aku tidak berniat untuk menikah... lagi...." gumamku terduduk di sofa dan kembali menulis di buku catatanku.


"Tapi kau memintaku agar menunjukkan cintaku padamu kan?" Tanya Saputra serius.


"Memang, tapi aku memang tidak ada niatan untuk menikah lagi. Kalaupun menikah lagi... aku harus meminta restu anakku, kak Revaro berkata kalau anakku yang meninggal itu kembali berinkarnasi. Karena aku merasa bersalah padanya jadi aku akan menikah jika anakku mengijinkannya..." gumamku pelan.

__ADS_1


"Anakmu yang bernama Satria itu? Emangnya dia inkarnasi di tubuh yang mana?" Tanya Saputra serius.


"Entah aku tidak tahu, mayatnya sudah aku kuburkan saat itu. Mungkin dia di tubuh orang lain..." gumamku pelan.


"Pasti itu akan membutuhkan waktu yang lama dan..."


"Kau membuktikan cintamu padaku juga membutuhkan waktu yang lama, aku sudah lelah di permainkan pria. Jika kau tidak bersedia maka carilah wanita lain saja!" ucapku menatap Saputra dingin.


"Tapi kan..."


"Yang mulia, tuan memanggil anda!" ucap seorang pria berjubah memotong ucapan Saputra.


"Oh ya baiklah..." desah Saputra berjalan pergi.


"Hmmm..." desahku keluar dari balkon dan melihat matahari yang bersinar dari ufuk timur, aku menatap sebuah makam di atas bukit dipinggir laut dan terkejut kalau makam itu adalah makam milik Satria. Aku segera menyobek selembar kertas dan menulis sebuah pesan di kertas itu kalau aku ingin keluar sebentar untuk melihat sesuatu, setelah itu aku menempelkannya di meja balkon dan pergi sembunyi-sembunyi melewati balkon kamar.


"Aku harus ziarah makan Satria! Aku sudah lama tidak kesana dan ternyata letak kerajaan Arre dekat dengan makam Satria ya? Kenapa aku baru tahu?" Gumamku pelan, aku terus berjalan melewati hutan dan berakhir di depan makam Satria. Aku memeluk gundukan tanah itu dan menangis kencang, walau aku tidak mungkin bisa bertemu inkarnasi Satria tapi aku akan tetap menunggunya.


"Hmmm, Satria... ini ayah dan ibu nak, kami kembali menemuimu anakku, apa Satria bahagia di surga? Ayah berharap kamu tetap bahagia di surga anakku, tapu ayah lebih berharap kamu bisa kembali hidup agar ayah bisa meminta maaf langsung padamu. Ayah benar-benar merasa bersalah padamu karena membunuhmu, ayah ingin meminta maaf padamu langsung anakku..." rengek Han pelan yang membuatku terdiam.


"Ayah terus dilanda bersalah padamu, ayah benar-benar ingin bertemu denganmu Satria. Walaupun sebentar saja... ayah ingin bertemu denganmu, ayah ingin minta maaf padamu!" Rengek Han kencang, Han terus menerus berkata ingin meminta maaf pada Satria walaupun aku tidak mengerti kenapa dia seperti itu tapi aku hanya terdiam menggenggam erat tumpukan tanah itu.


"Satria sudah memaafkanmu ayah..." ucap seorang pria di belakang kami, aku terduduk dan menatap Han terkejut.


"Han... kau dengar tidak?" Ucapku pelan.


"Ya, aku mendengarnya tapi..." ucap Han dan aku menoleh kearah belakang kami, di belakang kami aku melihat seorang pria tampan yang berdiri dengan senyuman mirip dengan Satria.

__ADS_1


"S-siapa kamu??" tanya Han terkejut.


"Aku Satria, anak ayah dan ibu!"


"S-Satria? Dia sudah mati dan..."


"Dan aku berinkarnasi agar bisa menjaga ayah dan ibu."


"Ber...berinkarnasi? Apa kau bercanda? Tidak ada didunia ini yang namanya berinkarnasi! Itu hanya takhayul yang..." gumam Han serius


"Kalau kamu memang Satria. Peluk ibu nak..." ucapku pelan dan pria itu langsung memelukku erat."


"Ibu, Satria sangat rindu ibu... maaf jika Satria memilih untuk inkarnasi dari pada hidup di surga. Satria tidak sanggup melihat ibu yang menderita seperti itu, Satria tidak sanggup ibu!!!" rengek Satria pelan.


"Hmmm ini memang jalan yang harus ibu tempuh, seharusnya kamu tidak melakukan ini anakku. Tidak perlu merasakan pahitnya dunia lagi, ibu tidak mau kamu menderita lagi anakku..." gumamku pelan.


"Tapi ibu, Satria tidak sanggup melihat ibu menderita! Satria melihat masa lalu ibu dari nenek saja membuatku terus menangis dan ingin membalas dendam atas penderitaan ibu! Satria tidak ingin ibu menderita lagi!" rengek Satria pelan.


"Hmmm..." gumamku melepas pelukan Satria dan menatap Han yang sedari tadi menangis tanpa suara.


"Nak... peluk ayahmu..." ucapku pelan dan Satria memeluk Han erat yang membuat tangis Han semakin pecah.


"Satria... maafkan ayah... maaf ayah yang telah membunuhmu... maaf ayah tidak bisa menjadi ayah yang baik... maaf ayah yang tidak berguna ini!!" tangis Han kencang.


"Tidak ayah, ayah tidak bersalah kok. Seharusnya Ayah tidak perlu setiap saat menangis di makam Satria dan meminta maaf seperti itu! Satria tidak dendam kepada ayah... Satria sudah memaafkan ayah!"


"Tapi nak... ayah..."

__ADS_1


"Ayah, Satria mengatakan yang sesungguhnya ayah. Satria sama sekali tidak membenci ayah..."


"Hmmm terimakasih anakku, ayah bangga memilikimu!" Ucap Han senang dan memeluk Satria sangat erat, melihat kerukuman ayah dan anak ini membuatku senang dan disisi lain aku senang bisa bertemu denhan anakku Satria lagi.


__ADS_2